
“Aku harus ikut berperang untuk melindungi Yang Mulia pangeran. Apapun akan aku lakukan untuk melindunginya”
Peperangan antara dua kubu yang berbeda tidak bisa dielakan, semua ingin menang dan mengalahkan. Peperangan itu bermula dari kedua orang bersaudara yang saling memperebutkan cinta seorang bunga. Mereka saling beradu senjata dan kekuatan yang akan menghancurkan juga menggemparkan seluruh dunia.
Tidak ada lagi putih dan hitam atau warna bunga berwarna warni, hanya ada merah gelap yang keluar dari setiap tusukan dan goresan pedang. Langit yang luas itu pada kenyataannya sudah menjadi gelap, namun banyak kekuatan yang dihamburkan dan dilemperkan seperti hujan cahaya, menjadikannya gelap terang seperti lampion yang kekurangan minyaknya.
Suara menggelegar dari tabrakan senjata ajaib dan kekuatan spiritual sangat memekakan telinga. Ditempat yang dinamakan ‘Jurang Pembatas’ banyak para keturunan dewa menumpahkan darah dan kehilangan nyawa mereka.
Di tengah bentrokan tak terbantahkan itu, seseorang berdiri tegak dengan sebuah senjata di tangannya. Dewi dengan pakaian perang berwarna ungu gelap mengenakan perisai perak didadanya, melihat lurus kearah peperangan itu terjadi.
Hanya satu orang yang selalu menjadi pusat perhatiannya. Seorang keturunan dewa dengan pakaian kebesaran berwarna putih cerah yang sudah ternodai oleh darah... entah miliknya sendiri atau seseorang yang menjadi lawannya.
Rin masih terpaku ditempatnya, sudut matanya yang tajam memperlihatkan warna merah dan genangan air mata, seperti menahan banyak perasaan dan kata kata. Kondisinya sudah sangat berantakan, noda darah hampir diseluruh pakaiannya, namun dia masih bisa berdiri dengan tegak.
Perlahan dengan pasti kedua kakinya melangkah maju, mengelak dan menyerang demi memblokir setiap serangan yang akan mengenai seseorang yang sangat berharga, tanpa mempedulikan dirinya sendiri yang juga hampir mencapai batas kemampuannya.
Cahaya terang dari langit merambat lurus mengenai dua ujung pedang yang mengkilat, menghancurkan siapa saja yang dikehendakinya.
Rin melangkah dan terus melangkah ketika sudah melihat seseorang berpakaian putih ternoda oleh darah itu menekan ujung pedang diatas tanah menopang tubuhnya.
Gawat.
Dengan suara sret, tangan yang ramping dan kecil itu harus tesayat dan kembali mengeluarkan darah segar berwarna merah pekat yang disembunyikan warna pakaiannya.
__ADS_1
“Kamu...”
Rin tersenyum hambar “Yang Mulia... menyingkir, biarkan Rin menghadapi mereka” katanya dengan menekankan giginya untuk meredam rasa sakit.
Peperangan terus berlanjut sampai tidak ada satu pihak pun yang diuntungkan. Berakhir tanpa ada yang menang atau kalah, hanya menyisakan kehancuran dan aliran sungai yang tercipta oleh darah.
Meski begitu, kedua saudara itu masih tetap hidup bersama dengan bunga yang diperebutkan mereka, tetapi diantara mereka tidak ada yang tahu jika peperangan berakhir karena pengorbanan seseorang.
Seseorang yang rela berkorban jiwa dan raga demi salah satu dari mereka.
Rin selalu menghadang semua serangan yang ditujukan untuk Yang Mulianya dan berakhir mengorbankan dirinya untuk menghentikan kesalahan fatal yang akan dilakukan para dewa.
Dia tidak ingin melihat orang orang yang dicintainya meregang nyawa di depan matanya. Sekarang hanya dirinya seorang yang mampu menghentikan peperangan, dan harus rela kehilangan nyawanya untuk itu.
“...” Rin tersenyum dengan darah yang masih mengalir disudut bibirnya, sampai hembusan nafas terakhir, orang yang dia cintai tidak pernah berada di sampingnya.
“Jika dalam sebuah cerita, aku tidak berharap menjadi kharakter wanita yang diperebutkan oleh dua orang pangeran tampan. Aku juga tidak berharap menjadi kharakter utama dalam cerita itu. Tetapi yang aku inginkan adalah cinta dari seseorang yang tidak pernah melihatku
Seseorang yang selalu aku utamakan. Seseorang yang selalu ingin aku lindungi. Seseorang yang selalu aku rindukan barang sedetik saja. Dan seseorang itu hanya mencintai orang lain....
Aku ingat saat pertama kali menginjakan kakiku di istana langit. Pertama kali melihatnya aku sudah menyukainya. Dan ketika aku menjadi tangan kanan yang bisa membantunya dalam segala hal, itu membuatku senang. Belajar darinya dan mengetahui siapa orang yang dicintainya....
Meski begitu aku masih memiliki rasa cinta dan bersedia memberikan apapun untuknya. Hatiku, jiwaku, kesetiaanku, bahkan nyawaku bisa dipertaruhkan untuk kebahagiaannya. Tapi satu hal yang tidak bisa aku lakukan, yaitu merubah diriku menjadi seperti wanita yang dicintainya....
__ADS_1
....Sampai pada suatu hari aku mulai lelah. Lelah karena selalu mengalah. Lelah karena terus bersedih ketika melihat dia bersama orang lain. Lelah menjadi hiasannya. Lelah memendam rasa cinta yang membuatku sakit dan terluka. Dan lelah membohongi diri sendiri karena berpikir suatu saat dia akan berjalan ke arahku, hanya melihatku sebagai tujuannya dan bukan orang lain.
Pada saat itulah aku menyerah. Memilih melepaskan sesuatu yang bukan milikku sejak awal, agar dia bisa terbang bebas tanpa harus melihat kebelakang. Aku tidak pergi meninggalkannya, melainkan hanya berhenti untuk mengharapkan cintanya.
Aku tidak menyalahkannya atau membenci wanita yang dia cintai. Aku hanya merasa bodoh karena memiliki niat untuk mendapatkan cintanya. Tidak ada yang salah dalam hal ini, karena cinta tidak bisa dipaksakan, karena hati tidak bisa diarahkan”
.....
Tes... tes... tes...
Cairan bening itu turun dari sudut matanya membasahi kertas putih yang terukir tinta hitam di atasnya.
“Kakak lihat! Apa kakak tahu jika sahabatku Rin sangat mencintai kakak. Tetapi kak Lao tidak pernah melihatnya dan selalu mengabaikannya” pangeran ketiga itu kembali menangis atas kepergian temannya. Dia terduduk dengan kedua tangan menutup wajahnya.
“...” Riu Lao masih berdiri melihat semua perasaan Rin didalam sebuah buku catatan yang pernah dia berikan pada sang penasihat. Raut wajah datar tidak bisa menutupi perasaannya saat ini, dia meneteskan air mata penyesalan. Menyesal karena telah menyia nyiakan orang yang rela berkorban jiwa dan raga demi dirinya.
Riu Lao pergi meninggalkan adiknya yang masih menangis. Membawa buku berwarna hitam itu di tangannya, berjalan menelusuri setiap sudut istana yang pernah dia datangi bersama dengan Rin.
Sampai di sebuah jembatan berwarna putih dengan aliran sungai kecil dibawahnya, dia terdiam. Menerawang jauh kebelakang mengingat kembali semua kejadian dimana Rin masih berdiri di sampingnya, menjadi seorang penasihat yang setia dan memberikan solusi disetiap masalahnya.
Mengingat bagaimana Rin selalu berusaha untuk membuatnya bahagia dan mengatasi masalah yang dia punya. Dan ketika itu Riu Lao selalu mengatakan 'DIAM' yang mengisyaratkan untuk tidak ikut campur semua urusannya.
Ketika sedang bersama orang yang dicintai, Riu Lao selalu mengabaikan keberadaan penasihatnya.
__ADS_1
Riu Lao kembali meneteskan air mata dan kali ini dia sudah tidak bisa menutupi rasa bersalahnya lagi. Menggenggam erat buku ditangannya dan berkata lirih “Ayi...” air mata itu tumpah disertai lututnya yang merosot kebawah. Bersimpuh dalam kesedihan dan penyesalan.