
Kerajaan langit selatan disibukan dengan persiapan perjamuan besar, banyak pelayan istana berlalu lalang di dalam aula tempat acara itu berlangsung. Semua persiapan yang mereka buat harus dengan arahan kasim istana sesuai dengan perintah dari kaisar, mewah dan tidak mengecewakan karena kaisar Riuyi selalu ingin terlihat baik dalam segala hal tanpa terkecuali. Banyak yang dipersiapkan seperti pakaian, hiburan, dan dekorasi yang selalu didominasi warna putih biru sesuai dengan ciri khas mereka.
Aula besar terlihat ramai di datangi banyak tamu yang datang untuk menghadiri undangan dari kaisar. Deretan tempat duduk dengan meja meja yang diatasnya terdapat teko dan cangkir emas terlihat sangat mewah. Para tamu sudah mulai berdatangan namun kaisar beserta ketiga pangeran belum terlihat kehadirannya.
Seseorang yang memang malas menghadiri acara itu sudah sampai di depan istana. Rin berjalan beriringan dengan ayahnya, tidak berminat melirik kiri kanan untuk melihat keadaan istana dengan banyak hal hal luar biasa mengagumkan “Ayi” Rin melihat ayahnya “Ya ayah” katanya.
“Para keturunan dewa dewi akan menampilkan pertunjukan seni di depan Yang Mulia Kaisar. Apa kamu akan menampilkan sesuatu, tetapi ayah tidak memaksa”
“Aku tidak ingin menampilkan apa apa, lebih baik menikmatinya saja”
Rin dan ayahnya memasuki istana, disambut beberapa pengawal yang memberi hormat. Berjalan dengan santai tanpa ingin bertegur sapa dengan siapapun, tidak seperti sang ayah yang selalu tersenyum menyambut uluran tangan orang lain “Permisi” seseorang menyapanya “Apakah kamu keturunan dewi sungai, Rin” seorang dewi cantik dengan pakaian indah tersenyum kearahnya.
Rin melihat dari atas sampai bawah dengan wajah datar “Ya. Apakah kamu putri dewi bunga, Alin Qian” tebaknya.
“Ya, ternyata kamu mengenalku. Aku tidak punya teman disini sedangkan ayah dan ibu berbincang dengan orang lain. Apakah kamu mau jadi teman dudukku” tersenyum ramah yang ditanggapi tatapan dingin.
“Tentu” Rin menampilkan senyuman aneh.
Meninggalkan sang ayah yang sedang berbincang dengan tamu lain. Rin duduk disalah satu tempat yang sudah disediakan, kemudian seorang pelayan istana menuangkan air kedalam cangkir di depannya “Silahkan dewi”
Rin mengangkat satu halisnya dan berkata “Ini arak”
“Benar dewi, apa anda tidak suka” tanya pelayan itu.
Keturunan dewa dewi yang memiliki status tinggi akan dipanggil dengan nama dewa dewi itu sendiri, seperti Rin dan ayahnya. Sedangkan yang berada distatus rendah hanya akan dipanggil dewa dewi oleh para pelayan dan pengawal serta orang biasa saja. Namun manusia biasa jarang mengetahui keberadaan mereka meski bertatap muka sekalipun. Tidak sembarangan untuk para keturunan dewa dewi mengungkapkan identitas mereka.
“Tidak masalah” jawab Rin disertai senyuman singkat.
Setelah menuangkan arak kedalam cangkir pelayan istana itu pergi untuk melayani tamu yang lain.
Rin mengambil cangkir dengan satu tangan, melihatnya sejenak dan berkata “Jika saja aku tidak memiliki kemampuan menetralisir pengaruh anggur, mana mungkin tidak masalah dengan arak berkualitas terbaik ini” sebelum mengarahkan cangkir ke bibirnya Rin melirik sekilas ke arah samping. Orang yang baru dia temui tengah tersenyum ke arahnya. Dia balas tersenyum kemudian meneguk habis arak di dalam cangkir.
Aula besar sudah diisi dengan para keturunan dewa dewi, kaisar masuk kedalam aula bersama istrinya mengenakan pakaian kerajaan yang jauh dari kata sederhana. Di belakangnya ketiga pangeran tengah berjalan berdampingan, melihat lurus kedepan dengan ekspresi yang berbeda. Pandangan Riu Lao tertuju pada seseorang yang mengenakan pakaian berwarna indah, ketika lewat didepan wanita itu dia tersenyum tipis kemudian kembali mengalihkan pandangannya kedepan.
Kaisar duduk di singgasana bersama sang istri, tersenyum sekilas kemudian berkata “Para Dewa Dewi dan keturunannya yang hadir, saya ucapkan terima kasih” suaranya menggema di seluruh aula besar “Silahkan menikmati kudapan sederhana yang telah tersedia” merendah karena jelas sekali makanan yang disediakan sudah dipersiapkan dengan matang.
“Yang Mulia kaisar” salah satu tamu memberi salam “Selamat atas pencapaian Yang Mulia. Jika berkenan, keluarga kami akan menampilkan sebuah pertunjukan untuk menghibur Yang Mulia”
Kaisar tersenyum “Silahkan”
Berbagai pertunjukan seni diperlihatkan sebagai hiburan untuk kaisar. Tarian dan nyanyian yang diiringi dengan permainan alat musik, itu dilakukan oleh beberapa keturunan dewa dewi kecuali Rin tentunya. Dia sedang asik memandang lurus kedepan, tepat di mana seorang terduduk dengan tenang.
Dari awal pangeran kedua itu memasuki aula bersama kedua saudaranya, Rin terus memandang dari atas sampai bawah dengan senyuman tipis menghiasi bibirnya “Senyuman yang indah”
Rin melirik ke arah samping dan melihat wajah familiar seorang pria berpakaian kerajaan “Riu San? Kamu kenapa duduk dibarisan para tamu dan bukankah seharusnya bersama dengan kedua kakakmu” tanyanya.
“Tidak ingin saja, aku lebih suka duduk denganmu. Lagi pula aku lihat kamu tidak punya teman duduk”
Rin baru sadar jika orang yang menjadi teman duduknya sudah tidak ada, dia mengedarkan pandangan kedepan dan melihat wanita bernama Alin Qian tengah menari dengan indah di depan para tamu.
“Kamu tidak menampilkan apa apa” tanya Riu San, sesekali tangannya mengambil kudapan kecil.
“...” Rin tidak menjawab, pandangannya masih tertuju pada seseorang yang menjadi objek penglihatannya. Di sana Riu Lao tengah tersenyum hangat melihat seorang keturunan dewi yang sedang menari dengan indah.
Sadar dengan keterdiaman Rin, Riu San bertanya “Kamu menyukai kakak keduaku?” Tebaknya.
“Tidak ada alasan untuk aku membenci kakakmu bukan” alih alih menjawab, Rin malah balik bertanya.
Riu San hampir saja menjatuhkan rahang jika tidak ingat dengan statusnya “Kamu memang selalu pandai berkata kata” sarkasnya.
“Terima kasih atas pujiannya” Rin tersenyum cerah.
“Kamu bisa tersenyum juga” gumam Riu San.
__ADS_1
“Um?” Rin tidak mendengar karena sedikit berisik di sekitar sana, ditambah suara Riu San yang lirih.
“Tidak” Riu San kembali memakan kudapannya.
Rin kembali melihat ke arah depan dengan tatapan sulit diartikan serta senyuman hangat itu berubah hambar, sesaat kemudian wajahnya menampilkan kegetiran yang nyata.
.....
Perjamuan besar yang diselingi penampilan dari keturunan dewa dewi berlangsung dengan baik. Kaisar Riuyi tidak henti hentinya tersenyum puas karena acara yang dibuatnya sesuai dengan harapan.
Sekarang perjamuan sudah selesai dan kaisar sudah meninggalkan singgasana. Aula besar terlihat sepi karena para tamu sudah berangsur angsur meninggalkan tempat itu. Hanya beberapa orang masih terduduk diam atau berbincang dengan tamu yang lain.
Rin sudah tidak terlihat keberadaanya, sementara sang ayah masih berbincang dengan beberapa keturunan para dewa. Tepat pada saat kaisar Riuyi dan istrinya meninggalkan aula, Riu San mengajaknya untuk berjalan jalan di istana. Awalnya dia menolak dengan alasan malas, tetapi Riu San memaksa ingin memperlihatkan semua keindahan istana padanya. Kenyataannya Rin sudah hapal seluk beluk istana beserta keindahan dan kepahitannya.
“Bagaimana menurutmu tempat ini, indah bukan” Riu San menunjuk pada sebuah kolam besar dengan banyak ikan ajaib dari berbagai ukuran.
“Um” Rin hanya bergumam.
Tempat itu memang indah, karena meski disiang hari udaranya terasa sejuk. Dan semua itu tidak luput dari campur tangan kekuatan ajaib para penduduk istana yang bisa memanipulasi.
“Kelihatannya kamu sangat tidak bersemangat untuk datang kesini”
“Benar, aku malas bertemu denganmu” Rin tersenyuman miring, sebenarnya dia hanya ingin menghindari seseorang.
“Kamu memang...” Riu San tidak melanjutkan perkataannya, memilih melangkahkan kaki menuju ke sebuah tempat duduk batu.
Rin masih terus berdiri disisi kolam dengan pandangan lurus kedepan. Kolam besar itu adalah tempat terakhir yang dia datangi sebelum pergi berperang. Disisi lain dari kolam itu dia melihat senyuman hangat dan tatapan penuh cinta yang ditujukan Riu Lao untuk orang lain.
Berpikir apakah takdir sedang mempermainkannya? Ketika itu dia memilih melepaskan nyawanya untuk kebaikan semua orang. Tetapi takdir kembali menempatkannya pada situasi yang sama, menjadi seorang penasihat dan berakhir dengan sebuah kematian.
Rin menggeleng, berusaha memutus semua kenangan itu ketika menyadari kehadiran seseorang di dekatnya “Sekarang kamu akan mengajakku kemana lagi” bertanya tanpa melihat orang disampingnya.
“Apa?”
Itu adalah pangeran pertama yang datang entah darimana “Kamu putri keturunan dewa bumi”
“Benar pangeran” jawabnya.
Setelah jawaban itu tidak ada yang berbicara lagi, Rin masih tidak ingin melihat wajah datar Riu Zin. Sedangkan pangeran pertama itu berjalan melewatinya untuk lebih dekat dengan kolam.
“Hah” Rin menghela nafas dalam, memejamkan mata untuk menetralisir perasaanya.
Rin tidak terlalu mengenal Riu Zin karena fokusnya hanya kepada Riu Lao, dan juga kepribadian pangeran pertama itu membuatnya tidak ingin memulai sesuatu yang akan menimbulkan masalah.
Kaisar Riuyi memiliki tiga orang putra yang akan meneruskan tahtanya. Riu Zin adalah seseorang yang sulit ditebak, dia bukan tidak suka bicara melainkan tidak suka basa basi. Riu Lao memiliki kepribadian tenang dan ramah, namun disamping semua itu dia mempunyai sisi yang sebaliknya. Riu San memiliki kepribadian atraktif tergantung dia berinteraksi dengan siapa, tidak suka ikut campur dalam urusan istana dan lebih memilih bermain dengan sahabatnya.
“Riu San pergi kemana” Rin melihat ke arah dimana sahabatnya terduduk, namun tidak ada siapa siapa disana.
Entah kemana Riu San pergi, yang jelas pangeran pertama itu tengah berdiri di depannya.
Melihat Riu Zin yang masih menikmati keindahan kolam, Rin memutuskan untuk pergi sebelum sebuah pertanyaan menghentikannya “Kamu teman dekat Riu San”
“Benar pangeran” jika sebelumnya Rin akan memanggil para pangeran dengan sebutan Yang Mulia, namun karena sekarang dia bukan atau lebih tepatnya belum menjadi bawahan dari siapapun mengapa harus tertekan dengan sebuah status.
“Siapa namamu” Riu Zin bertanya lagi, namun masih enggan membalikan badan untuk melihat lawan bicaranya.
“Rin” Rin tidak ingin menyebutkan nama lengkapnya kepada orang yang bahkan tidak mau melihatnya ketika berbicara.
“...” Riu Zin kembali terdiam dan mengabaikan keberadaan Rin. Meski dia seorang pangeran, seharusnya bisa bersikap lebih hormat terhadap tamunya.
Rin melihat orang di depannya dengan tatapan tajam sehingga bisa melubangi punggung seseorang. Ingin pergi dari tempat itu namun masih menaruh rasa hormat kepada Riu Zin, jika memilih tinggal malah merasa canggung.
“Rin..” tiba tiba Riu San datang, menyelamatkannya dari situasi itu “Maaf meninggalkanmu tiba tiba, tadi ada urusan”
__ADS_1
“Tidak apa apa pangeran” jawabnya sopan.
“Pangeran? O-oh” Riu San menyadari kehadiran kakaknya “Paman Tian mencarimu. Dia bilang akan memperkenalkan kamu pada ayah”
Rin melupakan itu dan segera pamit kepada kedua pangeran untuk menemui ayahnya.
Tinggallah Riu San dan Riu Zin disana. Suasana canggung yang dirasakan Rin kini dirasakannya, didekat kakak pertamanya membuat dia ingin cepat cepat pergi.
Riu San memang selalu menghindari Riu Zin kapanpun ada kesempatan untuk mereka bertemu. Berbeda ketika bersama dengan Riu Lao, dia bisa bebas bernafas karena kepribadian sang kakak yang ramah dan tenang.
.....
Rin sudah sampai di depan sebuah pintu besar, itu adalah ruangan sang kaisar dan ayahnya kini berada disana. Dua pengawal yang berada didepan pintu memberi hormat mempersilahkannya untuk masuk.
Ketika sudah sampai didepan sang kaisar, Rin membungkuk dan berkata “Yang Mulia kaisar, Rin Ayitian memberi salam”
“Ini putrimu” itu ditujukan untuk sang ayah.
“Benar Yang Mulia, Ayi putri saya satu satunya” jawab sang ayah. Rin duduk disamping ayahnya setelah mendapat persetujuan dari kaisar.
Kaisar “Aku dengar kamu pandai dalam ilmu bela diri”
Rin “Yang Mulia terlalu memuji”
“Tentu tidak. San sering membicarakan keahlian bela dirimu ketika bersama denganku” kaisar masih memujinya.
“..” Rin tidak menimpali apa apa, tersenyum tipis menerima semua pujian dari pemimpin tertinggi di kerajaan itu.
“Yang Mulia kaisar, pangeran Riu Lao ijin untuk menghadap” kata salah satu pengawal istana.
“Persilahkan dia masuk” titah kaisar.
Riu Lao masuk melewati pintu besar itu. Ketenangan selalu menghiasi wajahnya, langkahnya penuh dengan kewibawaan. Itulah mengapa Rin sempat jatuh cinta padanya “Lao memberi salam kepada ayah handa” membungkuk dan mengatupkan kedua tangannya.
“Ada apa kamu datang menemuiku?” kaisar langsung bertanya.
Riu Lao “Bukankah ayah handa yang memanggilku untuk membicarakan sesuatu ”
“Ah, aku melupakan itu. Tetapi kebetulan keturunan dewa bumi dan putrinya ada disini, kamu bisa menyapa mereka”
“...” Riu Lao memberi salam.
“...” Rin hanya tersenyum sekilas sebagai respon dan kembali mengalihkan pandangan kearah lain.
“Duduklah” Riu Lao mendudukan dirinya di dekat sang ayah “Ayah berniat menunjuk seseorang untuk menjadi penasihatmu. Bagaimana menurutmu?”
“Lao mengikuti perintah ayah handa” Riu Lao masih tetap tenang seperti biasa.
Kaisar “Bagaimana dengan putri keturunan dewi bunga, Alin Qian”
Rin membolakan matanya, terkejut karena mengira namanya yang akan disebut. 'Dulu' kaisar memintanya sendiri agar bersedia menjadi penasihat pangeran kedua, tetapi sekarang orang lain yang akan menjadi penggantinya. Bukan kecewa melainkan sangat bersyukur, itu artinya dia tidak akan sering bertemu dengan Riu Lao.
Namun harapan Rin hilang ketika Riu Lao mengatakan “Alin akan menjadi penasihat kakak Zin”
Kaisar “Benar, Zin sudah mengatakan itu sebelumnya. Tetapi ayah pikir kamu akan meminta untuk menjadikan keturunan dewi bunga itu sebagai penasihatmu, karena kalian adalah teman dekat”
Riu Lao tersenyum tipis dan pandangannya tertuju pada Rin “Mungkin seseorang memenuhi syarat untuk menjadi penasihat Lao ayah handa”
“...” Rin menyadari tatapan itu, tetapi dia menepis semua kemungkinan yang ada dipikirannya. Tidak ingin terjerumus kelubang yang sama untuk kedua kalinya, kembali dengan wajah tenang dan mendengarkan apa yang akan dikatakan kaisar.
“Sebelumnya ayah berencana untuk menjadikan Alin Qian sebagai penasihatmu dan Rin Ayitian sebagai penasihat kakakmu. Tetapi jika sudah seperti ini...”
Pupus sudah harapannya untuk bisa jauh dari Riu Lao. Dia hanya bisa pasrah menerima semua keputusan yang ada, lagi pula dari awal takdir sudah mempermainkannya.
__ADS_1