
Simbol matahari di dahi, pedang di tangan dengan warna sama seperti pakaiannya yang merah menyala. Keangkuhan terlihat diwajahnya yang tampan, serta beberapa orang berdiri di belakangnya menganakan pakaian yang hampir sama dengannya.
Siapa lagi jika bukan Rong Huan, pangeran pertama kerajaan langit timur. Putra keturunan dewa matahari sekaligus pewarisnya. Dan orang orang dibelakangnya adalah para pengawalnya.
Dia berkata dengan angkuh “Ternyata pangeran kerajaan langit selatan, Riu Lao”
“...” Riu Lao masih pada posisinya. Dia masih menggenggam tangan Rin.
Pertemuan antara utusan empat kerajaan langit terkadang terjadi, itu selalu dihindari untuk kemungkinan apapun yang akan kembali menyulut api permusuhan. Meski sudah memiliki pembagian wilayah masing masing, akan ada titik pusat yang mempersatukan mereka. Contohnya ditempat sekarang mereka berdiri.
“Pangeran Rong Huan” Riu Lao berkata dengan sopan. Wajah datarnya sudah berganti dengan keramahan “Bersikap baiklah” itu ditujukan untuk Rin.
Rin bukannya tidak tahu identitas pangeran kerajaan langit timur itu, dia hanya belum ingin berurusan dengan siapapun dalam waktu dekat.
Tetapi jika sudah seperti itu, dia akan mencoba tidak menimbulkan kesan buruk untuk pertama kali.
Dia memang tidak terlalu mengingat jelas rincian kejadian sebelumnya. Tetapi dia tahu jika dimasa depan Riu Lao akan memiliki masalah serius dan yang membantunya adalah Rong Huan.
Dengan terpaksa dia membungkuk memberi hormat “Rin kurang pengetahuan. Diharapkan pangeran Rong Huan memaklumi kesalah pahaman tadi”
“Hah” Rong Huan mendengus dan pergi begitu saja bersama para pengawalnya.
Masyarakat yang ada di pasar tidak terlalu peduli tentang pertikaian kecil diantara para keturunan dewa itu. Sehingga apa yang dibicarakan tidak di dengar oleh siapapun, kecuali orang orang yang bersangkutan.
Rin menghela nafas kasar, dia melihat tepat dimana makanan kesukaannya harus terbuang sia sia. Wajahnya terlihat seperti anak kecil yang permen kesukaannya direbut orang lain.
Riu Lao menyadari itu dan berkata “Aku akan menggantinya”
“Tidak perlu pangeran, itu adalah yang terakhir”
Makanan kesukaannya sulit dibuat dan jarang sekali ada, dia beruntung dapat menemukannya hari ini meski hanya beberapa buah.
Dia juga tidak akan menunjukan wajah semurung itu jika saja masih ada yang menjual makanan itu dipasar. Kenyataannya hanya ada satu penjual dan yang dijatuhkannya adalah yang terakhir.
Dengan tidak semangat Rin bertanya “Apakah kita akan kembali ke istana pangeran? Apakah penasihat pangeran pertama kondisinya sudah pulih?”
“Alin masih membutuhkan waktu memulihkan kondisinya, kemungkinan kita akan berada disini untuk semantara”
“...” Rin menjawabnya dengan anggukan.
Riu Lao melangkahkan kakinya menuju salah satu kedai yang ada dipasar itu. Rin yang mengikuti dibelakangnya bertanya dengan heran “Kita akan melakukan apa disini pangeran?”
Riu Lao menjawab dengan pandangannya lurus kedepan “Kita akan makan disini”
Seorang pangeran kerajaan langit dan juga sebagai keturunan dewa, dia bersedia makan ditempat seperti itu yang jauh dari kata mewah.
Kedai kecil itu hanya memiliki tiga meja dan dua tempat duduk yang terbuat dari kayu disetiap mejanya, cukup untuk empat orang duduk bersama.
Rin duduk di depan Riu Lao dengan banyak keheranan di wajahnya. Mereka terhalang oleh meja bundar berukuran kecil yang terbuat dari kayu hitam.
Setelah memesan makanan, mereka menunggu dengan tidak ada yang bersuara. Larut dalam pikiran masing masing.
Sudah kedua kalinya Rin makan berhadapan dengan Riu Lao. Seharusnya yang ada diposisinya sekarang ini adalah orang lain.
‘Dulu’ dia hanya akan melihat Riu Lao dari kejauhan ketika mereka makan. Atau hanya berada di meja di sebelah meja Riu Lao dan Alin Qian.
Yah, seperti itulah kesehariannya sebagai seorang penasihat dan pengagum rahasia Yang Mulianya.
__ADS_1
Namun itu ‘dulu’. Sekarang ketika dia ingin menjauh dan tidak berharap lagi akan perasaannya. Riu Lao seakan selalu berada di dekatnya dan memperhatikannya. Peduli dan selalu khawatir ketika mereka saling berjauhan.
Ketika dia berpikir seperti itu untuk kesekian kali, berulang kali juga dibantahkan oleh perhatian lembut Riu Lao kepada Alin Qian.
Kisah cintanya benar benar miris.
“Tidak ingin makan” tiba tiba suara Riu Lao menyadarkannya.
Sejak kapan makanan itu disajikan oleh si pemilik kedai, dia bahkan tidak menyadarinya. Mungkin akibat melamun yang tidak perlu, dia jadi kehilangan perhatiannya beberapa saat lalu.
Makanan diatas meja cukup sederhana, namun itu adalah yang sering disajikan oleh pelayan di rumahnya. Dia dan ayahnya juga setiap hari memakan makanan seperti itu, jadi lidahnya sudah biasa.
Meski Riu Lao selalu ingin terlihat sederhana, namun pasar adalah tempat yang benar benar sangat sederhana. Dia selalu tinggal di istana, dengan makanannya yang lebih enak dan disajikan dengan baik.
Jika dilihat dari caranya makan saat ini, dia sangat serius dan terkesan menikmati. Mungkin saja dia pernah memakan makanan masyarakat bumi sebelumnya.
Tidak tidak. Jelas Rin sangat tahu itu pertama kalinya Riu Lao menginjakkan kakinya di bumi, tidak mungkin pernah memakan makanan seperti itu. Beda lagi jika para pelayan istana yang sengaja membuatnya.
Dia masih melihat Riu Lao dan belum menyentuh makanannya sama sekali, cukup takjub dengan selera makan pangeran kedua itu.
“Rin..” “Yah?”
Riu Lao mengisyaratkan dengan matanya agar dia memakan makanannya.
“Ah...” segera Rin melahap makanannya dengan sesekali melirik Riu Lao.
Ketika tengah memusatkan pikirannya untuk makan, dia harus tersedak karena apa yang didengarnya “Uhuk.. Uhuk”
Dengan wajah setenang air Riu Lao berkata “Hati hati”
Ketika ayah dan ibunya serta orang orang terdekatnya mengatakan itu dia akan segera memprotes. Tetapi yang membuatnya terkejut adalah sejak kapan Riu Lao tahu tentang nama panggilannya.
Riu San bahkan tidak tahu nama panggilannya itu untuk saat ini, ayahnya juga tidak pernah memanggilnya dengan nama ‘Ayi’ di depan Riu Lao.
Apakah kaisar yang mengatakannya pada Riu Lao? Sebab waktu itu sang ayah pernah memanggilnya dengan nama itu di depan kaisar.
Jelas tidak mungkin. Namanya bukanlah sesuatu yang penting sehingga kaisar akan membicarakannya di depan orang lain.
Lalu darimana Riu Lao bisa tahu? Rin benar benar... tidak tahu lagi dia harus berkata apa.
Entah dia sadar atau tidak, diam diam Riu Lao tersenyum tipis melihat reaksinya yang berlebihan.
....
Setelah kegiatan makan selesai, Rin sudah pergi entah kemana. Meninggalkan Riu Lao yang harus membayar semua makanannya.
Mata uang yang digunakan masyarakat bumi sama dengan apa yang dipergukan kerajaan langit. Tidak susah baginya sebagai seorang pangeran hanya untuk membayar makanan sederhana itu, bahkan dia memberikan uang lebih kepada pemilik kedai.
Penasihatnya sendiri ijin untuk terlebih dahulu kembali ke penginapan. Dia tahu Rin terkejut dengan apa yang dikatakannya.
Dia harus bagaimana jika sudah tahu bahkan tanpa diberi tahu. Dia juga tidak bisa mengatakan apa yang ada dipikirannya sekarang ini... mungkin lebih baik dia simpan untuk sementara waktu.
Ketika akan keluar dari pasar, kebetulan dia melihat kedai baru yang ternyata menjual makanan kesukaan seseorang. Dia mampir sebentar untuk membelinya dan kemudian meneruskan perjalannya menuju penginapan.
Suasana sepi di dalam maupun diluar bangunan bernuansa sederhana itu adalah tempat mereka menginap. Sengaja Riu Lao memilih tempat itu karena dia tidak terlalu menyukai dikelilingi masyarakat bumi karena kebiasaan yang berbeda.
Dia berjalan masuk dan tidak menemukan penasihatnya di ruangan tengah. Kemudian berjalan dan mengetuk pintu kamar tempat Rin istirahat, tetap saja dia tidak menemukannya.
__ADS_1
“Lao..” seseorang memanggilnya dengan lembut.
“Kamu sudah lebih baik?” tanyanya.
Seorang bunga yang tengah tersenyum manis ke arahnya menjawab “Um.. aku sudah lebih baik”
Wanita cantik dengan wajah putih yang sedikit pucat itu adalah Alin Qian, terlihat sekali dia belum sepenuhnya sembuh.
Mungkin cukup belebihan hanya karena goresan kecil ditangannya dia sudah sangat lemah. Memang seperti itulah kondisi tubuhnya yang membuat Riu Lao selalu merasa khawatir.
Riu Lao sebelumnya sempat memperingatkan untuk dia tidak mengajukan diri sebagai penasihat pangeran. Tetapi karena rasa sukanya pada Riu Zin dan sifat keras kepalanya, dia bersikeras untuk berada diposisi itu..
Kondisinya selalu ditutupi di depan semua orang. Kaisar hanya mengetahui jika dirinya memiliki kemampuan luar biasa yang diturunkan dari ibunya. Jika tidak seperti itu, dia tidak akan menjadi penasihat pangeran apalagi menjadi bagian dari istana.
“Apa yang kamu bawa?” Alin Qian melihat sesuatu yang Riu Lao bawa.
“Ini kue kecil yang disukai masyarakat bumi” Riu Lao membuka kantung kecil ditangannya dan memperlihatkannya pada Alin Qian.
“Wah Embun Madu. Bagaimana kamu bisa mendapatkannya? Ini jarang sekali ada” ternyata Alin Qian juga tahu tentang makanan itu.
“Kebetulan ada kedai baru dan menjual ini, apa kamu mau?” dengan senyumannya Riu lao menawarkan makanan yang sebelumnya untuk orang lain.
Dengan senang hati Alin Qian menerimanya, dia memakan itu dengan lahap sampai sampai tidak tersisa sedikit pun “Enak sekali” katanya.
“Apa yang enak?” suara berat pangeran pertama tiba tiba menyapa pendengaran mereka.
“Pangeran Riu Zin..” Alin Qian dengan semangat menyambut kedatangan yang mulianya.
“Hanya makanan kecil” jawab Riu Lao. Dia melihat lihat kesekitar untuk mencari seseorang dan itu disadari Riu Zin.
Riu Zin “Ada apa?”
Riu Lao “Lao mencari putri keturunan dewa bumi”
“Bukankah dia dari sini tadi?”
“Kak Zin melihatnya?”
Riu Zin mengangguk samar kemudian menjawab “Aku melihatnya keluar penginapan dengan terburu buru”
Mendengar itu Riu Lao terdiam, sorot matanya sulit diartikan dan pandangannya terkesan beralih keluar dari penginapan. Entah apa yang dipikirkannya, siapa yang tahu jika bukan dirinya sendiri.
Sebenarnya dia ingin mencari tahu kemana Rin pergi, tetapi dia tidak punya alasan untuk itu.
Setelah pamit pada Riu Zin, dia pergi ke kamarnya dan membiarkan Alin Qian bersama kakaknya.
Keanehan yang dirasakan Rin pada Riu Lao karena sesuatu yang tidak disangka sangka, atau mungkin dia memang tidak pernah menyadari perhatian Riu Lao sebelumnya.
Dengan Riu Lao tiba tiba tahu nama panggilannya , dia ingin menjauh untuk sementara waktu dengan alasan kembali kepenginapan terlebih dahulu.
Dia juga melihat Riu Lao memberikan kue kesukaannya kepada Alin Qian, yang awalnya mengira itu untuknya.
Bohong jika tidak kecewa, tetapi bukankah itu sudah biasa. Akhirnya untuk meredam rasa ‘sedikit’ cemburunya, dia lebih memilih keluar penginapan lagi dan jalan jalan sebantar.
Tidak disangka ditengah perjalanan dia bertemu dengan penasihat Riu San yang mengatakan temannya itu sedang berada di bumi. Alhasil disinilah dia sekarang, duduk disebuah meja ditemani secangkir teh.
“Mengapa kamu berada disini?”
__ADS_1