
“Lagi lagi nona berada di atas pohon” salah satu pelayan Rin melihatnya dari bawah pohon.
“Benar, setelah nona tidak sadarkan diri selama satu minggu dia jadi sering menyendiri dan jarang tersenyum” timpal pelayan satunya.
“Aku kira hanya aku saja yang berpikir seperti itu. Biasanya nona Ayi akan lebih suka membaca buku dengan ditemani teh hangat buatanku, sesekali bercanda dengan kita” pelayan Rin itu perempuan dan laki laki, mereka sepasang suami istri.
“Sedang apa kalian ada disini” suara seorang pria membuat kedua pelayan itu terdiam.
“Tuan” hormat keduanya.
“Lebih baik selesaikan pekerjaan kalian daripada membicarakan orang lain dibelakang” perkataannya terdengar tidak suka.
“Maaf tuan” keduanya membungkuk “Kami tidak bermaksud”
“Sudahlah. Lebih baik kalian menyiapkan makanan” kedua pelayan itu meninggalkan tempat mereka berdiri dengan perasaan tidak enak karena telah membicarakan nona mereka dibelakang.
Rin yang dibicarakan tengah duduk diatas batang pohon memainkan sebuah seruling. Hembusan angin membawa kemerduan suara seruling, mengalun indah menciptakan suasana damai. Pepohonan ikut menari bersama alunan musik, rumput rumput terus bergoyang menikmati belaian angin. Kicauan burung burung kecil menambah suara nada menjadi lebih indah, matanya yang terpejam menjadi penanda dia sangat menikmati setiap hembusan nafasnya.
“Kenapa ayah berpikir kamu sudah berubah. Tetapi permainan seruling kamu tetap sama” pria paruh baya yang melihat Rin dari bawah pohon adalah ayahnya, dia tersenyum hambar kemudian meninggalkan tempat itu.
Rin membuka mata dan menghentikan permainan musiknya. Terdiam sejenak menerawang jauh kedepan, mengingat sesuatu yang selalu membuat dia ingin memainkan alat musik di tangannya “Kenapa sulit sekali berada didekat orang yang aku cintai” lirihnya. Dia tengah merindukan seseorang.
Jika ayahnya adalah keturunan murni dewa bumi dan dewi angin. Maka ibunya adalah keturunan dewa petir dan dewi sungai. Beberapa waktu kebelakang dia menemui ibunya dipinggir sungai dan terjatuh karena berusaha meraih sang dewi yang berubah menjadi aliran air. Kepalanya terbentur bebatuan menyebabkan dirinya tidak sadarkan diri selama berhari hari.
Sang ibu tidak tinggal bersamanya, tetapi bukan berarti dia tidak pernah melihat dewi yang sudah melahirkannya. Meski jarang sekali bertemu dan hanya memiliki waktu singkat untuk bersama dengan ibunya, Rin tetap merasa senang. Setidaknya dia masih bisa melihat wajah cantik dewi sungai itu.
Hidup hanya dengan sang ayah dan dua orang pelayan tidak menjadikan dirinya menyerah untuk bisa menjadi wanita terhebat yang bisa menolong banyak orang. Rin berlatih dengan bimbingan dari ayahnya, kemampuan yang dimiliki sedari lahir mampu memudahkannya berlatih tanpa harus adanya seorang guru.
“Hah” Rin menghela nafas kasar, meloncat dari atas pohon dan mendarat dengan mulus “Sebaiknya aku membaca buku atau berburu. Bosan berada disini setiap hari”
Pohon besar yang dijadikan tempat bermain seruling berdiri tidak jauh dari rumah. Dia sering berada disana hanya untuk merenung atau melihat pemandangan.
“Ayi, kamu akan pergi berburu” sang ayah bertanya.
“Benar ayah, aku bosan selalu berada di rumah” jawabnya dengan sibuk memasang peralatan panah di punggungnya “Dan jangan panggil Rin dengan nama itu” dia menyelipkan pisau belati dibalik pakaian.
“Baiklah baiklah, kalau begitu kamu hati hati”
“...” Rin mengangguk kemudian pergi meninggalkan kediaman itu dengan langkah pasti menuju hutan lebat yang tidak jauh dari sana.
Rin merupakan keturunan dewa dewi, dan seharusnya tidak menjadikan keahlian memanahnya untuk berburu.
__ADS_1
Dewa dewi merupakan pelindung bagi semua makhluk hidup termasuk manusia dan hewan. Tetapi tidak ada larangan untuk berburu hewan liar dihutan selama itu tidak berhubungan dengan siapapun dan bukan sesuatu yang bisa melanggar kode etik sebagai keturunan dewa dewi. Bahkan sangat baik jika bisa membunuh binatang iblis yang terkadang berkeliaran di kehidupan masyarakat bumi.
.....
Kakinya melangkah menyusuri hutan yang ditumbuhi rerumputan hijau, kedua tangannya sudah siap dengan busur dan anak panah. Berjalan mengendap endap agar tidak disadari oleh hewan buruannya.
Keseriusan terlihat di wajahnya yang putih, ketika terus mengikuti kemanapun buruannya pergi.
Setelah mendapat kesempatan, anak panah langsung melesat kearah jantung hewan itu. Sasarannya selalu tepat dan kemampuannya tidak pernah diragukan, Rin tersenyum bangga kemudian mengambil hasil buruannya.
“Luar biasa” suara tepukan tangan terdengar dibelakangnya.
“...” dia menempatkan hasil buruannya di tangan kanan dan busur panah di tangan kiri, melihat orang yang tiba tiba muncul dengan tanpa ekspresi.
“Wah” pria itu menghampirinya “Kamu tega sekali membunuh hewan manis seperti ini”
“...”
“Rin, tunggu!” pria itu mengejarnya “Kamu memang selalu mengabaikan aku, satu satunya orang yang selalu setia berada di dekatmu-”
“Berhentilah terlihat seperti orang teraniaya! Ada apa kamu menemuiku” Rin melihat lawan bicaranya dan memelankan langkahnya.
Rin memiliki seorang teman dekat bernama Riu San, pangeran ketiga dari kerajaan langit selatan. Pertemuannya bermula ketika dia menolong Riu San dari sekelompok penjahat saat berada di hutan.
Pada saat itu dia baru berusia tiga belas tahun dan Riu San masih dalam tahap mengembangkan ilmunya. Sejak saat itu keduanya menjadi teman dekat dengan kepribadian mereka yang berbeda.
“Bagaimana bisa kamu bosan ditempat yang menurut banyak orang sangat luar biasa”
“Kamu tahu aku. Aku lebih senang berada di bumi bersama denganmu dari pada harus di istana yang penuh dengan peraturan dan permasalahan yang ada.
Rin “Bukannya kamu hanya ingin menggangguku”
“Hehehe” Riu San menempilkan cengiran konyol “Oh ya Rin. Istana akan mengadakan perjamuan besar bagi keturunan para dewa dewi termasuk kamu dan ayahmu”
“...” Rin menghentikan langkahnya, melihat Riu San dengan tatapan sulit diartikan.
“Kalau begitu aku akan kembali keistana. Sampai jumpa tiga hari lagi” Riu San pamit kemudian terbang menuju kerajaan langit selatan. Rin hanya melihat sejenak, memutuskan untuk tidak melanjutkan perburuan dan kembali kerumah.
.....
“Ayah” Rin memasuki pekarangan rumah yang cukup luas.
__ADS_1
“Kamu sudah kembali, apa itu hasil buruanmu” dia disambut ayahnya yang sedang memberi makan hewan peliharaan.
“Hanya ini yang aku dapat, Riu San kembali menggangguku” menyimpan peralatan panahnya di tempat semula dan menempatkan hasil buruan di depan pintu.
“Pangeran ketiga datang menemui kamu, mengapa tidak mengajaknya untuk bertemu ayah” sang ayah duduk di kursi yang tersedia di pekarangan itu.
“Riu San terlihat sedang terburu buru dan dia bilang ada perjamuan besar di istana” mendudukan dirinya di depan sang ayah, sedangkan hasil buruannya sudah dibawa oleh pelayan.
“Silahkan nona” satu pelayannya menyajikan teh diatas meja.
“Perjamuan besar? Apakah mungkin undangan ini...” sang ayah mengeluarkan sesuatu dari balik pakaian. Sebuah surat terbuat dari sinyal biru yang di tempatkan di dalam kupu kupu kecil.
“Mungkin saja, Riu San bilang akan ada undangan untuk setiap keturunan dewa dewi” jawabnya “ Apa ayah akan datang” Rin ragu.
“Tentu saja, keluarga kita selalu menjalin hubungan baik dengan kerajaan langit selatan dan kerajaan langit barat. Ayah tidak mungkin menyinggung Yang Mulia kaisar dengan tidak menghadiri undangannya”
“...” Rin mengangguk, dia hanya akan mengikut ayahnya tanpa berniat apa apa.
“Kali ini kamu ikut bersama ayah. Sekaligus ayah akan memperkenalkan kamu pada kaisar Riuyi” Rin tersenyum hambar dan mengiyakan keputusan ayahnya.
Dewi angin adalah neneknya, memiliki keterikatan dengan dewa angin. Itu menjadikan keluarganya mempunyai hubungan kekeluargaan dengan kerajaan langit barat. Kerajaan langit selatan dipimpin oleh keturunan dewa bulan yang merupakan sahabat dari dewa bumi. Sedangkan dewa bumi sendiri adalah kakeknya, juga sang ayah berhubungan baik dengan kaisar dari kerajaan langit selatan. Itu mengharuskan dia berhubungan dengan dua kerajaan langit sekaligus.
Hiruk pikuk kehidupan di bumi mencerminkan bagaimana para dewa mengaturnya. Dewa Dewi hidup di berbagai alam tanpa diketahui keberadaannya, menjalankan kewajiban melindungi dan mensejahterakan masyarakat bumi. Keturunan keturunannya banyak yang berada di bumi, mengemban tugas atau menjalani hukuman karena berbuat salah.
Peperangan antara keturunan para dewa ratusan tahun yang lalu mengakibatkan banyak korban jiwa, pertumpahan darah selama tujuh tahun tanpa henti. Kini peristiwa itu telah berlalu dan hanya menyisakan ingatan didiri masing masing. Semuanya sudah kembali damai tanpa ada yang ingin mengusik lagi satu sama lain. Menjauhi masalah dan segala sesuatu yang dapat menyulut api permusuhan.
Di atas langit terdapat empat kerajaan yang dipimpin oleh beberapa keturunan dewa dewi. Kerajaan kerajaan itu pula terpencar di empat penjuru mata angin, timur, barat, utara dan selatan. Mereka terpisah, hidup berjauhan dengan kekuatan dan ciri khas yang berbeda.
Kerajaan timur dipimpin oleh keturunan dewa matahari, dia dikenal sebagai kaisar yang tegas dan berwibawa. Kerajaan barat dipimpin oleh keturunan dewa angin, dikenal sebagai kaisar yang lembut dan penyayang. Kerajaan utara dipimpin oleh keturunan dewa api, dia di kenal sebagai kaisar yang bengis akan kekuasaan. Terakhir adalah kerajaan selatan dipimpin oleh keturunan dewa bulan, dia dikenal sebagai kaisar yang keras jika menyangkut kesempurnaan.
Para kaisar dari empat kerajaan langit memiliki kekuatan yang diturunkan langsung dari orangtua mereka, hebat dan luar biasa mengagumkan. Meski keturunan dewa dewi memiliki kekuatan hebat sejak lahir, namun mereka harus tetap melatih pengendalian diri dan mengembangkan kekuatan yang sudah ada. Tidak terkecuali kaisar kerajaan langit selatan, demi merayakan peningkatan kekuatan yang dimilikinya dia mengadakan perjamuan besar untuk semua keturunan dewa dewi.
“Ayi kamu sedang apa? cepatlah kita bisa terlambat”
Rin akan menghadiri perjamuan besar di kerajaan langit selatan bersama dengan ayahnya “Apa lebih baik aku tidak ikut saja ayah” sedikit malas dilihat dari penampilannya.
“Tidak bisa. Ayah tidak ingin menyinggung Yang Mulia kaisar karena sudah berjanji akan memperkenalkan kamu” sang ayah memaksanya “Cepat bersiap siap”
Rin masuk kembali kedalam rumah dan segera bersiap siap, dia tidak ingin melihat ayahnya murka.
Dia memakai pakaian sedikit cerah dengan polesan sederhana di wajahnya. Rambut panjangnya ditata rapi, hanya disertai hiasan rambut berbentuk daun perak. Setelah itu dia pergi menuju kerajaan langit selatan dengan mengendalikan angin.
__ADS_1