
“Kamu sedang memikirkan apa” Rin terus terdiam memikirkan permintaan kaisar dan apa yang akan terjadi jika dia menyetujuinya.
Setelah perjamuan besar, kaisar memintanya untuk menjadi penasihat Riu Lao. Semenjak keluar dari istana sampai berada didepan rumahnya, dia terus terdiam dengan raut wajah rumit.
Kerajaan langit selatan mempunyai kebijakan tersendiri dalam menentukan seorang penasihat. Bukan hanya kaisar yang memiliki seorang penasihat untuk memberikan usulan usulan dalam menjalankan kerajaan, para pangeran yang sudah mencapai umur tertentu bisa memilikinya.
Seorang penasihat terpilih karena kualitas dan kemampuannya. Dalam pemilihannya bisa melalui seleksi ketat atau dipilih sendiri oleh kaisar.
Tugas seorang penasihat pangeran tidak jauh beda dengan penasihat kaisar, hanya saja mereka akan lebih sering berada didekat Yang Mulianya. Berbagi pemikiran dalam memecahkan masalah, belajar memahami segala sesuatu tentang istana serta kebijakan kebijakanya. Yang jelas penasihat kaisar atau pangeran akan dihormati dan disegani karena status mereka.
“Ayi” Masih tidak ada jawaban dari putrinya.
“RIN-” “Iya ayah. Aku akan masuk kekamarku”
Rin segera masuk kedalam kamar, mendudukan dirinya disamping tempat tidur dan menghela nafas untuk kesekian kalinya “Hah, apa keputusanku kali ini sudah benar” dia sangat ingin menolak permintaan itu, tetapi sang ayah menyuruhnya untuk menerima.
Jika dia menolak, mungkin akan menyinggung sang kaisar yang sudah bermurah hati memberikan kepercayaan kepadanya. Dia hanya bisa meminta diberikan waktu untuk berpikir dan kembali kerumah terlebih dahulu.
“Ayi, kamu ada didalam”
“Ada apa ayah” Rin masih tetap pada posisinya.
“Boleh ayah masuk”
“Masuk saja”
“Kamu masih memikirkan permintaan dari Yang Mulia kaisar?” Rin masih tidak bergeming “Jika kamu keberatan, ayah tidak akan memaksamu untuk menerimanya” memilih mengalah daripada harus melihat putri satu satunya terus terdiam.
“Aku tidak tahu ayah. Bolehkah Rin pergi kesungai Biru?”
Sang ayah menghela nafas singkat “Baiklah, tetapi jangan seperti sebelumnya. Dan pulanglah sebelum malam” Setelah mendapat ijin dari ayahnya, Rin langsung pergi ketempat tujuan.
Berjalan menyusuri jalanan kecil, hanya pepohonan dipinggir jalan yang menemaninya saat ini. Ada penekanan disetiap langkah yang menandakan perasaannya, kerumitan masih terlihat di wajah cantiknya.
Angin sore meniup sebagian dari rambut hitamnya, tetapi dia masih tetap pada posisinya sampai disisi sungai Biru. Melihat aliran sungai yang sangat jernih, berharap seseorang muncul dengan membawa saran untuk masalahnya.
Sungai Biru adalah tempat terakhir kali dia bertemu dengan ibunya. Aliran air berwarna bening seperti namanya, permukaan sungai terlihat mengkilat diterpa cahaya senja. Tiba tiba muncul sebuah pusaran dari dasar sungai, perlahan membentuk sosok seseorang yang dirindukan “Ibu” Rin melihat penuh harap.
Sosok itu terbentuk dengan sempurna memakai pakaian berwarna biru yang sangat indah. Senyuman manis ditujukan untuk putrinya yang masing berdiri mematung “Ada apa putri kecil ibu datang kesini” katanya lembut.
“Aku merindukan ibu” Rin memeluk ibunya erat, seakan sudah lama dia tidak berjumpa dengan sosok cantik dewi sungai itu.
Tidak memungkiri jika sang ayah sangat menyayanginya, tetapi dia juga butuh kelembutan dan pelukan hangat seorang ibu yang bisa menenangkannya ketika dalam masalah.
“Bukankah belum lama ini kita bertemu disini” sang ibu balas memeluknya. Ada kehangatan seorang ibu yang sangat dia rindukan.
Setelah beberapa saat Rin melepas pelukannya “Ayi, sepertinya kamu ada masalah” sang ibu bertanya.
__ADS_1
“Aku merindukan ibu. Dan ibu tahu jika aku tidak suka dipanggil Ayi” Rin mengembungkan pipinya yang terlihat lucu.
Dewi sungai hanya bisa terkikik geli kemudian berkata “Baiklah Rin Ayitian putri ibu yang cantik, kelihatannya kamu ada masalah. Apa kamu ingin bercerita pada ibumu ini?”
“Apa ibu punya waktu mendengarkan ceritaku” Rin selalu memiliki waktu singkat untuk bersama dengan ibunya ketika bertemu. Bahkan sebelum dia bisa melepas kerinduan, sang ibu sudah menyatu dengan sungai.
Keturunan dewa dewi yang memilih untuk menjadi penerus dari orang tua mereka, memiliki keterbatasan untuk bertemu dengan orang orang terdekat. Seperti halnya sang dewi sungai, dia memilih meneruskan tugas ibunya untuk menjaga sungai suci itu. Tinggal berjauhan dan hanya memiliki waktu sedikit untuk bersama dengan suami dan putrinya “Kali ini ibu bisa mendengarkan ceritamu”
“Benarkah?” Rin tersenyum cerah.
“Jadi apa yang membuat hatimu gundah putriku”
“Umm...”
“Lebih baik kita duduk dulu disana” tidak jauh dari tempat mereka berdiri ada sebuah tempat yang bisa dipakai untuk duduk.
“Aku ingin menanyakan sesuatu” Rin memulainya.
“...”
“Apa ibu pernah mengulang sesuatu yang sama? Misalnya, ibu pernah datang kesuatu tempat dan ternyata itu berbahaya. Tetapi suatu hari ibu datang lagi ketempat itu padahal sudah tahu akan menghadapi situasi yang sama”
“Bukankah itu sebuah kebodohan? Jika sudah tahu berbahaya mengapa datang untuk kedua kalinya”
Jika sudah tahu menjadi penasihat pangeran akan berakhir dengan kematian, mengapa harus mengulanginya lagi? Tetapi ada sesuatu menyangkut keselamatan semua orang yang baru dia ingat “Bagaimana jika ibu datang ketempat berbahaya itu untuk seseorang yang ibu cintai?” meski Riu Lao akan selalu mengabaikannya, dia tidak bisa membiarkan semua orang dalam bahaya.
“...” Rin terdiam lagi, perkataan ibunya memang benar. Tetapi jika untuk melindungi orang orang yang dicinta berarti dia harus bersedia menjadi penasihat Riu Lao, pada akhirnya semua akan tetap sama.
Tidak memungkiri jika dirinya masih menaruh hati pada pangeran kedua itu, tetapi fokusnya sekarang bukan untuk mendapat perhatian dari Riu Lao.
“Ayi..” melambaikan tangan didepan putrinya yang sedang melamun “Kamu baik baik saja”
“Terima kasih atas sarannya ibu. Sekarang sudah hampir malam aku akan pulang, nanti aku datang lagi untuk menemui ibu” Rin tersenyum hangat.
“Baiklah, tetapi kamu jangan mengunjungi ibu dalam waktu dekat ini”
“Mengapa?”
“Hari ini ibu sudah banyak meluangkan waktu lebih dari semestinya. Jadi dalam waktu singkat kamu jangan dulu ketempat ini karena ibu tidak akan datang”
Rin mengangguk, dia mengerti jika kali ini ibunya sudah meluangkan waktu lebih benyak hanya untuk menjawab pertanyaannya.
Setelah berpelukan tanda perpisahan sementara, sang ibu kembali berubah menjadi aliran air. Rin melihat kearah ibunya menghilang dalam waktu lama, beranjak dari tempat itu ketika matahari sudah tidak menampakan diri lagi.
Hari sudah gelap dan untung saja jalan antara rumahnya dengan sungai Biru tidak melewati hutan yang lebat. Jika seperti itu mungkin dia tidak akan tahu mana tanah yang dipijaknya karena kekurangan pencahayaan.
Suasana hening menemani perjalanannya menuju rumah, ketika mendengar suara langkah kaki dibelakangnya dia terdiam merasakan bahwa itu bukanlah hal baik. Rin tidak mengeluarkan belati dibalik pakaiannya, melainkan siap melempar siapa saja dengan keahlian bela dirinya.
__ADS_1
Langkah kaki itu semakin mendekat dan ketika ada sebuah tangan berada dipundaknya, tidak ragu lagi dia langsung menarik dan melemparkan ketanah “Ahk” pekik seseorang itu.
“Siapa kau, kenapa tiba tiba menyerangku” Rin masih belum jelas melihat wajah orang itu.
“Siapa lagi jika bukan orang yang sudah sering kau banting, dan aku tidak menyerangmu sama sekali”
Rin meneliti dengan seksama siapa orang yang masih merintih kesakitan itu “Riu San?” pencahayaan minim membuat dia tidak sadar sudah melempar temannya sendiri ketanah.
“Sudah berapa lama kita berteman, kamu bahkan tidak hapal dengan langkah kakiku” Riu San berdiri dengan masih memegang pinggangnya yang hampir patah.
“Itu salahmu sendiri. Mengapa harus mengendap endap, sudah jelas ini malam hari pencahayaan kurang dijalan ini kamu masih saja bermain main”
“Siapa yang bermain main. Ayahmu sudah khawatir dirumah, makanya aku datang menyusulmu kesini”
“Kamu datang kerumahku? Untuk apa?”
“Aku hanya menemani kak-benar kakakku ada urusan denganmu, dia sekarang ada dirumahmu”
“Kakakmu yang mana?”
“Siapa lagi jika bukan kakak Lao. Sudahlah ayo cepat”
“Untuk apa pangeran datang menemuiku. Ini belum pernah terjadi sebelumnya”
Rin membiarkan Riu San menarik tangannya dengan tidak elit, dia seperti pencuri yang akan di adili.
Setelah sampai di rumahnya, Rin disuguhkan dengan kehadiran seseorang yang selalu ingin dia hindari.
Riu Lao datang untuk membicarakan tentang permintaan menjadi penasihat pangeran. Rin tidak tahu harus menjawab apa ketika dihadapkan dengan pertanyaan seperti itu. Disisi lain dia tidak ingin mengulangi kebodohan yang sama dengan menjadi bagian dari istana. Tetapi jika menolak, dia tidak akan bisa mencari tahu sumber masalah yang akan terjadi dimasa depan.
Rin duduk dipekarangan rumahnya yang sudah diterangi dengan cahaya dari lentera kecil. Di depannya Riu Lao tengah duduk dengan tenang menunggu jawaban “Mengapa pangeran harus repot repot datang kesini hanya untuk memastikan jawaban Rin” tanyanya.
“Aku tidak merasa repot. Karena jawabanmu sangat penting” Riu Lao menjawab tanpa embel embel.
“...” Rin mengerutkan kening mendengar jawaban orang di depannya.
Mereka berdua terduduk disebuah pekarangan yang cukup luas hanya ditemani dengan cahaya lentera. Rin tidak ditemani siapapun karena ayahnya berada di dalam rumah, sedangkan Riu San sudah lebih dulu kembali ke istana. Hanya ada dia dan pangeran kedua itu yang masih sama sama terdiam dengan pikiran masing masing.
Tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Riu Lao dan apa yang diinginkannya. Tidak pernah mengira sebelumya jika sang pangeran akan datang sendiri untuk menanyakan keputusannya. Rin juga mendengar jika jawaban darinya sangat penting, tetapi masih memikirkan beberapa kemungkinan atas pernyataan itu.
Riu Lao masih setia menunggu jawaban darinya, itu aneh karena sebelumnya dia tidak akan memiliki kesempatan bahkan untuk mengutarakan pendapatnya. Bisa dihitung Riu Lao mencarinya juga hanya untuk sesuatu yang sangat penting. Tetapi sekarang hanya untuk memastikan jawabannya Riu Lao sampai datang sendiri untuk menanyakannya. Padahal Rin berniat ke istana untuk mengutarakan keputusannya pada kaisar.
“Jika jawaban Rin sangat penting. Itu menyetujuinya atau menolak yang ingin pangeran dengar” Rin memberi pertanyaan untuk menjadi keputusannya. Jawaban Riu Lao akan menjadi keputusannya sehingga dia tidak perlu repot memikirkannya.
Riu Lao terdiam, melihat kearahnya dengan tatapan sulit diartikan “Aku tidak ingin kehilangan seseorang untuk kedua kalinya dan ingin meminta bantuanmu untuk menjaganya. Jadi jawabannya, aku ingin kamu menerima penawaran dari kaisar”
“Sudah dipastikan pangeran ingin aku menjadi penasihatnya untuk menggantikan Alin Qian”
__ADS_1
Jika situasi akan kembali sama, dia tidak akan mengulangi kebodohan yang sama. Dalam hal mencari jawaban dari teka tekinya dia bersedia menjadi penasihat Riu Lao untuk kedua kalinya “Baiklah pangeran, jika itu yang pangeran inginkan, Rin hanya bisa menyetujuinya”