Bisakah Yang Mulia Melihat Ke Arahku

Bisakah Yang Mulia Melihat Ke Arahku
BAB 5 Catatan Kerajaan


__ADS_3

Hari kedua sebagai seorang penasihat pangeran adalah menyapa pemimpin tertinggi di kerajaan itu. Rin dan kedua penasihat lainnya sudah berada di aula besar tempat diadakan pertemuan rutin antara kaisar dan para pejabat istana.


Kehadiran para penasihat pangeran disambut dengan baik oleh semua penduduk kerajaan langit. Kaisar selalu memuji ketiganya didepan para mentri dan pejabat istana. Setelah menyapa dan memperkenalkan diri masing masing, para penasihat akan memulai hari mereka sebagai tangan kanan dari ketiga pangeran.


Rin tengah berjalan beriringan dengan dua penasihat yang lain “Apakah kamu gugup” itu adalah Alin Qian yang bertanya padanya.


“Tidak terlalu” Rin berusaha bersikap ramah. Melihat pada pria muda disebelah kiri keturunan dewi bunga “Kamu penasihat pangeran Riu San? Siapa namamu?” Itu hanya formalitas sebab dia sudah tahu siapa nama keturunan dewa itu.


“Xilian” jawab pria itu. Meski seorang pria, namun wajah manisnya tidak bisa ditutupi dan sepertinya dia tidak suka banyak bicara.


“...” Rin mengangguk singkat tanpa berniat melanjutkan pembicaraan. Sedangkan keturunan dewi disampingnya tidak berhenti tersenyum cerah.


Setelah berada dijalan bercabang dia memisahkan diri dengan kedua penasihat lainnya, sebab jalan menuju tempat ketiga pangeran berbeda. Kamar Riu Lao berada diujung sebelah kanan, kamar Riu Zin berada di bagian sebelah kiri dekat dengan tempat paling ujung istana dan kamar Riu San lebih dekat dengan istana utama.


Rin berjalan dengan santai tanpa ada keraguan di hatinya, rasa gugup yang dulu pernah dia rasakan sudah menghilang. Masa lalunya telah berubah dan apapun yang terjadi dia akan tetap menjalaninya.


“Yang Mulia Pangeran” dia memberi salam ketika sampai didepan pintu kamar Riu Lao.


“Masuklah”


Setelah mendapat ijin dari si pemilik kamar, Rin masuk dengan langkah pasti. Sudah ditebak apa yang akan diperintahkan Riu Lao padanya, yaitu membaca semua catatan tentang istana dan itu memang yang dia harapkan.


“Yang Mulia pangeran, Rin Ayitian siap menjalankan tugas” mengatupkan kedua tangan sambil membungkuk.


Setelah beberapa saat Rin mengangkat kepalanya “Pangeran?!” halisnya terangkat menandakan keheranan.


Riu Lao tengah terduduk dengan ditemani tumpukan buku buku. Membuka satu persatu dari setiap gulungan dan semua dokumen itu “Bantu aku mencari sebuah buku” Riu Lao masih tetap pada posisinya.


“...” Rin menautkan halisnya, merasa heran dengan apa yang sedang dilakukan Riu Lao. Berdiri diam melihat orang di depannya sibuk membolak balik halaman buku.


“Mengapa masih berdiri disana” tanya Riu Lao ketika Rin masih berdiri diam.


“Baik pangeran” meski masih bertanya tanya Rin menuruti perintah dari Yang Mulianya. Mulai membaca satu persatu semua dokumen dan menyadari jika Riu Lao belum memberi tahu apa yang tengah dicari “Sebenarnya pangeran sedang mencari buku apa” tanyanya.


Riu Lao melihatnya sekilas kemudian berkata “Sebuah catatan yang ditulis dengan tinta merah”


Catatan yang ditulis dengan tinta merah?


Rin tertegun kemudian berkata “Memangnya ada apa dengan catatan itu, apakah sangat penting pangeran” dia mencoba mencari tahu seberapa penting catatan itu untuk Riu Lao.


“Hah” Riu Lao menghela nafas “Kamu akan terus bertanya atau mencarinya”


“Rin akan mencarinya pangeran” Rin masih belum mendapat jawaban, tetapi tidak akan baik jika terus bertanya. Membuka dan membaca semua gulungan dengan seksama sehingga baru menyadari jika sesuatu yang tengah dicari Riu Lao merupakan alasan utama dia kembali menjadi penasihat pangeran.


Dia pernah disuguhkan dengan semua dokumen kerajaan itu sebelumnya, dan sempat menemukan sebuah catatan yang ditulis dengan tinta merah.


Awalnya dia hanya menganggap itu tidak penting dan malah mengabaikannya, namun semua kejadian yang mengantarkannya pada sebuah pengorbanan dimasa depan ada hubungannya dengan catatan itu “Apa pangeran mencari buku ini” Rin menunjukan sebuah buku.


Riu Lao melihat dan mengambil buku itu “Bagaimana kamu bisa menemukannya diantara tumpukan buku buku ini”


“Hanya tidak sengaja” Rin menjawab singkat, menutupi semua yang dia ketahui dengan keramahan diwajahnya.


Catatan dan dokumen yang mencatat semua kejadian dan permasalahan istana disimpan disebuah ruangan khusus. Hanya kaisar serta pejabat istana tertentu yang bisa menyentuhnya. Catatan lama hanya akan disimpan didalam perpustakaan kerajaan bersama buku buku bacaan, mudah mendapatkannya karena tidak dijaga dengan ketat.


Semua tumpukan buku buku yang berada didalam kamar Riu Lao adalah catatan lama. Tidak perlu khawatir akan mendapat masalah dari kaisar, rata rata semua itu sudah tidak diperlukan lagi dan terkadang terabaikan.


“Tidak ada catatan apapun disini” Riu Lao membolak balik buku yang baru saja Rin berikan.

__ADS_1


Rin melihatnya dan berkata “Rin juga tidak tahu pangeran”


“Aku tidak menyalahkanmu” perkataannya seakan memiliki makna sebaliknya.


Rin kembali lagi membuka gulungan gulungan di depannya, tidak ada keterkejutan diwajahnya ketika catatan itu tidak ada ditempat semula. Ketika sampai di istana pada hari pertama menjadi seorang penasihat, Riu San menuntunnya menuju salah satu kamar yang bersebelahan dengan ruangan Riu Lao. Jalan menuju kekamarnya memang tidak melewati perpustakaan tetapi hanya berjarak beberapa meter.


Saat itu dia melihat Riu Zin keluar dari perpustakaan dan mengira pangeran pertama itu hanya membaca buku buku biasa, namun setelah tahu catatan kerajaan tidak ada ditempatnya dia jadi berpikir kearah sana.


Bukan asal menebak, tetapi dimasa depan catatan itu memang ada hubungannya dengan Riu Zin.


“Apa yang kamu pikirkan”


Rin “Apa ada lagi buku yang pangeran cari. Mungkin tugas yang lainnya”


Riu Lao mengerutkan kening mendengar pertanyaan itu “Kenapa? kamu punya hal yang ingin dikerjakan” tebaknya.


Rin “Tidak pangeran, tetapi bukankah pangeran bilang jika catatannya tidak ada. Mungkin masih ada ditempat lain Rin akan mencarinya”


Riu Lao “Tidak perlu. Catatannya sudah menghilang, yang harus dicari adalah orang yang mengambilnya”


“Baiklah pangeran, Rin akan membereskan semua ini terlebih dahulu”


“Biarkan saja! Nanti ada pelayan yang membereskan” cegah Riu Lao.


“Tapi pangeran ini adalah catatan kerajaan, bukankah tidak baik jika sembarangan disentuh orang lain”


“Terserah saja” setelah berkata seperti itu Riu Lao pergi meninggalkan kamarnya.


“Hah. Lebih baik seperti ini” Setelah menata semuanya dengan rapi Rin membawa dokumen dokumen itu keperpustakaan kerajaan.


Meski sekarang catatan itu sudah diambil orang lain, Rin masih mengingat semua detailnya dengan baik. Tinggal harus mencari tahu makna tersirat didalamnya.


“Akhirnya selesai” Rin menepuk nepuk kedua tangannya, menghilangkan sedikit debu yang tertinggal. Catatan dan dokumen kerajaan sudah disimpan ketempat semula tanpa ada satupun yang kurang. Rin berkacak pinggang dan tersenyum puas “Memang tidak pernah diragukan...”


“Apa yang tidak diragukan”


Rin berbalik dan melihat siapa yang berbicara di belakangnya “Riu San. Kenapa kamu ada disini?” tanyanya.


Riu San “Aku lebih dulu datang kesini, seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu ada disini”


Rin “Tentu saja menyimpan tumpukan buku buku, seperti biasa” jawabnya santai.


“Seperti biasa? Memang kapan kamu pernah melakukan ini, bukankah sekarang baru pertama kali” Riu San terlihat mengangkat kedua halisnya.


Rin terdiam mengingat ada yang salah dengan perkataannya. Dia melupakan jika hanya dirinya yang kembali ke masa lalu. Tentu saja ini pertama kalinya bagi Riu San melihatnya bersama dengan tumpukan buku buku.


“Rin-" “Ah, maksudku kamu pernah melihatku berhadapan dengan buku buku ketika berada dirumah” sangkalnya dengan disertai senyuman kikuk.


“...” Riu San mengangguk.


Rin “Kamu sedang apa berada disini”


“Untuk apa lagi orang berada diperpustakaan. Tentu saja membaca buku”


“Hah? Sejak kapan kamu suka membaca buku” Rin berbicara dengan melangkahkan kakinya mengitari rak rak buku, melihat deretan buku buku tebal yang bertengger disana.


“Tentu saja karena perintah dari ayah handa, dia sedang mencari sebuah catatan kuno”

__ADS_1


Rin menghentikan langkahnya dan bertanya “Maksudmu?”


“Ya. Ayah handa meminta aku dan kedua kakakku untuk mencari catatan kerajaan. Dia takut sesuatu akan terjadi dan ada hubungannya dengan catatan itu”


Lagi lagi Rin terdiam. Masa lalunya sudah berubah, situasi dan semua kejadian pasti juga berbeda.


Sebelumnya kaisar bahkan tidak pernah menyadari ada catatan itu didalam istananya, namun sekarang dia yang meminta para pangeran untuk mencarinya. Tetapi itu tidak akan ditemukan karena salah satu pangeran sudah mendapatkannya.


“Aku ingat!”


“Ingat apa?” tanya Riu San.


“Oh-itu aku ingat ada hal yang harus dikerjakan. Aku pergi dulu Riu San, semangat mencari catatannya” tiba tiba Rin jadi bersemangat dan pergi begitu saja meninggalkan Riu San yang sedang menunjukan wajah bertanya.


Setelah pergi dari perpustakaan Rin tidak menuju ke kamarnya atau mencari Riu Lao, dia berjalan ke arah yang berlawanan dengan istana utama. Tempat dengan pencahayaan minim jika dimalam hari, yaitu diujung istana.


Rin ingat dirinya pernah tersesat didalam istana dan melihat seseorang memasuki sebuah ruangan, awalnya hanya bisa menerka nerka siapakah gerangan orang tersebut. Jika diingat dengan lebih teliti lagi, orang itu memiliki postur yang tinggi dan mengenakan pakaian kerajaan. Siapa lagi orang yang keberadaanya selalu dipertanyakan dan tempat tinggalnya jauh dari istana utama jika bukan Riu Zin.


“Semoga catatan itu ada disana, jika ketemu aku akan menyerahkannya langsung pada Riu Lao” Rin bukan bermaksud mencari muka di depan Riu Lao melainkan menjauhi masalah jika ketahuan Riu Zin.


Disiang hari suasana hening dan mencekam masih terasa diujung istana meski tidak terlalu kental jika dibandingkan malam hari. Tidak ada satupun pengawal kerajaan yang berjaga disana, mungkin Riu Zin sengaja memerintahkan mereka untuk tidak mendekati tempat itu.


“Itu dia” berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri terlihat sebuah pintu besar berwarna hitam kelam dan hanya satu satunya yang ada disana. Rin berjalan perlahan dengan sesekali melihat kondisi disekitarnya, berjaga jaga jika ada jebakan atau sesuatu yang Riu Zin pasang untuk menjaga tempat itu.


Tidak ada jebakan atau rintangan apapun yang menghambatnya mendekati pintu itu sehingga kini dia tepat berdiri di depannya. Pintu yang tingginya sekitar tiga meter dan lebarnya dua kali dari pintu biasa, disana terdapat ukiran ukiran aneh menyerupai kobaran api.


Rin memperhatikan pintu itu cukup lama hingga tangannya terulur untuk menyentuh bagian tengahnya.


“Apa yang kamu lakukan disini?”


“Pangeran?” Rin melihat seseorang yang menggenggam pergelangan tangannya dan itu adalah Riu Lao “Itu-Rin sedang berjalan jalan dan tidak sengaja datang ketempat ini” bohongnya.


Riu Lao melihat dengan tanpa ekspresi dan berkata “Baiklah, sekarang ikut aku”


“Kita akan kemana pangeran?”


“Menjalankan 'titah' dari ayah handa” Riu Lao menjawab dengan kakinya yang berjalan menjauh.


Rin melihat pintu besar itu seakan tidak rela meninggalkannya, tetapi dia melangkah mengikuti kemana Riu Lao pergi “Apa lagi yang diperintahkan Yang Mulia kaisar kali ini pangeran, bukankah catatan itu juga belum ditemukan?”


“Hah” Riu Lao menghela nafas “Aku tidak tahu jika kamu begitu banyak bicara” sarkasnya.


“...” Rin terdiam dan menunda niatnya untuk bertanya lebih jauh.


....


Catatan Kerajaan yang tengah Rin cari ternyata sudah berada digenggaman orang lain, entah bagaimana Riu Zin menyerahkannya langsung kepada kaisar.


Kaisar berpikir jika catatan yang diberikan Riu Zin tidak menyimpan sesuatu yang penting dan meminta untuk meletakan itu kembali ketempatnya.


“Aneh”


“Apa yang aneh?” tanya Riu Lao yang berada di samping Rin, dia yang menceritakan tentang keberadaan cacatan kerajaan kepada penasihatnya itu.


“Bukan apa apa pangeran” Rin tersenyum kaku.


Tidak mungkin jika catatan itu tidak penting, dia bertekad akan mencarinya lagi nanti.

__ADS_1


__ADS_2