
Malam hari yang damai dan tenang, menjadi panas karena penyerangan tiba tiba yang dilakukan oleh orang orang yang diperkirakan adalah penyihir. Saat itu Riu Zin baru keluar dari kamar penasihatnya ketika salah seorang pengawal kerajaan mengatakan, istana timur tempat Riu Lao tinggal diserang oleh para penyihir. Tanpa berpikir panjang, dia segera datang ke istana timur dan membantu para pengawal untuk meringkus para penyerang itu.
Tidak lama ketika dirinya masih bertarung senjata, salah seorang pelayan berteriak untuk menghentikannya. Pelayan yang selalu memberikan obat kepada Alin Qian mengatakan jika putri keturunan dewi bunga tidak berada di tempatnya. Riu Zin dengan terburu buru kembali ke kamar penasihatnya dan tidak menemukan keberadaan seseorang disana. Kamar itu kosong.
Perasaan campur aduk, marah, cemas dan khawatir akan keselamatan penasihatnya. Kemudian dia menemukan sebuah surat tergeletak di atas meja yang berisikan kalimat ‘Penasihatmu berada di tanganku, tidak perlu mencarinya karena dia akan menjadi milikku’
“Jadi Alin Qian diculik oleh salah satu dari mereka” tanya Riu San yang dengan setia mendengarkan penjelasan kakaknya.
“...” Riu Zin mengangguk samar dan masih merasakan perih diluka sayatnya.
“Yang Mulia” Rin menyodorkan mangkuk berisi ramuan obat pada Riu Lao yang hanya menggantung di udara.
Dengan sedikit terbatuk Riu Lao berbicara “Jadi kak Zin membiarkan para penyihir itu membawa Alin begitu saja” sorot matanya berapi api.
Riu Zin berdiri dari duduknya dan berjalan ke hadapan Riu Lao, dia berkata dengan sarkas “Menurutmu, aku akan membiarkan orang yang paling berharga dalam hidupku dibawa pergi oleh orang lain” Jika bukan karena khawatir akan terjadi sesuatu dengan Riu Lao, tidak akan Riu Zin meninggalkan penasihatnya ketika terjadi penyerangan.
Mengesampingkan bahwa dirinya yang termuda, Riu San melerai kedua kakaknya “Sudahlah, ini bukan waktunya kalian bertengkar” dia yang selalu bermain main saja bisa begitu bijak pada saat saat tertentu, kedua kakaknya malah perang kata kata dan mendebatkan siapa yang salah.
Riu Lao terdiam, dia mengalihkan pandangannya keluar. Perasaannya masih kesal, karena pada saat sampai di istana barat setelah beradu senjata dengan beberapa orang bertopeng, dia mengetahui bahwa Alin Qian telah diculik. Tidak habis pikir bagaimana Riu Zin sebagai seorang Yang Mulia dari teman dekatnya terlihat biasa saja.
Riu Zin mengibaskan sisi pakaiannya yang kusut dan akan beranjak pergi, namun sebelum itu Riu San mengusulkan sesuatu “Bagaimana jika kita memberi tahu ayah-” “Jangan!”
Yang dari tadi hanya memperhatikan mulai menyerukan suaranya, membuat semua mata menatap dengan tanya. Rin mengerti akan sorot mata itu kemudian berbicara “Jangan mengatakan hal ini kepada Yang Mulia kaisar...”
“Kenapa?” potong Riu San.
“Bukankah pangeran sendiri yang mengatakan jika Yang Mulia kaisar tengah mengadakan rapat dengan para pejabat istana untuk membahas tentang penyerangan tiba tiba? Jika memberitahukan hal ini sekarang, mungkin itu akan menambah masalah. Lebih baik saat ini kita menyusun rencana untuk menyelamatkan Alin Qian dari cengkraman para penyihir itu”
__ADS_1
Hanya pemikiran Rin yang masuk akal dan bisa diterima oleh para pangeran, mereka menyetujui dan mulai memikirkan rencana penyelamatan.
Meski para penyihir mudah di temukan di bumi, namun tidak ada yang tahu dimana persisnya mereka tinggal. Mereka seperti kunang kunang yang kehadirannya tidak menentu, kadang bisa begitu saja muncul di depan mata, kemudian lenyap tak bersisa. Mudah bagi mereka mengetahui kediaman para keturunan dewa dewi di langit dan di bumi, sebaliknya tempat tinggal mereka tersembunyi dan sulit ditemukan.
Penyarang tiba tiba, mungkin hanya pengalihan untuk memudahkan membawa Alin Qian pergi tanpa hambatan. Tindakan itu sangat berani mengingat siapa yang dihadapi. Untuk membawa kembali penasihat pangeran pertama ke kerajaan langit selatan, harus ada yang mengetehui letak pasti para penyihir berada. Kemungkinan yang sengaja meninggalkan pesan berisi pernyataan Alin Qian berada di tangannya adalah pemimpin para penyihir, karena tidak ada lagi yang lebih berani dari Zho Lan jika menyangkut mencari masalah dengan para dewa.
Tanpa diberi tahu oleh ketiga anaknya, kaisar Riuyi sudah mengetahui jika putri keturunan dewi bunga telah diculik. Setelah berbagai pertimbangan dan perdebatan, dia akhirnya memutuskan untuk mengirim para pangeran mencari dan menemukan dimana Alin Qian berada.
Rin dan ketiga pengeran begegas turun ke bumi dan mulai mengerahkan kekuatan dan pengetahuan mereka untuk mencari keberadaan para penyihir. Rin dan Riu Lao berjalan menyusuri hutan dan tempat tempat yang jarang ditapaki oleh para manusia, sedangkan Riu San dan Riu Zin membaur dengan masyarakat bumi untuk mendapatkan informasi. Kedua kelompok itu sudah menentukan titik pertemuan sebelum berpencar, agar ketika malam tiba, meraka bisa berkumpul kembali dan mendiskusikan penemuan dan informasi yang didapatkan hari itu.
Sudah berhari hari keempat keturunan para dewa itu menelusuri setiap sudut bumi bagian selatan, mereka bahkan tidak menemukan satu penyihir pun yang berkeliaran di sana. Mungkin benar, penyerangan tiba tiba yang terjadi di kerajaan langit selatan dilakukan oleh para penyihir, dan mereka sudah memutuskan untuk tidak menampakan diri terlebih dahulu, agar tidak ditemukan oleh keturunan para dewa.
Hari itu sang mentari tidak menampakan diri, langit biru tertutupi awan hitam yang mengandung air hujan. Bukit hijau tertutupi oleh rumput dan banyak alang alang, seharusnya menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Sayang... semua itu dilewatkan begitu saja bagi sepasang keturunan dewa dewi, mereka tengah memusatkan perhatian untuk mencari jejak keberadaan para penyihir.
Rin masih setia berjalan di belakang Riu Lao untuk menemaninya dalam perjalanan. Meski merasa seperti tidak diperdulikan, dia masih harus menjaga kesehatan Riu Lao yang masih belum membaik.
Sore hari yang dingin di tengah bukit hijau, Rin mengetahui Yang Mulianya tengah kedinginan. Kamudian dia berkata “Yang Mulia, ini..” tangannya menyodorkan sepucuk ramuan obat. Mungkin itu tidak bisa disebut sebagai obat, sebab kegunaannya hanya untuk menghangatkan badan.
“...” Rin memasukan kembali benda yang ada di tangannya kedalam kantung, matanya melihat banyak perasaan yang tercipta di wajah Riu Lao. Dia tahu pangeran kedua itu tengah merasa cemas, khawatir, dan berbagai perasaan penyesalan akibat telah lalai menjaga Alin Qian.
Bukit hijau telah dilewati, kini Rin dan Riu Lao berjalan di dalam hutan bambu yang cukup lebat. Tiba tiba Riu Lao berhenti “...”
“Ada apa Yang Mulia” Rin bertanya dengan heran.
“...”
Rin melihat kearah dimana pandangan Riu Lao tertuju, disana terdapat beberapa orang berpakaian hitam tengah berdiri beberapa langkah dari mereka. Seseorang yang berdiri paling depan memiliki wajah yang alim, namun sorot matanya penuh dengan siasat licik.
__ADS_1
“Zho Lan” Riu Lao berkata dengan sorot mata penuh dengan kebencian. Sayangnya, orang yang dimaksud malah menampilkan senyuman miring yang aneh.
Zho Lan berkata menyebalkan “Riu Lao... pangeran kerajaan langit selatan. Untuk apa kau berada di sini, apakah tengah mencariku... mencari keberadaan para penyihir” setelah itu tawa samar yang angkuh terdengar.
Dengan perkataan Zho Lan tadi, Riu Lao merasa sedang dipermainkan. Terlebih ketika sudut matanya melihat orang yang dia cari selama beberapa hari ini, tengah berada di genggaman pemimpin para penyihir itu. Riu Lao berjalan satu langkah dan berkata dengan penuh penekanan “Kembalikan Alin padaku”
Rin juga melihat ada warna yang mencolok di tengah tengah warna hitam yang gelap, dia menyadari bahwa orang yang tengah berdiri membeku di samping pemimpin para penyihir adalah Alin Qian. Wajah yang pucat di atas kecantikan dan kelambutan itu, membuat orang lain tidak tega membiarkannya tergores meski pun sedikit.
“Alin? Ah... bukankah putri keturunan dewi bunga ini adalah penasihat pangeran pertama, panggilan akrab itu sepertinya tidak cocok untuk dikatakan pangeran kedua” Zho Lan benar benar sedang menyulut api amarah Riu Lao.
“Jangan melewati batasmu Zho Lan, cepat kembalikan dia padaku!” Riu Lao berkata dengan kesal.
“Jangan terburu buru... bagaimana jika kita melakukan transaksi” entah Rin sadar atau tidak, sejak awal pandangan Zho Lan selalu tertuju padanya
Riu Lao tertegun kemudian bertanya “Apa maksudmu?”
“Putri keturunan dewi bunga ini akan kembali ketanganmu. Sebagai gantinya, penasihatmu harus ikut bersamaku” jawab Zho Lan, sedangkan Alin Qian matanya sudah memerah, dia tidak bisa bicara atau bergerak karena telah dibekukan dengan mantra.
“...” Rin terdiam, berbagai pemikiran muncul secara bersamaan, namun sulit untuk dirangkai.
Riu Lao tiba tiba mengeluarkan senjatanya dan siap untuk beradu kekuatan dengan para penyihir. Tentu saja Rin tidak akan tinggak diam, dia akan membantu Yang Mulianya sampai akhir.
Tanpa disadari pertarungan telah berlangsung sampai malam tiba, mereka saling menyerang dan mengelak untuk melumpuhkan satu sama lain.
Pada akhirnya, dua lawan sepuluh. Tentu saja yang pertama akan kalah. Riu Lao memuntahkan seteguk darah dan berlutut di tanah, sedangkan Rin masih berdiri dengan kokoh meski lengannya sobek dan mengeluarkan darah.
Rin melihat kondisi Yang Mulianya yang tidak baik baik saja. Jika pertarungan terus berlanjut, itu tidak akan menguntungkan mereka. Meski dirinya memiliki kemampuan yang hebat, semua itu akan melemah di malam hari, terlebih dia harus melawan sepuluh orang penyihir yang berada di tingkat menengah. Dan meski kekuatan Riu Lao bisa meningkat di malam hari, malam itu bulan tidak muncul. Terlebih kondisinya yang masih lemah, tidak akan bisa menyerap dan mengelola kekuatannya dengan baik.
__ADS_1
Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, Rin memutuskan untuk menukar dirinya dengan Alin Qian. Karena dirinya sudah menyadari, bahwa yang paling berharga dalam hidup Riu Lao adalah putri keturunan dewi bunga “Yang Mulia... Rin meminta ijin untuk pergi dari sisi yang mulia” kata katanya lembut, namun masih ada getaran samar di dalamnya.
“...” Riu Lao terdiam dan tidak berkata apa apa sampai Rin dan para penyihir lenyap dari pandangannya. Baru setelah beberapa saat dia akhirnya bereaksi “RIN” ☆