Bisakah Yang Mulia Melihat Ke Arahku

Bisakah Yang Mulia Melihat Ke Arahku
BAB 14 Yang Mulia Sakit


__ADS_3

Kerajaan langit selatan bukanlah tempat dimana seseorang yang bukan bagian dari istana bisa dengan bebas keluar masuk tanpa ijin. Selain keturunan para dewa, hanya para penyihir yang mampu datang kesana dengan kemampuan mereka.


Dua penyusup yang tidak diketahui identitasnya bisa menyelinap masuk kedalam istana tanpa tertangkap. Kemungkinan mereka mengincar sesuatu yang berharga di dalam istana dan tidak berhasil mendapatkannya. Mungkin juga mereka tidak akan menyerah untuk datang kedua kalinya.


Akibat ulah mereka pula harus ada yang terluka. Bukan hanya keturunan dewi bunga yang diserang, beberapa pelayan dan pengawal kerajaan mendapatkan perlakuan yang sama. Beruntung tidak ada dari mereka yang terluka parah.


Hal itu mampu menyulut amarah kaisar, dia memberikan perintah untuk memperketat penjagaan disemua tempat tanpa terkecuali.


Penjagaan ketat siang dan malam tanpa henti menjadi ketidak nyamanan tersendiri bagi penduduk istana, mereka juga harus melewati proses pemeriksaan jika ingin melakukan sesuatu atau datang ke tempat tertentu.


Para pengawal yang biasanya hanya berjaga di tempat tempat tertentu, kini mereka seakan bisa ditemukan dimana mana. Dari pintu keluar kamar, dapur, perpustakaan, taman, dan banyak lagi tempat yang sebelumnya tidak ada penjagaan ketat harus memiliki setidaknya tiga pengawal kerajaan yang berjaga.


Hanya karena dua orang penyusup bisa mempengaruhi kenyamanan dan kegiatan sehari hari yang biasanya dilakukan kerajaan langit selatan.


Rapat pagi rutin untuk membahas permasalahan istana dan keberlangsungan pemerintahan yang biasanya tidak pernah dilewatkan oleh kaisar, harus ditunda karena dia lebih mendahulukan kesembuhan bawahannya yang terluka.


Dalam waktu dua hari, semua orang yang terluka akibat si penyusup sudah mulai membaik. Alin Qian yang mendapat luka cukup parah, kondisinya sudah mulai membaik di bawah pengawasan Riu Zin. Hanya saja dia belum bisa bejalan terlalu jauh dari kamarnya.


Sedangkan kondisi Riu Lao belum ada perubahan, dia masih terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur dengan penasihatnya yang selalu menjaganya.


Rin selalu berada di samping Yang Mulianya untuk menjaga siang dan malam meski Riu San selalu memintanya untuk istirahat. Dia bahkan tidak mempedulikan dirinya sediri dan terus menyalurkan energi spiritualnya agar Riu Lao segera sadarkan diri.


Jika dilihat dari wajahnya yang pucat, dia sudah terlalu lelah untuk memaksakan dirinya. Akhirnya hanya bisa memuntahkan seteguk darah “Uhuk” dengan cepat dia menyeka mulutnya menggunakan punggung tangan. Itu mungkin sudah lebih dari tiga kali dia mamuntahkan darah.


Ketika akan beranjak dari sisi tempat tidur, tangannya tiba tiba di genggam cukup erat “Jangan pergi..” suara lirih itu dari Riu Lao.


Belum sempat Rin bersorak bahagia karena Riu Lao sudah mulai sadarkan diri, kalimat berikutnya yang di ucapkan Yang Mulianya menghancurkan segalanya “Jangan terluka lagi... aku tidak ingin kehilanganmu... Alin”


Ketika mengigau saja Riu Lao masih menyebutkan nama Alin Qian yang tidak menjenguknya sama sekali. Sedangkan yang selalu berusaha melakukan apapun untuk kesembuhanya hanya bisa menelan kepahitan jauh kedalam hatinya.


Rin memejamkan matanya sangat rapat, tenggorokannya terasa sangat perih sekarang. Menahan tangis lebih tersiksa dari pada mengeluarkan air mata kepedihan.


Sunggguh keberadaanya hanya dianggap sebagai hiasan. Apapun yang sudah dilakukannya entah itu kecil atau besar, tidak pernah berarti bagi Riu Lao.


Wajah pucat itu menjadi sedikit merah karena menahan perih dihatinya.


Perih layaknya ditusuk seribu duri.


Tangan kanannya yang bebas digunakan untuk menekan dadanya yang sesak. Air mata yang terbendung di sudut matanya mulai menetes lagi.


Ketika mendengar banyak langkah kaki yang mendekat, Rin cepat cepat menghapus air mata di pipinya dan memperbaiki suasanan hatinya.


Rin membungkuk memberi hormat kepada pemimpin tertinggi di kerajaan itu.


Kaisar datang bersama dengan permaisurinya “Bagaimana keadaan putraku?” tanya sang ratu.


Dengan cepat Rin menyingkir dari sisi Riu Lao dan menjawab “Pangeran Riu Lao masih belum sadarkan diri Yang Mulia permaisuri”

__ADS_1


Sang permaisuri duduk di samping putranya dengan kesedihan di wajahnya kemudian berkata lirih “Lao putraku...”


Kaisar hanya bisa menghela nafas dalam melihat keadaan putra keduanya yang tidak ada perubahan.


Tabib kerajaan sudah datang berulang kali dan hanya bisa mengatakan hal yang sama ‘Luka dalam hanya bisa disembuhkan dengan meditasi untuk mengembalikan energi spiritualnya atau mendapat penyaluran energi spritual dari seseorang untuk kesadarannya’


Jika luka fisik yang di dapat oleh keturunan dewa, itu akan bisa diobati dengan obat obatan herbal. Namun jika keturunan dewa mendapatkan luka dalam dan tidak sadarkan diri, itu hanya bisa dibantu dengan penyaluran energi spiritual. Karena untuk meminum obat obatan, dia harus dalam keadaan sadar.


Menyalurkan energi spiritual tidak bisa dilakukan terus menerus, sebab itu akan berdampak pada kondisi kesehatan si penyalurnya. Maka dari itu meski kaisar Riuyi memiliki kekuatan yang luar biasa, dia tidak bisa untuk terlalu sering menggunakannya.


“Lebih baik kamu mengistirahatkan tubuhmu” kaisar berbicara pada Rin yang masih berdiri diam dengan wajah pucat.


“Tapi..”


“Biarkan kami yang menjaganya” potong sang ratu.


Sebelum Rin membuka suara, kaisar berbicara terlebih dahulu “Benar. San bilang sudah dua hari ini kamu berada disini, lebih baik kamu kembali ke kamarmu”


“...” Rin mengangguk samar, dia tidak bisa membantah perintah kaisar.


Setelah memberi hormat dan pamit kepada kaisar, Rin berniat untuk kembali ke kamarnya. Namun karena sudah benar benar lelah, tubuhnya menjadi lemah dan tidak bisa di pertahankan lagi.


“Rin..” Riu San berlari menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh ke lantai.


Pengawal yang ada di depan pintu kamar sempat menawarkan untuk membantu, namun Riu San menolak dan mengangkat sendiri tubuh Rin yang memang sangat ringan.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Riu San berniat untuk memeriksa kondisi Riu Lao sebelum melihat Rin berjalan tidak teratur dan akhirnya tumbang di depan pintu kamarnya.


Huh Riu San menghela nafas kasar dan mendudukan dirinya di samping tempat tidur, dia melihat wajah pucat dengan mata yang terpejam itu kemudian berkata “Sebenarnya apa yang membuatmu rela mengorbankan apapun untuk kakakku”


Jika alasan Riu Lao rela berkorban untuk Alin Qian adalah cinta, maka apa sebutan untuk pengorbanan Rin untuk Riu Lao?


Jika cinta masih menjadi alasan seseorang rela mengesampingkan dirinya sendiri untuk orang yang dicintai, maka ‘cinta’ adalah sesuatu yang berbahaya.


Yah, itulah yang dipikiran pangeran ketiga kerajaan langit selatan yang masih naif. Dia bertekad untuk tidak ingin terperangkap dalam lingkaran yang bernama perasaan cinta dan lebih memilih menjalani hidupnya dengan main main.


....


“Alin...” Riu Lao membuka matanya secara perlahan.


“Putri dewi bunga masih berada dikamarnya, dia belum bisa datang kesini untuk melihatmu” jawab kaisar, tangannya membatu Riu Lao untuk bersender di kepala tempat tidur dan berkata lagi “Tetapi yang berada di sampingmu ketika kamu sakit adalah penasihatmu, mengapa kamu selalu menyebut nama ‘Alin’ bahkan ketika kamu tidak sadar”


“...” Riu Lao terdiam, entah dia tidak tahu harus menjawab apa atau mungkin tidak ingin mengatakan apa apa atas pertanyaan ayahnya.


“Sudahlah Yang Mulia, jangan memberikan pertanyaan seperti itu kepada putra kita yang baru saja siuman” sang ratu membawa mangkuk berisi bubur dan mendudukan dirinya di depan Riu Lao, dia berniat menyuapi putranya sebelum tangannya ditahan “Ada apa?”


“Lao bisa sendiri, ibunda dan ayah handa jangan terlalu khawatir” Riu Lao menjawab dengan tangannya mengambil alih bubur dari ibunya.

__ADS_1


Kaisar dan ratu saling bertukar pandangan satu sama lain ketika Riu Lao dengan cepat melahap habis bubur sederhana itu, mungkin pangeran kedua sangat lapar setelah dua hari perutnya tidak diisi.


“Jika sudah lebih baik, kami akan pergi terlebih dahulu. Ada pengawal didepan pintu jika kamu membutuhkan sesuatu”


“...” Riu Lao mengangguk.


Setelah ayah dan ibunya pergi, Riu Lao masih dengan posisinya, menyenderkan punggungnya di kepala tempat tidur.


“Kak Lao” Riu San dengan wajah gembiranya berlari kecil mendekati Riu Lao “Syukurlah kakak sudah lebih baik, aku sangat khawatir” katanya.


Riu Lao tersenyum melihat tingkah adiknya yang selalu berlebihan, tiba tiba dia mengingat sesuatu dan berkata “Rin...” dia ragu untuk melanjutkan kata katanya.


“Masih tertidur di kamarnya, dia sudah sangat lelah selama dua hari ini”


Meski Riu San tidak mengatakan Rin kelelahan karena apa. Pangeran kedua itu tahu jika penasihatnya lelah karena selalu menjaganya, sebab sebelumnya kaisar sudah mengatakannya.


“Bagaimana, apa kak Lao masih merasa tidak nyaman” tanya Riu San.


Riu Lao tersenyum hambar kemudian menjawab “Aku harus melakukan meditasi untuk benar benar pulih”


“Jika seperti itu, apa kak Lao ingin memakan sesuatu”


“Tidak perlu, aku sudah memakan bubur”


Bubur?


Riu San melihat ke atas meja yang terdapat mangkuk kosong, dia tersenyum dan berkata “Apakah itu sangat enak”


“Hm?” Riu Lao tidak mengerti pertanyaan adiknya.


“Maksud San, karena mangkuk buburnya benar benar kosong, mungkinkah itu sangat enak”


“Itu.. memang berbeda dari biasanya, tetapi cukup enak” jawab Riu Lao ragu ragu.


“...” Riu San tidak mengatakan apa apa, dia hanya menggeleng samar disertai senyuman tipis.


Setelah beberapa saat tidak ada yang bersuara, yang lebih muda berinisiatip berbicara “Kak Lao, San akan melihat Rin terlebih dahulu. Mungkin dia sudah bangun dan membutuhkan sesuatu”


Riu San adalah seorang pangeran, namun sekarang dia terlihat seperti seorang pelayan yang sedang mengurusi dua orang sakit. Padahal bisa saja dia meminta para pelayan untuk memeriksa kondisi Rin, namun itu tidak dilakukannya dan membiarkan dirinya yang bersusah payah.


Jika saja penasihatnya tidak sedang mengerjakan sesuatu, Riu San mungkin tidak perlu bolak balik dari kamar Riu Lao ke kamar Rin. Dia akan terus berada di samping temannya sampai terbangun.


“Hm” jawab Riu Lao.


“San akan meminta Xilian untuk menjaga kakak disini setelah dia menyelesaikan pekerjaannya”


Setelah mengatakan itu Riu San langsung pergi menuju kamar di sebelah kamar Riu Lao, yang mana itu adalah milik Rin.

__ADS_1


__ADS_2