
Keesokan harinya Rin sengaja bangun pagi hanya untuk menghirup udara sejuk, meski sebenarnya dingin. Dia berniat jalan jalan dan menelusuri keindahan istana yang sudah lama tidak dilihatnya.
Di pagi hari keadaan istana masih terlihat sepi hanya ada beberapa pelayan yang berlalu lalang. Rin melewati kamar Riu Lao yang masih tertutup rapat, mungkin pangeran kedua itu masih berada di alam mimpi.
Sampai disebuah jembatan kecil berwarna putih yang di bawahnya terdapat aliran sungai dengan airnya yang bening, dia berhenti untuk melihat ke dasar sungai yang terlihat sangat jelas dari permukaan. Disana terdapat beberapa batuan kecil berwarna putih seperti hiasan yang akan mengkilat jika terkena sinar matahari.
Ketika tengah melihat keindahan sungai kecil itu, sayup sayup Rin mendengar alunan musik.
Di tempat itu tidak terdapat hembusan angin besar dikarenakan masih pagi, jadi kemungkinan suara musik berasal dari tempat yang tidak jauh dari sana.
Dia mencari tahu dari mana asal suara itu dan melangkah lebih jauh dari tempatnya berdiri.
Semakin menjauh dari jembatan putih semakin terdengar dengan jelas alunan musik yang mendayu “Siapa yang bermain alat musik di pagi hari dan jauh dari istana utama” gumamnya dan masih melangkahkan kakinya.
Di depannya ada sebuah pohon dengan bentuk yang unik karena daunnya merambat kebawah, bentuknya kecil dan berwarna hijau pekat.
Rin sempat mengabaikan alunan musik yang masih terdengar di telinganya dan berdiri di depan pohon itu hanya untuk memperhatikan keanehannya “Sudah lama kita tidak saling menyapa Pohon Aneh”
Rin sangat sering mengunjungi pohon unik itu ketika tidak ada tugas dari Riu Lao. Dia akan duduk bersandar di bawahnya dan memainkan seruling ungunya.
Setelah cukup mengagumi pohon unik itu, dia kembali kepada tujuan awalnya. Tidak jauh dari sana terdapat sebuah tempat kecil yang biasa digunakan untuk menyendiri atau merenung... mungkin lebih tepatnya bermeditasi.
Seseorang dengan jubah putih kebesarannya tengah duduk memainkan jari jarinya, memanjakan senar senar dari alat musik di depannya.
“Pangeran Riu Lao?” Rin berccicit kecil agar tidak mengganggu keseriusan orang yang sedang bermain alat musik itu.
Sebenarnya dia berada dibalik pohon memperhatikan Riu Lao dengan disertai senyuman hangat di bibirnya “Aku tidak tahu jika pangeran Riu Lao pandai memainkan musik. Tetapi aku merasa musik yang di mainkannya terkesan berbeda, seperti sedang menyampaikan sebuah perasaan”
Sibuk dengan pemikirannya sendiri sampai tidak menyadari orang yang sedang dipikirkan sudah berdiri di depannya.
“Rin..” “Yang Mulia” Rin terlonjak dan langsung menunduk, dia merasa canggung karena ketahuan memperhatikan Riu Lao tanpa ijin. Sedangkan Riu Lao sendiri hanya tersenyum hambar tanpa menyiratkan apa apa.
Keduanya saling bertatap muka setelah beberapa hari, namun tidak ada dari mereka yang mau mengalah untuk meminta maaf atau menjelaskan apapun kepada satu sama lain.
Riu Lao benar benar tidak peduli ada atau tidak ada nya keberadaan penasihatnya. Selama beberapa hari ini dia akan sibuk mengurung diri di tempat pribadinya atau mengunjungi Alin Qian untuk memeriksa kondisinya.
Perintah yang dia sampaikan pada Rin juga hanya lewat Riu San atau para pengawal istana. Dia tidak ingin bertatap muka apalagi melihat wajah penasihatnya secara langsung.
Mungkin kesalahan yang bahkan tidak Rin lakukan membuat Riu Lao sangat marah sampai sampai tidak ingin melihat apalagi berbicara padanya.
“Huh” Rin menghela nafas dengan tangannya yang disimpan di dagu.
Dia sekarang tengah duduk di dalam kamarnya dengan ditemani dokumen dokumen kerajaan lagi.
Dia sempat bertanya tanya pada dirinya sendiri. Apakah seorang penasihat pangeran harus mempelajari semua catatan istana setiap hari, atau justru hanya dirinya yang melakukan itu.
Disaat secara perlahan teka tekinya sudah mulai terjawab, ada saja hambatan dan masalah yang membebaninya. Seperti perlakuan Riu Lao yang dingin dan tidak peduli cukup mengganggunya meski itu sudah biasa.
__ADS_1
Tangannya menghentikan membolak balik buku dan menata kembali semuanya dengan rapi. Setelah itu dia berdiri di tengah tengah kamar dan mencoba memusatkan energi spiritualnya. Keluarlah senjata ajaib yang diberikan kakeknya itu.
Pedang bersaudara sudah berada di kedua tangannya. Senjata ajaib itu terlihat ringan, namun jika seseorang yang hanya memiliki kekuatan di bawahnya tidak akan bisa menggunakannya. Bahkan mungkin hanya untuk mengangkatnya saja tidak mampu.
Setelah cukup melatih keterampilannya, dia mengembalikan kembali senjata ajaib itu ketempat semula. Memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan berjalan jalan sebentar untuk mengistirahatkan pikirannya.
....
Riu Zin terdiam mengamati sebuh objek benda di depannya. Itu terlihat seperti dua gagang pedang yang disatukan tanpa ada kilat bilahnya di kedua sisi. Warnanya emas dan hitam.
Dia melihat cukup lama hingga tangannya terulur untuk menyentuh benda itu. Terlihat kasar jika dilihat namun berbeda ketika di genggam.
Senjata ajaibnya memang bukan sesuatu yang sembarangan. Meski begitu dia tidak pernah menggunakannya mengingat siapa dan apa yang dikatakan pemberinya.
“Kau terlihat kuat dan luar biasa, tetapi aku masih ingin berada disini” setalah mengatakan kalimat yang penuh makna itu, dia kembali meletakan senjata ajaibnya ditempat semula. Kemudian dia pergi dari tempat itu dan menguncinya dengan segel yang rumit.
Tempat itu adalah ruangan rahasia miliknya, berada dibagian paling ujung istana yang jarang didatangi oleh siapapun. Terkunci rapat tanpa ada yang bisa membukanya selain dia sendiri dan seseorang dengan kekuatan tertentu.
“Sedang apa kamu disini” Riu Zin menatap datar orang di depannya.
Kecantikan dan ketegasan bergabung menjadi satu di wajah itu. Tetapi ketika tertangkap meski belum melakukan apa apa, dia tetap merasa gugup. Wajahnya sudah pucat dan detak jantungnya berdekat kencang, khawatir Riu Zin curiga dengan keberadaannya.
Karena rasa penasaran sudah mendesak dirinya. Dengan memberanikan diri, dia memutuskan untuk kembali datang ketempat itu.
Namun siapa sangka dia akan bertemu dengan Riu Zin dan terperangkap dalam situasi yang serba salah. Pada saat seperti itu, dia mengingat Riu Lao yang sering muncul tiba tiba dan menolongnya dari masalah.
“Itu... saya-Ahk” tangannya ditarik dengan kasar dan dia dibawa jauh dari pintu yang berukiran kobaran api.
Setelah cukup jauh, tangannya di hempaskan begitu saja. Riu Zin melihatnya dengan tatapan yang tidak bersahabat dan berkata dengan penuh penekanan “Aku sangat menghormati ayahmu, jadi jangan membuatku mengabaikan rasa hormatku”
Riu Zin perlahan lahan mendekatinya, tanpa sadar kakinya berjalan mundur kebelakang sampai sampai punggungnya membentur tembok.
Rin benar benar menyesal sudah mencari masalah dengan Riu Zin. Bukannya dia lemah, hanya saja hatinya mulai cemas. Mungkin saja pemikiran buruknya tentang pengeran pertama itu benar adanya.
Riu Zin memasang wajah dingin, mata setajam elang melihat lurus kearahnya seperti akan menembus bola matanya.
Rin berbicara dengan sedikit gemetar “Pangeran Riu Zin, Rin tidak bermaksud untuk datang ketempat ini”
Riu Zin tidak melepaskan tatapannya dan berkata “Tidak sengaja hanya untuk satu kali. Jika sudah kedua kali, apa itu masih bisa disebut ketidak sengajaan”
Rin menelan ludahnya dengan susah payah. Mungkinkah Riu Zin tahu ketika dia datang ke tempat itu beberapa waktu yang lalu? Jika iya. Mengapa ketika mereka saling berinteraksi, pangeran pertama itu bersikap seolah olah tidak pernah terjadi sesuatu.
“Rin tidak-”
“Aku membiarkanmu ketika pertama kali, tetapi tidak untuk kedua kali...” sebelum menyelesaikan perkataanya, dia sempat melihat mata Rin yang terpejam.
Simbol didahi penasihat pangeran kedua itu tiba tiba muncul dan membuatnya menghentikan apapun yang akan dilakukan.
__ADS_1
Bukankah Rin adalah putri keturunan dewa bumi? Lalu mengapa simbol petir ungu bisa muncul di dahinya?
Rin membuka matanya ketika tidak mendengar suara lagi di dekatnya “Kemana pangeran Riu Zin pergi?”
Riu Zin sudah pergi dari tempat itu tanpa diketahui.
Rin menyadari sesuatu yang muncul pada dirinya kemudian berkata dengan malas “Kakek. Mengapa ketika aku merasa cemas yang berlebihan, tanda ini selalu muncul”
Kedua jari tangannya terulur untuk menekan tepat diantara kedua halis, sedikit energi spiritual membuat tanda di dahinya menghilang.
Suasana di ujung istana kembali hening. Rin masih berdiri diam dengan pemikiran yang dipenuhi dengan pertanyaan ‘mengapa’.
Mengapa dia harus melakukan sesuatu yang akan membahayakan dirinya sendiri?
Mengapa dia harus peduli tentang keselamatan semua orang ketika keselamatannya sendiri dipertaruhkan?
Dan mengapa dia masih peduli pada Riu Lao, meski sudah merasakan sakit hati berkali kali?
Huh dia hanya bisa menghela nafas untuk kesekian kalinya, benar benar sudah tidak ingin meneruskan niatnya datang ketempat itu. Lagi lagi dia harus digagalkan oleh kedua ‘Riu’.
....
Didalam kamarnya, Riu Lao terduduk di sisi tempat tidur. Tangannya memijat kedua halisnya lelah.
Beberapa hari ini dia selalu memaksakan diri mengeluarkan banyak energi spiritual untuk berlatih secara berlebihan, bahkan hampir tidak pernah berada di kamarnya.
Tanpa mempedulikan batas kemampuannya, dia terus berlatih dengan senjata ajaibnya sendiri di tempat seperti gambaran alam semesta.
Entah kenapa dia melakukan hal itu. Tentu bukan karena ada yang memaksanya, siapa yang akan berani menekan seorang pangeran.
“Kak Lao” tiba tiba Riu San datang menghampirinya.
“Ada apa” tanyanya.
“Bukankah kakak meminta San untuk datang kesini” Riu San merasa heran, jelas jelas baru saja beberapa menit kakaknya itu memintanya untuk datang kesana, tidak mungkin sudah lupa.
Riu Lao masih memijat halisnya kemudian berbicara “Hm, bagaimana dengan permintaanku?”
Riu San duduk di samping kakaknya kemudian menjawab “San sudah memerintahkan Xilian untuk mencari tahu tentang hal itu, dan soal Rin, dia masih mempelajari semua catatan istana”
“...”
Riu San melihat wajah Riu Lao yang pucat seperti kehabisan tenaga “Kak Lao baik baik saja?” tanyanya.
“Aku baik baik saja”
“Akan lebih baik kakak tidur sebentar kemudian melanjutkan apa yang tengah kakak lakukan”
__ADS_1
Riu San jarang menemukan keberadaan kakak keduanya di dalam istana. Tetapi dia yakin bahwa Riu Lao pasti tengah melakukan sesuatu yang penting sampai sampai tidak memperhatikan kondisinya.