
“Hah” helaan nafas di pagi hari menjadi permulaan sebagai penasihat Riu Lao untuk kedua kalinya setelah kembali ke masa lalu.
Rin sudah bersiap untuk pergi ke istana langit. Persiapannya sederhana hanya membawa beberapa hal yang dibutuhkan untuk tinggal disana dalam waktu lama. Setelah semuanya siap dia menemui ayahnya yang sudah berada dipekarangan rumah.
“Ayah...”
“Kamu sudah siap?”
Rin mengangguk “Aku pergi ayah” sang ayah tidak mengantarnya ke istana. Membiarkannya untuk pergi sendiri menjalani tugas sebagai penasihat pangeran.
Angin adalah sesuatu yang digunakan untuk pergi ke istana langit. Terlihat transparan namun itu merupakan gumpalan angin kecil yang menjadi pijakannya untuk terbang.
Tidak membutuhkan waktu lama karena angin melesat dengan cepat mengikuti arahan dari pengendalinya, mendarat dengan mulus didepan istana yang hanya terlihat beberapa pengawal kerajaan sedang berjaga.
Tanpa ingin menengok kiri kanan dia berjalan dengan perlahan, para penjaga disana selalu membungkuk memberinya hormat ketika lewat didepan mereka.
“Rin...” seseorang memanggilnya, itu Riu San yang berjalan kearahnya “Kamu sudah sampai” Rin mengangguk “Ayo aku antar ke kamarmu” Riu San menarik tangannya.
Sebenarnya dia ingin bertanya mengapa harus Riu San yang menyambut kedatangannya, bisa saja mengutus para bawahan atau pengawal pribadi. Namun karena sedang tidak bersemangat, dia lebih memilih diam dan mengikuti kemana Riu San membawanya pergi.
Setelah sampai dijajaran kamar kamar megah dengan pintu berwarna putih, dia melirik sekilas ke salah satu pintu disana. Itu adalah kamar Riu Lao dan dia tepat tinggal disebelahnya.
“Kita sudah sampai” Riu San berhenti di depan sebuah kamar.
“Terimakasih” akhirnya Rin buka suara.
“Aku kira kamu sedang puasa bicara, dari tadi hanya diam”
“...” Rin hanya menanggapi gurauan Riu San dengan datar.
“Ayo masuk” kamar itu terlihat sederhana namun cukup rapih dan nyaman. Nuansa biru putih selalu menjadi ciri khas kerajaan langit selatan “Kamu bisa istirahat dulu disini. Besok baru mulai menjalankan tugas sebagai penasihat pangeran” jelas Riu San.
“Kenapa kamu harus repot repot menjelaskan semuanya padaku, para pengawal dan petugas kerajaan yang lain ada dimana” Rin mengutarakan keheranannya.
“Ah, kak Lao yang memintaku untuk melakukan ini. Dan ya, kamarnya ada di sebelah kamarmu”
“...”
“Jika kamu ingin menyapanya sebagai penasihat baru mungkin dia ada dikamar”
“...”
“Kalau begitu aku akan pergi” Riu San berlalu meninggalkan kamar itu. Tanpa sepengetahuannya Riu San melirik sekilas kearahnya dan menghela nafas singkat.
Rin masih berdiri, memutar tubuhnya perlahan dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan “Semuanya sama” Ada kenangan yang melintas ketika dia mengamati keadaan di sekitarnya.
__ADS_1
Satu satunya hal yang membuatnya selalu mengingat jika kamar itu adalah saksi kepedulian Riu Lao. Saat itu dia pernah terluka karena menjalankan sebuah misi, Riu Lao mengobatinya sampai seharian penuh untuk menyalurkan energi spiritual kedalam tubuhnya yang hampir habis. Semua itu masih berbekas dibenaknya, namun kini dia tidak berharap untuk mendapatkan perlakuan lembut dari Riu Lao lagi.
Rin mendudukan dirinya disamping tempat tidur, perlahan merebahkan tubuhnya diatas kasur yang nyaman. Melihat langit langit kamar yang menjadi saksi di setiap tangisannya “Hah” menghela nafas dalam dan masih tetap pada posisinya.
Hari sudah menjelang siang, dia tidak bersemangat untuk sekedar jalan jalan atau keluar kamar. Itu akan mengantarkannya pada semua kenangan yang dipenuhi dengan Riu Lao dan berakhir dengan dia menghela nafas untuk kesekian kalinya. Memilih untuk memejamkan mata menikmati pengharum ruangan yang memanjakan penciumannya dan perlahan memulai petualangannya di alam mimpi.
....
Suasana taman belakang istana terdapat kolam besar yang dihiasi kekuatan ajaib, airnya berkedip terkena sinar matahari. Siang hari udara disana masih begitu sejuk dan damai.
Di atas sebuah batu besar terduduk seseorang dengan pakaian kerajaan, kedua matanya terpejam menikmati alunan musik yang dihasilkan dari petikan alat musik di tangannya. Jari jari yang mahir memainkan alat musik petik itu terus memanjakan senarnya.
Angin kecil meniup rambutnya yang hitam, sedikit cahaya mentari menerpa wajahnya yang tampan. Tanpa menghiraukan keadaan sekitar dia terus memainkan sebuah lagu indah. Sesekali menggumamkan syair lagu diiringi suara lembut musik yang mendayu memperlihatkan ketenangan dari pemainnya.
Tiba tiba dia membuka mata ketika sadar kehadiran seseorang di sampingnya “Kakak” katanya sedikit membungkuk memberi hormat.
“Kamu selalu mengabaikan sekitar ketika sudah bermain dengan alat musik” Riu Zin menampilkan raut wajah tenang tanpa ada senyuman yang terlukis di bibirnya.
Riu Lao menyimpan alat musik di sampingnya kemudian berkata “Sesuatu yang indah perlu kita lestarikan” tersenyum tipis ke arah sang kakak.
Riu Zin menempatkan kedua tangan dibelakang, benar benar memperlihatkan statusnya sebagai seorang pangeran. Dia melihat ke arah kolam dengan tatapan datar dan menjawab “Yang indah itu terkadang bisa menghancurkan”
Riu Lao semakin tersenyum manis “Tergantung dengan siapa keindahan itu menyesuaikan diri” balasnya.
Kedua pangeran istana menggunakan sebuah isyarat kata dalam menyampaikan maksudnya. Terkadang orang biasa hanya akan menampilkan sebuah kebodohan ketika mendengar mereka berbicara.
Ditengah keheningan datang seseorang dengan senyuman dan pakaian indah memberi salam pada kedua pangeran “Yang Mulia pangeran, Alin Qian memberi salam” ternyata itu putri keturunan sang dewi bunga dan merupakan penasihat pangeran pertama.
“Alin..” Riu Lao menyambut dengan senyuman, dia berjalan menghampiri teman dekatnya “Kapan kamu sampai di istana” tanyanya.
“Alin baru saja sampai pangeran. Dua penasihat yang lainnya juga sudah berada di istana”
Riu Lao “Benarkah? Aku tidak sadar sudah lama berada disini”
Riu Zin “Kamu memang selalu lupa tentang apapun jika sudah bermain dengan alat musik” sarkasnya.
“...” Riu Lao tersenyum tipis membenarkan perkataan sang kakak.
Kedua pangeran dan seorang bunga terlibat percakapan sederhana, sesekali Riu Lao tersenyum mendengar celotehan temannya.
“Mulai lagi cinta segitiga” itu Riu San yang melihat dari kejauhan.
Sebagai seorang adik dia tahu jika Riu Lao selalu melihat Alin dengan penuh cinta. Tetapi dari penglihatannya putri keturunan dewi bunga itu malah memiliki ketertarikan terhadap Riu Zin “Bagaimana aku selalu melihat mereka bertiga” Riu San lebih memilih tidak peduli dan melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.
....
__ADS_1
Rin mengerjapkan mata kala dirinya mencium wangi makanan “Sudah bangun” suara seseorang yang dia kenal membuatnya langsung mendudukan diri.
Rin terburu buru turun dari tempat tidur kemudian berdiri memberi hormat “Yang- pangeran” kebiasaan memang sulit dihilangkan.
“Aku pikir kamu lupa untuk memberi salam sebagai penasihat pangeran” sarkasnya. Riu Lao masih terduduk didepan sebuah meja yang berada di dalam kamar itu.
“Rin Ayitian memberi salam sekaligus meminta maaf karena tidak menyapa yang mulia setelah sampai di istana” Rin membungkuk memberi hormat “Kenapa dia tiba tiba ada disini” dia menggerutu dalam hatinya.
Siapa yang tidak kesal, ketika baru bangun tidur dan belum sempat mengumpulkan kesadaran sudah dikagetkan. Dia bahkan tidak tahu bagaimana penampilannya saat ini, karena mau tidak mau harus memberi hormat kepada orang yang sudah menjadi Yang Mulianya.
“Sedang apa berdiri disana? Kemarilah!” titah Riu Lao.
“Hah?” Rin mendongak, memastikan pendengarannya tidak salah.
“Bukankah kamu belum makan siang. Pelayan membawakanmu ini”
“RIN...” “Ya” Rin terlonjak dan mengikuti perintah sang pangeran untuk duduk.
Riu Lao melihat Rin masih terdiam kemudian bertanya “Tidak dimakan”
Rin “Mengapa pangeran tiba tiba berada dikamar Rin”
“Makanlah terlebih dahulu” Riu Lao kembali pada sebuah buku ditangannya. Mengabaikan tatapan penuh tanya dari penasihatnya.
“...” Rin tidak bertanya apa apa lagi, dia tahu tabiat Riu Lao jika sudah memerintahkan sesuatu harus dilakukan tanpa ada perdebatan.
Dengan masih menggerutu didalam hatinya, dia mulai melahap makanan yang ada diatas meja. Perutnya memang sudah lapar karena belum diisi apa apa sejak pagi.
Keheningan tercipta didalam ruangan itu. Hanya ada suara gesekan alat makan dan lembaran lembaran buku yang di bolak balik. Sesekali dia melirik kearah Riu Lao dan masih tidak ada ekspresi yang berarti dari pangeran kedua itu selain keseriusan membaca buku.
“Apa kamu selalu melihat orang lain dengan wajah seperti itu” Riu Lao masih tetap pada posisinya.
“Tidak pangeran. Rin tidak bermaksud, hanya saja bagaimana pangeran bisa berada didalam kamar ini” Rin kembali menanyakan hal yang sama.
“Kamu begitu terkejut aku berada dikamar ini sampai sampai kakimu membentur sisi tempat tidur” Riu Lao menyimpan buku diatas meja, melihat Rin dengan tanpa ekspresi “Apa sebegitu aneh jika seorang pangeran menemani penasihatnya makan” kalimat itu seakan ragu untuk diucapkan, tetapi Rin tidak menyadarinya.
“Tidak pangeran” hanya itu yang bisa dia jawab dan kembali melahap makanannya tanpa ingin melihat wajah Riu Lao “Dia tahu kakiku membentur tempat tidur. Aku saja baru sadar ketika itu terasa sakit, bagaimana dia tahu ketika dia tidak merasakannya” Rin kembali membatin.
Sebenarnya bukan hanya perlakuan Riu Lao yang membuatnya aneh, tetapi beberapa hal yang terjadi setelah dia datang ke perjamuan istana.
Awalnya dia belum menyadari ketika melihat Riu Zin di depan kolam besar. Tidak seharusnya dia bertemu dan berbicara dengan pangeran pertama itu pada saat perjamuan besar diadakan, karena interaksi pertama kali diantara mereka adalah ketika dirinya sudah menjadi penasihat Riu Lao.
Kedua adalah pertemuannya dengan kaisar, seharusnya namanya yang pertama kali diusulkan untuk menjadi penasihat Riu Lao, tetapi malah nama Alin Qian. Dan terakhir adalah perlakuan aneh Riu Lao pada dirinya, itu belum pernah bahkan hampir tidak mungkin terjadi sebelumnya.
Riu Lao memang ramah dan suka tersenyum, tetapi itu tidak berlaku ketika bersama dengannya. Hanya ada ekspresi datar yang ditampilkan pada saat bertemu dan hanya berbicara seperlunya.
__ADS_1
Rin sendiri hanya bisa melihat senyuman dan tatapan lembut Riu Lao ketika pangeran kedua itu berinteraksi dengan orang lain.
Meski saat ini wajah tampan itu tetap datar ketika melihatnya, namun sikap Riu Lao yang berbeda menunjukan sebuah kepedulian. Rin hanya bisa menerka nerka tanpa bisa menyimpulkan.