Bisakah Yang Mulia Melihat Ke Arahku

Bisakah Yang Mulia Melihat Ke Arahku
BAB 9 Tuduhan


__ADS_3

Ketika semua orang seharusnya makan malam, Riu Lao berdiri di depan pintu masuk penginapan. Raut wajahnya benar benar tidak enak dilihat.


Sudah berjam jam setelah Rin pergi dari tempat itu, entah kemana penasihatnya pergi dia juga tidak tahu.


Ketika dia masih berdiri diam, Riu Zin datang dan berdiri di sampingnya “Sedang menunggu penasihatmu” lagi lagi nada bicaranya tidak seperti bertanya.


“Kak Zin” Riu Lao sedikit membungkuk memberi hormat.


“Tidak perlu khawatir, putri dewa bumi itu memiliki kekuatan diatas Riu San”


Dalam keadaan berbahaya sekalipun Rin akan bisa melindungi diri sendiri dengan ilmu bela diri yang dimilikinya.


Namun bukan itu yang dipikirkan Riu Lao, bahkan sepertinya dia tidak peduli dimana dan sedang melakukan apa Rin diluar sana. Dia hanya ingin mengonfirmasi sesuatu yang membuatnya geram beberapa waktu yang lalu.


Riu Lao tersenyum hambar sebagai balasan, perkataan kakaknya masuk telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri. Pandangannya teralihkan jauh kedepan, menandakan perasaanya sedang tidak baik baik saja.


Senyuman cerah tanpa beban terlihat dipandangan Riu Lao. Cahaya dari lampion lampion di pinggir jalan cukup untuk memperlihatkan kecantikan seorang dewi.


Rin tengah berbicara santai dengan dua orang pria tampan disampingnya. Itu adalah Riu San dan penasihatnya yang bernama Xilian.


Dia melihat heran kearah Riu Lao yang tengah berdiri di depan teras bersama Riu Zin. Dia menghentikan candaannya dan berjalan mendekati Yang Mulianya.


“Pangeran..” dia membungkuk memberi salam.


“...” Riu Lao melihatnya dengan tanpa ekspresi.


“Kak Lao... kak Zin” Riu San memberi salam kepada kedua kakaknya diikuti penasihatnya.


Kecanggungan tercipta setelah itu, tidak ada yang berani bersuara terlebih dahulu.


Rin sangat membenci suasana seperti itu, kemudian dia berbicara terlebih dahulu “Mengapa pangeran masih berada di luar, ini sudah malam” dia masih menunjukan kesopanannya ketika sudah tahu suasana hati Riu Lao yang sedang tidak baik.


Riu Lao tidak menjawab pertanyaannya dan malah berbicara pada Riu San “Sejak kapan kamu turun kebumi?”


Dengan senyuman konyolnya Riu San menjawab “Sebenarnya San membujuk ayah handa untuk menyusul kakak meski perintah sudah diselesaikan”


Riu San adalah satu satunya putra kaisar yang tidak bisa diam di dalam istana untuk waktu yang lama. Sejak bertemu Rin, dia akan sering keluar istana setiap hari untuk menemui temannya itu. Dan ketika harus disuguhkan dengan banyak dokumen dokumen kerajaan, dia benar benar tidak bisa.


Setelah Riu Zin dan Riu Lao pergi kebumi untuk menjalankan titah kaisar. Dia terus memohon mohon untuk segera menyusul mereka.


Alhasil permintaannya dikabulkan dan dia segera meluncur kebumi untuk sengaja menemui Rin terlebih dahulu. Kebetulan ketika dia berjalan jalan di tengah masyarakat bumi, penasihatnya bertemu Rin yang sedang melakukan kegiatan sama sepertinya.


Mereka berjalan jalan sebentar dan menikmati suasana bumi kemudian datang kepenginapan itu untuk bertemu kedua kakaknya “Ayah juga meminta kak Lao dan kak Zin untuk segera kembali ke istana” katanya.


“Besok kita akan kembali, lebih baik kamu sekarang istirahat disini” jawab Riu Lao dengan sesekali melirik pensihatnya.


“...” Rin tidak tahu mengapa sikap Riu Lao tiba tiba berubah.


Ketika terakhir kali dia pamit untuk pergi kepenginapan terlebih dahulu, Riu Lao masih baik baik saja. Namun sekarang pangeran kedua itu terlihat menunjukan kemarahan.


“Kamu ikut denganku” perintah Riu Lao, kemudian dia masuk kedalam penginapan.


Rin dan Riu San saling bertukar pandangan, tidak lama dia mengikuti kemana Riu Lao pergi.

__ADS_1


Didalam kamar yang cukup luas dan sederhana, Riu Lao duduk dengan pandangan lurus kedepan. Didepannya ada sebuh lilin kecil yang menerangi sebagian wajahnya.


Tidak lama kemudian Rin memasuki kamar itu dan berdiri di depannya “Ada apa pangeran? Apakah ada sesuatu yang harus Rin kerjakan?”


Riu Lao menghela nafas singkat kemudian berkata “Apa yang kamu berikan pada Alin”


“Apa yang Rin berikan? Ah itu adalah obat untuk menguatkan kekuatan tubuh. Apakah ada masalah pangeran?”


Rin pernah sekali melihat kondisi putri dewi bunga itu dan sempat memberikan obat yang dibuatkan ayahnya.


Obat itu bagus untuk seseorang dengan tubuh yang lemah seperti Alin Qian, agar bisa lebih kuat dan cepat bereaksi terhadap lukanya.


Dia merasa itu bukanlah sesuatu yang salah, mengapa Riu Lao terlihat marah kepadanya.


“Sungguh?” Riu Lao tersenyum miring kemudian berkata lagi “Bukan untuk membuatnya semakin parah” itu bukan hanya menyindir tetapi benar benar menuduh.


“Maksud pangeran?” Rin masih menahan nada suaranya untuk tidak melebihi batas. Dia tidak bodoh untuk tidak tahu bahwa Riu Lao sedang menuduhnya melukai Alin Qian.


Tuduhan Riu Lao juga bukan tanpa alasan. Beberapa saat ketika dia berada di kamarnya, Riu Zin memberi tahu bahwa kondisi Alin Qian kembali memburuk.


Ketika ditanya, Alin Qian mengatakan kondisinya memburuk setelah meminum obat pemberian Rin. Dengan tanpa pikir panjang dia langsung menuduh tanpa bukti yang akurat, dan membuat Riu Lao geram karenanya.


Riu Zin juga melihat kondisi penasihatnya yang sempat memburuk, tetapi dia tidak menyalahkan Rin untuk semua itu.


Rin mengepalkan kedua tangannya kala mendengar jawaban dari Riu Lao yang benar benar menyinggung perasaannya. Dengan tanpa mempedulikan rasa hormat, dia pergi meniggalkan Riu Lao yang sama sama sedang menahan amarah.


Panggilan dari Riu San tidak dihiraukannya, dia terus melangkah pergi keluar penginapan meski hari sudah malam. Dia bahkan melupakan fakta bahwa dimalam hari kekuatannya tidak stabil.


Riu San berniat menyusul tetapi ditahan oleh Riu Zin, akhirnya dian hanya menunggu dengan harap harap cemas.


Suara lolongan anjing yang saling bersahutan memberi kesan mencekam bagi banyak orang, namun tidak termasuk keturunan dewi yang sedang menunjukan wajah kesalnya.


Rin tidak peduli sepi atau ramai, dia tetap melangkahkan kakinya menjauh dari penginapan. Kemanapun itu asalkan dia tidak bertemu dengan Riu Lao.


Sikap Riu Lao sudah tidak bisa ditolelir lagi. Dia masih baik baik saja ketika diabaikan atau pertanyaanya tidak dijawab. Tetapi dia tidak bisa diam saja ketika dituduh melakukan sesuatu yang tidak dia perbuat.


Dia sudah memiliki niat baik memberikan obat pada Alin Qian. Hanya dengan seperti itu Riu Lao tidak akan terlalu khawatir tentang kondisi temannya.


Dia juga tidak pernah mengira bahwa setelah putri keturunan dewi bunga itu meminumnya, kondisinya akan kembali memburuk.


Ketika seseorang sudah menanamkan pemikiran seperti itu atas diri orang lain, menjelaskannya tidak akan merubah apapun. Hanya sia sia dan membuang buang waktu.


Jadi dia memilih untuk tidak menjelaskan apapun dan pergi untuk menetralisir emosinya. Dan membiarkan Riu Lao memikirkan kembali tuduhannya.


Duk tiba tiba kepalanya membentur sesuatu. Dia mendongak hanya untuk melihat wajah angkuh seorang pria.


“Kau lagi..” itu bukan Rin tetapi seorang pria dengan tanda matahari di dahi, Rong Huan.


Suasana hatinya sedang buruk, dia tidak berminat untuk berbasa basi. Tanpa mengatakan apapun Rin berjalan melewati pangeran kerajaan langit timur itu.


“Salah tetaplah salah, bukankah seseorang harus meminta pengampunan”


Rin menghentikan langkahnya kemudian berbalik. Rong Huan benar benar memiliki ingatan yang baik, bahkan kata katanya waktu itu dikembalikan kembali.

__ADS_1


Dengan sangat terpaksa Rin membungkuk dan berkata “Rin tidak melihat dan tidak sengaja menabrak pangeran Rong Huan. Diharapkan pangeran bisa memaafkan” tidak ada salahnya juga dia meminta maaf, toh kali ini memang dia yang salah.


“Kemana Yang Muliamu itu yang selalu ada dimanapun kau berada”


“Maksud pangeran Rong Huan?” Rin tidak bisa untuk mengabaiakan perkataan Rong Huan.


Rong Huan kembali dengan wajah angkuhnya, penampilannya kali ini tidak terlalu mencolok. Dia juga sendirian kali dan tidak ditemani oleh para pengwalnya yang setia.


“Tadi siang, bukankah dia selalu muncul tiba tiba. Dan sepertinya bukan hanya tadi siang, sebelum sebelumnya juga dia akan muncul tiba tiba di depanmu”


“...”


Perkataan Rong Huan memang benar adanya, namun yang dia tidak mengerti adalah darimana pangeran angkuh itu mengetahuinya.


Rong Huan tiba tiba tertawa mengejek “Kau sungguh sungguh dewi yang naif, bahkan dengan tindakan yang sangat jelas pun tidak mengerti. Tetapi itu cukup menarik” senyuman yang ditunjukannya penuh arti.


Sebelum membuka mulutnya untuk bertanya lagi, Rong Huan sudah berjalan menjauh meninggalkannya sendirian ditengah jalan yang sepi.


Rin masih berdiri mematung di tempat itu. Kembali kepenginapan atau melanjutkan langkahnya, kakinya seakan enggan untuk bergerak.


Pandangannya menyapu setiap sudut jalanan, dia melihat ada seseorang yang duduk didalam kegelapan. Karena penasaran kakinya bergerak sendiri mendekati orang itu “Tuan ini...”


“Ah, nona penyihir”


Benar saja itu adalah pria muda yang sebelumnya pernah dia selamatkan dari binatang sihir. Siapa lagi yang akan mengira dia seorang penyihir jika bukan dirinya.


“Mengapa nona ada disini, ini sudah malam hari” tanya pria itu sopan.


“Ah itu, saya sedang ingin mencari angin” Rin menjawab sekenanya.


Orang bodoh mana yang percaya, jika seseorang berjalan sendirian di malam hari hanya untuk alasan tidak masuk akal. Namun sepertinya pemuda itu cukup bodoh untuk pecaya begitu saja dengan perkataannya.


“Seperti itu...”pria muda kembali sibuk dengan kegiatannya mencoret coret sesuatu dicatatannya.


Rin memperhatikan sekitarnya, dan menyadari jika tempat itu adalah sebuah kedai yang di dominasi dengan warna merah. Ketika melihat ada sesuatu yang salah matanya melirik pria di sampingnya.


Pria itu sudah lenyap tidak bersisa, bahkan buku catatannya pula tidak ada di atas meja. Rin benar benar harus melatih intuisinya dengan sering, agar dia tidak dipermainkan makhluk menyebalkan itu lagi.


Ditengah kesunyian, suara tawa mengerikan terdengar dari balik gelapnya malam. Tiba tiba ada cahaya yang meluncur cepat kearahnya.


Untung saja dia masih peka terhadap serangan di malam hari meski kekuatanya tidak stabil, dan hanya bisa menghindar sebagai upaya penyelamatan diri.


“Bagaimana dengan menemukan gadis gadis remaja itu, mudah bukan Rin Ayitian”


“...”


“Aku sudah lama memperhatikamu dan tahu bagaimana kau memiliki kekuatan yang luar biasa. Dari pada menjadi penasihat keturunan dewa itu, lebih baik kau bergabung denganku. Kita akan menguasai dunia bersama sebagai pasangan”


Pasangan lagi?


Rin bahkan sudah muak dengan kata kata itu, namun dia masih tidak mengatakan apa apa.


Setelah menunggu cukup lama suara itu sudah tidak terdengar lagi. Ketika dia ingin pergi dari tempat itu, tiba tiba seseorang menghadang jalannya.

__ADS_1


Pakaian hitam dengan jubah hitam menjuntai dari pundak ke bawah, seorang pria yang bisa dikategorikan tampan tengah menyeringai kearahnya. Itu adalah si pria muda sekaligus pemimpin dari para penyihir, Zho Lan.


__ADS_2