
Rin membawa setumpuk buku di tangannya, dia belum bertemu dengan Riu Lao lagi setelah satu minggu mereka kembali keistana. Terakhir ketika berdebat karena tuduhan yang tidak berdasar, membuat dia sangat tersinggung karenanya.
Meski begitu dia tidak ingin benar benar menghindari Yang Mulianya, karena masih mengingat posisinya sebagai seorang penasihat pangeran.
Ditengah perjalanan dia melihat dua orang yang sedang berlatih menggunakan senjata, Riu Zin sedang berlatih dan melatih Alin Qian menggunakan senjata.
Ada terlintas rasa iri di hatinya ketika dua penasihat yang lain selalu berada bersama Yang Mulianya tetapi dia hanya ditemani dengan tumpukan buku buku selama satu minggu ini.
“Setumpuk buku lagi?” tiba tiba Riu San datang menghampirinya.
“...”
“Kakakku memberimu semua ini? Lagi?” ada nada mengejek serta raut wajah miris yang Riu San tunjukan.
“Benar pangeran” Rin menjawab sopan karena ada orang lain yang berdiri di samping Riu San.
“Kamu mau kemana?”
“Saya akan pergi ke taman di dekat rerumputan hijau pangeran”
Riu San mengangguk singkat kemudian berkata “Xilian” itu ditujukan untuk pria di sampingnya “Kamu pergi terlebih dahulu! Aku masih ada urusan”
“...” Pria bernama Xilian memberi hormat kemudian berlalu pergi.
“Aku heran dengan kak Lao” tiba tiba dia berbicara serius “Mengapa memberimu semua catatan istana yang sudah lama, bukankah catatan kuno itu sudah ditemukan? Apa mungkin dia masih marah dan berusaha menjauhkanmu-Aaak” Riu San memekik kecil.
“Jangan sembarangan bicara” setelah mengatakan itu, Rin pergi meninggalkan Riu San yang masih meringis kesakitan.
Tidak perlu diberi tahu, dia juga tahu bahwa Riu Lao ingin menjauhinya dengan banyak catatan istana. Bahkan ketika dia mengambil semua benda tak bergerak itu di kamar Riu Lao, si pemilik kamar tidak ada ditempatnya.
Taman yang sepi dengan banyak ditumbuhi rerumputan hijau menjadi tempat biasanya dia memperlajari semua dokumen kerajaan, jauh dari istana utama dan memiliki pencahayaan minim ketika di malam hari.
Rin mendudukan dirinya di atas batu besar yang ada disana dan mulai membuka buku buku itu satu persatu. Jari jarinya hanya membolak balik halaman kertas dengan asal, matanya melihat lurus kedepan dan pikirannya sedang melayang jauh kebelakang.
Semua catatan istana itu sudah lama dan tidak dibutuhkan lagi oleh kaisar. Catatan yang ditulis dengan tinta merah juga tidak ada di tempatnya, mungkin Riu Zin masih menyimpan... atau lebih tepatnya menyembunyikannya dengan sangat baik.
Rin berpikir Riu Lao tetaplah Riu Lao, semua keanehannya beberapa waktu kebelakang tidak berarti apa apa. Bahkan perhatian yang ditunjukannya tidak lebih dari seorang pangeran kepada penasihatnya.
Dia jadi merasa bodoh dan lemah. Bahkan sempat berpikir mungkin masa lalunya bisa berubah. Ah, itu benar benar tidak masuk akal.
Ketika dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Orang yang dipikirkannya sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat.
Riu Lao berjalan dengan langkah pasti menuju suatu tempat yang sering dijadikannya untuk merenung dan berlatih kekuatan.
Jubah putih yang dikenakannya terombang ambing. Dia menempatkan satu tangan di belakang dan satunya lagi sebagai penyangga jubah panjangnya. Kharisma yang terpancar dari ketenangan mampu menjadikannya sosok terhormat dan disegani.
Setelah sampai disebuah tempat cerminan dari alam semesta, Riu Lao berdiri melihat kearah langit memandang sebuah cahaya hijau yang meliuk liuk. Situasi disana selalu terlihat seperti dimalam hari.
__ADS_1
Dia terus menampilkan wajah dingin tanpa berniat untuk merubah posisinya, seakan seluruh tubuhnya enggan untuk bergerak. Sorot matanya sulit diartikan dengan ketegasan nyata di wajahnya. Jika orang lain melihat, akan berpikir tidak ada yang berarti dari ekspresinya itu.
Beberapa saat kemudian tiba tiba sebuah pedang berwarna biru yang dilapisi kekuatan sihir muncul di tangannya. Mengayun dengan indah seperti membuat seni lukis dengan kampas emas. Berbelok ke kiri dan ke kanan, pedang seukuran sedang itu adalah salah satu senjata ajaib yang dimilikinya. Riu Lao selalu berlatih ditempat itu agar siapapun tidak ada yang mengganggunya.
....
Rin menghela nafas kasar, dia tidak ingin mati kebosanan karena selalu memperlajari dokumen dokumen yang sudah benar benar dia hapal. Yang dia butuhkan adalah catatan kerajaan itu, dan dimana tepatnya Riu Zin meletakannya.
Ketika dia sedang kebingungan, tiba tiba sebuah pusaran cahaya muncul dan memperlihatkan seorang pria tua dengan jubah hijau samar yang sedang berdiri tidak jauh di depannya.
Kakek?
Benar. Seharusnya Rin memang bertemu kakeknya pada saat ini. Dia berniat akan menanyakan sesuatu yang belum sempat dia tanyakan sebelumnya.
“Mengapa kakek ada disini?” Rin menunjukan wajah terkejut yang dibuat buat.
“Kakek bisa berada dimanapun dan kapanpun, karena kakek seorang dewa”jawab sang kakek yang tak lain adalah Dewa Bumi.
“Rin tahu, tetapi seorang dewa tidak bisa begitu saja menemui keturunannya, bagaimana jika ada orang lain yang melihat”
“Tidak ada siapa siapa disini. Dan lagi kakek kesini karena mengetahui jika cucu kakek ini sedang memiliki masalah”
Rin memikirkan sesuatu yang tepat untuk memulai percakapannya dengan sang kakek yang sudah lama tidak dijumpainya.
Dia mengingat kejadian satu minggu kebelakang dan berkata “Aku pernah bertemu dengan pemimpin dari para penyihir beberapa hari yang lalu. Dan dia mengatakan sesuatu tentang pedang kembar” katanya.
“Lalu, apa kamu bisa menjelaskannya secara terperinci?”
Dia harus beradu senjata dan kekuatan yang dimenangkan oleh lawannya, karena pada saat itu kekuatannya sedang tidak stabil.
Energi spiritualnya hampir habis, beruntung pemimpin para penyihir itu mengingat jasanya yang pernah menolongnya meski itu sudah direncanakan.
Sebelum pergi, Zho Lan sempat mengatakan jika kerajaan langit selatan akan mendapatkan masalah dimasa depan karena suatu hal, yaitu dengan tercabutnya pedang kembar dari serangkanya.
Rin ingat jika pedang kembar adalah senjata ajaib yang dimiliki oleh Riu Zin. Meski tidak dalam waktu dekat ini pengeran pertama itu menggunakannya. Tetap saja suatu saat pasti akan digunakan dan itu untuk sesuatu yang tidak baik.
“Pedang kembar” sang dewa menautkan halisnya “Itu adalah senjata kuno, dan kakek hanya tau dari nenekmu”
Rin memutar bola matanya, bukan itu yang dia harapkan dari kakeknya. Apakah dia harus mencari keberadaan neneknya untuk mengetahui lebih jelas tentang senjata itu.
Dewa bumi melihat kekecewaan di wajah cucunya kemudian berkata “Kakek memang tidak tahu lebih jelas tentang asal usul senjata itu dan apa saja yang akan disebabkannya di masa depan. Tetapi kamu mungkin bisa mencegah kejadian buruk di masa depan dengan ini” dia mengeluarkan sesuatu dari tangannya.
Sesuatu yang mengkilat dikedua sisi. Ketika sudah terlihat dengan jelas ternyata itu adalah dua pedang dengan bentuk dan warna yang sama, bahkan tidak ada perbedaan sama sekali.
“Ini...” “Pedang Bersaudara” jawab sang dewa.
Rin menunjukan wajah yang rumit, ternyata sudah tiba saatnya untuk memiliki senjata itu.
__ADS_1
“Ini adalah senjata ajaib terhebat yang kakek miliki. Mungkin bisa berguna untuk kamu” dewa bumi menyerahkan pedang Bersaudara kehadapan cucunya.
Dengan ragu ragu Rin menerimanya dengan kedua tangan. Ketika senjata itu sudah ada di tangannya, cahaya hijau bersinar dengan sangat terang hampir memenuhi taman itu. Senjata ajaib itu sudah mengakuinya sebagai tuan.
“Kakek benar benar tidak menyangka, ternyata dia menerimamu dengan sangat mudah. Bahkan ketika kakek pertama kali mendapatkannya harus dengan perjuangan”
Senjata ajaib tersembunyi di setiap sudut dunia seperti keberadaan para dewa. Untuk mendapatkannya tidak mudah, terlebih jika dia sudah memiliki seorang tuan seperti pedang bersaudara itu.
Rin juga seperti itu. Ketika pertama kali menerima pedang bersaudara sebagai salah satu senjata ajaibnya, dia sempat tidak sadarkan diri dan terluka sangat parah ketika harus menjinakannya agar mengakuinya sebagai tuan.
Namun sekarang, pedang bersaudara langsung mengakuinya karena sebelumnya memang dia sudah menjadi tuannya. Ternyata senjata ajaib mampu mengenali tuannya meski dia kembali kemasa lalu.
“Terima kasih kek” Rin tersenyum cerah menunjukan kemanisannya.
“Sama sama Ayi kecil” dewa bumi mengusap lembut rambut cucunya dan berkata lagi “Jaga dirimu. Dan jika kamu dalam kesulitan jangan sungkan untuk mencari kakek”
Tidak seperti ibunya yang menetap dalam satu tempat, para kakek dan neneknya selalu berada dimana pun dan sulit untuk ditemui.
“Um, Rin pasti akan menjaga diri dengan sangat baik. Kakek tidak perlu khawatir”
“Jika seperti itu, kakek akan pergi” dewa bumi sudah tidak terlihat lagi setelah pusaran yang dibuatnya lenyap.
Rin memperhatikan dua pedang ditangannya, dan tiba tiba beberapa kalimat terlintas diingatannya.
Permusuhan bermula ketika sang Pedang Kembar terayun
Pertarungan tidak bisa dihentikan dengan hanya mengadu senjata
Semua bisa berakhir ketika Pedang Bersaudara saling berhadapan
Namun semua tidak akan berawal dan berakhir jika sang Pedang Kembar tidak pernah terayun
“Benar, itu. Itu jawabannya, jika pangeran Riu Zin tidak pernah menggunakan senjata ajaibnya, maka peperangan itu pula tidak akan terjadi dan semua akan baik baik saja”
Belum selesai dengan kegembiraannya karena merasa sudah memecahkan teka tekinya, dia mengingat satu hal yang membuat peperangan itu sulit dihindari. Yaitu Alin Qian yang dicintai oleh kedua pangeran.
“Hah, apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku mencegah orang lain untuk jatuh cinta, tetapi aku mungkin masih bisa menjauhkan senjata ajaib itu dari pangeran Riu Zin”
Ketika dia sedang sibuk berpikir, Riu San tiba tiba berada di belakangnya. Beruntung dia sudah menyimpan senjata ajaib pemberian kakeknya.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu” tanya Riu San yang mengira kehadirannya tidak diinginkan.
“Ada perlu apa kamu datang kesini” Rin malah balik bertanya.
“Aku sudah selesai dengan kegiatanku dan datang kesini untuk membantumu menyelesaikan tugas dari kakakku”
Rin tahu temannya itu bukan ingin membantu, tetapi akan mengganggunya sampai bosan “Pergilah jika hanya ingin menggangguku” Rin kembali membuka buku buku di depannya.
__ADS_1
Alih alih menurut, Riu San malah berkata “Tidak mungkin aku membiarkan seorang dewi yang cantik sendirian disini tanpa ditemani siapapun terutama Yang Mulinya. Kasihan sekali”
“...” Rin hanya melihat Riu San sekilas dan melanjutkan kembali kegiatannya yang sempat tertunda, yaitu membaca buku.