Bisakah Yang Mulia Melihat Ke Arahku

Bisakah Yang Mulia Melihat Ke Arahku
BAB 17 Memimpikan Hal Yang Sama


__ADS_3

Rin... Rin...


“RIN AYITIAN” Riu San berteriak di samping telinga seseorang, suaranya mampu membangunkan singa yang tengah tertidur pulas.


“...” Rin mendudukan dirinya dengan cepat karena terkejut. Wajahnya terlihat kebingungan dan matanya menyapu keadaan sekitar, berusaha membedakan antara mimpi dan kenyataan. Beberapa saat dalam kebingungan, dia juga tidak memperdulikan keberadaan Riu San dan hanya melirikkan matanya sekilas. Tangannya mengusap keringan dingin yang ada di keningnya, kemudian menghela nafas berat “Hah”


Melihat wajah Rin yang rumit, Riu San bertanya “Kamu baik baik saja”


Rin memijat pelipisnya dan menjawab “Um..” kemudian dia tersadarkan akan sesuatu “Kenapa kamu berteriak di samping telingaku” kesalnya dan hampir saja mengumpat sebelum semua perkataannya tersangkut di tenggorokan, dia baru menyadari keberadaan orang lain yang berdiri di samping Riu San.


Rin akan bangkit untuk memberi hormat, namun sebelum itu Riu San berkata “Tidak perlu menampilkan wajah seperti itu, Xilian sudah tahu hubungan antara kita berdua” kata katanya sedikit  ambigu, namun ketiga orang yang berada di dalam ruangan itu mengerti apa makna yang sebenarnya.


Riu San mengambil cangkir air di atas meja dan menyodorkannya ke hadapan Rin “Minumlah, kamu terlihat tidak baik aik saja”


“...” Rin hanya mengangguk samar dengan tangannya menerima cangkir yang diberikan Riu San. Pada kenyataanya dia memang tidak baik baik saja. Mengingat mimpinya yang begitu nyata, seperti dirinya tengah mengalami semua kejadian itu untuk kedua kalinya.


Riu San berkata “Aku terpaksa membangunkanmu, karena melihatmu tidur dengan gelisah. Apa yang kamu mimpikan?”


“Ah, itu...” Rin melihat Riu San dengan isyarat untuk meminta Xilian pergi. Riu San mengerti dan meminta penasihatnya untuk meninggalkan mereka berdua.


Beberapa saat dalam kebisuan. Sebenarnya Rin tidak berniat untuk memberi tahu Riu San tentang mimpinya, dia hanya tidak ingin orang lain selain teman dekatnya, melihat ekspresinya yang terkesan penuh dengan beban.


Setelah hubungannya dengan Riu Lao menjadi canggung karena tuduhan yang tidak berdasar. Setiap Rin menutup mata untuk tertidur, memori dari kehidupan sebelumnya berubah menjadi mimpi yang bersambung. Kenangan yang berusaha untuk dilupakannya ketika membuka mata, selalu muncul pada saat dia menutup mata.


Rin selalu bertanya tanya pada takdir. Apakah tidak bisa menghapus kenangan yang menyedihkan itu, dan membiarkannya mendapat kenangan yang lebih baik untuk diingat? Apakah dia masih memiliki perasaan pada Riu Lao dan masih memperdulikannya? Jika tidak, mengapa selalu ada bayang bayang pangeran kedua itu di setiap langkahnya.


Tetapi, Rin tidak mungkin mengatakan semua itu kepada Riu san. Baik di kehidupan sebelumnya mau pun kehidupannya saat ini, dia tidak pernah ingin membebankan orang lain dengan perasaan hatinya yang menyedihkan.


Melihat Rin terdiam dan sepertinya tidak berniat untuk mengatakan apa apa kepadanya, Riu San membuka suara “Kamu tahu, ketika aku memasuki kamar kak Lao sebelum datang kemari. Aku melihat dia tertidur dengan menunjukan kegelisahan yang sama seperti apa yang terjadi padamu beberapa saat lalu. Hanya bedanya, sebelum aku sempat membangunkannya, dia langsung terbangun sambil berteriak menyebut namamu”


Rin melihat dengan serius “Lalu?” tanyanya.

__ADS_1


Riu San melanjutkan “Setelah aku tanya apakah dia baik baik saja, dia menjawab baik baik saja. Sebenarnya, ada apa dengan kalian berdua?”


Semenjak kesalahpahaman yang terjadi di bumi akibat tuduhan mengenai kesehatan Alin Qian yang memburuk setelah meminum obat pemberian Rin. Riu San menjadi perantara antara Rin dan Riu Lao. Mulai dari memberikan Rin tugas untuk memperlajari dokumen dokumen kerajaan, sampai membantu Riu Lao dalam mencari informasi.


Selama keduanya tidak saling berbicara, Riu Lao selalu berlatih di ruangan pribadinya sampai lupa waktu. Mungkin itu pula yang menyebabkan dia selalu terlihat lelah dan memimpikan sesuatu yang membuatnya gelisah. Sedangkan untuk Rin, mungkin akibat siang dan malam disuguhkan dengan dokumen dokumen kerajaan, pikirannya menjadi lelah dan akhirnya harus bermimpi sesuatu yang membuatnya gelisah pula.


Tetapi jika dilihat dari pemikiran Riu San yang sederhana, dia pasti akan menyimpulkan “Mungkinkah kalian memimpikan hal yang sama”


Rin hampir saja tersedak dengan perkataan Riu San. Bagaimana bisa Riu Lao memimpikan hal yang sama dengannya, itu jelas tidak mungkin bagi seorang Yang Mulia yang hanya menganggap penasihatnya sebagai sebuah hiasan untuk menempati posisi yang sudah seharusnya “Jangan mengatakan omong kosong. Cepat katakan, apakah ada tugas lain dari kakakmu” katanya dengan malas.


Riu San menepuk keningnya dan berkata “Aku lupa, kak Lao memintamu untuk datang ke kamarnya”


“Untuk apa?” Rin bertanya.


“Entah. Tetapi, bukankah itu wajar jika seorang pangeran meminta penasihatnya datang untuk menemuinya” jawab Riu San.


Memang tidak aneh jika seorang pangeran meminta penasihatnya untuk mengerjakan sesuatu, namun karena hubungan mereka yang tidak baik beberapa minggu ini, Rin jadi malas untuk menemui Yang Mulianya. Tetapi pada akhirnya, setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian seperti biasanya, Rin melangkahkan kakinya untuk menuju kamar Riu Lao.


Beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka, seorang pelayan perempuan memberinya salam dan berkata “Pangeran kedua meminta anda untuk masuk ke dalam”


Rin memasuki kamar Riu Lao dengan langkah pasti, dia melihat pangeran kedua itu tengah sibuk mengenakan ikat pinggang “...”


Badan tegap yang terbungkus jubah dalam dan luarnya berwarna biru muda, wajah tampan dengan kelembutan dan ketegasan bergabung menjadi satu. Siapa saja yang melihat, pasti akan terpesona dan melupakan pijakannya.


Namun bukan hanya sehari atau dua hari, setahun atau dua tahu, Rin sudah melihat sosok itu dalam dua masa kehidupannya. Keindahan yang jika dilihat dari tempat dia berdiri, akan menjadi kepahitan yang berkepanjangan. Rin sudah tahu bagaimana agar tidak melupakan tempatnya berpijak, dia hanya akan melihat sosok itu sebagai Yang Mulianya dan bukan keindahannya.


Menyadari ada orang yang memperhatikannya, Riu Lao berkata “Kemarilah, bantu aku memakai ini” tidak mudah untuk memakai ikat pinggang bagi orang yang tidak pernah melakukannya. Seperti halnya pangeran kedua itu, sedari kecil dia selalu berpakaian dibantu oleh para pelayan.


Setelah menjadi penasihat Riu Lao, hal yang paling sering Rin kerjakan selain mempelajari dokumen dokumen kerajaan adalah membantu Yang Mulianya berpakaian. Untungnya dia tidak sampai diminta untuk memandikan Riu Lao, sebab itu adalah pekerjaan para pelayan.


Tanpa berkata kata, Rin mengambil ikat pinggang berwarna putih cerah dengan sulaman bunga merambat yang indah dari tangan Riu Lao. Dari belakang, tangannya menjangkau seperti akan memeluk pinggang yang kekar itu.

__ADS_1


Setelah selesai memasang ikat pinggang, Rin memakaikan jubah paling luar kepada Riu Lao. Badan tegap yang dapat membuat setiap wanita tergila gila, sudah terbungkus dengan warna putih yang mendominasi. Jika sebelumnya Riu Lao terlihat seperti seorang ksatria yang gagah berani, kini dia adalah pangeran yang lembut dan mulia.


Rin berkata “Sudah selesai pangeran”


“Hm” setelah berguman, Riu Lao berjalan ke arah meja dan mendudukan dirinya di atas kursi kayu. Melihat Rin yang masih terdiam, dia berkata “Sedang apa kamu berdiri disana, duduk disini dan temani aku sarapan”


Rin melakukan apa yang diperintahkan Yang Mulianya, dia mendudukan dirinya di depan meja Riu Lao “...”


Ketika matanya melihat dua mangkuk bubur yang masih mengepul di atas meja, Rin teringat akan mimpi yang tercipta dari kenangan masa lalunya. Bubur yang dibuatnya dengan susah payah sampai tangannya melepuh karena memegang wajan yang panas, diabaikan bergitu saja oleh Riu Lao.


Yang dilihatnya sekarang adalah bubur yang sama seperti yang dibuatnya dulu. Yang membedakan adalah, bubur buatannya tidak pernah disentuh sama sekali oleh Riu Lao, sedangkan yang ini dimakan dengan lahap. Tanpa sadar, Rin menyunggingkan senyuman miris.


“Kenapa diam. Pelayan membawakan sarapan berlebih, aku tidak mungkin memakan semuanya.  Kamu makanlah bubur dalam mangkuk satunya, rasanya lumayan enak” jarang sekali Riu Lao berbicara seakan membujuk, terlebih itu seperti seorang pedagang yang menawarkan barang jualannya.


“Terima kasih pangeran” Rin hanya bisa mengatakan itu, dia tidak ingin bertanya apa pun kepada Riu Lao. Rasanya memang sedikit aneh, sebab sudah berminggu minggu hubungan mereka menjadi canggung. Tiba tiba Riu Lao memintanya untuk sarapan bersama.


Sesendok bubur hangat menyapa lidahnya. Rasa gurih dari bumbu dan cincangan daging sapi, serta wangi bawang goreng dan kehangatan jahe, membuat lidah seperti dimanjakan dengan hidangan istimewa. Rin mengakui masakan juru masak istana memang luar biasa, dibandingkan dengan hidangan buatannya yang seorang amatir, itu seperti langit dan bumi.


Moto pantang menyerah pernah ada di dalam kamus hidupnya, namun semenjak makanan yang dibuatnya dengan susah payah dibandingkan dengan milik Alin Qian, Rin memutuskan untuk berhenti belajar memasak dan menjauhkan dirinya dari dapur.


Riu Lao melihat Rin makan dengan perlahan dan tanpa ekspresi, ada kekhawatiran di wajahnya, kemudian dia berkata dengan sedikit terbatuk “Bagaimana rasanya” sorot matanya penuh harap.


Setelah terbangun karena mimpi yang membuatnya semakin merasa bersalah, Riu Lao tiba tiba menyambangi dapur untuk menguji keahliannya dalam memasak. Hal yang terpikirkan pertama kali adalah bubur sederhana yang pernah Rin buat sebelumnya.


Riu Lao sengaja hanya membuat dua mangkuk bubur untuk dirinya dan Rin. Tentu saja untuk menjaga wajahnya yang tipis, dia tidak mengatakan hidangan sederhana itu adalah buatannya, dan hanya ingin mendengar pendapat orang yang pertama kali mencoba masakannya.


Biasanya Riu Lao tidak meragukan keahliannya dalam berbagai bidang, dia juga tidak pernah perduli pendapat orang lain tentang karya buatannya. Namun saat ini, pendapat Rin tentang bagaimana hasil masakannya, terasa begitu penting.


“Um... masakan juru masak istana memang luar biasa, pangeran” Rin menjawab dengan senyuman tipis.


“...” Riu Lao terdiam, dia memang tidak berencana untuk mengatakan siapa yang memasak kedua mangkuk bubur itu, jadi wajar saja jika Rin mengira bahwa juru masak istana lah yang membuatnya.

__ADS_1


__ADS_2