
Beralih dari catatan kerajaan untuk sementara waktu, Rin akan melakukan perjalanan bersama Riu Lao. Kaisar meminta mereka untuk mencari tahu tentang masalah yang baru baru ini terjadi di bagian bumi selatan.
Tugas untuk menjaga dan mensejahterakan kehidupan masyarakat bumi adalah tanggung jawab semua dewa.
Setelah perang besar berakhir seorang pemimpin yang ditunjuk oleh para dewa dewi lebih menekankan tugas itu kepada empat kerajaan langit. Dia membaginya menjadi empat wilayah untuk selalu diawasi dan dijaga.
Sebelumnya kaisar selalu mengutus para bawahannya untuk menangani masalah dibumi. Namun dalam bentuk mengasah tanggung jawab dan pengetahuan, kali ini dia membiarkan kedua putranya yang bertindak.
Hanya dua pangeran dan penasihatnya akan menjalankan titah kaisar diluar istana, karena yang paling muda dipikir belum saatnya untuk terjun langsung menangani masalah dibumi.
Meski sering beradu argumen dan terkadang keduanya saling mengejek, tetapi Riu San tetap merasa khawatir. Dia tahu Rin memiliki kekuatan dan kemampuan jauh di atasnya, namun sebagai seorang teman mengkhawatirkan temannya bukankah tidak salah “Rin kamu hati hati”.
“Um, kamu juga” jawab Rin.
“Kak Lao, tolong jaga temanku” itu ditujukan Riu San untuk Riu Lao yang berada tidak jauh darinya.
Seharusnya tidak perlu berkata seperti itu Riu Lao pasti akan melindungi orang orang terdekatnya, meski sebenarnya itu dikhususkan untuk temannya.
Sebagai seorang pangeran dan Yang Mulia bagi penasihatnya tentu dia akan senantiasa menjaga reputasinya.
“...” Riu Lao tidak menjawab dan hanya menunjukan gerak tubuh meng'iyakan.
“Tidak salah menitipkanku pada Riu Lao, dia bahkan hanya peduli kepada teman dekatnya” Rin berbicara dalam hati. Meski masa lalunya mengalami perbedaan, tetapi dia berpikir jika perilaku semua orang akan tetap sama.
Penampilannya kini sudah tidak seperti sebelumnya. Jika Riu Lao memakai pakaian biasa dengan warna biru laut disertai syal di lehernya, Rin juga memakai pakaian yang sama dan hanya ditambah warna hitam di beberapa sisi.
Riu Zin sebagai pangeran pertama bertanggung jawab memimpin dalam perjalanan. Dia menginterupsi untuk segera berangkat karena matahari sudah mulai menukik ke arah barat.
Melesat terbang diangkasa dan kali ini tidak menggunakan angin melainkan dengan sebuah batang kayu yang dikikis tipis, hanya cukup untuk sepasang kakinya berdiri. Dengan hanya mengeluarkan sedikit energinya, dia sudah bisa mengendalikan benda biasa sebagai alat untuk terbang.
Disebelahnya Riu Lao tengah terbang dengan kekuatannya sendiri. Tidak jauh dari mereka ada Riu Zin dan penasihatnya berada dalam satu tempat yang sama.
Melihat pemandangan bumi yang cukup asri dan baru menyadari jika itu sangat indah, dia tidak menyadari ketika sebelumnya datang ke istana melewati tempat itu. Dia juga lebih banyak berlatih diatas tanah dan jarang terbang di angkasa sehingga melewatkan keindahan bumi dari atas sana.
Ketika melewati sebuah hutan yang dulu pernah didatangi bersama sang ayah, Rin memperhatikan dengan seksama dan melihat ada manusia yang membutuhkan pertolongan.
“Turun” itu Riu Lao yang juga menyadarinya.
Mereka meluncur kedalam hutan dengan cepat untuk mencegah manusia itu menemui mautnya.
Seorang pria muda dengan sekeranjang apel di punggungnya tengah beringsut di tanah. Makhluk.... entah apa sebutannya terus berjalan perlahan dengan menunjukan taringnya.
“Jangan mendekat!” Dia jelas sekali sangat ketakutan dan terus beringsut kebelakang.
Suara menggelegar sangat memekakan telinga. Rin menutup pendengarannya ketika menginjakkan kaki di tanah, menghampiri pria muda itu kemudian berkata “Sebaiknya anda menyingkir dari sini tuan”
“...” Pria muda tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan masih menampilkan wajah pucat.
“Tuan..” Rin menggoyangkan tubuh pria muda hingga tersadar dan beranjak menjauhi tempat itu.
“Dewa dewi yang suka ikut campur, kalian melepaskan mangsaku” Makhluk mengerikan dengan empat taring seperti pisau itu merupakan binatang sihir yang sedang mencari mangsa untuk dimakan, dia kembali mengaum dan menggetarkan sebagian dari hutan.
“Berisik sekali” Rin menutup telinganya lagi dan sebelum dia sempat berbicara seorang bunga melakukannya terlebih dahulu.
“Menyingkirlah dari tempat ini, disini bukan tempatmu” Alin Qian berbicara dengan lantang.
“Ha ha ha” tawa menggelegar cukup mengerikan di sore hari “Bukan masalah manusia atau dewa, asalkan itu membuatku kenyang”
Mata tajam seekor binatang sihir mampu melihat tanda khusus yang dimiliki oleh dewa dewi dan keturunannya. Penyihir dalam bentuk apapun akan dengan mudah mengenali mereka dengan hanya melihat tanda tersembunyi di dahi.
Sebuah gempa tercipta dan sebagian tanah terbelah cukup besar sepanjang sepuluh meter. Binatang sihir itu ternyata tidak memiliki seorang 'tuan' sehingga perilakunya sedikit liar.
Setelah mengelak dari tanah yang terbelah, Rin berada disisi kanan bersama Alin Qian dan Riu Lao berada disisi sebaliknya bersama Riu Zin.
Tidak ingin bertindak ceroboh dan lebih memilih diam ketika Riu Zin mulai mengeluarkan kekuatannya diikuti Alin Qian yang membantu. Dia juga tidak ingin melakukan hal yang sama dengan sangat berani berdiri di depan Riu Lao untuk melindunginya dan lebih memilih melihat pertunjukan saling menyerang antara dewa dewi dan seekor binatang sihir.
Pedang seukuran sedang bergagang putih berbelok ke kiri ke kanan, ke atas dan ke bawah. Melihat bagaimana dengan lincahnya Riu Zin menyerang sekaligus mengelak dari serangan binatang itu.
__ADS_1
Alin Qian menggunakan kemampuannya, bergerak seperti kuncup bunga yang akan mekar karena meski terlihat kaku itu masih menggunakan energi spiritual didalamnya.
“Wah, memang benar benar putri dewi bunga” Rin masih berdiri diam ketika Riu Lao sudah mulai membantu kedua orang itu.
Kekuatan binatang sihir yang tidak memiliki tuan sangat buruk namun tidak terkendali.
“Ahk” Alin Qian terjatuh dan mendapat goresan ditangan kirinya akibat kuku tajam binatang itu.
“Alin” Riu Lao langsung berlari menghampiri Alin Qian dan membawanya menjauhi pertarungan.
Rin melihat dengan memutar bola matanya, kemudian bergerak untuk membantu Riu Zin.
Pusaran angin menciptakan sebagian pepohonan hampir tercabut dari akarnya, debu debu yang beterbangan menggulung dan menghambat serangan binatang sihir itu sehingga pedang Riu Zin mampu mengenai titik kelemahannya.
Rin hanya menggunakan sedikit dari kemampuan mengendalikan anginnya, bagaimana jika petir dari cakrawala yang menyambar. Mungkin seluruh hutan sudah hangus terbakar dengan kekuatan penuh yang dikeluarkannya.
Empat kekuatan murni yang dimilikinya sejak lahir tidak pernah menjadi memusingkan untuk dilatih bersama. Kemampuan menggunakan senjata bukan hanya untuk mendapat ketenaran atau menyombongkan diri, namun kali ini hanya kekuatan spiritual yang tepat untuk melakukan penyerangan.
Tanpa membutuhkan waktu lama akhirnya binatang sihir itu terkapar diatas tanah dengan sebuah segel tercipta di dahinya “ZIN”. Di masa depan dia tidak akan mampu menyerang Riu Zin karena segel yang dibuat seorang dewa mampu menekan binatang sihir terkuat sekalipun.
Untuk meletakan segel tidak mudah, bahkan seorang pangeran pertama kerajaan langit selatan membutuhkan bantuan untuk melakukannya.
Bukan tidak bisa menyegel binatang itu agar dimasa depan ada yang membantunya menghadapi para penyihir yang mungkin saja melakukan hal seperti ratusan tahun lalu, menyulut permusuhan antara para dewa dan terjadilah 'perang besar berdarah'. Rin hanya belum berniat berurusan dengan pemimpin para penyihir.
“Kamu... bagaimana” Sebenarnya itu tidak bisa disebut pertantanyaan sebab entah pada siapa pandangannya melihat.
Meski begitu Rin tahu jika pangeran pertama itu bertanya padanya kemudian dia menjawab “Saya baik baik saja pangeran”
Tiba tiba pria yang sebelumnya akan mendapati kematian menghampirinya dengan tergesa gesa “Terima kasih.... nona ini apakah seorang penyihir?”
“Bukan. Saya hanya kebetulan memiliki kemampuan khusus” dengan jawaban seperti itu sebenarnya tidak menjelaskan apa apa dan membuat pria muda semakin penasaran namun tidak melanjutkan untuk bertanya.
“Ini sebagai ucapan terima kasih” pria muda itu memberikan sekantong apel “Saya tidak tahu nona ini manusia ataukah penyihir, yang jelas nona telah menolong saya” katanya.
Para manusia berpikir orang yang mampu mengeluarkan cahaya dari telapak tangan dan memiliki kemampuan luar biasa adalah seorang penyihir. Itu cukup lucu mengingat siapa yang sebenarnya melindungi dunia ini.
Energi bulan yang dikeluarkan Riu Lao tidak cukup sempurna di siang hari, untuk menyembuhkan Alin Qian harus memberikan sedikit dari darahnya. Itu memang yang akan dia lakukan jika situasi seperti itu terjadi sebelumnya, tetapi sekarang lebih memilih membuka kantung yang dibawanya dan memberikan sepucuk obat untuk diminum “Sudah lebih baik” katanya.
“Um, tetapi aku merasa sedikit pusing” Alin Qian menjawab dengan lemah. Dia memiliki tubuh yang lembut(rapuh) sejak lahir, sehingga dengan luka kecil sudah akan mengalami demam.
Riu Lao membawa Alin Qian ditangannya dan berjalan mendekati Riu Zin “Kak Zin sebaiknya kita mencari tempat untuk beristirahat, sepertinya Alin membutuhkan pengobatan lebih lanjut”
“...”
“Baiklah kita pergi ke pemukiman penduduk” Riu Zin memimpin jalan diikuti Riu Lao yang membawa Alin Qian dibelakangnya.
“Hah” Rin menghela nafas singkat dan berjalan diposisi paling belakang. Sudah diperkirakan bukan dia yang perlu dikhawatirkan melainkan putri keturunan dewi bunga itu.
Sebelum benar benar pergi, dia menghentikan langkahnya sejenak dan melihat pria muda yang ditolongnya baru akan menjauh pergi ke arah yang berbeda.
Dia menghentikannya dan bertanya “Tunggu sebentar tuan, saya ingin menanyakan tentang masalah yang terjadi disekitar sini”
Dengan tanpa ragu dan merasa curiga, pria muda itu mengatakan dengan cukup jelas bagaimana situasi ditempat itu.
Sebelumnya kaisar hanya mengatakan intinya dan tidak menjelaskan keseluruhan kejadian sehingga dia belum puas dengan informasinya.
Masyarakat bumi bagian selatan tidak jauh beda dengan tempat dibagian bumi yang lain, hanya saja disana lebih ramai dan sering dikunjungi banyak orang dari berbagai kalangan.
Keramaian adalah tempat yang bagus bagi para penyihir untuk berbaur dengan manusia dan menyembunyikan identitas mereka dari penglihatan para dewa.
Masalah yang terjadi kali ini mungkin saja ada campur tangan mereka.
Bagaimana kaisar bisa tahu? Tentu saja masyarakat bumi tidak langsung mengadu padanya sebab tidak tahu dimana dia berada.
Ada beberapa pejabat istana yang ditugaskan untuk itu melaporkan padanya.
Masalah yang terjadi disana adalah sering hilangnya remaja berusia lima belas sampai dua puluh tahun ketika dalam perjanan kekuil dewa.
__ADS_1
.....
Setelah mendapatkan tempat untuk beristirahat, dua pangeran sibuk menyembuhkan luka yang didapat Alin Qian.
Rin tidak bisa melihat terlalu lama pemandangan itu bukan karena dia iri. Kakinya memang tidak bisa diam dan lebih memilih berjalan seorang diri ditengah tengah masyarakat bumi.
Keramaian bukanlah hal yang dibenci, ayahnya juga pernah mengajak dia pergi kepekan raya yang dibuat oleh masyarakat bumi. Setelah menginjak usia remaja dia juga pernah diam diam pergi kepasar ditemani Riu San hanya untuk membeli makanan kesukannya.
Namun kali ini dia berkeliaran dimalam hari bukan untuk pergi kepasar melainkan menuju suatu tempat yang sebelumnya dikatakan oleh pria muda.
Usianya yang sudah dewasa dan dengan pengalamannya melakukan sendiri pekerjaan yang diperintahkan Riu Lao sebelumnya, dia sudah terbiasa melihat dalam gelap atau melangkah dijalan yang tidak terlihat.
Tetapi tempat yang akan didatanginya tidak separah itu. Ada sebuah kuil didekat hutan tempat dimana sebelumnya dia bertarung dengan binatang sihir. Tempatnya tidak tersembunyi tetapi sedikit misterius.
Banyak masyarakat disana yang sering mengunjungi kuil itu untuk berdoa dan melakukan pemberkatan, khususnya para remaja perempuan.
Akhir akhir ini remaja remaja yang datang kesana selalu menghilang dan tidak kembali kerumah masing masing. Ketika dicari oleh warga sekitar, bukan hanya jejak mungkin bayangan mereka tidak pernah sampai kedalam kuil dewa itu.
Berjalan dengan hanya menggunakan energi spiritualnya sebagai penuntun jalan, Rin sedikit demi sedikit mendekati sisi hutan. Sebenarnya disana tidak benar benar gelap karena bulan yang menggantung dilangit membantu pencahayaannya.
Ketika rasa penasaran dan semangat yang kuat harus diputus dengan begitu saja, kekesalan sudah sampai keubun ubun.
“Sedang apa kamu disini?” pertanyaan itu sudah tidak asing lagi ditelinganya.
Ketika dia akan atau sudah mendekati sesuatu, orang yang sekarang berdiri disampingnya selalu menggagalkan niatnya.
Jika dia tidak mengingat bahwa Riu Lao adalah seorang pengeran kerajaan langit dan sekaligus Yang Mulianya, mungkin kata kata umpatan akan keluar dari mulutnya seperti yang sering dilakukannya pada Riu San.
Dia berpikir apakah Riu Lao memang selalu mengikuti kemana dia pergi atau hanya kebetulan untuk mereka bertemu. Jika dia tidak tahu bagaimana perasaan Riu Lao kepada Alin Qian, mungkin itu bisa membuatnya mengira sesuatu yang tidak mungkin.
Rin tidak menjawab dan malah bertanya “Apakah pangeran lihat disana ada kuil?”
Tidak jauh dari tempatnya berdiri ada cahaya redup yang samar samar tertiup angin. Sebuah bangunan kecil yang terbuat dari tanah dan batu merah berdiri dengan kokoh.
Hanya karena terhalang dua pohon besar yang seakan akan menghimpitnya. Itu tidak bisa dibilang menghimpit karena jarak antara dua pohon besar dan kuil dewa sekitar lima kaki, hanya jika dari kejauhan terlihat seperti itu.
“Hm” Riu Lao hanya menjawab singkat.
Rin sudah menunjukan pengharapan dimatanya. Mungkin kali ini niatnya untuk secepat mungkin menyelesaikan perintah dari kaisar akan segera terlaksana dan Riu Lao tidak akan menghentikannya lagi.
Namun diluar dugaan Riu Lao malah mengatakan “Terlalu tergesa gesa melakukan sesuatu itu tidak akan baik”
Terlalu tergesa gesa? Sudah dekat dengan tempat tujuannya apakah harus ditunda dan kembali kepenginapan hanya untuk melihat Riu Lao memperlakukan Alin Qian dengan lembut.
Dia tidak ingin menuruti perkataan Riu Lao untuk kali ini dan berkata “Sudah sampai disini pangeran. Jika kita pergi begitu saja tanpa melihat lihat keadaan sekitar, itu mungkin hanya akan sia sia”
Riu Lao tidak menimpali apa apa dan mulai memperhatikan situasi disekelilingnya. Dia sudah tahu jika itu adalah tempat dimana hilangnya para gadis remaja yang akan melakukan doa “Kak Zin harus diberi tahu dan dimalam hari tidak akan baik untuk berada ditempat ini” katanya.
Semakin malam aura mencekam semakin terasa, bahkan dengan cahaya bulan tidak mengurangi apapun.
Tetapi meraka berdua adalah keturunan dewa dewi dan Riu Lao dikenal sebagai pangeran yang mampu memanipulasi para penyihir.
Rin tidak mengindahkan Riu Lao dan berkata lagi “Jika pangeran tidak ingin pergi maka Rin yang akan pergi...” Sebelum dia menyelesaikan pekataannya, sesuatu melintas dengan cepat di depannya dan membuat kakinya tidak seimbang.
Tubuh rampingnya tidak mencium tanah tetapi ditahan dengan satu tangan kekar. Sebenarnya hanya dengan menahan di punggung itu sudah membantunya, tidak perlu Riu Lao sampai melingkarkan tangan di pinggangnya yang terkesan memeluknya.
Tidak ingin terlalu lama dalam posisi seperti itu, dia langsung berdiri tegap dan secara tidak langsung melepas pegangan tangan di pinggangnya.
Kakinya berniat mengejar sesuatu yang melintas seperti angin itu sebelum tangannya kembali dicekal “Jangan gegabah!” peringat Riu Lao.
Kuil dewa yang tadinya terlihat dari jauh kini terhalang oleh asap merah yang semakin lama semakin tebal.
Rin tahu, itu pasti perbuatan penyihir merah. Dia bukan gegabah atau terburu buru mengerjakan sesuatu, tetapi sudah tahu bahwa lawannya sangat mudah dan tidak berpengalaman.
Ketika Riu Lao masih berdiri diam dan memeriksa sekelilingnya. Dia mengeluarkan angin dari telapak tangannya yang cukup untuk melawan asap merah itu.
Setelah angin di tangannya menggulung semua asap merah, jarak pandang sudah kembali normal, tetapi ada yang tidak benar.
__ADS_1
Bagaimana mungkin Kuilnya menghilang?