
Kamar yang cukup luas terlihat sederhana dengan nuansa warna biru putih di setiap bagiannya. Di atas tempat tidur, ada seorang dewi yang tengah tertidur dengan nyaman.
Kedua mata yang terpejam itu perlahan lahan terbuka, menampakan bola mata yang indah bercahaya. Itu karena masih ada sedikit cairan bening yang tersisa, mungkin ketika dia tertidur masih saja mengeluarkan air mata.
Rin memposisikan dirinya untuk duduk, terdiam malihat lurus kedepan. Beberapa saat pandangannya menyapu setiap sudut ruangan dan menyadari dirinya berada di dalam kamarnya “Bukankah ada seseorang yang menangkap tubuhku ketika akan terjatuh di depan pintu kamar, tetapi tidak ada siapapun disini”
Sebelum akan membuka suara untuk memanggil salah satu pengawal yang berjaga, seseorang sudah berdiri di ambang pintu dengan membawa sebuah nampan.
Riu San berjalan dengan cepat dan menyimpan nampan di atas meja kemudian melihat datar ke arah Rin yang sedang terduduk diam “...”
Rin merasa tidak nyaman dengan tatapan itu kemudian berkata “Ada apa dengan tatapanmu itu?” meski kalimatnya diucapkan dengan angkuh, namun masih ada getaran dari suaranya.
“...”
“Riu-” perkataannya terpotong karena tiba tiba saja Riu San memeluknya dengan erat. Rin membalas pelukan itu dan berkata “Jika ada yang melihat ini, kita mungkin akan diadili oleh Yang Mulia kaisar” sedikit candaan agar tidak terlalu larut dalam suasana.
Namun Riu San yang biasanya selalu bercanda berlebihan, saat ini dia sedikit serius dengan keadaan.
Cukup lama menyampaikan kekhawatirannya dengan pelukan, kemudian melepaskannya dan berkata “Jangan sakit lagi” hanya tiga kata, namun tatapan Riu San ketika mengatakannya membuat Rin mengangguk disertai senyuman tipis.
Suasana serius diantara keduanya adalah hal yang sangat sangat jarang terjadi, terlebih tatapan Riu San yang berbeda dari biasanya.
Rin mengangkat tangan kanannya dan memukul sayang kepala orang di depannya Pak.
Riu San mengaduh dan menatap nyalang “Kenapa tiba tiba kau memukulku?” protesnya dengan tangan mengelus kepalanya yang di pukul. Pukulan seorang dewi seperti Rin cukup terasa meski tidak benar benar sakit.
“Tidak apa apa, sudah lama juga aku tidak memberimu pukulan” Rin menjawab acuh. Sebelum Riu San akan kembali memprotes, dia berbicara terlebih dahulu “Apa yang kamu bawa?” pandangannya melihat nampan di atas meja.
“Oh ya, aku membawa ramuan obat dan semangkuk bubur hangat untuk mengisi perutmu” jawab Riu San.
“Aku akan memakan buburnya, tetapi tidak untuk obat obatannya. Kamu bawa kembali saja” Rin akan mengambil mangkuk bubur itu sebelum Riu San menyambarnya terlebih dahulu “Apa ini?” kesalnya.
“...” Riu San tidak menjawab, tangannya memberikan sesendok bubur kedepan mulut Rin.
Rin mengangkat satu halisnya kemudian berkata “Kamu akan menyuapiku?”
“...” Riu San mengangguk.
“Aku bukan anak kecil, jadi berikan padaku”
“...” Riu San tetap kekeh ingin menyuapi.
Rin hanya bisa menghela nafas pasrah ketika sudah melihat keras kepalanya Riu San dan memilih untuk tidak berdebat lagi.
Tanpa di sadari seseorang di luar kamar sudah melihat semua kegiatan itu. Dengan wajah tampannya yang sedikit pucat Riu Lao kembali ke kamarnya.
Awalnya dia berniat untuk diam diam melihat kondisi penasihatnya ketika sudah waktunya pergantian penjaga, namun ketika sampai di depan pintu, langkahnya terhenti karena dua orang di dalam kamar sedang saling berpelukan.
Dia memutuskan untuk berdiri mendengarkan semua percakapan dan pergi setelah memastikan kondisi penasihatnya sudah baik baik saja.
“Aku merasa ada seseorang di luar sana” Rin melihat ke arah pintu.
“Tentu saja ada, para pengawal” jawab Riu San acuh tak acuh dengan tangannya masih mengaduk aduk bubur.
__ADS_1
“Sudah biarkan aku saja” Rin menyambar mangkuk bubur dari tangan Riu San dan mendapatkan tatapan tajam dari si empunya.
Dengan lahap menyantap bubur sederhana buatan Riu San, dia tidak mengeluh tentang rasanya yang mungkin tidak seperti masakan juru masak istana.
Riu San hanya memperhatikan dengan tatapan yang rumit, seakan ingin mengatakan sesuatu namun terhalang akan sesuatu. Akhirnya dia hanya diam dan memperhatikan.
“Terima kasih” Rin menyerahkan mangkuk kosong itu kepada Riu San.
Riu San mengambilnya dan berkata “Ayah handa memintaku mengerjakan sesuatu. Nanti aku akan kembali”
“Um”
Setelah Riu San pergi dari kamarnya, Rin akan membersihkan dirinya sebelum sekelebat bayangan melintas di luar jendela kamarnya.
Dia melangkah ke arah jendela dan membukanya. Tidak ada siapa siapa disana selain keheningan dan hembusan angin kecil.
Beberapa saat terdiam sampai dia memutuskan untuk kembali melanjutkan niatnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Rin sudah siap dengan penampilannya yang baru. Wajahnya sudah tidak pucat lagi, meski begitu harus tetap melakukan meditasi untuk mengembalikan energinya.
Rin mendudukan dirinya di atas alas tipis di tengah kamarnya, kakinya menyilang dan menempatkan kedua tangan seperti sedang bermeditasi.
Ketenangan adalah kunci utama untuk memusatkan titik di perutnya. Beberapa saat memejamkan mata, suara ledakan yang cukup keras membuatnya segera berajak dari posisinya.
Selangkah lagi akan membuka pintu kamar, seseorang menariknya kembali masuk kedalam kamar dan membekap mulutnya dari belakang “Diam” suara itu terdengar di samping telinganya.
Rin akan mengeluarkan kekuatannya untuk melepaskan diri sebelum seseorang itu berkata dengan penuh penekanan “Jika kamu tidak ingin terluka seperti orang orang yang berada di luar sana, lebih baik diam dan jangan mengeluarkan suara”
Keribut sangat jelas terdengar. Suara bilah pedang saling beradu menandakan sedang terjadi pertempuran yang cukup sengit.
Rin tidak bisa berdiam diri jika istana diserang, tidak ingin seperti sebelumnya ketika ada penyusup.
Kali ini dia tidak mengeluarkan energi spiritual, melainkan tangannya diam diam mengambil belati dari balik pakaian dan mengayunkannya pada seseorang di belakangnya.
Berhasil, dia sudah lepas dari cengkraman orang itu karena belati miliknya menggores lengan kekar seseorang yang wajahnya memakai topeng “Siapa kau?” Rin menatap waspada orang di depannya.
Goresan di tangannya seakan tidak berarti apa apa, orang bertopeng itu terkekeh kecil yang terkesan mengerikan “Kau tidak perlu tahu siapa aku, namun jika kau tidak ingin terluka maka tetap berada disini” kata katanya penuh dengan penekanan.
Rin tidak menghiraukan perkataan orang misterius itu dan segera bergegas keluar kamar untuk melihat kondisi disana. Beruntung orang itu tidak menghalangi jalannya sehingga dengan mudah lepas tanpa hambatan.
Para pengawal kerajaan sedang beradu senjata dengan beberapa orang bertopeng. Pakaian apa yang dikenakan orang orang itu tidak terlihat dengan jelas di malam hari.
Rin mengingat orang bertopeng yang berada di dalam kamarnya memakai baju berwarna hitam, mungkin orang orang yang sedang beradu senjata dengan para pengawal kerajaan adalah bawahannya.
Mengabaikan hal itu dia khawatirkan akan keadaan Riu Lao yang masih belum pulih. Kakinya segera melangkah menuju kamar di sebelahnya.
Meski keadaan di dalam kamar tidak hancur, namun masih terlihat jejak perkelahian disana.
Rin menyapukan pandangan kesetiap sudut ruangan dan tidak menemukan keberadaan Riu Lao, hatinya sudah mulai gugup takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dia akan pergi dari kamar itu sebelum tiba tiba suara pintu yang dibuka dengan kasar terdengar Brak.
“RIN” seseorang berteriak cemas dan berlari ke arahnya “Kamu baik baik saja” itu adalah Riu San bersama dengan beberapa prajurit kerajaan.
“Aku baik baik saja, apa yang terjadi?” tanyanya.
__ADS_1
“Istana timur diserang beberapa orang bertopeng, namun itu semua sudah di selesaikan. Mereka sudah di tangkap dan di penjarakan”
“Sebenarnya siapa mereka?”
“Para penyihir” jawab salah satu prajurit.
Penyihir?
Jika para penyihir yang menyerang istana, lalu mengapa Rin melihat bukan sihir yang mereka keluarkan untuk menyerang melainkan senjata.
Tetapi dia memilih untuk tidak menanyakan hal itu dan bertanya hal yang lain “Pangeran Riu Lao berada dimana?”
Riu San terlihat kebingungan dan melihat sekeliling “Aku pikir kamu sedang bersama dengannya, sebab waktu aku masuk ke dalam kamarmu tidak ada siapa siapa”
“Tidak ada siapa siapa” Rin mengulangi kalimat itu dengan nada yang berbeda.
Riu San “Hanya ada bercak darah yang ku pikir itu milikimu, kamu benar baik baik saja”
Rin “Aku baik baik saja, jika seperti itu aku akan mencari pangeran Riu Lao”
“Aku ikut denganmu”
Keadaan di istana timur tempat Riu Lao tinggal terlihat sangat berantakan, noda noda darah akibat goresan atau tusukan terlihat samar di atas tanah. Para pengawal kerajaan banyak yang terluka meski tidak sampai kehilangan nyawa.
Meski masih berantakan, istana timur sudah aman karena orang orang bertopeng itu telah di masukan kedalam penjara.
Rin mencari ke setiap ruangan yang berada di istana timur, namun tetap tidak menemukan keberadaan Yang Mulianya. Dia berniat pergi ke istana utama sebelum Riu San mencegahnya.
“Kamu tidak bisa pergi kesana. Karena serangan tiba tiba ini ayah handa mengadakan pertemuan mendadak bersama dengan para pejabat istana, dan juga kak Lao tidak ada disana”
“Baiklah, aku akan mencari ke istana barat, kemungkinan pangeran Riu Lao berada disana” Rin segera pergi keistana barat, dimana itu adalah tempat tinggal Riu Zin.
Riu San mengikuti dengan patuh, sementara beberapa prajurit yang dibawanya sudah diminta untuk pergi membantu prajurit yang lain.
“Yang Mulia” disana Riu Lao sedang terduduk di atas tanah, pakaian putih yang dikenakannya terlihat tidak baik baik saja.
Rin berlari menghampiri Yang Mulianya dan bertanya dengan khawatir “Apa yang terjadi Yang Mulia”
“...” Riu Lao tidak menjawab, dia masih menatap kosong.
“Kak Zin, ada apa?” Riu San bertanya pada kakak pertamanya yang sedang membalut luka ditangannya.
“Aku akan jelaskan, bantu kakakmu untuk mengobati dirinya”
Riu San segera membantu Rin untuk membawa Riu Lao kembali ke kamarnya.
Kondisi Riu Lao masih belum membaik namun sudah harus berhadapan dengan orang orang yang di perkirakan para penyihir itu.
Setelah sampai di dalam kamarnya, Riu Lao duduk di atas tempat tidur. Dia tidak membaringkan tubuhnya dan ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan kakaknya.
“Sekarang kakak bisa jelaskan” Riu San mulai membuka pembicaraan.
Riu Zin mendudukan dirinya di atas kursi kemudian berbicara “Alin Qian dibawa pergi”
__ADS_1