Bisakah Yang Mulia Melihat Ke Arahku

Bisakah Yang Mulia Melihat Ke Arahku
BAB 7 Menyelesaikan Perintah


__ADS_3

Di belakang dua pohon besar, tempat dimana kuil dewa berdiri sudah lenyap berganti dengan tembok besar.


Apakah kuil dewa yang dilihat sebelumnya palsu?


Rin berkata pada Riu Lao “Pangeran, Kuilnya menghilang”


Riu Lao langsung melihat kearah depan dan mengerutkan halisnya.


Tembok besar itu tidak terlihat nyata, tampak mengambang di atas tanah dan posisinya seperti menutupi sesuatu.


“Itu menutupinya” jawab Riu Lao.


Rin mengerti sekarang, mengapa para gadis remaja bisa menghilang ketika berkunjung ke kuil dewa. Bukan karena ada masalah dengan kuilnya, tetapi mereka masuk ketempat yang tidak seharusnya. Dan tembok besar itu adalah jalan masuk menuju tempat itu.


Tidak ingin membuang buang waktu lagi dia melangkah kedepan, Riu Lao tepat berada di belakangnya dengan sebuah pedang ditangan.


Itu penyihir, bukan prajurit perang. Menggunakan pedang untuk menghadapinya bukanlah hal yang tepat.


Cahaya ungu keluar dari telapak tangannya dan mengenai tembok besar itu. Tidak terjadi apa apa bahkan sedikit retakan pun tidak ada.


Dia melangkah lebih dekat untuk memastikan serangannya itu apa benar benar tidak berpengaruh, tiba tiba tubuhnya melayang di udara karena sebuah hantaman besar yang tercipta dari kekuatannya sendiri.


Energi spiritual yang dikeluarkannya terpental kembali dan tepat mengenai perutnya.


Cukup menyakitkan.


Riu Lao berlari menghampirinya dan berkata “Kamu baik baik saja” meski dengan wajah datar kekhawatiran tetap terlihat diwajahnya.


Menurutmu bagaimana jika kekuatanmu sendiri menyerangmu, untung saja dia hanya mengeluarkan sedikit energinya. Jika tidak, dia mungkin sudah benar benar tidak sadarkan diri.


“Rin baik baik saja pangeran” akhirnya hanya itu yang keluar dari mulutnya.


Dia benar benar ceroboh karena meremehkan lawannya kali ini, ternyata tembok besar itu bisa memantulkan kembali serangannya. Dengan kata lain itu tidak akan bisa dihancurkan dengan energi spiritual, melainkan harus dengan senjata biasa tanpa kekuatan apapun.


Dengan masih memegang perutnya yang sakit, dia berusaha untuk berdiri dan berkata “Pangeran, tembok ini tidak mungkin bisa dihancurkan dengan energi spiritual”


Riu Lao masih sedikit khawatir melihat kondisinya, tetapi tetap menimpali “Lalu harus bagaimana?”


Rin sudah bisa berdiri dengan tegap, serangan kecil seperti itu tidak ada apa apanya. Kemudian dia menjawab “Kita harus menggunakan sesuatu yang tidak dilapisi dengan energi spiritual, mungkin batu besar atau semacamnya”


Mengingat jika situasi di malam hari memang tidak menguntungkan untuknya, tetapi tidak bagi Yang Mulianya.


Riu Lao adalah keturunan dewa bulan, di malam hari kekuatannya akan meningkat dua kali lipat dan sangat kebetulan malam itu bulan bersinar dengan terang.


Sebuah pemikiran terlintas dibenaknya “Mungkin pangeran bisa menciptakan atau menarik batu batu besar yang terdapat disekitar sini untuk menghancurkannya”


Hutan itu hanya ditumbuhi banyak pepohonan hijau, dia tidak melihat ada bebatuan yang terhisap oleh angin buatannya ketika melawan binatang sihir.


Mungkin dengan kekuatan Riu Lao yang meningkat pesat dimalam hari, bebatuan dari jarak sejauh apapun bisa didapatkannya.


Riu Lao mengerti kemudian memusatkan energi spiritualnya. Cahaya biru yang berasal dari atas mulai mengelilinginya, itu tersebar seperti kunang kunang menerangi sebagian dari hutan.


Tidak lama kemudian bebatuan kecil ataupun besar melayang dari berbagai arah dibawa oleh energi spiritualnya.


Ketika batu batu sudah mengelilinginya, kemudian langsung diarahkan tepat pada tembok besar.


Bertepatan dengan terdengarnya bunyi yang keras, tembok besar itu juga hancur.


Dibalik puing puing kecil, terlihat beberapa orang tergeletak di atas tanah. Mereka adalah para gadis remaja yang sempat menghilang.


Suara tawa seorang wanita terdengar dari salah satu pohon besar yang berdiri disana. Seseorang dengan pakaian merah dan rambut merah yang menjuntai kebawah tengah duduk di atas batang pohon disertai tertawa mengerikan.

__ADS_1


Penyihir itu terlihat senang berada di atas pohon seperti halnya Rin. Dia menghela nafas singkat dan berkata “Begitu senang menggantung di atas pohon, apakah tidak ada nyamuk di malam hari” perkataannya terdengar tidak bermanfaat sampai sampai Riu Lao yang sedang pokus dengan tugasnya mendelik sekilas.


“Ha ha ha” penyihir itu kembali tertawa dan setelah puas kemudian berbicara “Kalian bukan seorang penyihir, dan tidak mungkin seorang manusia. Jika bukan keduanya, penyihir ini merasa terhormat bisa bertemu dengan pasangan dewa dewi ini” sarkasnya.


Pasangan?


Rin mendecih dalam hatinya, itu adalah pemikiran yang tidak masuk akal.


Dari pada mempedulikan penyihir yang hanya membuang buang waktu, lebih baik membantu Riu Lao membawa gadis gadis yang tidak sadarkan diri itu. Jumlah mereka tidak kurang dari lima orang, semuanya masih muda dan cantik.


Namun si penyihir tidak begitu saja membiarkannya dan berusaha untuk mencegahnya.


Bodoh jika dia harus kecolongan untuk kedua kalinya, jadi yang sekarang terpental menghantam tanah bukanlah dirinya.


Penyihir itu mengeluarkan seteguk darah dan berkata “Kurang ajar!” dengan cepat dia mengusap darah di mulutnya, kemudian berdiri dan hampir mengeluarkan asap merah lagi.


Rin langsung melemparkan serulingnya. Dia tidak membawa pedang dan akan terlihat boros jika harus mengeluarkan energi spiritualnya lagi. Ditambah sekarang dia sedikit terluka.


Seruling berwarna ungu itu berputar dengan cepat mengenai ulu hati penyihir merah dan kembali kepada pemiliknya seperti bumerang.


Penyihir merah tidak sadarkan diri karena diserang tepat di titik kelemahannya. Dia menghilang seperti ditelan bumi berbarengan dengan kuil dewa yang terlihat kembali.


Ada sekitar tujuh orang gadis remaja, mereka tidak sadarkan diri dan berbaring di atas tanah.


Rin mendekati Riu Lao dan berkata “Pengeran, apa mereka baik baik saja?”


Riu Lao yang sedang memeriksa kondisi mereka menjawab “Tidak ada luka yang berarti” kemudian dia berdiri dan berkata lagi “Sebaiknya kita pergi dari sini”


“Tapi bagaimana dengan mereka?” Dia tidak mungkin meninggalkan gadis gadis itu dalam kondisi tidak sadar.


“...” Riu Lao tidak menjawab, tetapi jentikan jarinya yang bertindak.


Suasana disana masih sepi, hanya ada beberapa jendela dan pintu yang terbuka. Bau masakan sudah tercium dari beberapa rumah, menandakan aktifitas manusia sudah akan dimulai.


“Kita pergi” Riu Lao mulai melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.


“Bagaimana dengan mereka?” Sepertinya itu pertanyaan yang sama.


Riu Lao tidak menghentikan langkahnya tetapi tetap menjawab “Mereka akan sadarkan diri sebentar lagi, kamu pasti ingat bagaimana pun para dewa harus menutupi identitasnya dari manusia”


Benar. Tidak mungkin untuk mengatakan jika mereka yang menolong gadis gadis itu. Mungkin akan dianggap sebagai penyihir lagi oleh manusia bumi.


Sebentar lagi matahari akan terbit dan masyarakat sekitar mungkin akan cepat menemukan gadis gadis itu, jadi tidak perlu khawatir mereka akan menghilang lagi.


Rin menyusul Riu Lao yang sudah berada jauh darinya, ketika sedikit berlari tangannya baru merasakan perih. Diam diam melihat ada noda darah dilengan baju sebelah kirinya, mungkin akibat sebelumnya dia menghantam tanah dan tidak sengaja mengenai sesuatu yang tajam.


Disebuah penginapan tempat mereka menyewa beberapa kamar untuk beristirahat, disana masih terlihat sepi. Riu Lao mempercepat langkahnya memasuki pintu utama, sudah dipastikan dia akan melihat kondisi Alin Qian.


Rin berjalan dengan perlahan, tidak ingin mengikuti Riu Lao untuk masuk kedalam sana. Dia duduk di lantai kayu di depan pintu masuk, melihat luka ditangannya yang semakin lama semakin terasa perih.


Sedikit goresan sepanjang setengah jengkal dengan sedikit darah yang masih keluar dari sana. Itu hanya luka kecil, entah kenapa semakin dibiarkan malah semakin sakit. Lukanya tidak bertambah, hanya saja warna biru keunguan terlihat disisinya.


Kayu beracun.


Rin sudah tahu sekarang, apa yang menyebabkan luka ditangannya. Sebelumnya dia tidak menyadari jika disekitar hutan didekat kuil dewa terdapat pohon dengan buah berwarna hitam. Pohon itu tidak bermasalah hanya saja ranting kayu yang sudah tua akan jatuh ketanah dan menjadi beracun.


Dia hanya bisa menghela nafasnya lagi dan lagi. Mengapa dia jadi begitu ceroboh.


Ketika dia masih mengumpat pada dirinya sendiri, sesuatu menggantung di depan wajahnya. Botol obat berwarna putih dengan sedikit ukiran.


Dia mendongak dan melihat Riu Lao dengan wajah setenang air memberikan obat yang sepertinya untuk lukanya “Cepat gunakan! Jika dibiarkan lukamu akan semakin parah”

__ADS_1


Rin masih mengingat posisinya dan segera berdiri untuk menyeimbangkan dengan Riu Lao. Dia menerima botol obat itu dan berterima kasih.


Dalam hatinya dia bertanya tanya, mungkinkah Riu Lao bergegas masuk kedalam penginapan untuk mengambil obat itu? Bukankah sebelumnya Riu Lao tidak menyadari jika dirinya memiliki luka?


Entahlah, dia tidak ingin memikirkannya lagi dan mencari pembicaraan lain untuk dibahas “Bagaimana kondisi penasihat pangeran Riu Zin pangeran” tanyanya.


Riu Lao yang tengah melihat langit yang sesaat lagi akan terang menjawab “Dia sudah lebih baik” singkat dan jelas.


“...” Rin mengangguk dan merasa sudah tidak ada lagi sesuatu untuk dibahas. Dia sudah merasa lelah karena sudah banyak mengeluarkan energinya dan tidak tidur semalaman.


Akhirnya titah dari kaisar selesai dikerjakan dengan cepat oleh dirinya dan Riu Lao. Benar benar dia tidak bisa jauh dari Yang Mulianya.


Tanpa disadari, Riu Lao diam diam melihat kearahnya dengan tatapan sulit diartikan.


....


Para gadis yang menghilang memang ulah penyihir merah, namun tidak tahu mengapa dia harus menculik mereka.


Rin menyimpulkan jika penyihir merah sangat menyukai aura yang terpancar dari gadis gadis yang masih perawan. Kemungkinan dia hanya menyandera para gadis itu hanya untuk kesenangannya saja dan akan membuangnya setelah bosan.


Meski titah dari kaisar sudah diselesaikan dengan baik dan Riu Zin sempat marah karena dia tidak ikut dalam menemukan gadis gadis yang hilang itu. Mereka masih berada dibumi untuk menyembuhkan luka Alin Qian dan mengembalikannya pada kondisi semula.


Meraka juga sudah memberi tahu tentang kondisi dibumi bagian selatan. Jadi tidak perlu khawatir karena kaisar mengijinkan mereka untuk sedikit berbaur dengan masyarakat bumi.


Riu Zin masih setia berada dekat dengan Alin Qian, begitu juga dengan Riu Lao yang selalu memeriksa kondisinya.


Rin sempat melihat kondisi putri keturunan dewi bunga itu dan sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Luka di tangannya sudah mulai sembuh karena obat yang diberikan Riu Lao sebelumnya. Tanpa diketahui oleh kedua pangeran dia sudah berada di tengah pasar.


Senyuman cerah yang terukir di bibir tipis itu membuatnya semakin terlihat cantik. Orang orang yang berada dipasar melihatnya takjub dan tidak sedikit dari mereka berbisik tentang penampilannya.


Pakaian sebelumnya yang dia pakai sudah diganti. Sekarang dia memakai pakaian yang sedikit menunjukan lekuk pinggangnya, rambut panjangnya hanya dihias sederhana dengan masih memakai jepitan daun perak.


Dia sudah dikategorikan sebagai wanita anggun jika saja bisa berjalan dengan sedikit lebih lambat. Namun dia tidak ingin peduli dan dengan semangat mencari makanan yang sudah lama tidak dijumpainya.


Ketika menginjak usia remaja, dia pernah diam diam pergi kepasar hanya untuk membeli makanan yang sangat diminati masyarakat bumi yaitu ‘Embun Madu’


Permukaannya putih bening dan berbentuk bulat lucu, didalamnya terdapat sesuatu yang membuatnya terasa sejuk dan manis secara bersamaan kala menyentuh lidah.


Setelah mencari dan mendapatkannya, Rin terlihat bersemangat untuk melahap semuanya. Sampai seseorang menjatuhkan semua 'Embun Madu' di dalam kantung. Makanan itu sudah berserakan dan terlumuri oleh tanah.


Pria yang menabraknya itu berkata dengan angkuh “Melangkah menggunakan kaki, melihat dengan mata”


Tidak ingin menunjukan kekesalannya karena makanan yang sudah lama diinginkannya terbuang begitu saja. Rin menampilkan senyuman tipis yang dipaksakan kemudian berkata “Benar sekali tuan. Melangkah menggunakan kaki, melihat dengan mata” dia mengulang kalimat itu dan berbicara lagi “Salah tetaplah salah, mengapa harus kata kata tidak sesuai yang dipergunakan dan bukan sebuah ucapan meminta pengampunan”


Pria yang memiliki tanda didahinya itu mengeraskan rahangnya dan berkata “Haruskah aku sebagai seorang pangeran meminta maaf pada rakyat biasa”


Rin tertawa kecil. Ternyata masih ada keturunan dewa yang bodoh, tanpa sadar dia sudah mengungkapkan identitasnya.


“Apa yang sedang kau tertawakan?”


“...” Rin menjawabnya dengan gelengan kepala, dia memilih pergi meninggalkan keturunan dewa yang arogan itu.


Harga diri yang terlalu tinggi membuatnya tidak membiarkan siapapun pergi sebelum menyelesaikan urusannya. Terlebih seorang manusia biasa dengan berani mengabaikan pertanyaanya “Tunggu. Kau benar benar mencari masalah dengan mengabaikan pertanyaanku” dia menggenggam tangan Rin dengan sangat kencang.


Rin dipaksa berhenti dan melihat sorot kemarahan orang di depannya. Apakah seorang dewa bisa begitu kasar terhadap wanita.


“Kau-”


“...” Riu Lao datang entah darimana dan menepis tangan itu dengan kasar.


Kehadirannya yang selalu tiba tiba, kali ini cukup bermanfaat dan tidak membuat kesal. Diam diam Rin sedikit menarik sudut bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2