Bisakah Yang Mulia Melihat Ke Arahku

Bisakah Yang Mulia Melihat Ke Arahku
BAB 13 Penyusup


__ADS_3

Malam hari yang cerah dengan bintang bintang berkedip indah menemani sang rembulan menggantung di atas langit.


Sudah cukup lama Rin menatap keluar jendela, dia hanya berdiam diri dengan sedikit senyuman dibibirnya. Keindahan di atas langit hanya bisa menghibur matanya dan bukan hatinya.


Istana mulai terasa hening karena sebagian dari penduduknya sudah beristirahat dan tertidur lelap. Namun rasa kantuk seakan belum menyerang matanya atau dia memang sengaja mengabaikannya.


Pikirannya selalu mengingat kejadian dimana Riu Lao dengan terang terangan mengatakan kepada Alin Qian bahwa dia memang menugaskan Rin dengan banyak buku buku dan semua dokumen kerajaan untuk menjauhkannya. Ditambah kejadian tadi siang ketika makanan yang dibuatnya dengan susah payah tidak dilirik sama sekali.


Tak terasa kedua matanya mulai memanas dan membuatnya berkaca kaca. Dia segera mehapus sedikit air mata yang menetes dipipinya dan berniat merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Beberapa saat setelah matanya terpejam, suara ribut diluar kamar mengganggu waktu istirahatnya. Rin terpaksa melangkahkan kakinya keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi.


Ada sekitar lima orang pengawal kerajaan berdiri di depan kamarnya dengan membawa senjata yang lengkap. Beberapa yang lain berlari kesana kemari seakan sedang mengejar sesuatu.


Rin melihat penuh keheranan kemudian bertanya pada salah satu pengawal yang berjaga disana “Ada apa ini?”


Salah satu pengawal menyadari kehadirannya dan segera memberi hormat kemudian menjawab “Ada penyusup yang masuk kedalam istana. Kami diminta berjaga di sini karena khawatir akan keselamatan dewi”


Penyusup?


“Lalu, apa sudah tertangkap?”


“Kami tidak tahu dewi, tapi pangeran pertama sedang mengejar penyusup itu karena melukai penasihatnya”


“Melukai penasihatnya? Alin Qian?”


Pengawal istana itu menjawab dengan anggukan kepala.


Rin mulai khawatir akan sesuatu kemudian bertanya lagi “Lalu bagaimana dengan pangeran Riu Lao?”


“Pangeran kedua mungkin berada di kamarnya”


Tanpa mempedulikan ke khawatiran dari para pengawal istana, Rin segera bergegas menuju kamar Riu Lao. Dia sangat khawatir takut terjadi apa apa denganYang Mulianya.


Rin tidak perlu berjalan jauh karena kamar Riu Lao berada di sebelah kamarnya. Ada beberapa pengawal istana yang sedang berdiri di depan pintu yang memberi hormat padanya.


Tanpa meminta ijin terlebih dahulu, Rin melangkah masuk kedalam kamar Riu Lao untuk memastikan kondisinya.


Tidak ada tanda tanda perkelahian disana. Kondisi di dalam kamar baik baik saja, bahkan semua barang barangnya masih tertata dengan rapi.


Rin mengelus dadanya, merasa lega ternyata ke khawatirannya tidak berarti. Sekilas sudut matanya melihat ke arah tempat tidur Riu Lao, disana seseorang sedang terbaring dengan sedikit noda darah di pakaiannya.


Rin berlari kecil ke arah sisi tempat tidur dan bertanya dengan khawatir “Apa yang terjadi Yang Mulia?”


Riu Lao sedang berdiri di samping tempat tidur dengan kecemasan yang nyata di wajahnya. Kedua tangannya mengepal serta rahangnya mulai mengeras, namun dia tidak menjawab apa apa.


Kondisi Alin Qian cukup mengkhawatirkan. Ada sayatan pedang di tangan kirinya yang sudah di obati, serta wajahnya yang cantik terlihat sangat pucat.


“Apa yang akan pangeran lakukan?” Rin melihat Riu Lao seperti akan membahayakan dirinya sendiri.

__ADS_1


“...” Riu Lao tetap tidak menjawab apa apa dan berkonsentrasi memusatkan energi spiritualnya di kedua tangan.


Cahaya biru seperti butiran mutiara mulai berputar mengelilingi tangan kanannya.


Disaat seperti itu, Rin tahu apa yang akan dilakukan Yang Mulianya “Yang Mulia” dia berbicara lirih.


“Tidak ada cara lain lagi, kali ini dia sudah benar benar terluka” Riu Lao akhirnya menjawab.


“Yang Mulia-” “DIAM” Riu Lao berteriak kesal, dia tidak ingin mendengar apa apa dari mulut penasihatnya. Yang dipikirkannya sekarang, bagaimana agar orang yang dia cintai selamat dan segera tersadar.


Rin sudah hampir meneteskan air mata melihat apa yang akan dilakukan Riu Lao. Dia tidak sedih karena Riu Lao membentaknya, tetapi khawatir akan akibat dari kecerobohan Yang Mulianya.


Riu Lao sendiri tidak peduli tatapan ke khawatiran orang di sampingnya¸dia segera melakukan apa yang ingin dilakukannya.


Cahaya biru yang berputar putar di tangannya semakin terbentuk seperti sesuatu yang tajam. Dengan sedikit ayunan di tangan kirinya sudah bisa menciptakan sayatan ditangan kanannya.


Dia sungguh sungguh menyayat urat nadi yang terhubung langsung dengan jantung untuk disatukan dengan energi spiritualnya kemudian disalurkan ke tubuh Alin Qian.


Darah yang berasal langsung dari jantung belum tentu bisa menyembuhkan luka yang parah meski disatukan dengan kekuatan sepenuhnya dari seseorang. Namun tanpa berpikir dua kali, Riu Lao sungguh rela mengorbankan dirinya untuk Alin Qian.


Rin hanya bisa berdiri mematung menyaksikan kejadian di depannya. Kedua matanya sudah terbuka lebar sekarang. Riu Lao, pangeran kedua kerajaan langit selatan sekaligus Yang Mulianya benar benar sangat mencintai putri keturunan dewi bunga.


“Uhuk” Riu Lao mengeluarkan seteguk darah dan langsung terduduk di lantai.


“Yang Mulia..” Rin segera menghampiri Riu Lao yang wajahnya sudah mulai pucat.


Rin masih memegang pundak Riu Lao agar tidak terjatuh ke lantai, setelah mengeluarkan banyak darah dia tidak sadarkan diri.


Pada saat itu Riu San datang dengan tergesa gesa“Bagaimana keadaan Alin Qian?” tanyanya.


“Itu..”


“Kenapa dengan kak Lao?”


Rin tidak menjawab, tetapi gerak tubuhnya menunjuk pada luka sayat di tangan Riu Lao.


Reaksi Riu San juga terlihat tidak percaya akan apa yang sudah dilakukan kakaknya. Dia segera membantu Rin untuk memapah Riu Lao menuju kursi panjang dan membaringkannya.


Rin mengambil kain untuk membalut luka di tangan Riu Lao agar tidak mengeluarkan darah lagi.


Cukup lama dirinya memandang wajah pucat dengan mata yang terpejam, kemudian membuka mulutnya untuk bertanya “Bagaimana ini bisa terjadi? Dan bagaimana bisa ada penyusup masuk kedalam istana sementara ada pengawal yang berjaga. Lalu bagaimana dengan keadaan yang lain, apa kaisar baik baik saja?”


Riu San yang dihujani dengan banyak pertanyaan hanya bisa menghela nafas singkat, dia mengerti akan ke khawatiran Rin.


“Hm?”


Riu San terdiam sejenak kemudian menjawab “Ketika itu aku sedang bersama dengan kak Lao dan kak Zin di ruangan ayah handa. Tiba tiba satu pengawal memberi tahu ada dua orang mencurigakan yang menyusup kedalam istana. Ayah handa langsung memerintahkan para pengawal untuk menangkap penyusup itu. Siapa sangka mereka melukai Alin Qian yang sedang berada di sekitar dapur istana. Aku dan kak Zin segera mengejar penyusup itu, sedangkan kak Lao mengobati Alin Qian” jelasnya.


Rin terdiam, hal seperti itu bahkan dia tidak tahu. Mungkin jika dia tidak terus menerus memikirkan hal tentang Riu Lao yang membuat pikirannya kacau, dia akan bisa menghentikan para penyusup itu melukai Alin Qian. Sehingga, Riu Lao tidak perlu mengorbankan dirinya dan terbaring lemah.

__ADS_1


Riu San melihat penyesalan di wajah Rin namun tidak berniat mengatakan apa apa.


“Lalu apa kalian berhasil menangkap penyusup itu?”


Sebelum Riu San menjawab, suara bergema seseorang menyapa pendengarannya “San..”


Riu San melihat ke arah pintu masuk, Riu Zin dengan pakaian sedikit kusut berjalan dengan cepat mendekati Alin Qian.


“Kakak” Riu San menghampiri kakaknya dan bertanya “Bagaimana, apa penyusup itu berhasil di tangkap”


Alih alih menjawab, Riu Zin malah balik bertanya “Bagaimana kondisi Alin Qian”


“Sudah sedikit lebih baik, kak Lao memberikan darahnya”


Riu Zin melihat sekilas keadaan Riu Lao yang masih terbaring di atas kursi, kemudian dia kembali melihat Alin Qian dan berkata “Aku akan membanya”


Tanpa menunggu persetujuan, kedua tangannya sudah mengangkat tubuh Alin Qian untuk diobati lebih lanjut di kamarnya. Namun sebelum itu Riu San kembali bertanya “Bagaimana dengan penyusup itu?”


“Berhasil melarikan diri Yang Mulia” itu bukan Riu Zin melainkan Xilian, penasihat Riu San.


Riu Zin mendengar seseorang sudah mewakilinya menjawab pertanyaan adiknya, dia segera membawa penasihatnya pergi dari sana.


“Bagaimana bisa lolos” sekarang Riu San yang bertanya pada penasihatnya.


“Ketika Yang Mulia pergi untuk melihat kondisi di istana, saya dan pangeran Riu Zin terus mengejar mereka sampai keluar jauh dari istana. Namun karena dimalam hari, mereka berhasil menyelinap pergi” keturunan dewa yang manis itu ternyata bisa berbicara banyak dengan Yang Mulianya.


Riu San mengepalkan kedua tangannya “Kurang ajar, jika mereka datang lagi aku tidak akan membiarkan mereka lolos”


“Riu San...” Rin memanggil dengan lembut “Sebaiknya pangeran Riu Lao dibaringkan di atas tempat tidurnya”


Dengan segera Riu San dan Xilian membawa Riu Lao ke atas tempat tidur dan membaringkannya disana.


Rin duduk di samping Riu Lao dengan tatapan sendu, sebagai seorang penasihat dia merasa tidak berguna karena membiarkan Yang Mulianya terluka. Tanpa sadar dia meneteskan air mata.


Riu San dan Xilian hanya terdiam tanpa sepatah kata keluar dari mulut mereka. Mereka tahu bagaimana perasaan Rin kepada Riu Lao, dan bagaimana pihak lain memperlakukan sebaliknya.


Terdiam cukup lama sampai pangeran ketiga membuka suara lebih dulu “Sebaiknya kamu tidur sekarang, aku dan Xilian yang akan menjaga kak Lao”


Rin menggeleng, dia tidak ingin beranjak dari samping Riu Lao karena takut kecolongan untuk kedua kalinya.


Dia hanya meminta pelayan untuk membawakan air dingin dan kain karena badan Riu Lao sudah mulai demam.


Untuk obat? Riu Lao tidak membutuhkannya, dia harus bermeditasi untuk mengembalikan kembali kekuatannya. Dengan kata lain, dia harus sadarkan diri terlebih dahulu untuk memulihkan kondisinya.


“Aku akan menemanimu” Riu San duduk di salah satu kursi yang ada disana, sedangkan Rin mungkin tidak mendengar pekataannya “Xilian, minta pelayan membuatkan bubur bening dan hantarkan ke kamar kak Zin”


Riu San tahu, kakak pertamanya tidak akan berpikir untuk mengisi perut Alin Qian dengan makanan yang hangat dan tidak berbumbu.


Riu Zin hanya tahu tentang persenjataan dan tidak tahu tentang cara pengobatan dengan benar, tetap saja dia kekeh membawa penasihatnya untuk diobati sendiri.

__ADS_1


__ADS_2