
☆Bunyi peralatan masak saling bersahutan ketika seorang amatir dalam memasak mencoba untuk membuat percobaan.
Bahan bahan makanan berserakan di mana mana, panci dan wajan entah benar atau tidak cara menggunakannya. Yang jelas, dapur istana terlihat berantakan oleh satu orang.
Juru masak dan para pelayan yang bertugas di dapur tidak bisa menghentikan semangat dari seorang dewi yang satu itu. Tidak berani menegur seseorang yang statusnya lebih tinggi dari mereka.
Rin tidak peduli dengan wajah khawatir para pelayan di belakangnya dan terus memusatkan perhatiannya pada masakan yang tengah dia buat meski sudah gagal berkali kali.
Dia sedang berusaha memasak makanan untuk Riu Lao yang pada dasarnya sangat mudah, namun itu menjadi sedikit sulit karena dirinya tidak memiliki pengalaman di dapur.
Ketika masih tinggal dengan ayahnya. Yang mengerjakan semua pekerjaan rumah dan memasak makanan setiap harinya adalah kedua pelayannya.
Bukan berarti Rin tidak pernah mencoba belajar memasak. Pertama kalinya dia memegang peralatan masak, itu sudah akan meledakan seisi dapur.
Bukan berlebihan. Rin memang bisa menghancurkan seisi dapur dengan cara memasaknya yang berantakan. Tidak jarang juga dia akan menggunakan energinya untuk mematangkan makanan secara cepat, karena jika menggunakan api manual itu akan memakan banyak waktu.
Sejak saat itu ayahnya selalu melarang dia untuk mengunjungi dapur atau bermain dengan peralatan masak. Jika itu terjadi, bukan hanya dapur, bahkan rumah merekapun bisa hancur.
Kali ini, entah kenapa tiba tiba dia memberanikan diri untuk mengunjungi dapur demi membuatkan makanan untuk Riu Lao. Meski hanya sesuatu yang sederhana, tetapi itu dimasak dengan hati dan pikiran.
Para pelayan juga sempat menawari bantuan, tetapi dia menolak dengan alasan makanan itu harus dibuat dengan tangannya sendiri tanpa campur tangan orang lain.
Setelah hampir tiga jam berkutat di dapur, akhirnya Rin berhasil menyelesaikan masakannya dengan cukup baik. Itu hanya semangkuk bubur putih yang di atasnya terdapat taburan bawang goreng, ditambah daging cincang dan beberapa irisan jahe. Tetap saja terlihat memuaskan karena dia yang memasaknya sendiri.
“Akhirnya selesai juga” Rin tersenyum bangga dengan pencapaiannya, sedangkan para pelayan di belakangnya banyak yang menampilkan wajah getir.
Mungkin mereka sedang memikirkan bagaimana cara membereskan kekacauan yang telah di buat oleh penasihat pangeran kedua itu.
Tanpa mempedulikan wajah para pelayan, Rin bergegas membawa makanannya untuk di berikan pada Riu Lao. Dia bahkan tidak melihat bagaimana penampilannya setelah memasak di dapur dalam waktu lama.
Dengan sebuah nampan yang di atasnya sudah terdapat semangkuk bubur buatannya, Rin berjalan cepat disertai senyuman cerah. Dia membayangkan bagaimana reaksi Riu Lao ketika mencicipi masakannya dan berharap itu tidak akan mengecewakan.
“Rin..” langkahnya terhenti karena panggilan dari seseorang.
Riu San berjalan cepat ke arahnya “Kamu mau kemana buru buru sekali”
“Aku mau menemui Yang Mulia” Rin menjawab dengan senyuman.
Riu San merasa ada yang aneh dan memperhatikan penampilan Rin dari atas sampai bawah kemudian berkata “Kamu dari mana sampai sampai penampilanmu sangat berantakan..”
“Sungguh!” Rin tidak menyadari itu “Tolong kamu pegang ini dulu” menyerahkan nampan yang dibawanya kepada Riu San, kemudian merapikan penampilannya meski tanpa cermin.
“Ini apa?” Riu San hampir membuka penutup mangkuk sebelum Rin menyambar kembali nampan itu.
__ADS_1
“Ini untuk pangeran Riu Lao, kamu tidak perlu tahu” katanya.
Riu San berpikir sejenak kemudian dia menampilkan wajah menyebalkan dan berkata dengan senyuman miring “Aku mengerti sekarang. Kamu memasak makanan untuk kak Lao sehingga penampilanmu berantakan seperti ini. Aku tidak tahu kamu bisa memasak, bukankah paman Tian bilang kamu hampir meledakan dapur waktu itu”
Rin hanya bisa mendengus lucu akan kebenaran perkataan Riu San.
“Boleh aku mencobanya, siapa tahu itu tidak akan cocok untuk lidah kak Lao”
Rin menepis tangan Riu San dan berkata “Meski ini pertama kali aku membuatnya, tetapi aku sudah mencicipinya terlebih dahulu dan rasanya lumayan enak. Jika kamu mau, kenapa tidak meminta pelayan memasaknya untukmu”
“Cih.. pelit. Kamu belum pernah memasak makanan untukku dan sekarang masakan pertamamu untuk kak Lao, itu tidak adil sama sekali” Riu San menampilkan wajah cemberut.
“Bukankah ada penasihatmu, minta saja dia untuk membuatkannya”
Setelah itu Rin berlalu pergi meninggalkan Riu San yang sudah menampilkan wajah berbeda “Aku hanya takut kak Lao sudah tidak lagi bernafsu untuk makan dan makananmu akan sia sia”
Setelah sampai di depan pintu berwarna putih, Rin menghela nafas dalam dan berkata sedikit lebih keras “Yang Mulia pangeran..”
Cukup lama dia menunggu sampai sebuah jawaban dari orang di dalam ruangan terdengar “Masuk”
Riu Lao duduk di depan meja dengan sebuah buku tebal di tangannya. Dia sedang serius membaca buku ketika harus di ganggu oleh penasihatnya.
Dengan masih melihat tulisan di atas kertas putih dia berkata “Ada perlu apa”
Seorang pangeran tampan, kelembutan dan keramahan terpancar di wajahnya. Meski dia tidak tersenyum, itu sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi orang yang melihatnya. Rin kini melihat cerminan dari ketenangan itu sendiri hatinya terasa damai.
Riu Lao tengah duduk dengan tenang. Pakaian kerajaan yang dikenakannya cukup sederhana namun tidak menutupi kharismanya sebagai seorang pangeran. Rambut panjang yang digulung sebagian menggunakan tusuk rambut emas semakin menambah keindahan pada dirinya, ditambah kelembutan dari tatapan matanya.
“Rin Ayitian..” Riu Lao berkata sedikit lebih keras.
“Ah.. ini, Rin membuatkan bubur untuk Yang Mulia” Rin menjawab dengan malu malu.
Riu Lao kembali pada buku di tangannya dan berkata “Simpan saja di atas meja”
Rin melihat Riu Lao sejenak kemudian dia menyimpan apa yang di bawanya keatas meja “Yang Mulia, Rin akan menyimpan ini disini. Jika tidak ada tugas yang harus dikerjakan, Rin akan kembali ke kamar” katanya masih dengan kesopanan pada Yang Mulianya.
“Hm” Riu Lao hanya menjawab dengan gumaman tanpa berniat melihat wajah penasihatnya.
Rin meninggalkan kamar Riu Lao dengan langkah yang berat, sedikit genangan di sudut matanya masih bisa tertahan untuk sesaat.
Dia tidak kembali kekamarnya melainkan berjalan menuju suatu tempat yang jauh dari istana timur. Melewati banyak pepohonan yang ditumbuhi bunga bunga berwarna merah muda.
Sekarang bukan musim gugur tetapi sebagian kelopak bunga bunga itu sudah mulai berjatuhan tertiup angin, beberapa jatuh di atas rambutnya.
__ADS_1
Rin mungkin akan tersenyum melihat keindahan itu jika suasana hatinya sedang baik baik saja, namun sekarang dia hanya bisa memperlihatkan kesedihan di wajahnya. Kakinya terus berjalan sampai di tempat tujuannya.
Cahaya mentari senja menerpa sebagian dari istana, warna jingga yang terlihat indah memenuhi air mancur besar di depannya. Dia berhenti dan menengadah keatas, memperhatikan air yang tanpa hentinya mencuat keatas dengan teratur.
Angin sore menerpa wajahnya dan membawa setetes air mata yang turun ke pipinya. Bagaimana untuk melukiskan perasaannya saat, dia juga tidak tahu.
Ketika Riu Lao selalu melihat sebelah mata keberadaannya, itu tidak terlalu berpengaruh untuknya. Namun ketika sesuatu yang dia buat dengan susah payah diabaikan begitu saja, dia benar benar tidak merasa dihargai.
Apakah masakannya benar benar sangat buruk? Atau memang Riu Lao tidak ingin menerima apapun darinya selain pemikirannya dalam menyelesaikan masalah.
Rin tahu jika ada seseorang yang sudah datang lebih dulu untuk memberikan makanan pada Yang Mulianya. Ketika berada di dalam kamar Riu Lao, sekilas dia melihat ada mengkuk mangkuk makanan yang sudah kosong di atas meja.
Kemungkinan itu pemberian dari Alin Qian. Jika bukan, tidak mungkin Riu Lao melahap habis makanan itu mengingat dia sangat menyukai apapun pemberian temannya.
Rin menghapus jejak air mata di pipinya dan meneguhkan hatinya. Meski dia sudah tahu bagaimana perasaan Riu Lao yang sebenarnya, dia akan tetap menjadi penasihat pangeran “Semangat Rin Ayitian, jangan kerena hal ini kamu menjadi lemah”
Tanpa disadari seseorang memperhatikannya dari jauh. Sejak keluar dari kamar Riu Lao sampai dia berjalan ketempat itu, Riu San selalu mengikutinya.
“Mengapa aku mempunyai teman yang bodoh sepertimu Rin Ayitian” Riu San berjalan perlahan mendekati temannya yang bodoh itu.
Riu San memang selalu bertingkah seakan hidupnya tidak ada masalah dan membuat Rin kesal karenanya. Tetapi bukan berarti dia mengabaikan orang orang terdekatnya terutama teman dekat yang sudah seperti malaikat penyelamat nyawanya saat pertama bertemu.
“Sepertinya ada yang sedang bahagia” Riu San tidak ingin membahas kebenarannya “Apakah kakakku sangat menyukai masakanmu?”
Rin berbalik dan menjawab dengan angkuh “Tentu saja, siapa yang akan menolak makanan yang aku buat” dia benar benar pintar menyembunyikan perasaannya.
“Wah itu sulit dipercaya, seorang Rin Ayitian yang sering memegang senjata di tangannya bisa memegang peralatan dapur dan membuat makanan yang enak” Riu San menemani untuk berwandiwara, seakan dia benar benar percaya perkataan Rin.
Di mulut berkata baik baik saja, namun hatinya tidak baik baik saja. Bibir bisa saja tersenyum, namun perasaannya tidak ada alasan untuk tersenyum.
“Maka dari itu jangan pernah meremehkan seorang Rin Ayitian. Apa kamu mau aku buatkan?”
Riu San terdiam sejenak kemudian menjawab “Tidak perlu, mungkin lain kali”
Setelah tahu Rin memasak makanan untuk Riu Lao, dia pergi ke dapur istana untuk memastikan keraguannya.
Dan setelah sampai disana dia melihat para pelayan sedang membereskan semua kekacauan yang telah dibuat oleh temannya itu.
Jika kali ini dia membiarkan Rin memasak lagi, mungkin kejadian yang sama bisa terulang. Dia tidak mau itu terjadi dan lebih baik menolak dengan cara yang halus.
“Sebelumnya kamu bilang ingin dibuatkan makanan, kenapa sekarang tidak mau” Rin masih kekeh untuk melakukan percobaan lagi.
“Tidak perlu, lebih baik kamu kembali ke kamarmu dan bersih bersih. Penampilanmu saat ini sangat tidak mencerminkan seorang penasihat pangeran”
__ADS_1
“Benar, aku melupakan itu. Riu San aku kembali terlebih dahulu” Rin bergegas menuju kamarnya untuk memperbaiki penampilannya.