
Ke'esokan paginya. Cahaya matahari yang menembus sela-sela daun menembak ke arah mukaku membuatku jadi terbangun karena cahaya nya yang silau.
Aku membuka mataku secara perlahan, sambil menghalangi cahaya itu dengan tangan kananku.
Aku menengok ke arah kiri, tempat dimana wanita cantik ras Elf yang ku tolong semalam tertidur. Nampaknya dia masih tertidur dengan muka yang agak pucat.
Perlahan aku bangkit dari tidurku dan berencana untuk membuat sarapan pagi. Sarapan yang ku rencanakan pagi ini adalah membuat sup daging rusa sisa daging yang kuburu kemarin.
Sisa api unggun yang sudah mati yang hanya menyisakan arang pun aku tumpuk kembali dengan sisa-sia kayu yang ada sebagai bahan bakar membuat api.
Aku mengambil panci yang ku taruh di 'Storage room' ku untuk alat membuat sup. Sebelum ku taruh di atas bara api, aku menyalakan kayu bakar yang kering dengan sihir apiku.
Setelah api sudah mulai menyala dengan sempurna, aku menamcapkan dua buah batang kayu yang berbentuk Y di samping kiri dan kanan bara api, kemudian aku memasukkan batang kayu yang cuku panjang sebagai penggantung gagang panci.
Setelah sempurna panci tergantung di atas bara api, aku mengambil kantung air yang kutaruh juga di 'Storage room' dan mengisi panci yang kosong itu dengan air bersih.
Tak memakan waktu yang cukup lama, air di dalam panci pun telah mendidih. Aku memasukkan bahan-bahan untuk membuat sup dan setelah tu aku menutup pancinya agar dapat matang dengan sempurna.
Disaat pertengahan proses aku memasak. Wanita cantik ras Elf yang jaraknya tak jauh di belakangku nampaknya bangun dan duduk secara perlahan sambil memegang kepalanya.
"Aduhhh sakit...!" Seringainya merasakan rasa sakit di perutnya yang terluka dan dengan repleks dia memegang lukanya yang sudah ku balut dengan kain.
"A-Ahh sial, ternyata aku terluka." Kekuhnya setelah dia menyadari bahwa dirinya sedang terluka.
Kemudian dia memegangi jubah yang dia kenakan dan berkata kembali, "Baju milik siapa yang ku ini? Dan dimana aku ini?" Katanya kembali dengan suara yang masih lemah dan agak bergetar.
Aku yang dari tadi sudah mendengar ucapannya pun akhirnya melihat ke arahnya dan mencoba menegur sapa dirinya.
"Ohh akhirnya anda sudah siuman Elf-san. Jangan banyak bergerak dulu, lukamu masih belum sembuh penuh."
Mendengar ucapanku, dirinya langsung meresponnya dengan sikap sangat waspada dan dirina begegas berdiri sambil memasang kuda-kuda mode bertarung, sehingga ia tak sadar jubah yang ku pakaikan semalam untuk menutupi tubuhnya pun terjatuh dan tubuhnya sekarang hanya ada helaian pakaian dalam serta balutan kain yang membalut lukanya.
Aku dengan cepat memalingkan wajahku, wajahku pun sedikit memerah. Bukannya aku tidak berani melihat tubuhnya yang setengah telanjang, akan tetapi itu adalah sesuatu etika yang buruk menurutku.
"Hei siapa kau?!"
Dengan nyaringnya padaku sanbil memasang raut wajah yang seram dan hawa membunuh.
"A-ahhh tunggu dulu, sebelum aku mengenalkan diriku padamu, bisakah kau memakai jubahmu itu."
Walaupun aku tidak melihat kearahnya, namun aku bisa tahu apa yang sedang dia lakukan saat ini. Saat ini pasti dirinya sedang melihat tubuhnya sendiri dan setelah sadar bahwa dirinya telanjang pasti raut wajahnya akan memerah dan kemudian pasti akan disusul dengan sebuah teriakan keras.
"Kyaaaaaa!!" Teriakan yang dia keluarkan begitu sangat nyaring.
Seperti yang aku duka, dia bereaksi seperti apa yang aku pikirkan.
"Sialan apa yang kau lakukan?! Kenapa aku telanjang seperti ini ?! Atau jangan-jangan kau-."
"Tunggu, tunggu, tunggu. Aku tidak melakukan apapun saat kau pingsan menindih tubuhku malam tadi. Dan juga aku murni hanya mengobati lukamu itu." Begitu ucapku memotong perkatannya sebelum dia berpikir yang tidak-tidak.
"Benarkah?!" Nampaknya dia tidak sepenuhnya yakin apa yang aku katakan.
"Benar! Sumpah, benar sekali."
"Baiklah, aku akan mempercayai apa yang kau ucapkan itu."
Nada suaranya sudah mulai nampak tenang. Aku yang sudah merasa sangat tegang akan tuduhan itu agak me tileks kan kembali bahuku.
"Yasudah kalau begitu aku akan memakai baju ini dulu, jadi jangan sampai kau mengintip. Jika kau mengintip walaupun sedikit saja, seketika aku akan membunuhmu." Dengan nada mengancam dia berkata seperti itu padaku.
"Ba-baiklah."
'Srek,srek' suara dia mengenakan pakaian pun terdengar. Walaupun aku tidak mengintipnya.
"Ahhh ini sedikit ketat yah." Nada suara pelan dia berkata seperti itu.
Skan tetapi ini nampak terbayang sangat erotis ketika hanya mendengar suara wanita cantik sedang memakai pakaian di belakangku tanpa adanya penghalang sedikitpun.
Namun aku menggeleng-grleng kan kepalaku, menyadarkan kembali pikiran mesumku.
"A-Apakah kau sudah selesai mengenakan pakaianmu?"
"Sudah. Sekarang kau boleh berbalik."
Aku kemudian berbalik, melihat ke arahnya. Namun saat melihat sosoknya di pagi hari begini. Terlihat dirinya begitu lebih canrik dari semalam ku lihat, dan juga karena hanya mengenakan jubahku, ada beberapa belahan badan yang kurang tertutup, dan itupun membuat tampak sangat erotis.
Wajahku pun terasa cukup panas saat memandanginya, bisa ku bayangkan sendiri wajah saat ini pasti sedang memerah.
Dia, wanita cantik elf yang ada di hadapanku saat ini melihatku dengan tatapan bingung.
__ADS_1
"Tuan, kenapa wajahmu saat ini memerah seperti itu."
"Ahh tidak. Aku tidak kenapa-napa. Hanya saja betapa sangat erotis nya saat kamu memakai jubahku."
Sekwtima aku menutup mulutku dengan kedua tanganku karena panik akibat suara hatiku tiba-tiba terlontar, terucapkan secara spontan.
Saat aku melihat wajahnya, dia menampakkan raut wajah memerah setelah aku berkata seperti itu, akan tetapi ekspresi itu hanya bertahan sekejap. Dia mengerutkan wajahnya, nampaknya dia saat ini pasti marah akibat perkataanku.
"Dasar mesum, cabul!!" Teriakan bersamaan dengan dirinya melayangkan tamparan keras ke arah pipi kiriku, hingga aku jatuh terjungkir dan terbaring di tanah sampai tak sadarkan diri.
***
Entah sudah berapa lama aku terbaring pingsan, aku telah sadar kembali. Seperti sebelumnya, aku membuka mataku dengan perlahan. Sepenuhnya aku telah sadar apa yang baru saja aku alami, aku bergegas bangkit dari posisi tidur menjadi duduk dengan kak terlentang.
"Ahh syukurlah, akhirnya tuan kau sadar juga."
Begitu ucap pertama kali wanita cantik ras elf yang ku tolong dengan raut wajah yang murung.
Akan tetapi bagiku ini adalah bagaikan sebuah deja vu yang terbalik ketika tadi pagi aku lakukan kepadanya
"Mohon maaf tuan atas apa yang aku lakukan kepadamu beberapa sat lalu."
"Ahh untuk itu tidak apa-apa, sudahlah."
Saat aku sudah sadar sepenuhnya, rasa sakit disertai panas mulai terasa di pipi sebelah kiriku. Aku kemudian dengan cepat berjalan ke aeah danau untuk bercermin melihat bagaimana keadaan wajahku yang tampan ini.
Saat aku jongkok dan bercermin di air, nampak sangat jelas gambar telapak tangan bekas tamparan dari wanita cantik ras elf yang belum ku ketahui namanya itu.
Dengan sedikit rasa kesal aku menghampirinya, akan tetapi nampaknya dia menyadari bahwa aku saat ini sedang marah yang tertampak di wajahku.
"Sekali lagi aku mohon maaf tuan, aku tadinya tak bermaksud untuk menamparmu, akan tetapi karena replesk dan terbawa emosi jadinya..."
Dia tak bisa melanjutlan kata-katanya sendiri. Mendengar penjelasannnya itu, aku yang tadina ingin marah kepadanya menjadi tidak tega, sampau pada akhirnya aku membatalkan marahku dan menghembuskan nafas panjang, mencoba menenangkan diri sendiri.
"Ahh baiklah akan aku maafkan anda."
"Akan tetapi kamu seharusnya tidak berkata seperti itu kepada wanita yang ada di hadapanmu itu, itu tidak sopan tahu."
Dia melancarkan keluhan kepadaku, ya walaupun sebenarnya aku disini termasuk salah juga.
Melihat wajahnya yang muram, aku tak mood kembali untuk marah, dan setelah itu aku menghembuskan nafas panjang sambil meletakkan kedua tanganku di pinggang.
"Ahh sudahlah, kuta tak perlu membahas masalah ini lagi."
"Ohh iya, aku belum memperkenalkan diriku. Perkenalkan namaku adalah Kazura, Reizaki Kazura. Seorang petualang dari Kota Elato, salam kenal. Kalau anda?"
"Namaku adalah-." Sebelum ia menyelesaikan perkataan perkenalan dirinya, perkataannya telah terpotong duluan oleh suara lapar keras berbunyi dari perutnya.
Wajahnya pun seketika memerah, terasa malu akan suara keras perutnya yang kelaparan.
"Baiklah kalau begitu, lebih baim kita tinda perkenalan dirimu. Sekarang mari kita sarapan pagi, kebetulan aku sudah membuat sup daging rusa."
"Ta-tapi; tuan. Apakah kau yakin mengajakku makan bersama? Padahal kau tidak tahu diriku."
"Sudahlah, untuk masalah itu kita selesaikan nanti saja. Lebih kau duduk di dekat sini." Begitu ucapku kepadanya sambil menepul-nepuk kain yang dipakai untuk alas tidur dirinya sebelumnya.
Akan tetapi dia nampaknya sangat sungkan, suara perut kelaparan pun berbunhi keras kembali yanv berasal darinya.
"Ayolah cepat kau duduk dan tunghu saja disini, sementara aku akan menghidangkannya untukmu."
Ia pun akhirnya tak menolak perintahku dan duduk tanpa sungkan di sampingku.
Lalu akupun mewadahi sup yang sudah matang di kuali ke dalam dua mangkuk dan memberikan satu mangkok sup itu kepada Elf yang ada di sampingku. Namun wanita Elf itu agak ragu untuk menerima sup yang ku beri dan berkata.
"Apakah benar ini untuk ku?" Dengan sungkan dia berkata seperti itu.
"Iya, memang untuk siapa kalau bukan untukmu. Tenang saja tak kutaruh racun kok di dalamnya,"
"Yasudah kalau begitu, terima kasih tuan."
Setelah itu, Aku mengambil dua potong roti tawar yang ada di sihir ruang penyimpananku, dan memberikan satu potong roti itu kepadanya dan mulai menyantapnya bersama-sama.
***
Setelah kita berdua selesai makan dan juga telah membenahi perabotan serta bekas kemahku, aku kemudian berpaling ke arah Elf di sampingku dan bertanya, "Jadi kalau boleh tau siapa namamu?"
"Ohh iya aku lupa mengenalkan namaku. Perkenalkan namaku adalah Latifa Rupitha dari Desa Elf yang bernama Ta Fylla di Hutan Besar Banyan. Dan kamu bisa panggil aku Latifa,"
"Ehh , Latifa-san kah, nama yang cantik." Aku melemparkan pujian kepadanya akan namanya yang cantim sesuai dengan orangnya yang cantik pula.
__ADS_1
Kemudian aku mengambil satu setel pakaianku serta jubah panjang bertudung dari 'Storage Room' untuk dipakai Latifa agar dapat menutupi badannya.
Saat aku menyerahkan setelan baju kepadanya, Latifa-san terlihat terkejut akan apa yang aku lakukan dan terus menatapku. Karena penasaran, akupun bertanya kepadanya, "Ada apa Latifa-san? apakah ada yang aneh?"
"Ahh maafkan aku, tidak, tidak ada apa-apa. Namun aku hanya sangat terkejur saja bahwa kamu bisa memakai sihir ruang penyimpanan!"
Dari perkataannya itu, aku merasa deja vu, karena ucapannya itu sama persis seperti apa yang dikatakan Neila-san tempo hari.
"A-ahhh. Kakau untuk hak seperti ini, Kamu cukup tidak usah memikirkan hal ini, yang lebih penting sekarang Latifa-san cepat saja kamu ganti pakaianmu."
Latifa-san mengambil pakaian yang kuberikan, selepaa itu ia berjalan menjauhiku dan sembunyi di balik pohon apel berniat mengganti pakaiannya.
Tak lama ia sudah selesai menggantinya pakaianya. Tubuhnya yang sangat bohai pun membuat membangkitkan kembali pikiran erotisku, apalaigi di bagian dadanya yang sedikit terbuka, sampai terlihat belahannya karena bajuku uang terlihat sempit di daerah dadanya dan batinku pun berkata, "Ohh tuhan terima kasih nikmat dan karuniamu ini. Kau mempelihatkanku bagaimana surga itu memag ada."
"Ini Kazura-san, jubah yang bekas aku pakai tadi." Begitu ucap Latifa-san dengan nada sopan sambil memberikan jubah yang semalam ku pakaikan kepadanya.
Kemudian aku mengambilnya dan menaruhnya kembali ke dalam ruang penyimpananku.
"Baiklah kalau begitu aku akan meneruskan perjalananku. Kalau kamu mau kemana Latifa-san?"
"Kalau aku akan kembali ke desa, tapi...., aku tidak tau jalannya kemana?" Ekspresi bingung dan cemas Latifa tampakkan kearahku.
Akupun menghela nafas panjang yang berat. kemudian terdiam untuk beberapa detik, lalu setelah itu berkata, "Baiklah kalau begitu Latifa-san ikut saja denganku dulu untuk menjalankan Quest ku. Nanti setelah itu aku akan mengantar Latifa-san pulang, bagaimana?"
Raut muka Latifa-san yang tadinya bingung dan cemas berubah menjadi ekspresi lega dan senang, hingga secara tiba-tiba memeluk tangan kananku.
"Benarkah, baiklah..., baiklah... kalau begitu aku ikut Kazura-san."
Aku menjadi grogi karena tangan ku yang menempel di payudaranya yang besar. Sensasi yang sangat empuk menyentuh tanganku membuat hatiku berdegup kencang dan mukaku pun menjadi memerah.
"Baiklah..., baiklah..., sekarang lepaskanlah tanganku oke Latifa!"
Kemudian Latifa-san melepaskan pelukannya dari tanganku, lalu berjalan sambil bersenandung dengan riang.
"Ohh tuhan kenapa gadis-gadis di dunia ini sangat cantik-cantik. Terima kasih dewi Angela karena telah menghidupkan dan mengirimku ke dunia ini." Ucap batinku yang merasa sangat bahagia saat ini.
Aku sadar kembali akan lamunanku dan berkata kepada Latifa, "Oke, kalau begitu Latifa-san, mari kita berangkat."
"Baiklah kalau begitu ...."
***
Setelah itu kami mulai melanjutkan kembali perjalan menuju Desa Moura pagi ini, namun saat ini berbeda dari petualanganku yang sebelumnya, karena saat ini aku ditemani bersama seorang kawan baru yaitu Latifa-san.
Di perjalanan kami tak henti-hentinya terus mengobrol dan aku mulai bertanya kepadanya.
"Jadi apa yang terjadi kepadamu Latifa-san sampai-sampai kamu bisa terluka seperti itu?" Ucapku yang penasaran bagaiamana caranya dia semalam dapat terluka.
"Emmm gimana yah." Nampaknya dia mencoba mengingat-ingat akan kisah kejadiannya semalam.
Karena aku tidak ingin memaksakan dirinya mengingat kejadian itu, aku berkata, "Jika kau tidak ingat pun tidak apa-apa."
"Ahh buka seperti itu Kazura-san. Bukannya aku tidak ingin menceritaknnya kepadamu, akan tetapi aku sedabg berusaha mengingatnya."
"Baiklah, kau tidak usah terburu-buru mengingatnya, karna perjalanan kuta pun masih jauh." Kataku mencoba menenangkan dirinya.
"A-ahh baiklah kalau begitu."
Terlihat dirinya mengerutkan dahinya, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sewaktu dirinya bisa terluka seperti itu.
Kerutam di dahinya pun menhhilangN seakan dirinya sekarang sudah mengingat sesuatu akan apa yang kejadoan yanv menimpa pada dirinya.
"Aku sudah ingat sekarang Kazura-san."
Seperti yang aku perkirakan.
"Baiklah akau akan menceritakannya kepadamu. Saat itu tepat pada sore hari kejadiannya, aku yang sedang mencari tanaman obat unruk bahan obatku di perbatasan hutan besar Banyan untuk mengobati salah satu warga desa yang sedang sakit. Akan tetapi saat aku mencari tanaman obat, tiba-tiba aku di serang oleh 3 ekor monster Macan Kumbang. Aku panik dan langsung berlari sambil bertarung menghadapi Macan Kumbang itu satu per satu. Aku bertarung dengan sengit dan berhasil membunuh 2 diantanya. Akan tetapi saat aku menyerang Macan Kumbang yang ketiga. Macan Kumbang itu berhasil menyerangku dan membuatku terluka. Namun aku tak menyerah. Aku terus berlari walaupun tertatih-tatih sambil terus menyerang Macan Kumbang itu dengan panahku. Dan akhirnya aku berhasil membunuh Macan Kumbang itu."
Dia menjelaskannya dengan detail sekali, sampai-sampai aku tak bisa membalas perkataannya, akan tetapi mendengar ceritanya itu, aku megerri betaoa bahayanya perbaasan hutan Banyan itu, walaupun aku tak tahu dimana letah Hutan Banyan itu berada.
"Ohh begitukah kejadiannya. Lalu kenapa Latifa-san bisa kabur sejauh ini, sampai-sampai keluar dari hutan besar Banyan?"
"Aku terlalu takut, bukannya aku tidak bisa bertarung atau apa. Namun karena musuhnya yaitu hewan iblis Beruang Taring Hitam, jadi aku tak mungkin bisa menang melawannya , sampai pada akhirnya aku hanya bisa berlari tak memperhatikan sekitarku dan terus saja berlari. Hingga tak sadar aku telah keluar jauh dari hutan besar Banyan."
"Hehhhh jadu begitukah! Tapi kau tau dimana letak hutan besar Banyan itu di daerah mana?"
"Aku tidak tahu sama sekali Kazuran-san dimana letak hutan besar Banyan berada." Begitu jawabnya dengan muka yang murung sambil menundukkan kepalanya yang Latifa-san tunjukan padaku.
"Baiklah..., kalau begitu nanti aku akan tanya kepada warga desa Moura siapa tau ada yang tau akan tempat hutan besar Banyan."
__ADS_1
Setelah itu kami terus mengobrol di perjalanan itu.
(BERSAMBUNG)