Boku Wa Betsu No Isekai De Umarekawarimashita ( Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Lain)

Boku Wa Betsu No Isekai De Umarekawarimashita ( Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Lain)
ch.26


__ADS_3

Setengah jam telah berlalu kami berjalan setelah melewati pintu masuk dungeon. Di dalam sini cahaya nampak tidak begitu gelap karena masih ada cahaya terang menyala dari obor-obor yang terpasang di samping dinding batu dungeon ini. Sesekali angin lembut berhembus menyejukkan diri dari arah dimana pintu masuk dungeon.


"Tampaknya kita belum menemukan musuh satupun yah."


Sambil terua melihat sekitar, Latifa berkata seperti itu.


"Yahh mau gimana lagi, karena ini masih daerah aman di dungeon ini."


Lalu Christie melanjutkan.


"Ohh iya Kazura. Bukannya kau pastidikasih sebuah peta dungeon saat daftar tadi kan."


"Yah aku mendapatkannya, memangnya kenapa?"


"Bagus. Sini aku ingin melihatnya."


Aku mengeluarkan peta dungeon yang tadi kudapatkan dari ransel selempangku dan menunjukkannya kepada Christie.


Christie mengambil dari tanganku dan setelah itu dia membuka peta yang tergulung itu lebar-lebar dan melihatnya.


"Hmm, hmm. Tampaknya seperti itu."


Sambil menganggum pelan, Christie tampaknya mendapatkan sesuatu yang dia pahami.


"Jadi apakah kau sudah menemukan sesuatu tentang dungeon ini dari peta itu."


"Aku sudah menemukan sebuah petunjuk akan dungeon ini, coba kalian lihat."


Christie kemudian berjalan mendekati tembok yang tekena lebih banyak cahaya obor.


Kemudian Christie membuka lebar-lebar peta dungeon yang dia pegang dan menempelkan sambil menahannya di tembokan lorong dungeon ini.


Aku dan Latifa pun berjalan mendekatinya karena ingin mengetahui apa yang akan dia beritahu kepada kami tentang dungeon ini.


"Kazura bisakah kau pegang sisi sebelah kanan ini."


Aku menuruti apa yang diperintahkan Christie dan memegang sebelah kanan peta dengan tangan kananku.


"Baiklah aku akan mulai menjelaskannya. Bisakah kalian lihat tanda bulatan merah ini."


Dia berucap seperti itu merujuk ke arah ujung kanan atas cetak biru dungeon yang sudah diberi bulatan berwarna merah. Kemudian saat kulihat seksama, ternyata ada sebuah gambaran bintang yang dikurung bulatan dan dari lingkaran itu ada sebuah tulisan sihir.


"Apa kalian tahu, sebenarnya bulatan ini merujuk sudah selesainya lantai ini di jelajahi dan faktanya bahwa lantai ini aman akan tidak adanya monster untuk dinasmi kembali."


"Heee... begitukah."


Aku dan Latifa bereaksi sama seperti itu.


Tunggu dulu! Jika lantai ini sudah aman? Harusnya ini akan menjadi hal yang sia-sia untuk masuk ke dungeon ini!


Christie tersenyum saat melihat wajah kebingunganku.


"Tampaknya kau menyadari sesuatu yah Kazura."


"Yah seperti yang kau katakan itu."


"Tentu. Sekarang aku akan melanjutkan kembali dan menjawab kebingunganmu itu."


Lalu dia melanjutkan.


"Kau bisa lihat ini."


Dia menunjuk ke sebuah lingkaran berwarna biru yang ada di dalam peta.


"Ini adalah sebuah teleport untuk kita menuju ke lantai selanjutnya. Kalau tidak salah dungeon ini memiliki sepuluh lantai, dan setiap lantai memiliki ruangan yang berbeda-beda serta gambar peta ini pun akan berubah seiring lantai yang kita masuki."


Lalu dia meneruskan.


"Dan setiap kali kau memasuki lantai paling dalam, semakin besar pula kekuatan monster yang harus kita hadapi."


Sekarang aku mulai paham akan tentang cara kerja dungeon ini setelah mendengarkan penjelasan dari Christie.


Aku melepaskan tahanan tanganku dari peta dan Christie kemudian menghulung kembali peta dungeon dengan rapi.


"Ini." Ucapnya begitu menyerahkan peta dungein yang sudah digulung rapi kepadaku.


Aku mengambilnya dan memasukman kembali ke dalam tas selempangku dan meneruskan kembali perjalanan menelusuri dungeon.


***


Sekitar 30 menit lamanya kami yang mengikuti langkah kaki Christie dari belakang akhirnya kami telah sampai tempat dimana teleportasi terletak.


Cahaya biru bulat terpancar dari lantai setinggi dua meter. Kami bertiga verjalan memasuki cahaya itu.


Kami seperti terhisap ileh cahaya cahaya biru itu dan selang beberapa detik kami telah sampai di sebuah ruangan yang berbeda dari sebelumnya. Kami berjalan keluar dari lingkaran cahaya biru itu dan beranjak jauh.


"Kazura. Bisakah kau mengeluarkan kembali peta dungeon nya."


Aku mengambil peta dungein dari tas selempangku dan membuka lebar-lebar. Seperti yang dikatakan Christie beberapa waktu lalu, gambar peta dungeon pun berubah seiring berpindahnya lantai.


Yang tergambar di peta dungeon saat ini lebih memiliki banyak ruangan-ruangan dan sedikit sekali jalan serta ada beberapa jalan buntu pula.


Aku melihat pojok kanan atas peta ini, nampak bulatan merah tertera kembali lantai pertama ini, menandakan bahwa lantai ini telah selesai dijelajahi.

__ADS_1


"Nampaknya yang ini juga sudah di jelajahi yah Kazura."


Ucap Latifa yang mengintip peta dungeon dari samping kananku.


"Benar sekali Latifa."


"Yasudah kalau ini pun telah dijelajahi dan di netralisir, lebih baik kita ke lantai selanjutnya."


"Baiklah kalau begitu."


Kemudian kami berjalan ke arah berlawan dimana tempat teleportasi berada.


Kami bertiga terus melakukan hal yang sama di setiap lantai yang aman, sampai pada akhirnya di lantai 6 aku membuka peta dungeon kembali.


Saat dibuka, aku cukup heran, kata heran bukan kata yang tepat meliankan terasa sedikit terkejut.


Saat kulihat peta dungeon itu setengah sudah ada sebuah setengah gambaran tertera di secarik kertas itu. Kemudian di sebelah kertas itu ada sebuah garis merah membatasi gambar yang belum ada terukir sama sekali.


"Nampaknya lantai 6 ini baru setengah terjelajahi oleh para petualang."


Christie yang mengintip peta yang ku pegang di samping kiriku berkata seperti itu.


"Heee begitu yah."


Latifa memberi tanggapan atas perkataan Christie di samping kananku.


"Baiklah kalau begitu kita mulai berburunya."


Sambil menggulung kembali peta yang ku pegang, aku berkata dengan penuh percaya diri kepada mereka berdua.


Kami mulai berjalan menyusuri lorong yang ada di depan kita saat ini.


Gambar yang tertera disini(lantai 6) berbeda dari lantai lainnya yang telah terlewati. Disini hanya ada sebuah jalan lurus terus sampai menuju ke garis dimana dungeon yang belum terjamah, sehingga itu memudahkan kami u tuk mencapai tujuan.


Tidak memakan eaktu puluhan menit, aku telah sampai di pembatas garis yang tertera di peta.


Disana terlihat ada sebuah tangga menurun ke ruangan gelap gulita tanpa adanya cahaya sedikitpun.


'Light.' Latifa mengucap mantra sambil mengangkat tangannya dan munculah cahaya bulat terang benderang melayang diaas kami bertiga menerangi sekitar tangga yang gelap sesaat sebelumnya serta jalan.


Sepertinya Latifa sudah mulai tanggap menanggapi situasi.


Kami bertiga kemudian berjalan perlahan menuruni tangga.


Rasa tegang mulai menyelimuti diriku dan saat kulihat ke arah mereka berdua yang ada di belakang pun sama terlihat tegang juga.


Pak pak pak ~ suara menggema yang dihasilkan dari sepatu yang kami pakai saat kami menuruni tangga.


Kami terus menuruni tangga itu, akan tetapi kami belum melihat dasar dari tangga ini.


"Ya nampaknya begitu."


Entah sudah berapa puluh menit lamanua kami berjalan menuruni tangga ini, namun tetap saja masih tak sampai ke dasarnya.


"Ahhh moooh ini membuatku sangat lelah." Christine mengeluh akan hal ini dan mengehntikan langkahnya.


Aku dan Latifa yang mensengarkeluhannya pun terhenti akan hal ini.


Saat ku melihat ke arah Latifa, dia tampaknya sedikit lelah pula terlihat dari keringat kecil yang mengucur di samping wajahnya.


"Latifa apa kau tidak apa-apa."


Latifa tersenyum lemas seperti yang dipaksakan.


"Eeemm... tidak, aku tidak apa-apa kok Kazura. Hanya saja sedikit kelelahan mempertahankan sihirku ini."


Aku merasa kasihan melihatnya kelelahan sekarang ini, aku memegangi tangannya sambil memasang wajah khawatir dan berkata.


"Yasudah. Lebih baik sekarang kau batalkan saja sihir itu, biar aku saja sekarang yang menerangi perjalan kita ini."


'Fire' seruan dalam hatiku bersmaaan dengan mengangkatkan debelah tanganku dan muncullah api cukup besar seperti nyala obor di tanganku.


Latifa akhirnya membatalkan sihir light nya dan kemudian mengambil kantung air yang menggantung di sisi kanan pinggangnya.


Gluk gluk


Suara yang di hasilkan dari tenggorokannya saat dia minum terdengar cukup keras.


"Fuahh~, ini sangat menyegarkan." Latifa tampaknya merasa senang setelah minum terlihat dari raut wajahnya.


Di samping lain Christie tampak menelan ludahnya sendiri, dia merasa sangat tergoda dan ingin minum juga.


"Nee... nee... Latifa."


"Apa?"


"Bolehkah aku minta air minum mu?"


"Silahkan." Ucap Latifa diiringi dengan menyodorkan kanting minumnya.


Christie mengambil kantung minum dari tangan Latifa dan meminum air yang terisi di dalamnya.


"Ahh~ ini sangat menyegarkan. Terima kasih Latifa."

__ADS_1


Senang Christie bersamaan mengembalikan kantung airnya.


"Unn."


Jawab Latifa mengangguk mengambil kantungvairnya itu dan menaruh kembali ke tempat asalnya.


"Apakah kalian susah cukup istirahatnya?"


"Yah." Jawab mereka serentak.


"Baiklah ayo kita lanjut kembali penjelajahan ini."


Aku berjalan di paling depan diikuti mereka berdua dari belakang.


Saat itu aku terpikir akan sesuatu hal untuk mengukur berapa lama lagi jarak untuk kita sampai ke dasarnya.


Aku menghentikan langkahku dan sontak kedua wanita yang ada di belakangpun ikut terhentikan langkahnya.


"Ada apa Kazura? Kenapa kau menghentikan langkahmu?" Ujar Christie menanyakan apa yang baru saja aku lakukan.


"Ahh maaf-maaf. Tapi aku memikirkan sesuatu yang cukup menarik, jadi aku ingin melakukannya."


Saat aku selesai bicara, terlihat raut wajah khawatir di tunjukkan oleh Latifa.


"Hei Kazura. Kau tidak akan melakukan sesuatu yang aneh kan? Kan?"


Entah mengapa dia mengakatan itu. Namun aku mencoba menenangkannya.


"Tenang saja Latifa, aki tidak akan bertindak macam-macam kok."


Aku meregangkan tangan kiriku ke arah tepat dimana tangga mengarah ke bawah.


'Fire ball.' Aku merapalkan mantra dan bola api muncul dari tanganku dan ku tembakkan ke arah bawah.


Cahaya api melesat menerangi tangga sesaat.


Duarr


Kiakkk!


Suara tambrakan terdengar keras bersamaan dengan suara jeritan dari hewan terkena 'fire ball' ku menggema oleh kami.


Kami betiga terkejut akan itu.


"Suara apa itu!?"


"Nampaknya itu suara monster semut hitam terkena seranganmu."


Balas Christie kepadaku.


Kami betiga bergegas bergerak menuruni tangga menghampiri monster itu bersamaan memasang sikap waspada siap tempur.


Sampainya di tempatnya, monster semut yang besarnya tiga kali lipat dari manusia pun mati terpanggang.


Christie berjalan mendekat monster semut yang terpanggang tepatnya ke arah perutnya.


Kemudian Christie menghunus pedangnya dan membelek perut monster semut.


Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan?


Akhirnya aku mendekatinya dan bertanya.


"Apa yang akan kau lakukan Christie?"


"Aku ingin mengambil core (inti) dari monster ini."


Core (inti)adalah sebuah inti dari asalnya kekuatan pada moster berada, core berbentuk bulat serta biasa dipakai sebagai bahan untuk item sihir serta bisa dijual dengan harga cukup mahal tergantung kualitas dari core itu sendiri.


Setelah membelek perut monster semutnya, Christie pun mengambil core berwarna hijau dari dalam perut monster semut itu.


Dia melemparkan core yang bulatamnya sebesar bola tenis kepadaku, aku menangkapnya dengan sempurna.


"Simpanlah itu Kazura di dalam ruang penykmpananmu, nanti kita jual."


Seperti yang dikatakan Christie, aku memasukkan core dari monster semut ke dalam 'ruang penyimpananku' dan setelah itu aku berjalan menepi ke dekat tembok sebelah kanan.


Terlihat sedikit gelap ada sebuah celah di salah satu tembok itu, aku mendekatkan sihir api di tangan kananku agar dapat melihat dengan jelas apa yang tertera disana.


Nampaknya ada sebuah piringan seperti wadah untuk lilin serta da sebuah cairan mengalir didalamnya. Aku lebih mendekatkan kembali api ditanganku kesana.


Apiku tersedot seketika sehingga api ditanganku pun padam, namun satu hal apiku menyalakan sebuah lampu api yang memanjang menerangi jalan sepanjang koridor.


Bisa dikatakan itu adalah sebuah lampu jadul.


"Waah betapa indahnya ini." Takjub Latifa akan apa yang baru saja dia saksikan.


"Kerja bagus Kazura, jadi kita tak perlu repot-repot kegelapan disat berjalan."


Sambil menyeringai, Christie berkata begitu padaku.


Nampaknya keberuntungan masih memihak kepadaku.


"Bakalh kalau begitu, mari kita mulai menjelajah dungeon yang sesungguhnya."

__ADS_1


Kami berjalan melanjutkan kembali menjelajahi dungeon.


(BERSAMBUNG)


__ADS_2