
Ke'esokan pagi nya Aku, Latifa-san serta Kepala Desa Moura sudah berangkat dari desa Moura untuk menuju ke Kota Elato.
Kami menaiki kereta kuda yang di kendarai oleh Kepala Desa Moura karena saat malam dia sendiri yang menawarkan diri untuk mengantar kami ke Kota Elato sekaligus dirinya memiliki urusan penting di Kota Elato juga.
Di perjalanan, kami sangat beruntung tidak mendapatkan hambatan sama sekali. Akan tetapi sesaat di persimpangan jalan yang pernah aku dan Latifa-san lewati sebelumnya, nampaknya kepala desa memilih jalan yang berbeda saat aku tempub sebelumnya.
"Jadi Kepala Desa, kenapa kita melewati jalan yang berbeda? Bukannya kita harusnya ke jalan sana yah kepala desa."
Aku bertanya seperti itu, karena aku merasa terkejut sekaligus penasaran akan jalan ini.
"Ahh tentang jalannya yah. Itu susah pasti kan, karena jalan ini adalah jalan tercepat menuju Kota Elato!"
"Ehhh benarkah, Aku baru tau itu."
Aku terkejut dan terkhianati karena jalan yang kulalui sekarang tak tertera di peta yang di berikan oleh Neila-san.
"Wajar untuk petualang baru tidak mengetahui jalan ini. Karena jalan ini hanya diketahui oleh para penduduk desa dan juga jalan ini hanya sedikit para petualang veteran yang mengetahuinya saja."
"Ehh begitukah."
Latifa-san terus melirik ke arahku seperti orang yang risau. Karena tak enak dilihat aku pun berbicara kepadanya.
"Jadi ada apa Latifa-san kamu terus melirik-melirikku?"
"Tidak, tidak ada apa-apa kok Kazura-san."
Entah mengapa dia terlihat seperti ragu untuk berbicara kepadaku begitu yang bisa kubaca dari raut wajahnya. Namun aku masih tetap penasaran akan apa yang ingin ia katakan.
"Heyy ayolah tidak usah ragu begitu, bicara saja terus terus terang kepadaku tak perlu kau pendam-pendam Latifa-san. Katakan saja sejujurnya."
"Ti-ti-tidak, tidak ada apa-apa kok beneran !" Tegasnya padaku.
"Yasudah kalau begitu."
Kami semua terdiam dalam keheningan di perjalanan menuju Kota Elato.
***
Singkat cerita alhirnya kami pun telah sampai di daerah kawasan luar benteng Kota Elato. Suasana saat ini bisa dikatakan sudah memasuki tengah malam.
Bulan dengan lingkaran sempurna bersinar terang dengan ditemani para bintang-bintang yang berkelap kelip di angkasa tanpa terhalangnya awan sama sekali.
Aku yang baru pertama kali melihat pemandangan seindah ini terdecak kagum, karena walaupun aku pernah mendaku gunung dan melihat hamparan bintang diatas gunung tak pernah bisa melihat yang seindah ini.
"Begitu indah yah pemandangan malam ini Kazura-san." Ungkap Latifa-san yang sama menfangahkan kepalanya ke atas melihat bukan dan bintang-bintang.
"Ahh aku setuju sekali atas perkataanmu Latifa-san."
Aku melanjutkannya.
"Hei Latifa-san apakah kau tau."
"Apa?"
"Jika kamu melihat bintang dan kemudian berdoa, katanya permintaanmu akan dikabulkan."
"Hehehe... apa itu. Aku baru tahu ada uang seperti itu."
Tawa kecilnya menggambarkan seakab tidak percaya akan apa yang aku ucapkan. Akan tetapi memang benar sih jika dipirkan dengan logika itu tidak masuk akal kita berdoa kepada bentang yang jatuh dari langit.
Fuuu~
Semilir hembusan angin malam terasa dingin menembus kulitku. Aku bereaksi secara alami menyilangkan kedua lenganku, memeluk diriku sendiri, walaupun pada dasarnya aku sudah mengenakan jubah lengan panjang, akan tetapi tetap saja angin malam ini bisa menembus jubah yang ku kenakan degan mudah.
"Malam ini cukup dingin juga yah."
Kliff-san memalingkan kepalanya ke arah kami berdua, berbicara kepada kami.
"Iya tu benar sekali kepala desa. Lihatlah aku sampai biaa mengeluarkan uap putih dari udara yang ku keluarkan lewat mulut."
Begitu aku membalas perkataan kepala desa. Latifa-san yang ada di sampingku mengikuti apa yang baru saja kulakukan.
Uap putih topos keliar dari mulutnya, nampaknya diabterlihat senang akan hal itu.
"Kazura-san, Latifa-san, lihat kita sudah hampir sampai di dekat gerbang."
Kepala desa memberitahu kami berdua, menuduh ke arah gerbang Kota Elato yang di erangi oleh obor cukup besar nyalanya.
"Akhirnya kita akan sudah hampir sampai juga. Aku tidak sabar ingin segera ke penginapan, ingin segera makan."
"Sama akupun. "
"Aku juga."
Nampaknya pemikiran kami bertiga sama kali ini. Kami pun terawa lepas hanya karena hal sepele seperti itu.
Hingga tak terasa Kepala Desa Moura yang mengendarai kereta kuda pun memberhentikan kereta kudanya tepat di depan gerbang masuk menuju dalam Kota.
Kepala Desa Moura ditanya oleh penjaga gerbang untuk menunjukan Kartu identitasnya. Dan Kepala Desa Moura menunjukan nya kepada Penjaga itu.
Nampaknya tidak ada masalah dengan kepala desa. Kemudian penjaga gerbang itu mendekat, menghampiri kami berdua.
Saat mata kami bertemu, nampaknya itu adalah penjaga yang saat itu sering aku lihat dan aku mengenalnya walaupun aku tidak mengeahui namanya sama sekali.
"Ohh ternyata Kazura-san kah, bagaimana kabar kamu? Sudah beberapa hari kamu tidak kelihatan?" Sapa penjaga itu duluan setelah melihatku.
"Hehehe betul sekali. Kabarku baik. Aku habis menjalankan misi ke Desa Moura yang jaraknya lumayan jauh ternyata, dan sekarang aku baru saja menyelesaikannya dan baru semoat pulang kesini."
"Ehh begitukah."
"Ah begitulah."
"Lalu jika boleh tahu, jadi siapa yang di sebelahmu itu."
Perkataannya itu merujuk ke Latifa-san yang penampilannya nampak mencurigakan menurutnya. Dia terus menatap ke arah Latifa-san yang kepalanya di tutup oleh kerudung jubah.
"Ohh dia kah. di-dia ini adalah temanku. Apakah memang perlu kamu memeriksanya?"
"Yahh maafkan aku, akan tetapi sesuai perintah dari pemimpin kota, bahwa setiap ada warga yang tidak dikenal harus menunjukan identitas diri mereka."
"Yasudah kalau begitu Latifa-san tolong tunjukkan tanda pengenalmu."
Kemudian Latifa mengambil kartu identitasnya dari belahan payudaranya. Melihat Latifa-san mengambil kartu identitasnya dari belahan payudaranya membuat wajah penjaga itu tersipu merah termasuk diriku juga.
Akan tetapu disitu menjadi salah satu misteri yang membuatku penasaran, bagaimana dia mengeluarkan kartu identitas miliknya dari belahan dadanya, sementara saat dia terluka, saat aku mengganti bajunya, aku tidak melihat ada kartu identitas yang dia sembunyikan di belahan dadanya yang montok itu.
'Dari mana kau mendapatkan itu' toh begiru yang ingin aku tanyakan padanya. Akan tetapi aku tidak berani bertanya kepadanya, dan akhirnya aku hanya diam tak berkata apa-apa.
Latifa-san menunjukkan kartu identitasnya ke penjaga. Tak lama ekspresi muka penjaga itu menjadi panik, lalu riba-tiba dia membungkukkan badannya setelah melihat kartu identitas Latifa-san.
__ADS_1
"Mohon maaf atas tindakan yang tidak sopan, Latifa-ojousama."
Aku seketika terkejut bukan setelah mendengar perkataan penjaga itu dan membeku tak bisa berkata apa-apa bahwa pada kenyataannya Latifa-san adalah seorang ojousama (puteri). Kereta kuda yang kami kendarai pun di perbolehkan memasuki dalam Kota.
Akhirnya kami sampai di Alun-alun kota. Aku dan Latifa turun dari kereta kuda.
"Terima kasih atas tumpangannya Kepala Desa."
"Yah tenang saja. Anggap saja ini rasa terima kasihku karena telah membasmi goblin yang telah menyerang desa Kazura-san. Yasudah kalau begitu aku permisi."
"Yah silahkan Kepala Desa."
Kepala Desa Moura memecut kudanya dan meninggalkan kami yang berada di alun-alun.
"Jadi kita akan kemana sekarang Kazura-san?"
"Sekarang kita akan ke penginapanku. Ayo Latifa-ojousama."
"Sudahlah jangan panggil aku begitu, panggil saja aku seperti biasanya Kazura-san."
Latifa-san sepertinya tidak senang aku memanggilnya begitu bersamaan dengan menepuk pundak ku. Kemudian kami berjalan menuju ke penginapan sambil mengobrol.
"Tapi sumpah aku tidak menyangka bahwa kamu adalah seorang Ojousama."
"Yahh begitulah. Maaf yah aku tak menceritakan kepadamu yang sebenarnya."
"Iyah tidak apa-apa, Aku memaklumi keputusan mu itu. Karena setiap orang pasti memiliki rahasia yang tak ingin mereka ceritakan."
"...."
Latifa-san tak berkata apa-apa dan hanya terus menatapku.
"Kenapa kamu melihatku begitu?"
"Tidak, tidak apa-apa hanya saja kau barusan terlihat keren."
Dengan senyuman yang indah ia serta pujian yang dilemparkan kearahku sampai membuat ku malu. Melihat mukaku yang malu Latifa-san tertawa kecil senang.
"Sudahlah jangan menertawakanku begitu!"
"Iya maaf-maaf hehehe."
Kemudian aku berhenti dan Latifa-san pun ikut berhenti dan berkata.
"Kenapa Kamu berhenti Kazura-san?"
"Karena kita sudah sampai di penginapan di tempatku menginap. Yasudah kalau begitu mari kita masuk Latifa-san."
"Ehh disini yahh. Oke ayo kita masuk."
Kami melangkah masuk menuju penginapan. Suara khas lonceng penginapan saat aku membuka pintu terdengar.
"Selamat datang di penginapan Pèfko. Oh yah ternyata Kazura-san kah, lama tak bertemu."
Ucap Mei-san pemilik penginapan yang berada di balik meja bar.
"Yah lama tak berjumpa Bibi Mei-san."
"Kemana saja kamu Kazura? Kuukira kamu tidak akan datang kembali."
"Hehehe..., maaf Bibi Mei-san, aku saat ini sibuk menjalankan misi ke daerah Desa yang lumayan jauh daei sini, jadi tak sempat memberitahumu bi."
Begitu aku berkata sambil berjalan menuju ke arahnya.
"Ahh tidak Bi. Mungkin aku tidak akan memperpanjang waktu tinggal ku untuk sekarang."
"Yasudah kalau begitu. Terus siapa orang yang ada di sampingmu itu?"
Mei-san si pemilik penginapan melirik ke arah Latifa-san, nampaknya dia penasaran dengan sosok Latifa-san yang mukanya terhalang oleh tudung jubah.
"Hmmp dia adalah kenalanku bi. Dia akan menginap disini selama 2 hari bersama denganku karena ada urusan penting di kota ini. Apakah masih ada kamar yang kosong Bi?"
"Kebetulan ada Kazura, di samping kamarmu kamar 202."
"Kalau begitu aku menyewa kamar itu bi."
Aku menyerahkan 3 keping koin perunggu. Mwi-san pun menerima uangku. Lalu ia menyerahkan kembaliannya kepadaku sebanyak 5 koin tembaga bersamaan dengan menyerahkan kunci kamar.
"Ini dia kuncinya Kazura."
"Terima kasih Bi."
Aku menyerahkan kunci kamarnya ke Latifa-san, dan ia menerimanya tanpa sungkan, lalu berbisik padaku.
"Kazura bolehkah aku melepaskan tudungku ini, aku sudah gerah."
"Itu terserah kamu saja aku kan tak memerintahmu untuk terus memakainya kan."
Karena keadaan di Bar penginapan susah sangat sepi dan disini yang hadir hanya ada Mei-san pemilik penginapan.
Latifa pun membuka tudungnya.
Sontak Mei-san pun terkejut melihat nya sambil menutup mulutnya yang terbuka dengan tangan kananya.
"Ara ara ternyata dia adalah seorang ras Elf cantik yang kau bawa Kazura !"
Aku tertawa kecil canggung.
"Yahh begitulah bi. Bi boleh aku memesan makanan dan minuman, kami sudah lapar."
"Yasudah kalian duduk, aku akan menyiapkan makannya !"
"Baiklah Bi."
Kami pun beranjak ke satu set meja makan yang dekat meja bar. Sementara itu si Bibi masuk ke dapur yang berada di balik pintu yang beeada di belakangnya.
***
Tak lama hidangan sederhana terhidang di meja makan kami.
"Maaf yah hanya ada ini yang bisa aku sediakan!"
"Tak apa-apa Bi yang penting kami bisa makan."
Mei-san kembali ke tempanya kembali, sementara Aku dan Latifa-san mulai menyantap hidangannya.
Namun sebelum dia kembali ke tempatnya, dia menghentikan langkahnya, membalikkan badannya dan berkata kepadaku.
"Ohh iya Kazura, sudah kubilang kai panggil saja aku Mei kan. Lalu kenapa kau memanggilku bibi, itu terkesan umurku sudah tau loh, hohohohoho..."
__ADS_1
Aku bisa melihat dari perkataannya nampak aura hitam memancar keluar dari tubuhnya. Aku yang kaget bukan kepalang membalas perkataannya dengan tergagap-gagap.
"Gehhh...! Ma-maafkan aku bi- ah tidak Mei-san. A-aku lu-pa a-akan itu."
"Benarkah itu?"
"Beneran."
"Baiklah jika begitu. Yasudah aku permisi."
Mei-san melanjutkan langkahnya untuk kembali duduk di tempatnya.
Sementara itu Latifa memiringkan kepalanya melihatku tampak sangat bingung akan aku dan Mei-san obrol kan tadi.
"Apa terjadi sesuatu Kazura?"
"Tidak, tidak ada apa-apa. Lebih baik kita santap kembali hidangan ini."
Kami berdua akhirnya menyatap makanan yang telah disediakan oleh Mei-sandiatas meja.
Tak lama kami telah selesai makan. Aku kembali mendatangi Mei-san.
"Jadi bagaimana makanannya, apakah kau puas?"
"Yahhh aku puas sekali bi-ehh bukan maksudku Mei-san, masakanmu terasa sangat enak."
"Syukurlah."
"Yasudah kalau begitu kami permisi dulu Mei-san mau beristirahat."
"Yah silahkan."
Kami pun langsung berjalan menaiki tangga menuju kamar kami masing-masing. Sampainya di depan pintu kamar. Latifa-san memasukkan kunci pintu dan membukanya.
Akan tetapi nampaknya dia tak bergegas membuka pintu kamar.
"Ano... Kazura-san."
Aku di hentikan akan panggilannya itu.
"Ada apa Latifa-san."
"Ano... begini Kazura-san, bisakah aku meminta kepadamu untuk tidak memanggilku dengan kata kehormatan (san) setelah namaku."
"Etto... unruk itu aku tidak keberatan. Akan tetapi apakah itu tida apa-apa untukmu?"
"Menurutku itu tidak apa-apa."
Aku sedikit gugup untuk mengatakan namana tanpa sebutan kata kehormatan kepadanya, akan tetapi aku akn mencobanya.
"Baiklah, Latifa."
Dari raut wajahnya, dia nampak senang setelah aku menyebut namanya tanpa sebutan kehormatan di belakang namanya.
"Hmm seperti itu, mulai dari sekarang kau panggil aku Latifa dan bolehkan aku memanggilmu Kazura?"
"Tentu saja aku tidak keberatan."
Nampaknya jarak diantara kami semakin dekat.
"Kalau begitu Kazura selamat malam."
"Selamat malam juga Latifa."
Latifa masuk kedalam kamarnya dan menutup pintunya secara perlahan. Setelah Latifa sudah masuk ke kamarnya, akupun terdiam beberapa detik memandangi pintu kamar Latifa sambil memegang gagang pintu kamarku.
Lalu aku membuka pintu kamarku masuk ke kamarku dan menutup pintu, kemudian langsung menjatuhkan badanku ke atas kasur.
"Ahh terasa lelah perjalananku ini."
Aku mengeluh sendiri di kamar yang agak terang oleh cahaya lentera yang berada di meja. Lalu aku bangkit dan duduk di atas kasur.
"Open Status."
Aku melihat statusku kembali dan terlihat ada perubahan dalam layar statusku.
Nama : Kazura Reizaki.
Umur : 25 Tahun.
Ras : Manusia.
Lv : 25
HP: 9900/10000
MP: 560/1000
STRENGTH (Kekuatan) : 7
INTELLIGENCE (Kecerdasan) : 6
AGILITY (Kelincahan) : 8
VITALITY (Daya hidup): 6
DEXTERITY (Ketangkasan) : 7
LUCK (Keberuntungan) : 9
Gelar : Manusia yang di Reinkarnasi, Mendapatkan berkah Dewi Pelindung Angela. Goblin Hunter
Skill : Sihir Manipulasi, Sihir Air, Sihir Tanah, Sihir Api, Sihir Angin, Sihir Petir, Sihir Suci, Sihir Kontrak. Sihir Ruang Dimensi.
Skill Unik : Mengerti semua bahasa dunia lain, Seni Beladiri Pedang Dari Dunia Lain, Penggabungan Sihir dan Seni Beladiri.
Remaining Point : 120
Dalam hal ini aku terkejut setelah melihat jendela statusku sendiri. Aku tidak tahu selama ini aku tak menyadari bahwa kekuatanku sudah meningkat sangat pesat.
Dan juga ada nama status baru yang muncul di layar statusku, termasuk ada sistem point disini.
"Statusku ini benar-benar menakutkan."
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi tentang statusku ini. Tetapi dalam hal ini aku tidak mengerti bagaiamana cara kerja mendapatkan point ini.
Namun jika terus memikirkannya itu tampaknya tak akan baik dan saat ini juga keadaanku sedang mengantuk seperti ini.
"Ahh lebih baik aku tidur dulu saja sekarang, urusan ini biar kupikirkan saja besok."
__ADS_1
Aku menutup layar statusku dan mulai berbaring tidur.
(BERSAMBUNG)