Boku Wa Betsu No Isekai De Umarekawarimashita ( Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Lain)

Boku Wa Betsu No Isekai De Umarekawarimashita ( Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Lain)
Singgah di Desa Asvestou bersama Latifa bag. 2


__ADS_3

Waktu siang akan menjelang sore, Aku sampai di depan gapura sebuah desa dan sudah menjadi akrab dengan Latifa-san . Akan tetapi karena aku tidak mengerti akan tulisannya, Aku menyuruh Latifa-san untuk membacanya.


"Namanya adalah Desa Asvestou, Kazura-san."


"Ohh Asvestou kah, yasudah kalau begitu kita mencari makan siang dan beristirahat dulu saja disini. Sekalian membeli baju wanita untuk mengganti bajumu yang compang camping itu serta peralatan lain yang kau butuhkan!"


Kemudian Latifa-san memakai tudung jubah untuk menutupi telinga serta wajahnya nya agar tak dilihat oleh banyak orang. Setelah itu kami melangkah masuk ke dalam Desa, aku merasa heran karena tingkah Latifa-san dan bertanya.


"Jadi kenapa sekarang kau memakai tudung jubah itu?"


"Ah..., kalau itu karena bangsa Elf kami sangat jarang sekali keluar hutan dan berbaur dengan manusia namun pengecualian Raja serta para petinggi Ras Elf, jadi kami tak mau menampakkan diri kami terhadap manusia!"


"Ehhhh begitukah, Aku baru tau itu!"


"Jadi bagaimana kamu mau makan siang dulu atau membeli barang-barang dulu Latifa-san?"


"Hmm..."


Latifa-san berfikir untuk beberapa saat.


"Bagaimana kalau kita belanja pakaian dan alat-alat dulu saja, setelah itu batu kita makan!"


"Baiklah kalau begitu mari kita cari toko baju dan peralatan senjata. Siapa tau ada oke!"


Lalu kami mulai berjalan menyusuri seisi desa untuk mencari toko penjual pakaian dan juga peralatan senjata. Banyak orang yang berlalu lalang melihat akan tetapi tak sebanyak di Kota Elato.


Orang-orang di sekitar nampak aneh melihat kita berdua, terutama kepada Latifa-san. Namun kami menghiraukan pandangan mereka.


Sampai pada akhirnya sampailah kami di salah satu depan kios yang menjual pakaian di pinggir jalan.


"Hey tuan dan nona silahkan pilih bajunya ayo, murah-murah."


"Latifa-san silahkan pilih saja baju yang kamu suka."


"Ehh benarkah itu. Tapi aku tidak memiliki uang banyak." Jawabnya memasabg ekspresi murung.


"Tenang saja, kalau soal uang, aku akan membayari semua baju yang kamu beli." Dengan yakin aku beekata seperti itu kepada Latifa-san.


"Benarkah itu."


"Hmm." Jawabku sambil mengangguk.


Dia nampaknya senang dan mulai memilih-milih baju.


Selesa memilih beberapa baju yang ia suka, lalu aku membayarnya, memberikan beberapa koin perak kepada sabg penjual wanita itu.


"Terima kasih tuan." Jawab si penjual kepadaku.


"Sama-sama."


Setelah selesai kami bejalan kembali mencari toko peralatan senjata untuk membeli busur panah serta anak panahnya sekaligus untuk Latifa-san.


Akan tetapi setelah kami berkeliling di desa Asvestou, tidak ada sama sekali toko penjual senjata. Karena hari sudah mulai sore, Akhirnya kami memutuskan untuk mencari penginapan dan tempat makan di desa ini.


Tak jauh melangkah ada seorang gadis muda berumur kira-kura 14-15 tahunan berjalan kearahku.


"Permisi tuan apakah anda sedang mencari sebuah penginapan, jika iya penginapan kami murah loh."


"Ohh kebetulan sekali memang akuh sedang mencari penginapan."


"Baiklah kalau begitu ikuti saya tuan dan nona!"


Kami berdua pun di tunutun oleh gadis kecil itu menuju ke arah sebuah bangunan dengan plang bewarna kuning dengan tulisan yang tak kumengerti di atas pintu masuknya.


Kemudian kami masuk kedalam sana. Terlihat dalam bangunan itu seperti sebuah bar, akan tetapi suasana disana terlihat agak sepi.


"Ayah aku mendapatkan pelanggan yang menginap."


Ucap gadis muda sambil berlari ke arah pria kira-kira berumur 40-an, berkepala botak dan berbadan kekar yang sedang membersihkan gelas dengan kain lap putih di tangan nya.


"Yahh kerja bagus Belia. Selamat datang tuan dan nona di penginapan Dokuzi, perkenalkan namaku Leo Dozuki pemilik penginapan ini."


"Ahh salam kenal."


"Jadi anda ingin menginap berapa malam?"


"Aku hanya ingin menginap 1 malam saja dan memesan dua kamar yah. Untukku satu dan untuk temanku satu."


"Baiklah kalau begitu, biaya nya menjadi 2 koin perunggu."

__ADS_1


Kemudian aku mengambil uangku yang berada di kantong kecil yang menggantung di pinggang kananku dan membayar biaya penginapan.


"Baiklah kalau begitu aku akan antar tuan dan nona ke kamar kalian."


Ucap Belia terhadapku dan Latifa-san. Kemudian Belia mengantarku dan Latifa-san ke depan kamar kami masing-masing yang berada di lantai dua bangunan ini. Setelah itu aku dan Lafina pun masuk ke kamar kami masing-masing.


Setelah di dalam kamar khusus untuk diriku sendiri, terlihat ada sebuah kasur bewarna putih di atas ranjang kayu dengan sebuah bantal di pojok kanan yang menempel di dinding sebelah kamar. Cahaya lentera redup yang tergantung membuat kamar itu agak terang oleh cahayanya dan tidak ada yang lainnya.


Aku pun berbaring diatas kasur itu sambil melihat cahaya lentera yang redup membuatku mengantuk, akan tetapi karena rasa laparku tidak bisa ditahan.


Aku keluar dari kamar dan berjalan menuju depan pintu kamar Latifa-san kemudian mengetuknya.


"Latifa apakah kau ada di dalam?"


"Iyah, ada apa Kazura-san? Aku sedang ganti baju tunggu sebentar yah."


"Ayo kita makan sore aku sudah lapar nih. Memangnya kamu tidak lapar?"


"Sama aku juga lapar. Tubggu sebentar oke!"


Kemudian aku menunggu di luar pintu kamar Latifa-san yang mengganti pakaian, dan akhirnya tak lama dia keluar.


"Maaf menunggu lama."


Ucap Latifa-san sambil memutarkan badannya bergaya anggun dihadapanku. Ia memakai pakaian barunya yang baru ia beli tadi siang.


Drees panjang selutut bewarna hijau tua yang berenda dan juga dengan ikat pinggang yang ia pakai membuat penampilannya menjadi cantik dengan mukanya yang kecil dengan badannya yang montok. Sampai-sampai aku melongo memandangnya.


"Hey, hey Kazura-san jangan melamun gitu dong, beri aku tanggapanmu napa!"


Ucap Latifa-san sambil melambaikan tangannya di depan mukaku. Aku tersadar kembali bersamaan mengedipkan mataku. Dan setelah itu aku berkata padanya dengan nada yang grogi.


"Ahh ..., ka kamu cantik kok Latifa."


"Benarkah..., terima kasih Kazura-san. Yasudah kalau begitu mari kita makan malamnya !"


"Tapi kau tidak akan memakai jubah bertudung dulu, nanti kamu akan dipandang aneh loh oleh orang lain?"


"Ohh itu tidak akan apa-apa, biarlah orang mau melihat dan berkata apa. Ayo ahh cepat aku sudah lapar nih."


"Harusnya itu jawabanku kan." Dengan nada pelan aku berkata begitu.


Kemudian Latifa-san memegang tanganku dengan erat dan menarikku melangkah menuruni anak tangga, menuju ke lantai bawah untuk makan malam di bar.


Aku mencari tempat kosong untukku dan Latifa-san untuk tempat kami makan malam ini. Dan ada satu buah meja kosong di pojok ruangan dekat dengan jendela keluar, hingga akhirnya kami pun memilih untuk duduk disana.


Tak lama seorang pelayan wanita berambut cokelat pendek datang kepada kami dan menanyakan pesanan kami dengan lembut.


"Maaf tuan dan nona apakah anda ingin memesan sesuatu?"


Ucap si wanita itu sambil terus melihat kearah Latifa-san.


"Kami pesan makanan yang anda rekomendasikan saja."


"Baiklah kalau begitu tuan dan nona. Mohon tunggu sebentar yah."


Pelayan itu pun melangkah kembali. Tak seperti sesaat sebelumnya aku masuk kesini, saat ini terlihat cukup ramai dan suasanya juga terasa lebih hidup.


Terasa tatapan orang-orang disini menatapku dengan tajam. Mereka yang heran akan Latifa-san yang seorang ras Elf jarang sekali ke lingkungan manusia.


Namun Latifa-san mencuekkan pandangan mereka, kemudian Latifa-san menatap kearah ku.


"Jadi Kazura-san sebenarnya kamu mendapatkan quest tentang apa di Desa Moura?"


Latifa-san melaangkan pertanyaan begitu kepadaku.


"Aku mendapatkan quest untuk melindungi dan membantai habis Monster yang selalu menyerang Desa Moura."


"Memang moster seperti apa yang menyerang desa itu?"


Tanya dia kepadaku, karena penasaran akan quest yang aku jalani ini.


"Monster itu adalah goblin. Mereka telah meneror desa itu sudah lebih dari dua hari. Yahh walaupun tidak ada korban jiwa katanya, akan tetapi ternak-ternak warga desa Moura banyak yang dimangsa oleh para goblin."


"Dasar goblin mahluk rendahan, bagaimana bisa kamu mau menerima quest untuk membunuh mahluk menjijikan itu sih?"


Nampaknya dia sangat jijik akan goblin sampai-sampai bereaksi seperti melihat muntahan.


"Yah karena aku ingin saja, sambil mengisi waktu lenggang ku."

__ADS_1


Setelah aku berbicara begitu, tak lama makanan kami pun datang.


"Maaf menunggu lama, ini dia pesanan yang ku rekomendasikan."


Ucap si pelayan itu sambil menaruh makanan yang ia bawa satu per satu di atas meja. Setelah itu pelayan itu berbicara kembali.


"Ada ikan panggang, sup jagung yang di campur dengan brokoli, yakitori, roti tawar panjang dan salad."


"Wah terlihat enak semuanya. Terima kasih yah."


"Yahh sama-sama tuan."


"Ohh iya aku ingin memesan dua gelas bir besar yang agak kuat dan minuman lainnya oke."


"Baiklah kalau begitu."


Si pelayang itupun melangkah kembali, di samping itu air liurku seakan ingin menetes saat melihat makanan yang tersaji di meja terlihat sagat enak. Mata Latifa-san pun sama seperti ingin menerkam makanan itu semua dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Baiklah kalau begitu mari kita makan Latifa-san!"


"Okey Kazura, akupun sudah tak tahan menahan laparku ini."


Kami pun menyantap makanan itu dengan lahap sambil menghiraukan tatapan orang-orang di bar.


***


Tak lama kami telah selesai makan dan minuman keras yang kupesan sebelumnya akhirnya sudah datang di hadapanku. Aku mulai berminum-minum dengan Latifa-san, entah sudah berapa banyak yang telah kami habiskan.


Suasana di bar pun semakin lama semakin sepi, orang-orang yang makan dan minum di bar sudah mulai pulang ke tempatnya dan juga ada yang kembali ke kamar mereka yang mereka sewa, hingga pelanggan yang tersisa tinggal kami berdua saja.


Kulihat muka Latifa-san sudah mulai merah, matanya juga sudah terlihat berat serta bicaranya pun sudah mulai ngaco.


Aku menyuruh pelayan yang sedang mengobrol denga pemilik penginapan untuk mengantar Latifa-san ke kamarnya.


"Permisi nona bolehkah aku meminta tolong untuk mengantarkannya ke kamarnya?"


"Hmm baiklah tuan kalau begitu."


Ucapnya sambil melangkah menuju ke arahku, setelah itu dia membopong Latifa-san untuk ke kamarnya. Sementara itu aku melanjutkan kembali minum-minumku kemudian Dozuki-san mendekatiku.


"Bolehkah aku ikutan minum denganmu?"


"Ahh tentu saja boleh Dozuki-san."


Kemudian Dozuki-san duduk di bangku bekas Latifa-san tadi, lalu meletakkan gelas besar yang berisikan bir ia bawa di atas meja dan meletakkan kedua tangan juga di atas meja.


"Hmm Jadi anak muda, kamu sedang menempuh perjalanan menuju kemana?"


"Jangan panggil aku anak muda, panggil saja aku Kazura, Dozuki-san."


"Ahh baiklah Kazura-kun, sebernanya kamu menempuh perjalanan menuju kemana?"


"Itu sebenarnya aku sedang menjalankan quest ku menuju ke desa Moura."


"Ohh begitukah, ternyata kamu seorang petualang."


"Iya betul seperti itu, memangnya kenapa yah Dozuki-san?"


"Ahh tidak. Pantas saja kamu bertualang dengan seorang Elf. Karena jarang saja ada orang yang berjalan dengan Elf."


Ucapnya kemudian ia minumannya dengan santau. Lalu menaruh gelasnya kembali di atas meja.


"Ehhhh, memangnya Elf itu mahluk langka yah Dozuki-san."


"Yahh mereka jarang sekali menampakkan diri dekat manusia, karena mereka selalu hidup di huta besar Banyan."


"Jadi kamu tau dimana lokasi hutan besar Banyan yah Dozuki-san!"


Ucapku dengan agak terkejut akan ucapan Dozuki-san.


"Ahh aku tau letaknya, karena aku dulu mantan seorang petualang sama sepertimu."


"Bolehkah aku meminta lokasi hutan besar Banyan Dozuki-san?"


"Yah boleh saja, besok aku akan memberikan petanya kepadamu."


"Terima kasih Dozuki-san. Baiklah kalau begitu kita lanjutkan lagi saja minum-minum kita."


Lalu kami melanjutkan minum-minum kami sambil mengobrol terus malam itu. Hingga tak terasa sudah tengah malam. Aku berpamitan kepada Dozuki-san untuk beristirahat sambil membayar tagihan makan dan minuman ku sebesar 1 koin perak.

__ADS_1


Setelah itu aku berjalan menuju kamarku, semsampainya di kamar aku langsung meringkuk di atas kasur dan tertidur pulas.


(BERSAMBUNG)


__ADS_2