Boku Wa Betsu No Isekai De Umarekawarimashita ( Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Lain)

Boku Wa Betsu No Isekai De Umarekawarimashita ( Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Lain)
Menjalankan Quest Kedua


__ADS_3

Selepas sudah berada di luar bangunan guild. Aku berjalan ke arah selatan menuju ke tempat penginapan yang ditunjukkan dan disarankan oleh Neila. Ternyata tempat itu tidak jauh hanya terhalang oleh tiga rumah dari guild petualang.


Saat aku mendorong membuka pintu, suara lonceng kemudian terdengar cukup nyaring.


Saat aku sudah di dalam penginapan, aku langsung disambut oleh gadis imut berambut merah muda sebahu, memakai sebuah kaos maid bewarna hijau berenda putih. Suasa di dalam terlihat ramai oleh para petualang dan para penduduk lain yang sedang makan dan juga berminum-minum beer.


"Selamat datang tuan, jika anda ingin makan silahkan duduk di kursi yang kosong. Jika anda ingin menginap silahkan anda ke meja resepsionis yang berada di sebelah sana."


Begitu ucap pelayang sambil menunjukan sebuah meja resepsionis di ujung kanan ruangan, di bawah tangga. Setelah itu wanita pelayan itu berjalan kembali menyambut pelanggan yang berada di belakangku.


Tanpa bertanya lagi, aku melangkah menuju meja resepsionis, saat sampai di meja resepsionis, terlihat di balik meja resepsionis ada seorang wanita berumur sekitar 35 tahunan menurutku.


Namun jika kalian melihat parasnya wanita ini, ia seperti wanita yang masih berumur 25 tahunan, berambut merah muda panjang di'ikat ponytail, Berdada besar, dan juga berwajah dewasa yang anggun berbicara kepadaku.


"Selamat datang anak muda di penginapan kami. ada yang bisa ku bantu anak muda?" Begitu ucap wanita resepsionis memnuka percakapan pertama kali.


"Aku ingin menginap disini. Apakah masih ada kamar yang tersisa?"


"Kebetulan sekali, masih ada tersisa satu lagi kamar intuk di tinggali."


"Ohh begitu yah, syukurlah."


Aku bernafas lega, karena betapa sangat neruntungnya aku masih bisa menginap di penginapan ini danbtak perlu mencari-cari kembali penginapan lainnya.


"Baiklah jika anda ingin menginap disini selama 7 malam, kau akan di kenakan biayanya 9 koin perunggu, dan jika kau ingin dengan sarapan pagi biayanya menjadi 1 koin perak 3 koin perunggu,"


"Baiklah bi, aku ingin menginap dalam tujuh hari dengan sarapan,"


Tanpa ragu aku menjawab perkataan resepsionis dan langsung merogok kantung celanaku mengambil dua koin perak, setelah itu memberikan dua koin perak kepada petugas resepsionis.


"Baiklah kalau begitu ini kembalian serta kuncinya, dan kamarnya ada di sebelah atas, kau bisa menaiki tangga. Selamat menikmati. Dan satu hal lagi jangan panggil aku bi, panggil aku Mei-san oke." Ucapnya dengan kedipan sebelah mata untuk menggodaku.


Aku hanya bisa tertawa canggung tanpa membalas perkata'annya. Kemudian Mei-san memberikan uang kembalian milikku sejumlah 7 koin perunggu dan juga kunci kamar dengan gantungan kayu bertulisan nomor 210.


"Baiklah kalau begitu aku akan langsung ke atas untuk cepat-cepat beristirahan ka-, kakak Mei." Ucapku dengan senyuman canggung kembali.


"Ahh tunggu dulu anak muda. Namamu siapa?" Mei onee-san menanyakan namaku sambil mengangkat penanya dari aas kertas yang sedang dia isi dengan tulisan.


"Ohh iya aku lupa. Namaku adalah Kazura. Reizaki Kazura,"


"Reizaki Kazura. Hee nama yang sangat asing di kita seperti ini,"


"Baiklah kalau begitu maaf telah menggangu waktumu, silahkan beristirahat."


"Baiklah, selamat malam Mei-san,"


"Ohh selamat malam juga Kazura."


Setelah itu aku berjalan menaiki tangga, berniat bergegas untuk menuju ke tempat domana kamar yang sudah ku sewa, karena rasanya hari ini badanku sudah sangat lelah. Namun akh melupakan satu hal yang harus ku tanyakan kepada Mei-san.


Dengan terpaksa akupun berjalan kembali ke tempat dimana Mei-san berada.


"Ohh anak muda? Kenapa? Apakah ada masalah dengan kamarnya?"


Aku langsung melambaikan kedua tanganku yang ku angkat setengah dan berkata, "Ahhh bukan-bukan, aku bukan ingin komplain. Tapi aku hanya ingin bertanya,"


"Heee.... Jadi apa yang ongin kau tanyakan?"


"Anu... etto... apakah disini ada kamar mandi untuk mandi?"


"Ahh kalau untuk itu aku mohon maaf sekali. Disini kami tidak menyediakan tempat mandi. Namun jika kau ingin mandi, tak jauh jaraknya dari sini, ada sebuah pemandian air panas yang bernama Iremía."


"Ohh begitu yah. Yasudah kalau begitu terima kasih atas infonya Mei-san."


"Sama-sama."


Setelah itu aku berjalan menjauhi tempat resepsionis dan beejalan menaiki tangga untuk ke tempat dimana kamar yang ku sewa berada.


Sesampainya diatas, lebih tepatnya di lantai dua bangunan penginapan Péfko. Disini di koridor ini suasananya nampak sangat nyaman. Suasana yang jadul, serta cahaya yang menerangi lorong koridor dengan beberapa lampu-lampu lentera kecil tergantung diatas tengah ruangan lorong.


aku berjalan mencari kamar 210 kamar yang akan aku tempati, aku berjalan lurus di koridor sambil melihat satu per satu pintu kamar yang tertera tulisan nomor di depan pintu mereka.


Hingga akhirnya tepat di ujung lorong aku sampai di depan pintu kamar 210 di ujung ruangan itu dan setelah itu aku memasukkan kunci ke lubang kunci pintu yang tertutup itu dan membukanya.


Kubuka pintunya, terlihat kamar yang cukup luas lebih dari apartemenku yang dulu, cahaya bulan menembus kaca jendela kamar sehingga menyinarinkamar yang gelap tadinya ini.


Sebuah kasur sebelah kiri dekat jendela, ditambah sebuah meja dan kursi sedikit lebih jauh lagi. Itulah isi semua yang ada di dalam kamar.


Setelah itu aku masuk dan menutup pintu kamar secara perlahan. Kemudian aku membuka sepatuku serta kaus kakiku dan langsung berbaring diatas kasur karena terasa lelah hari yang kujalani.


Aku menatap atap kamarku, sambil membayangkan kembali kejadian setelah aku di reinkarnasi. Banyak kejadian yang membuatku seperti hal yang kualami saat ini bagaikan mimpi.

__ADS_1


Dimulai dari aku bisa menggunakan sihir, monster-monster seperti goblin yang nyata dan pemandangan yang indah bagaikan eropa zaman abad pertengahan.


Tak lama mataku semakin berat akan rasa kantuk yang tak bisa ku tahan lagi dan pada akhinya aku menutup mataku tertidur lelap.


***


Ke'esokan harinya disaat sang matahari sudah terbit dengan cahayanya menembus jendela kaca kamarku. Aku perlahan membuka mataku dan terdiam untuk beberapa menit, melihat ke arah atap penginapan.


Hingga beberapa menit kemudian aku langsung membangkitkan badanku dari kasurku sambil menggisik-gisikan mataku.


"Ahh sial cahaya matahari nya sangat silau sekali." Keluhan batinku kepada cahaya matahari yang menyorot tepat ke wajahku, hingga membuat pandanganku silau.


Setelah itu aku memakai kembali sepatuku, lalu turun ke lantai bawah untuk sarapan. Sampai aku dibawah keadaannya terlihat sepi.


"Ohh tuan ternyata anda sudah bangun, apakah anda ingin sarapan?" Pelayan gadis muda yang menyapaku semalam berkata padaku.


"Iya aku ingin sarapan." Jawabku sambil menarik kursi yabg ada di depanku.


"Baiklah tunggu sebentar tuan, sarapan akan segera dihidangkan."


Begitu sang gadis pelayan itu berkata padaku sambil membalikkan badannya berjalan menuju ke dapur, sementara aku langsung duduk di kursi makan.


Tak berselang lebih dari sepuluh menit, pelayan gadis itu membawa beberapa hidangan diatas nampan yang dia bawa dengan sangat santai bisa di perkirakan bahwa dirinya sudah terlatih.


"Maaf telah membuat anda menunggu. Ini adalah menu andalan kami." Dengan riang serta senyuman lembut dia berkata begitu kepadaku sebari menaruh nampan yang berisikan makanan di aas meja.


Satu per satu makanan dia ambil dari nampan itu dan menaruhnya di atas meja dan hidangan sarapan pagi selesai disiapkan diatas mejaku.


Sarapan aku ini menurutku terbilang cukup mewah. Bagaiaman tidak mewah, di atas meja ada sepiring bistik domba, satu keranjang kecil yang berisikan 3 potong roti tawar berbentuk bulat, sebuah sup kaldu dan segelas susu asli hangat yang dicampur dengan madu.


"Silahkan menikmati sarapanmu."


"Baiklah. Terima kasih."


"Sama-sama."


Gadis pelayan itu berjalan menghampiri ke meja lainnya yang baru terisi oleh beberapa orang yang baru datang.


Kemudian tanpa ungkan aku memulai sarapan pagiku. Untuk yang pertama aku mencoba hidangan bistik kambing yang dari tampilannya juga sudah sangat menggiurkan, saat ku masukkan satu potong daging ke dalam mulutku dan ku kunyah daging kambingnya empuk dan bumbunya terasa sekali saat pertama gigitan.


Kemudian aku mencoba sup kaldu yang kental namun ringan rasanya dengan roti lembut. Membuat nafsu makanku menjadi meningkat, aku melahap satu persatu hingga akhirnya selesai tanpa tersisa.


Lalu aku minum susu madunya terasa ringan dimulut hingga membuat stamina dalam tubuhku menjadi segar. Setelah selesai semuanya aku langsung beranjak dari sana, menuju ke guild untuk mengetahui jawaban tentang harga hewan iblis serigala hitam kemarin.


***


"Ohh Kazura-san akhirna kau datang juga. Bisakah kau kesini."


Ketika di panggil seperti itu, spontan para petualang yang berkumpul disana seketika menaruh perhatiannya kepadaku dengan tatapan tajam. Namun aku mencuekkan tatapan mereka dan dengan santai menghampiri Neila-san.


"Ada apa Neila-san?" Tanyaku bersmaan dengan aku yang menarik kursi, duduk di bangku kosong yang tersedia di depan meja counter guild.


"Etto..., begin. Ini tentang Hewan iblis Black Wolf yang kau jual semalam."


"Ohh tentang itu. Jadi gimana."


"Tentang itu aku sudah diskusikan dengan guild master, dan sekarang aku ingin memberikamu uang hasil penjualan Black Wolf kemarin, ini adalah jumlahnya semuanya 1 lembar platinum, 2 koin emas dan 5 perak," Sambil menyodorkan baki dengan uang yang ditaruh diatasnya.


Namun saat itu aku tak bergegas mengambil uang itu dan bertanya, "emmm... begitu yah. Etto Neila-san, kalau boleh tau 1 platimun ini kira-kira berapa jumlahnya yah?"


"Di negeri ini ada terdapat 5 kategori uang yaitu diantaranya platinum yang berbentuk lembaran serta 4 buah bentuk mata uang berbentuk koin. Mata uang koin yaitu emas, perak, perunggu serta tembaga. Sebagai contoh jika kamu memiliki 1 lembar mata uang platinum itu sama dengan 10 koin emas, kemudian jika kamu mempunya 1 koin emas itu jumlahnya sama dengan 10 koin perak hingga seterunya,"


"Ohh begitukah, jadi uang platinum ini jika dijadikan uang perunggu menjadi seribu perunggu,"


"Iya begitu Kazura-san."


Setelah mendapatkan penjelasan yang tinci dari Neila-san, aku langsung mengambil uang yang ada di atas baki dan memasukkannya ke kantong celanaku.


Namun aku tak lupa akan Neila yang sudah membantuku. Sebagai ucapan terima kasih, akupun menyodorkan satu koin perak kepada Neila.


Nampaknya sikap itu membuatnya bingung. Dia memirinhkan kepalanya dan berkata, "Maksudnya apa ini Kazura-san?"


"Ahh..., etto.... Ini sebagai ucapan terima kasihku, karena Neila-san telah membantuku."


Setelah mengerti akan artian aku ingin memberikan satu koin perak kepada dia, dia seketika melambaikan kedua tangannya, bisa dikatakan dia menolak pemberianku.


"Ahhh..., tidak, tidak, tidak. Kau tidak perlu memberiku ini, karena ini sudah menjadi tugasku sebagai resepsionis guild."


"Tapi-."


Sebelum aku menyelesaikan perkataanku, dia menyodorkan kembali satu koin perak itu kepadaku dan berkata, "Tidak perlu, susah kau amnil saja kembali, Kazuran."

__ADS_1


hingga akhirnya aku dengan sungkan mengambil dan memasukkan kembali uangnya ke dalam kantung celanaku.


"Ohh iya Neila-san, apakah ada misi untukku lagi?"


"Ohh kalau Kazura-san untuk Quest tingkat F tidak ada, akan tetapi kalau untuk tingkat E ada yaitu membasmi goblin di desa Moura." Ucap Neila sambil mengasihkan selembar kertas Quest.


"Hemmm begitu yah." Aku memikirkan beberapa alasan, apakah aku bisa mengambil Quest tingkat E ini. Neila-san yang memperhatikanku memiringkan kepalanya san berkata, "Ada apa Kazura?"


"Ahh tidak. Tapi apakah aku boleh mengambil quest tingkat E ini?"


"Ehhh!!"


Ucapan dari kulutna nampak leluar dengan spontan bersamaan dengan Nampaknya raut wajah Neila-san terkejut akan perkataanku.


"Ada apa Neila-san? Kenapa kau nampak seperti terkejut seperti itu?"


Aku bertana kepadanua seperti itu, karena merasakan keanehan dari ekspresi keterkejutannya itu.


"Qhh tidak apa-apa. Tapi apakah kau yakin ingin mengambil Quest ini?"


Tanyanya seakan tidak percaya akan perkataanku. Aku mengangguk dua kali mengiyakan perkataannya dan menjawabnya, "Iya benar. Memangnya ada yang salah Neila-san."


"A-Ahh tidak apa-apa. Aku hanya sedikit terkejut karena jarang sekali ada petualang yang mau menerima misi di atas tingkatannya yah walaupun sebenarnya guild tidak melarang sih kau menerima quest satu tingkatan di atas atau di bawah satu peringkatmu."


"Heee..., aku baru tahu itu." Aku mulai memikirkan kembali apakah aku akan mengambil quest ini atau tidak. Akan tetapi di keadaan seperti ini, aku ingin sekali mengasah kemampuanku, walaupun itu misi yang cukup sulit untukku.


Melihat aku yang sedang berpikir, Neila-san sedikit tersenyum. Namun aku bingung akan dirinya yang kenapa tiba-tiba tersenyum, akan tetapi aku tak berani menanyakannya.


"Baiklah kalau begitu Neila-san, aku sudah membulatkan keputusanku. Aku akan mengabil Quest ini."


"Benarkah itu?"


"Hmm."


"Baiklah jika itu keputusanmu."


Neila-san menyerahkan lembaran quest tingkat E itu kepadaku, aku mengambil kemudian melipat kertanya dengan rapi dan menaruhnya di kantung bajuku.


"Tetapi siapa sebenarnya kamu ini Kazura. Baru saja sehari kau menjadi petualang sudah membuatku terkagum akan tingkahmu itu."


"Ehh!" Aku terkejut akan serangan pujian Neila-san yang tiba-tiba.


"Kau tahu, jika kau seorag pemula menjadi petualang, kau tidak mungkin bisa mengalahkan Hewan Iblis Black Wolf sendirian. Jadi siapakah kamu sebenarnya Kazura? Atau mungkin kau adalah seorang reinkarnasi pahlawa dari dunia lain."


Entah kenapa saat Neila-san melontarkan pertanyaan itu, aku jadi terkejut dan menjadi gugup, bukan karena senang, akan tetapi aku sedikit bingung akan bagaimana caranya menjawab bahwa sebenarnya aku bukan dari dunia ini dan mendapatkan berkah dari seorang dewi.


Hingga akhirnya aku memutuskan mengambil kesimpulannya dengan hati-hati, yaitu dengan cara kabur dari situasi saat ini.


"A-Ahhh...! Neila-san! Karena sudah menerima quest ini. A-aku akan berangkat sekarang."


Aku langsung membalikkan badanku dan mulai berjalan bergegas keluar dari bangunan guild ini.


"Ehh jadi kau tidak ingin menjawabnya ya KA-ZU-RA." Suara samar-samar dirina terdengar saat aku beberapa langkah meninggalkan meja resepsionis.


Akan tetapi langkahku tertahan karena teringat sesuatu hal yang penting. Aku berjalan kembali ke meja resepsionis. Neila-san yang tersenyum raut wajah berubah menjadi agak bingung karena kedatanganku kembali.


"Apakah ada yang salah Kazura-san. Atau kau akan menjawab pertanyaanku yang baru saja kau hindari."


Aku menggelengkan kedua kepalaku degan cepat, menyanggah perkataanya, setelah itu aku berkata,


"Tidak-tidak. Ini sesuatu yang penting ingin aku tanyakan kepadamu Neila-san,"


"Hee begitu. Jadi apa?"


"Begini..., aku ingin bertanya. Kalau tempat untuk membeli peta wilayah dimana yah?"


"Ahh itu. Kalau untuk peta wilayah Kerajaan ini kami membagikannya secara gratis. Apakah kau mau Kazura-san?!" Jawabnya sambil tersenyum lembut dan menepukkan kedua tangannya.


"Yah aku mau Neila-san. Karena aku orang baru disini jadi aku belum tau soal wilayah daerah Kerajaan ini."


"Baiklah tunggu sebentar, aku akan mengambilnya dulu."


Kemudian Neila mengambil peta yang berada di laci mejanya.


"Ini dia, silahkan." Neila-san sambil menyerahkan satu kertas yang membentuk gulungan berwarna agak cokelat muda yaitu sebuah peta.


"Terima kasih Neila-san, kalau begitu aku permisi."


"Sama-sama. Hati-hati yah."


"Hmmm... "

__ADS_1


Kemudian aku berjalan keluar bangunan guild untuk menjalankan Quest kedua ku.


(BERSAMBUNG)


__ADS_2