
Keesokan harinya seperti yang dijanjikan Christie mengendarai kereta kuda dan sekarang sudah berhenti tepat di depan sebuah gua pintu masuk dungeon.
Gua batu pintu masuk ke dalam dungeon ini ini memiliki lubang yang cukup besar serta memiliki tinggi sekitar lima meteran.
Kami bertiga pun akhirnya turun dari kereta kuda dan mulai menyipkan perlengkapan tempur kami serta barang-barang seperti posion, obor, air minum, makanan serta barang kebutuhan lainnya yang kami butuhkan untuk masuk menjelajahi dungeon ini.
Seperti biasa aku memakai jubah hitam milikku sebelumnya serta katana yang ku sanggulkan di pinggir pinggang sebelah kananku.
Melihat ke arah Latifa, dia sudah sangat siap sedang memegangi busurnya serta satu kantung anak panah yang dia gendong di punggungnya.
Disisi lain, Christie sudah siap bersedia juga dengan armor dan pedang besarnya dan saat ini tengah mengikat tali kuda di sebuah pohon.
"Kazura sebelum kita masuk menjelajah dungeon, kita harus mendaftar dulu ke penjaga yang ada disana."
Christie merujuk ke arah sebuah bangunan kecil yang terbuat dari kayu tak jauh jaraknya di sebelah kanan dari pintu masuk dungeon.
"Baiklah aku akan kesana."
Aku berjalan sendiri menuju ke arah bangunan kecil itu. Aku tepat sudah tepat di depan pintu dan mengetuknya sebanyak dua kali lalu membuka pintunya dan berjalan masuk.
"Silahkan masuk."
Saat aku masuk ke dalam sana, terlihat didalam sana begitu sederhana, ada dua buah rak buku setinggi satu setengah meter yang berisikan buku-buku tersusun rapi, kemudian beberapa gentong dan ada satu orang berpakaian rapi sedang duduk di meja kerja sederhana dan banyak sekali tumpukkan kertas diatas mejanya dan saat ini dia sedang tertunduk sambil menggerak-gerakan tangannya, menulis sesuatu diatas kertas.
"Permisi tuan, aku seorang petualang ingin meminta izin untuk memasuki dungeon."
Dia menghentikan tanganya yang sedang menulis. Dia menyisikan kertas itu dan menaruh pena yang terbuat dari bulu burung merpati di atas botol tinta.
"Ohh seorang petualangkah. Silahkan duduk."
Sambil melihat diriku, di mempersilahkan dusuk di bangku yang kosong yang tepat ada di depannya.
Tanpa sungkan aku berjalan dan duduk di kursi itu.
"Kalau begitu bisakah saya melihat kartu petualang anda."
"Baiklah."
Aku mengambil kartu petualangku yang berada di balik bajuku dan menyerahkannya. Dia mengambilnya dan mulai melihat kartu petualangku.
"Hmm... mmm... baiklah. Nama anda Reizaki Kazura-san kan?"
"Yah benar sekali."
"Heee... nama yang cukup unik dan asing di dengar yah."
Aku hanya melemparkan senyuman kecut akan tanggapannya yang menanggapi tentang namaku.
Sambil memegangi kartu petualangku, dia kemudian melihat kearah kirinya mengabil secarik kerta kosong dan menaruhnya tepat di depannya dan mencelupkan bulu burung yang dia taruh di atas botol tinta itu dan mencelupkan ujung bawah bulu.
Dia menulis satu per satu huruf yang tertera di dalam kartu petualangku di secarik kertas itu. Lalu nampak dia mengekspresikan wajah terkejut saat melihat peringkat petualangku.
"Oya ... ternyata anda petualang peringkat B kah. Kau tampak sukses tuan masih muda sudah memiliki peringkat yang cukup tinggi."
Dia berkata begitu kepadaku, melontarkan kata pujian akan peringkat petualangku. Aku tersenyum kecil, senang akan pujiannya.
__ADS_1
"Terima kasih tuan."
Setelah itu percakapan pun terputus kembali dan keheningan pun terjadi kembali yang terdenar hanyalah suara goresan pena bulu diatas kertas yang sedang kerjakan saat ini.
"Baiklah, apakah anda akan masuk menjelajah dungeon sendirian atau sebagai tim?"
"Aku akan masuk dengan anggotaku yang berjumlah dua orang."
"Hemme.. hemme..."
Sambil mengangguk pelan sambil terus menulis di dalam kertas. Aku tak tahu apa yang dia tulis, namun satu hal yang aku pasti dia sedang menulis tentangku untuk laporan-laporan kegiatan dungeon ini.
"Baiklah sudah selesai."
Dia menyerahkan kartu petualangku kembali, aku mengambilnya dengan sopan dan memasukkannya kembali ke balik saku bajuku.
Sreek~
Suara gesekan pelan terdengar saat dia membuka sebuah laci meja kerjanya, dia memasukkan tanganna ke dalam situ entah apa yang ingin dia ambil.
Sebuah token berwarna kuning keemasan dengan sebuah ukiran garis-garis serta tepat di tengahnya ada sebuah bulatan seperti bentuk kelereng berwarna hijau cukup gelap pun dia taruh tepat di atas meja di depanku sebelum menutup laci mejanya kembali.
"Ini adalah token perizinan untuk masuk ke dalam dungeon dan anda akan dikenakan biaya sebesar tiga koin emas sebagai pajak memasuki dungeon ini."
Aku baru tahu ternyata ada sebuah dungeon yang harus dimasuki dengan membayar. Tapi entah alasannya akupun tak tahu, tapi yang bisa aku lakukan hidup disini adalah mematuhi apa yang sudah di terapkan peraturan disini.
Aku merogok kantung uangku dan menyerahkan tiga koin emas sebagai pembayaran izin masuk ke dalam dungeon dan mengambil ketiga tolen yang ada di atas meja.
"Terima kasih."
Sambil berdiri dari kursi aku mengucapkan itu dan berjalan pergi dari sana.
Ucapannya menghentikanku yang baru saja berjalan beberapa langkah, aku berbalik kembali melihat ke arahnya.
"Ini adalah peta masuk ke dalam dungeon."
Dia menyodorkan sebuah kertas peta dungeon yang digulung. Aki tidak bisa menolak apa yang diberikannya padaku, karena peta adalah suatu hal uang cukup penting untukku agar dapat mengetahui jalan yang ada di dalam dungeon ini.
Akuoun mengambilnya dan berkata, "Terima kasih."
"Yah sama-sam tuan."
Aku memasukkan peta dungeon ke sebuah tas selempang yang kubawa dan melanjukat langkahku keluar bangunan ini.
Sesampainya sudah diluar bangunan itu, aku berdiri terdiam sesaat, terlihat olehku Latifa serta Christie sedang dimerumuni oleh lima orang pria, dari pakaian mereka aku bisa menebak bahwa mereka pun pasti seorang petualang, akan tetapi wajah mereka nampak asing bagiku.
Tapi nampkanya Latifa serta Christie yang dikerumuni itu menekuk wajah merasa tidak senang.
"Hei ayolah gadis-gadis cantik untuk apa kalian menunggu disini, lebih baik kita bersenang-senang di dalam sana, hehehe."
Seorang pria terdengar olehku berkata begitu kepada Latifa dan Christie dengan diakhiri tawa yang menjijikan terdengar olehku.
Aku melanjutkan langkahku dan berjalan mendekati mereka.
"Maaf mrmbuat kalian menunggu lama Latifa , Christie."
__ADS_1
Aku menyapa mereka berdua, namun sapaanku itu membuat kelima orang pria itu melihat kearahku juga.
"Kazura."
Latifa dan Christie menyebutkan namaku, raut wajah mereka yang tadinya ditekuk tidak senang pun seketika berubah menjadi senang akan kehadiranku itu.
Latifa dan Christie berjalan menerobos kelima orang iti berjalan mendekat kepadaku.
Namum beda dari Latifa dan Christie, kelima orang itu menunjukkan raut wajah kesal atas kehadiranku dan menatapku dengan tajam, tapi aku menghiraukan pandangan mereka.
"Cih sialan datang seorag pengganggu kecil!"
Salah seorang dari pria itu yang berbadan kecil namun tinggi memakai kain penutup kepala seperti seorang bajak laut pun meludah dan mengeluh kesal sebelum pergi meninggalkan kami bertiga.
Namun aku bisa memastikan dari tampang mereka, mereka pasti adalah orang-orang bajingan.
"Kazura kau lama!"
Kekuhan pertama kali dilemparkan oleh Christie kepadaku.
Aku tersenyum canggung dan menggaruk pelan belakang kepalaku.
"Maafkan aku Christie, aku tak tahu bahwa akan memakan waktu lama untuk masuk kedalam dungeon ini."
"Hmp."
Christie melipatkan kedua tangannya sambil memalingkan kepalanya ke arah lain dan memasang sikap merajuk.
Tawa canggung aku tunjukkan kembali atas sikap Christie itu, kemudian aku melihat kearah Latifa.
"Ohh iya Latifa, ini aku berikan."
Aku memberikan salah satu token yang ku pegang kepadanya. Tampaknya dia kurang paham akan hal ini, dia memiringkan kepalanya namun dia mengambil satu token yang kusodorkan kepadanya.
"Token apa ini Kazura."
"Ahh token itu nee Latifa. Itu adalah token izin untuk masuk kedalam dungeon ini. Karena dungeon ini diurus oleh kerajaan, kita wajib membayar pajak masuk ke dalam sana dan token itu adalah izin masuknya."
"Ehh begitu yah."
"Ohh iya Latifa, Christie apa kalian kenal dengan petualang yang tadi mengkerubuni kalian?"
Aku melayangkan pertanyaan kepada mereka berdua.
"Kalau aku pastinya tidak tahu Kazura." Dengan tenang Latifa membalas pertanyaanku.
"Aku juga tidak mengenalnya. Mungkin mereka dari Kota sebelah."
"...ehh begituyah."
Lalu aku teringat.
"Christie ini dia token milikmu."
Aku menyerahkan roken itu ke Christie. Christie mengambilnya dari tanganku.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu mari kita berangkat berjelajah."
Kami bertiga pun memulai masuk ke dalam dungeon.