
Malam ini. Repat dimana di dunia yang baru saja aku datangi dan juga dimana tempat aku akan hidup, terlihat bulan berbetuk bulat dengan cahaya bulan terpancar begitu terang benderang tergantung di atas langit tanpa terhalangnya awan.
Aku memandangi nya di barengi akan pikiranku yang masih tidak percaya bahwa aku sudah mati dan dihidupkan kembali di dunia lain ini. Setelah beberapa menit aku memandang bulan, aku pun melihat ke tanah yang kupijak, di tanah terlihat ada bekas tapak kuda serta tapak roda yang ku kira itu pasti adalah tapak bekas kereta kuda.
Aku berjalan, menyusuri bekas tapak roda kereta kuda yang melintas itu. Di perjalananku, suara burung hantu terdengar keras menyeramkan dan angin malam yang dingin menemani langkahku.
Akan tetapi itu tak menurunkan mental diriku, karena untungnya aku sudah sangat berpengalaman dalam menjalani keadaan seperti ini akibat pengalamanku.
Karena saat aku hidup di duniaku sebelumnya, aku sering mengikuti perkemahan dengan koleganku di kantor dan juga pelatihan wajib militer saat aku muda dulu di tempat kelahiran ayahku.
Saat aku asyiknya melangkah berpetualang malam. Tiba-tiba disebelah kanan yang agak jauh dariku terdengar suara gerakan di balik semak-semak.
Dengan sikap waspada aku melirik ke arah semak-semak itu. Jantungku mulai berdetak kencang karena aku takut jika itu adalah monster buas seperti yang ada di game-game yang ku mainkan.
Aku seketika mulai meningkatkan kewaspadaanku, karena takut akan sesuatu yang ada di balik semak-semak itu menyerang secara tiba-tiba.
Detak antungku yang adinya biasa pun mulai meningkat. Semakin lama aku fokus mendengarkan suara gemerisik semak belukar itu, suara yang ditimbulkan malah semakin kencang.
Hingga kemudian secara tiba-tiba, muncullah seekor kelinci gunung dengan matanya yang bewarna merah bagaiakan darah melompat ke arahku.
Dengan kewaspadaanku yang berada di tahapan puncaknya, akupun secara reflesk langsung mengibaskan tangan kananku ke arah dalam menyerang kelinci itu sambil berteriak mencoba kata-kata Sihir dan juga membayangkan sihir yang pernah ku mainkan di sebuah game.
"Wind Cutter!" Tegasku dan munculah tekanan angin tajam bercahaya hijau berbentuk bulan sabit keluar dari tanganku mengarah tepat ke kelinci itu. Dan seketika kelinci itu kepalanya tersayat oleh serangan sihir anginku yang setajam pedang, sampai kemudian tergeletak di atas tanah dan mati karena kehabisa darah.
"Ahh aku sangatvkaget bukan kepalang. Aku kira yang akan muncul itu tadi adalah seekor hewan buas. Namun ternyata hanya seekor kelinci saja kah."
Aku kemudian menghela nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan sambil menempelkan tangan kananku di dada, mencoba menenangkan kembali diriku ini.
Setelah cukup merasa tenang, aku berjalan, mengambil kelinci yang terpenggal oleh sihir anginku untuk makan malamku.
"Maafkan aku yah kelinci karena sudah membunuhmu. Namun bagaimana ini? Aku harus menyimpan dimana kelinci buruanku ini yah."
Aku berpikir, mencoba mengingat-ingat akan game yang ia mainkan. Setelah beberapa menit kemudian, aku teringat bahwa di dalam game juga pasti akan ada ruang penyimpanan, "ahh baiklah akan kucoba yang ini 'Storage Room'."
Tiba-tiba munculah lubang berwarna hitam tepat di samping kanan ku, kemudian aku masukkan kelinci mati itu ke dalam lubang hitamnya.
Setelah ku memasukkan kelinci mati itu munculah sebuah layar kembali di hadapanku. Namun layar iru berbeda dari yang sebelumnya. Di layar itu terlihat banyak sekali kotak-kotak kecil kosong dan di samping atas kiri ada satu yang terisi, yaitu kelinci yang kubunuh barusan. Kemudian aku menggeser layar itu dengan tanganku ke arah kanan dan layar itu pun menghilang.
"Hmm... jadi begitu caranya yah." Gumamku sambil memegang dagu.
__ADS_1
Setelah mulai memahami akan kerja layar kerja penyimpanan dan layar statusku, aku berjalan kembali mencari tempat peristirahatan yang nyaman bersamaan dengan mencari ranting kayu untuk memasak kelinci yang kudapatkan.
***
Di perjalananku mencari tempat untuk beristirahat, akupun sekalian memungut beberapa batang dan ranting kayu kering yang tergeletak di pinggir jalan.
Hingga tak terasa ranting serta batang kayu yang ku pungut telah terkumpul banyak. Karena sudah merasa cukup, aku memasukkan ranting kayu itu ke 'Storage Room.'
Dan tak lama aku berjalan, aku menemukan tempat untuk ber'istirahat. Tempat beristirahat ku adalah di sebuah tempat di bawah pohon beringin yang besar nan rindang daunnya dan juga ada sebuah danau di belakang pohon beringin besarnya.
Sebelum aku memutuskan untuk beristirahat, aku berjalan ke danau dulu untuk membersihkan kelinci itu dengan sebuah batu yang tajam kubuat sewaktu di perjalanan. Setelah selesai membersihkan kelincinya, aku melangkah kembali kebawah pohon beringin.
Lalu aku mengeluarkan ranting serta batang kayu kering yang ku taruh di 'Storage Room' ku, kemudian aku menyusun ranting-ranting dan kemudian ia membuat api unggun secara tradisional.
Beberapa menit usahaku untuk menyalakan api unggun pun akhirnya terbayar. Api dengan perlahan mulai membesar, membakar batang dan ranting pohon. Setelah itu, aku mulai menaruh kelinci yang sudah ku bersihkan sebelumnya di atas bara api bisadikatakan aku sedang memanggangnya saat ini.
Tak lama aroma yang keluar dari daging kelinci gunung yang dibakar menggugah rasa laparku. Aku mengangkat daging kelinci bakarnya mencoba mengecek kondisi daging apakah sudah matang atau belum. Aku mencubit sedikit daging kelinci. Kurasakan tekstur lembut saat ku cubit daging kelinci itu menandakan bahwa si daging kelinci sudah matang. Dari api unggun dan langsung melahapnya selagi panas-panas.
Terasa seperti daging ayam setelah aku memakannya, tekstur daging yang agak kenyal yah walaupun sedikit ada bau amis, namun sedikit bau amis itu tak bisa membuatku berhentikarena rasa laparki yang sudah stadium 4. Aku terus mengunyah dan mengunyah sampai tak terasa sudah habis hanya menyisakan tulangnya saja.
"Eeeeuuu...!" Suara sendawa yang ku keluarkan dari mulutku karena rasa laparku sudah terpenuhi menjadi rasa kenyang.
***
Tak terasa Bulan sudah digantikan oleh terangnya Matahari pagi yang bersinar terang. kicauan burung terdengar sangat ramai diatas pohon sampai membangunkanku dari tidurku yang nyenyak.
Aku menguap bersamaan melentingkan badan dan mengangkat kedua tanganku tinggi-tinggi.
Aku kemudian berdiri dan berjalan menuju pinggir danau untuk membasuh mukaku yang masih setengah sadar.
Terasa segar air danau di tengah hutan yang ku pakai untum membasuh wajahku ini dan saking segarnya membuat air itu dapat bisa diminum.
Setelah membasuh mukaku, dan membersihkan sisa menginapku semalam, aku langsung melanjutkan kembali perjalanan untuk dapat mencapai kota terdekat di dunia ini.
***
Satu jam aku telah berjalan. Namun tujuan yang ku harapkan yaitu kota terdekat masih belum sampai juga. Wajahku sudah terasa panas bisa dibayangkan olehku sendiri saat ini pasti wajahku sedang memerah akibat panas .atahari siang ini dan badanku sudah mulai terasa lengket karena keringatku mengalir deras menempel di pakaian kantorku. Karena tak kuat akan cuaca panas, aku akhirnya membuang jas dan dasiku agar dapat mengurangi rasa panas yang kurasakan saat ini.
"...long..., Tolong..." Teriak suara wanita yang meminta tolong keras terdengar jauh di arah sebelah baratku.
__ADS_1
Namun untuk pertama aku menghiraukan teriakan wanita itu, karena ku anggap suara itu mungkin hanya halusinasiku.
"Tolong...!! Tolong...!!" Suara teriakan seorang wanita terdengar kembali, sekarang nampak sedikit lebih keras dan lebih jelas dari sebelumnya.
Aku secara spontan langsung berlari dengan cepat menuju arah teriakan wanita itu. Semakin aku mendekat ke arah suara itu berasal, semakin keras pula suara teriakan itu.
Hingga sampailah aku di depan gua dimana sumber suara itu berasal. Tanpa banyak berpikir, aku langsung masuk ke dalam gua. Namun karena keadaan dalam gua yang tampak sangat gelap, akupun susah sekali untuk melihat jalan di gua ini.
"Bagaiamana ini? Kalau begini caranya aku tidak bisa cepat-cepat menyelamatkan wanuta yang berteriak minta tolong itu." Gumamku sendiri.
Aku diam untuk sesaat dan memutar otakku, agar bagaiamana caranya dapat melangkah cepat di guabyang gelap ini. Dan muncullah satu buah ide dalam pikiranku.
"Sial kenapa tidak terpikir sebelumnya olehku, aku tinggal memakai sihirku saja untuk mencoba menerangi gua ini."
Aku langsung merentangkan tangan kananku ke arah depan dan mencoba membayangkan sebuah api ada di tanganku dan berkata,"'Fire.'"
Muncullah api besar berkobar keluar dari telapak tanganku, membuatku kaget dan panik.
"Ahhh sial... gawat, gawattt... bagaimana caranya aku mematikan api besar ini!" Ketusku yang salah tingkah dan aku langsung mengepalkan tangan kanan ku yang mengeluarkan api dan api yang keluar itupun seketika padam.
"Fyuuuhh... akhirnya padam juga api nya." Akupun bernafas lega karena apinya bisa padam. Kemudian aku membuka kembali telapak tanganku dan membayangkan sebuah api kecil menyala di tanganku dan berkata "'Fire.'"
Dan munculah api kecil seperti nyala sebuah obor, kemudian setelah berhasil aku berjalan tanpa adanya halangan kegelapan di pandanganku.
Tak lama suara wanita yang meminta tolong itu terdengar kembali. Suara minta tolongnya semakin keras sampai bergema di dalam gua. Aku melangkahkan kakiku lebih cepat, karena takut aku tidak sempat menyelamatkan hidupnya.
Hingga akhirnya terlihatlah tiga monster berbadan tegap, berkulit hijau, bertelinga runcing, serta wajahnya yang seram dan mengerikan.
Mereka monster di dalam game yang biasa disebut dengan nama Goblin. Goblin itu sedang mengepung seorang gadis yang berteriak meminta tolong di pojok gua.
Tanpa pikir panjang aku mengeluarkan Sihir"'Wind Cutter.'" ke arah kepala tiga Goblin itu dan sihirku berhasil memenggal kepala goblin-goblin itu hingga tergeletak di tanah.
Darah yang keluar dari tubuh para goblin melumuri tubuhku dengan gadis itu. Karena kaget gadis itu langsung terduduk lemas tak bisa berkata apa-apa.
"Ahhh akhirnya aku selamat." Ucap dalam pikiran wanita yang ku selamatkan.
Tak lama muncul kembali puluhan goblin dari lubang-lubang kecil yang ada di sekitar. Melihat situasi aku terkepung, akupun menggunakan Sihir api ku dan membakar semua goblin yang mengepungku sampai mereka semua mati terpanggang.
(BERSAMBUNG)
__ADS_1