Boku Wa Betsu No Isekai De Umarekawarimashita ( Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Lain)

Boku Wa Betsu No Isekai De Umarekawarimashita ( Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Lain)
21. Bertemu dengan penguasa Kota Elato


__ADS_3

Keesokan paginya kami telah berpakaian rapi dan sudah bersiap-siap untuk berangkat ke hujan besar Banyan. Dan saat ini kami telah berada di lantai dasar penginapan ini yang dijadikan bar dan saat ini juga kami telah duduk di salah satu meja makan yang kosong.


Disana atau lebih tepatnya di belakang meja konter terlihat Mei-san beserta anaknya tengah mengelap dan merapihkan barang-barang.


Kemudian tak lama aku mengangkat tanganku.


"Mei-san aku ingin memesan makanan sesuatu yang enak untuk sarapan pagi ini."


"Baiklah, tunggu sebentar."


Balas Mei-san atas perkataanku.


Selah sekitar sepuluh menit berlalu, anak Mei-san telah datang membawa dua set makanan sarapan pagi diatas baki yang dia pegang erat dengan kedua tangannya untukku dengan Latifa.


"Maaf menunggu lama. Inilah pesanan spesial sarapan paginya."


Begitu ucap anaknya Mei-san sambil meletakkan baki diatas meja, kemudian menghidangkan dua set makanan untukku dan Latifa.


Setiap setnya sarapan pahi ini berisikan dengan satu mangkuk sup daging sayuran dengan kuah bening, kemudian ada satu keranjang kecil yang berisikan dua roti ukuran sedang, lalu satu gelas besar susu segar hangat dan yang terakhir ada sebuah tumis daging dengan sayuran pula.


"Silahkan dinikmati."


"Terima kasih emm etto...."


Aku berkata seperti itu karena aku baru sadar belum mengetahui nama anak Mei-san.


"Oh maafkan aku lupa memperkenalkan diriku, perkenalkan namaku Ealina."


"Ahh Ealina-chan, terimankasih atas hidangannya."


"Sama-sam Kazura-san. Baiklah kalau begitu ailahkan menikmati makanannya."


Ealina sedikt membungkuk kepada kami dan berkata sopan kepadaku seperti itu. Setelah itu dia berbalik dan berjalan kembali ke tempatnya semula.


"Baiklah, selamat makan."


"Selamat makan."


Kami berdua pun mulai memakan sarapan pagi kami dengan perlahan.


***


Kami pun telah selesai dengan sarapan pagi kami, perut kami terasa cukup kenyang saat ini.


Ealina tak lama datang kembaki ke meja kami untuk membereskan meja kami yang penuh debgan piring dan gelas sisa sehabil sarapan.


"Jadi bagaiamana? Apakah sarapnnua enak?"


"Ohh tentu saja Ealina-chan. Terima kasih atas sarapan pagi enak ini."


Aku melemparkan pujian kepada Ealina-chan atas masakan yang baru saja kami habiskan. Ealina-chan terseyum senang mendengar tanggapan positif dariku.


Ealina menumpuk satu per satu bekas wadah makanan dan menaruhnya ke atas baki dan setelah itu membawanya.


Selang jeda tak lebih dari tiga puluh detik Mei-san datang dan berdiri tepat tengah-tengah kami.


"Jadi setelah ini apa yang akan kalian lakukan?"


Tiba-tiba dia bertanya seperti itu kepada kami berdua, aku sediki agak bingung akan pertanyaannya itu, namun aku menyimpulkan dari perkataan derta ekspresi penasarannya mungkin dia menanyakan tentang petualang kami berdua.


"Ahh untuk sekarang mungkin kami akan ke guild petualang untum melaporkan hasil tentang penyerangan jenderal iblis Tokage beberapahari yang lalu. Dan setelah itu aku sudah berjanji akan mengantar Latifa ke kampung halamannya dengan selamat."


"Ohh begitu yah. Akan tetapi nampaknya itu bisa ditunda dulu Kazura."


"Ditunda. Maksud anda."


Latifa langsung membalas perkataan yang dilemparkan Mei-san kepadaku.


"Ahh tadi pagi buta sekali, ada seorang pengunjung dengan memakai pakaian pelayan datang kemari. Dia menanyakan apakah keadaan dirimu telah siuman atau belum."


"Terus apa yang anda katakan Mei-san."


"Aku mengatakan bahwa kau telah siuman. Dan setelah itu dia menitipkan sebuah amplop surat kepadaku dengan segel stempel lilin merah dari pola gambarnya ini sepertinya milik bangsawan penguasa Kota Elato ini."


Dari penjelasannya itu aku sudah bisa menyimpulkan bahwa surat itu pasti menyuruhku untuk ke kediamannya karena dia sampai repot-repot mengirimnya langsung oleh pelayannya pengausa Kota Elato ini menuju kesini.


Mei-san menyodorkan surar itu kepadaku dan aku mengambilnya dan lansung membuka amplop suratnya.


Di dalam amplop itu berisi satu lembar kertas yang dilipat bebrapa lipatan. Aku mengambil kertas itu san menaruh amplop di atas meja.


Aku merentangkan kertasnya, dan terlihatlah ada sebuah tulisan yang terxetkdi atas kertas itu tulisannya berisikan seperti ini.

__ADS_1


"Salam sejahtera kepada anda Tuan Kazura-dono. Perkenalkan nama saya adalah Caesar. Saya adalah pelayan pribadi tuanku penguasa kota ini yang bernama Cleos von Elato. Atas perinah tuanku, Cleos von Elato, aku mengundangmu untuk datang ke kediamanku secepatnya dan saat ini aku menunggumu di depan penginapan karena sang penguasa kota ingin menemuimu sesegeea mungkin."


Begitulah isi surat yang tekah kubaca didalam hatiku.


Latifa yang berada di sampingku tampaknya penasaran akan isi surat yang dikirimkan kepadaku ini, lalu dia pun berkata, "Jadi apa isi surat itu Kazura?"


Untuk sesaat aku terdiam dan mebgabaikann pertanyan Latifa. Dalam pikiranku saat ini, aku tida percaya bahwa pelaannya sampai menunggu tepat di depan bangunan penginapan ini.


Latifa menepuk pundakku. Aku seketika terkejut dan sekeitika melihat ke arahnya. Dia mengembungkan pipinya, tampaknya dia marah akan sesuatu yang tidak dimengerti.


"A-ada apa Latifa, kau tampak marah seperti itu."


"Moooo... ini gara-gara kamu yang melamun dan mengabaikan perkataanku."


Ahh jadi karena itu kah. Latifa kemudian memalingkan wajahnya dariku kearh berlawanan dan melipat kedua tangannya.


"Maaf-maaf Latifa. Jadi apa yang ingin kau tanyakan kepadaku."


Dengan lembut aku meminta maaf berkata seperti itu agar suasana hatinya dapat kembali seperti semula.


"Jadi... apa isi suratnya itu."


Tampaknya dia sudah agak tidak marah kepadaku. Akan tetapi ini adalah sikap yang terbilang berbalik berbeda saat dimana aku bertemu dengan Latifa pertama kali yang sikapnya sedikit pendiam dan lugu.


Akan tetapi sekarang aku merasakan sikap Latifa sedikit agak agak sedikit cepat marah, namun ceria akan tetapi dia tampak ingin sekali mendapatkan perhatian yang lebih menurutku. Namun aku tak bisa mengungkapkan untuk sekarang ini dan menjawab perkataan nya itu.


"Ahh isi surat ini. Seperti yang kamu katakan semalam Latifa bahwa sang penguasa Kota Elato ingin menemuiku hari ini. Dan saat ini juga pelayan kepercayaannya sudah berada diluar dari tapi pagi menunggu kita keluar."


"Heeee... begitu yah. Yasudah kalau begitu kita cepat-cepat saja."


Nampaknya ini tidak asing bagi Latifa karena dirinya adalah seorang putri dari penguasa elf.


"Sabarlah Latifa. kita berpamitan dulu kepada Mei-san."


Aku melanjutkan kembali.


"Yasudah kalau begitu Mei-san, kami undur pamit. Dan juga terima kasih atas makanan serta kami yang sudah merepotkan bibi"


"Yahh Mei-san, Latifa permisi yah dan terima kasih."


"Yah, sama-sama."


Setelah membayar tagihan bekas sarapanku barusan, Aku dan Latifa berjalan keluar bangunan . Saat setelah kubuka pintunya lebar-lebar, terlihat ada sebuah kereta kuda berwarna hitam dengan 2 kuda yang diikat untuk menarik kereta itu.


Begitu ucap dengan sangat sopan pria yang cukup tampan mempunyai rambut berwarna cokelat memakai kacamata bernama Caesar sambil membuka pintu kereta kudanya.


Disitu aku merasa malu, bukan karena Caesar yang membukakan pintu kereta. akan tetapi karena saat ini aku menjadi pusat perhatian dari orang-orang yang berkerumun melihat kearahku.


Tanpa sungkan dan bergegas Aku serta Latifa pun melangkah masuk ke dalam kereta kuda kemudian kami pun duduk. Setelah itu Caesar menutup pintu kereta dan duduk di bangku kusir kuda.


"Baiklah kalau begitu kita akan berangkat!"


Caesar langsung memecutkudanya dan berangkat menuju ke kediaman Cleos von Elato sang penguasa kota.


***


Beberapa puluh menit kami menghabiskan waktu di perjalanan akhirnya kereta kuda yang kami tumpangi berheti di sebuah gerbang besi besar yang di dalamnya terlihat ada bangunan besar nan megah bagaikan istana.


Namun hentian kereta kuda yang kami tumpangi itu hanya berselang waktu beberapa detik. Ketika kedua prajurit itu membukakan gerbang besi dan Caesar pun memecut kembali kudanya dan masuk ke dalam gerbang menuju ke sebuah depan halaman yang terlihat terawat rapi.


Sekitar beberapa menit kemudian kereta kuda yang kami tumpangin berhenti kembali. Saat aku kihat ke luar jendela, kereta yang kami tumpangi berhenti di depan sebuah bangunan sangat megah, besar dan mewah.


Aku tercengang melihat ini, karena rumahnya tuan penguasa ini lebih megah dari rumah-rumah para pejabat ada di negaraku dulu. Jika kugambarkan ini seperti sebuah bangunan mansion eropa megah namun desainnya memiliki desain eropa pertengahan tahun 1800-an.


Caesar pun membukakan pintu kereta kuda kami kembali dan kami berdua pun turun dari kereta kuda. Aku sangat kagum dan terkejut setelah melihat dari dekat istana yang ada di hadapanku ternyata lebih besar terlihatnya.


"Baiklah kalau begitu mari kita masuk kedalam tuan Kazura dan nona Latifa."


Caesar pun berjalan di depan kami untuk menunjukkan arahnya dan kami pun mengikutinya dari belakang. Kami menaiki tangga sebelum ke depan pintu istana ini.


Dan setelah sampai di depan pintu istana, Caesar pun membuka pintu besar kediaman penguasa kota dengan kedua tangannya.


Ketika pintu sudah terbuka lebar-lebar, terlihat pemandangan mewah dan megah yang berada di dalam sini. Perabotan tampak begitu mewah nan mahal.


Tak lama lintu terbuka lebar, Caesar berjalan kembali masuk ke dalam, aku dan Latifa hanya mengikutinya dari belakang.


Kami menaiki tangga yang memutar dan berjalan di koridor yang panjang. Hingga pada sampai akhirnya langkah kami terhenti di sebuah pintu putih.


Tok tok~


Suara ketukan pintu pelan dihasilkan oleh Caesar ang mengetuk pintunya secara perlahan.

__ADS_1


"Siapa?"


Tanya seorang pria yang berada di balik pintu dalam ruangan ini.


"Permisi tuan Cleos von Elato, ini saya Caesar. Saya seperti yang diperintahkan telah membawa tuan Kazura serta Putri Latifa Rupitha."


"Baiklah silahkan masuk."


Caesar pun membuka pintu dan mempersilahkan kami berdua untuk masuk pertama kali.


Tanpa banyak bertanya kami masuk kedalam.


"Baiklah terima kasih telah mengantar mereka. Kau boleh keluar Caesar."


Caesar membungkuk sopan kepada Cleos von Elato dan setelah itu dia melihat kearah Latifa dan aku lalu membungkuk juga, selepas selesai itu dia pergi dan menutup pintu dengan sopan.


"Selamat datang tuan Kazura dan Putri Latifa, silahkan duduk."


Dengan sopan Cleos von Elato-san menyuruh kami duduk kepada kami menunjuk ke arah kursi merah terlihat cukup megah.


Tanpa sungkan Aku dan Latifa duduk di sofa mewah bewarna merah itu. Sofa itu terasa empuk saat ku duduki serasa seperti menduduki busa.


Tak lama Cleos von Elato-san ikut duduk di kursi merah sama seperti kami hadapan kami dengan elegan.


"Baiklah tuan Kazura dan Putri Latifa, pertama-tama aku sebagai pemilik sekaligus pemimpin kota Elato ini mengucapkan banyak terima kasih atas jasa telah melindungi Kota ini dari kehancuran yang ingin di perbuat oleh jenderal iblis Tokage."


"Sama-sama penguasa kota. Lagian kami juga kami diwajibkan untuk saling menolong jika ada kesusahan."


"Begitu yah."


Cleos von Elato kemudian melanjutkan perkataannya.


"Ohh iya ini baru pertama kali kami bertemu diluar hutan besar Banyan. Bagaiamana kabar ayah anda serta anda sendiri Latifa ojou-sama?"


"Iya ini pertama kali juga kita bertemu selain di hutan beras Banyan yang Tuan Cleos von Elato-sama. Kabar saya serta baik-baik saja."


Dengan sikap berbeda dari sebelumnya, Latifa nampak begitu sopan dan elegan dia menjawab perkataan Cleos von Elato.


Seperti yang diharapkan dari seorang puteri.


"Syukurlah kalau begitu."


Cleos von Elato-san kemudian memanggil pelayan yang berada di luar. Tak lama seorang pelayan masuk sambil membawa dua kantung kecil di atas baki melangkah mendekati kami dan menaruh baki yang berisikan kantung kecil itu di meja di depan Cleos von Elato-san.


"Tuan Kazura. Latifa Ojousama. Karena kami sudah mendengar jasa kalian atas pengusiran jenderal iblis Tokage yang ingin menghancurkan kota ini dan menyelamatkan kota ini dari kehancuran. Aku sebagai pemimpin kota ini memberikan kalian sebuah hadiah, tolong terimalah."


Dia kemudian menyosorkan kantung itu satu per satu kepadaku dan Latifa. Aku menerimanya dengan sopan.


Aku kemudian melepas tali kantung yang merapatkan lubang kantungnya. Saat aku melihat isinya, aku sagat terkejut akan isinya adalah berupa koin emas uang yang banyak serta beberapa lembar uang platinum. terkejut mendengarnya.


Aku menjadi grogi akan hal ini, karena ini baru pertama kalinya aku mendapatkan uang sebanyak ini. Namun disisi lain yaitu di sebelah kiriku, Latifa masih terlihat tenang setelah melihat uang yabg begitu banyaknya dia terima.


Memang hebat seorang putri.


"Ma-maaf tuan, tapi apakah ini tidak terlalu berlebihan. Aku merasa, aku tidak pantas mendapatkan uang sebanyak ini!"


"Tidak tuan Kazura. 1000 koin emas dan sepuluh lembar uang platinum ini adalah hasil kalian atas penghargaanya. Dan juga Kami sudah membagi rata uang kepada semuanya yang berkontribusi melawan jenderal iblis."


Setelah mendengar jumlah pastinya, aku sangat-sangat terkejut sekali. Jika aku perkirakan dengan mata uang jepang, 1 koin emas ini sama dengan 100 ribu yen.


Dan saat ini jumlah dikantung ini ada 1000 koin emas dan 10 lembar uang platinum, jika dijumlahkan dalam nominal mata uang jepang aku mendapakat 110 juta yen!


Ini benar-benar angka yang pantastis. Saat aku bekerja saja, gaji tahunanku hanya mencapai kurang lebih 5 juta yen. Dunia lain sepeeti ini memang tiada duanya.


Setelah medengar perkataanna seperti itu, aku tak bisa menolak apa yang telah ia berikan padaku.


"Baiklah kalau begitu kami terima."


Cleos von Elato-san pun tersenyumdebgan kabar baik ku. Aku dan Latifa pun mengambil uang itu dan menaruhnya di kantung uang kita masing-masing.


Selesainya, aku dan Latifa bangkit dari kursi, berencana berpamitan kepada Cleos von Elato-san.


"Baiklah kalau begitu aku undur pamit tuan Cleos von Elato-san."


"Yasudah kalau begitu. Maaf jika aku menggangu waktu kalian."


"Yah sama-sama tuan."


Dengan rama aku membalas ucapannya itu. Setelah itu kami berdua saling menyodorkan tangan, saling berjabat tangan.


Kemudian aku dan Latifa berjalan keluar rumahnya, berencana menuju ke guild petualang kembali.

__ADS_1


(BERSAMBUNG)


__ADS_2