
Setelah berada di luar bangunan guild, aku yang sudah memiliki banyak uang pun tidak merasa bingung kembali untuk membeli sesuatu di daerah Kota Elato ini.
Akan tetapi karena kami berencana untuk mengantar Latifa kembali ke tempat tinggalnya, aku akhirnya memutuskan untuk membeli sebuah kereta kuda.
Karena pendamping petualangku adalah Christie yang sangat tahu akan seluk beluk tentang Kota Elato ini, akupun bertanya kepadanya,dimana aku dapat membeli,
"Christie apakah kamu tahu, dimana aku bisa beli kereta kuda di kota ini?"
"Kalau itu aku tahu tempatnya, apakah kau ingin aku antar." Begitu jawabnya dengan wajah yang imut sembari dengan tiba-tiba memeluk tangan kananku.
Aku sangat terkejut akan lancaran serangan pelukan tangan yang tiba-tiba, namun disisi lain aku merasa bahagia karena tanganku menempel tepat di belahan kedua dadanya yang cukup besar.
Dada Christie yang terasa tektur kenyal dan lembut hampir membuat pikiran liarku pun terbangkit. Namun aku menggeleng-gelengkan kepalaku agar tersadar kembali dan ridak membangkitkan fantasi liarku ini.
Disisi lain saat aku melihat kearah Latifa. Latifa memandang Christie dengan tatapan tajam seperti seekor kucing. Namun disisi lain Christie tertawa puas meledek Latifa sambil menahan tawanya dengan sebelah tangannya.
Latifa yang kesal akibat tawa'an Christie seperti mengejek, dia seketika meraih tanganku dan memeluknya sama seperti Christie lakukan.
Sial entah mengapa tanganku lebih keenakan disaat Latifa memeluknya. Dada miliknya mempunyai ukuran lebih besar satu tingkat dari Christie, jika dikira-kira ukurannya bisa memasuki ukuran F menurutku pribadi.
Tangaku tenggelam di belahan dadanya, namun saat tanganku tergesek-gesek di belahan dadanya yang terhalang oleh pakaiannya aku bisa merasakan tekstur sangat lembut dan kenyal ditanganku.
Namun aku tak menampakkan wajah mesumku itu. Karena aku sangat malu jika wajahku mesumku ku tampakkan, makan aku pasti akan dianggap pria rendahan oleh orang-orang ramai di sekitarku ini.
Aku tetap memasang rwajah tenang sambil berkata kepada mereka berdua.
"Christie. Latifa. Bi-bisakah kalian tidak memeluk tanganku seperti ini. Saat ini a-aku merasa malu akan tatapan orang-orang ini."
Namun omonganku itu diacuhkan saja oleh mereka berdua. Christie dan Latifa pun saling memandang dengan tatapan saling kesal seperti ada petir keluar dari mata mereka.
Christie akhirnya menarik tanganku sambil memeluk tanganku dengan erat sehingga pegangan Latifa dari tanganku pun terlepas.
Akibat ulah Christie itu, Latifa memunculkan kembali rasa kesalnya dan menarik tanganku dengan kuat sehingga tangaku kembali ada di dekapan Latifa dan sebelah tanganku yang di dekap oleh Christie pun terlepas.
Kejadian itu terus berulang hingga beberapa kali. Aku terus menegur mereka agar tak melakukam hal seperti ini padaku. Namun teguranku itu mereka anggap hanyalah omongan kosong yang berembus bagai angin.
Hingga akhirnya pertempuran mereka pun bisa dikatakan mencapai akhir klimaks. Christie dan Latifa yang tak dapat menyerah satu sama lain akhirnya menarik tanganku dengan sangat kasar secara bersamaan.
Tanganku sekarang terasa sangat sakit, tulang serta persendian tangaku seperti akan lepas dari sambungan bahuku.
"Sakit, sakit, sakit! Hei Ayolah kalian berdua. Bisakah kalian menghentikan ini. Tanganku terasa sakit seperti ingin putus!"
Ujarku sambil menahan rasa sakit yang kuderita kepada Christie dan juga Latifa. Mereka berdua tetap menghiraukan ujaranku dan malah menarik-narik tanganku semakin kasar.
"Hey Wanita barbar lepaskan lah tangan Kazura dari tangan berototmu itu!" Ucap Latifa dengan tegas dan lantang kepada Christie.
"Sialan kau mahluk hutan berani-beraninya kau memanggilku cewek berotot, lebih baik sekarang kau yang lepaskan tangannya Kazura
"Ada apa ini? Kenapa kalian menjadi seperti ini?!" Teriakku, mendangahkan kepala, menanyakan sikap aneh yang mulai muncul dari mereka berdua.
"Hey kuping runcing tadi dia sudah bilangkan ingin mencari kereta kuda denganku. Jadi kau tak perlu ikut dengan kami!"
Ketus Christie kepada Latifa dengan tatapan jengkel dan kesal.
Mendengar perkataan Christie seperti itu membuat Latifa tambah jengkel dan berkata, "Ohh yah wanita penggoda maniak pedang, memangnya Kazura bilang padamu bahwa aku tidak boleh ikut dengannya haaaah!!"
"Sialaaan!!"
"Sialaaaan!!"
Perkataan kasar Christie dan juga Latifa mereka ucapkan secara bersamaan. Mereka mengertakkan gigi dan menarik tanganku lebih kencang lagi sehingga tanganku terasa hampir copot.
Tingka mereka berdua yang sudah mulai kelewatan pun akhirnya membuatku emosi dan tak bisa menahan amarahku lagi. Aku menarik kedua tangaku dengan sekuat tenaga, dan sampai pada akhirnya mereka berdua tertarik oleh tarikan tanganku ke arahku dan pegangan mereka berdua terlepas.
Saat tubuh mereka berdua akan menabrak kearahku, aku seketika melayangkan sentilan keras ke dahi mereka berdua secara bersamaan.
"Ouchh!!"
"Iyyah!!"
Reaksi keduanya memumculkan suara yang aneh dan badan mereka yang sedikit terlentang ke belakang setelah terkena sentilan dahiku itu.
"Kalian berdua ini yah. Kenapa kalian bertingkah seperti bocah kecil sih. Dan juga akibat kalian ini membuat tanganku sakit."
Aku melemparkan perkataan tegas kepada mereka berdua. Nampaknya teguran dariku ampuh, mereka menundukkan kepala mereka bersamaan dengan memasang ekspresi wajah bersalah.
"Kami minta maaf Kazura."
Secara bersamaan mereka berkata begitu kepadaku.
"Baiklah aku akan maafkan tingkah kalian tadi. Akan tetapi jagnlah sekali-kali lagi bersikap kasar begitu padaku oke."
"Baiklah. Seksrang lebih baik kita mulai debgan urusan kita disini."
__ADS_1
Aku berkata lembut untuk menghilangkan suasana saat ini. Aku kemudian mendapatkan beberapa pemikiran.
"Baiklah kalau begitu, lebih baik kita bagi tugas saja. Christie kamu yang bertugas kereta kuda, Latifa kamu bagian membeli obat-obatan untuk perjalanan kita dan sementara aku, aku akan membeli bahan-bahan pokok untuk perjalan petualangan kita."
Begitulah usulanku kepada mereka untuk membagi-bagi tugas, membeli barang-barang yang diperlukan untuk memulai petualng kami.
"Baiklah jika itu keinginan Kazura."
"Baiklah kalau begitu aku setuju akan itu."
Aku merogok kantung kain wadah uang milikku yang menggantung di pinggang sebelah kananku, kemudai aku memberikan sejumlah koin emas sekitar dua puluh koin emas kepada Christie.
Christie menerima dengan senang hati, namun saat dirinya melihat uang yang ku berikan kepadanya, nampak terkejut menerima dua puluh koin itu.
"Kazura ini terlalu banyak untuk membeli kereta kuda? Memang kau ingin membeli kereta kuda seperti apa?"
"Ehh benarkah itu Christie?"
"Yahh benar sekali."
"Ahh begitu yah. Yasudah bawa saja dulu uangnya, siapa tau nanti kamu ada keperluan lain atau baeang yang harus dibeli. Dan kalau untuk kereta kudanya, lebih baik kita membeli kereta kuda barang yang biasa aja dan memiliki atap biasa saja, yahh supaya dapat saja melindungi kita dari panas dan hujan saat di perjalanan."
"Oke serahkan saja padaku kalau soal itu. Yasusah kalau begitu aku berangkat yah Kazura."
Christie akhirnuya berjalan perlahan untuk menuju ke tempat penjualan kereta kuda. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, ia tiba-tiba membalikkan badannya dan melihat ke arahku.
"Ohh iya aku lupa. Jika nanti setelah urusan kita masing-masing selesai, kita ketemuan di depan gerbang utama Kota oke."
Teriak Christie kepada kami berdua dengan lambaian tangannya.
"Baiklah nanti kita ketemu disana."
Setelah itu Christie membalikkan badannya dan melanjutkan langkahnya kembali.
"Baiklah kalau begitu Latifa, mari kita juga mulai berbelanja. Ohh dan juga, ini uang untuk membeli obat-obatannya."
Aku menyerahkan beberapa puluh koin emas kepada Latifa yabg beradadi sampingku. Akan tetapi ia menolak uang yang ku berikan dan berkata, "Ahh kau tak perlu memberikan uang kepadaku untuk membeli obat-obatannya. Lagi pula, aku kan sama-sam mendapatkan uang banyak juga sepertimu, jadi kali ini aku saja yang akan membelikannya untukmu,"
"Tapi...." Belum selesai aku berbicara, Latifa pun langsung memotong perkataanku.
"Sudah uang itu simpan saja oke."
Aku merasa tak enak karena ia tak menerima uangku. Namun disisi lain aku berpikir jika aku memaksanya, mungkin aku akan menyinggungnya.
Aku menarik kembali uang yang tadinya akan ku berilan kepada Latifa dan memasukkan kembali ke kantung uangku.
"Baiklah kalau begitu, aku akan berangkat untuk membeli stok obat-obatan untuk di perjalanan kita."
Latifa kemudian berlari meninggalkan diriku, untuk memenuhi tugas yang telah diberikan.
Tak lama akupun tak banyak pikir dan langsung berjalan untuk membeli bahan-bahan pokok untuk perjalan kami.
***
Beberapa jam telah berlalu. Aku telah selesai berbelanja apa saja yang dibutuhkan untuk perjalanan berpetualangku. Seperti yang di janjikan sebelumnya kepada Christie dan Latifa, aku saat ini telah berada tepat di dekat gerbang utama Kota Elato.
Aku berdiri dan melihat sekelilingku, suasa disini cukup ramai akan keluar masuknya orang-orang dari gerbang utama kota Elato, akan tetapi tidak seramai di pusat Kota.
Entah mereka sudah datang atau belum. Namun oleh mata kepalaku sendiri, aku belum melihat Latifa ataupun Christie belum sampai disini.
"Bagaiamana mereka berdua ini? Apa jangan-jangan mereka menghadapi masalah?"
Gumamku seperti itu dengan pikiran yang khawarir mendapatkan kejadian buruk terhadap mereka.
Namun aku menggelengkan kepalaku menghilangkan prasangka buruk itu, karena yang aku tahu tidak mungkin Christie mendaptkan masalah karena dia adalah petualang peringkat cukup tinggi di kota ini dan juga dia memiliki banyak kenalan.
Satu lagi aku tidak perlu mengkhaeatirkan Latifa, karena mereka, warga disini sudah mengenal Latifa akibat pertarungan melawan jenderal iblis Tokage beberapa waktu silam.
Sebelum pikiranku bertambah dengan prasanhkaan yang buruk, terdengar suara wanita memanggil namaku dari jauh.
"Woii Kazuraaaa. sebelah sini, sebelah sini."
Aku melihat kearah suara itu berasal. Ternyata yang memanggilku itu adalah Christie yang berdiri di kursi kusir kereta kuda yang baru saja di beli olehnya dari arah tepat di depan gerbang utama Kota Elato.
Kemudian aku berjalan menghampiri Christie, dan saat baru beberapa langkah aku berjalan, kejadian tak terduga pun terjadi.
Langkahku terheti karena saat ini di depanku aku bertemu dengan Latifa yang berhenti juga di depanku.
Kami berdua saling bertatap muka. Mata kami saling bertemu dan Latifa memberikan senyuman yang manis tidak terduga.
"Kebetulan yang tidak terduga yah Kazura."
".....Yah benar-benar kebetulan yang tak terduga."
__ADS_1
"Jadi bagaiamana apakah obat-obatan untuk di perjalanan petualangan kita sudah kau beli semuanya."
"Kalau untuk itu... tampaknya beberapa obat tidak ada stoknya, jadi aku... membeli yang ada saja."
Perkataan Latifa begitu sambil menunjukkan kantung yang ada di dekapannya yang berisikan beberapa botol bulat posion, beberapa tanaman herbal serta beberapa obat-obatan yang dibungkus dengan kertas bisa dibilang itu obat serbuk yang dibungkus dengan kertas.
"Segitupun cukup Latifa, lagi pula kita pasti berhenti di beberapa tempat terdekat untuk nantinya membeli beberapa bahan-bahan yang kurang."
"Begitu yah."
"Hmm. Yasudah mari kita temui Christie segera."
Akhirnya kami berjalan berdua untuk menuju ke arah Christie berada.
Christie melambai-lambai tangan kearahku denan senyuman. Namun setelah Latifa yang terhalang oleh seseorang yang berjalan di depannya terlihat oleh matanya, ekspresi wajah Christie mendadak berubah menjadi masam.
"Christie kenapa kamu bermuka masam begitu? Apa kamupakai yah belum makan?"
Pertama kali aku berkata kepadanya seperti itu yang sedang duduk di bangku kusir kereta kuda yang baru saja ia beli.
"Tidak apa-apa?" Jawaban ketus dia layangkan kepadaku.
Latifa yang melihat tingkahnya itu tersenyum nyinyir bersamaan dengan tatapan mengejek.
"Are, areee. Ada apa ini? Jangan-jangan kau cemburu terhadapku karena jalan bareng dengan Kazura."
Perkataaan mengejek dilayangkan kepada Christie. Christie pun nampak kesal akan tingkah Latifa hingga mereka berdua saling bertatap muka kembali dengan penuh kesal.
"A-a-apa... maksudmu cewe hutan! Mana mungkin aku cemburu kepadamu cewe hutan!"
Sedikit lantang Christie membalas ejekan Latifa.
"Benarkah....?" Tanya Latifa mencoba memastika apa yang Christie katakan barusan.
"Benar loh!" Lantang jawab Christie begitu.
"Begitu katanya Kazura."
Latifa secara mendadak melemparkan perkataannya itu padaku.
Aku sedikit paham apa artian perkataan Latifa itu, aku sedikit kecewa bahwa ternyata Christie tak memiliki oerasaan padaku, namun aku tak menampakan di raut wajahku, dengan senyuman canggung aku membalas perkataan Latifa.
"Apa yang kamu maksud Latifa. Sudahlah lebih baik kita mulai merapihkan barang-barang yang sudah kita beli."
"Baik."
Latifa berjalan ke arah belakang kereta kuda, sementara aku melihat ke arah Christie.
"Kamu hebat sekali memilih kereta kuda yang bagus ini."
Lontaran pujianku kepadanya agar mengubah kembali suasana hatinya.
Tampaknya pujianku berhasil. Ekspresi wajah Christie yang tadinya nampak masam berubah kembali.
"Ehh benarkah itu, ten-tentu saja siapa dulu yang memilihnya."
Aku tersenyum setelah melihat dia kembali seperti biasanya.
"Yasudah aku akan ke belakang dulu untuk menarih barang-barang yang tengah kubeli."
"Oke."
Aku berjalan ke belakang kereta kuda dan naik masuk ke dalam gerbong kereta kudanya.
Aku mulai mengeluarkan satu per satu peti kotak kayu yang berisikan kebuhan saat di perjalanan bertualang kami. Setelah lima kota terususn rapi, aku mengeluarkan setumpukan jerami untuk alas tidur di dalam herbeong kereta kuda supaya tidak kedinginan saat beristirahat.
"Baiklah segini saja cukup."
Aku menyeka keringat yang mengucur di dahiku dengan ujung lengan baju panjang yang ku kenakan.
"Seperti biasa sihir ruang penyimpanan yang kau miliki membuatku iri Kazura."
"Ahh sudahlah lebih baik kica cepat berangkat dari kota ini. Ohh iya Christie bisakah kamu mengendarai kereta kudanya, karena aku belum pernah sebelumnya!"
"Ahh kalau itu gampang, aku bisa mengendarai kereta kuda ini."
"Baguslah kalau begitu, nanti ajari aku yah cara mengendarai kereta kuda ini Christie," Ucapku dengan antusias kepadanya.
"Okeee." Jawab Christie sambil mengangjat jempolnya kepadaku.
Latifa pun bergegas naik ke dalam kereta kuda dan akupun duduk di samping Christie yang menjadi kusir.
"Baiklah kalau begitu ayo kita berangkat!" Serunya sambil memecut kedua kuda yang menarik menjadi mesin utama kereta kuda kami dan berjalan perlahan meninggalkan Kota Elato.
__ADS_1
(BERSAMBUNG)