Boku Wa Betsu No Isekai De Umarekawarimashita ( Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Lain)

Boku Wa Betsu No Isekai De Umarekawarimashita ( Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Lain)
ch.24


__ADS_3

Tak, tak~ suara sepatu kuda terdengar lambat dari kedua kuda yang menarik gerbong kereta kuda. Daun-daun menari-nari di udara terkibat angin lembut.


Kami telah cukup jauh meninggalkan Kota Elato. Keadaan hari ini waktunya sudah masuk siang menjelang sore dan saat ini sedang melaju di jalan yang berada di tengah-tengah hutan.


Cuaca di perjalanan tidak terlalu panas karena cahaya matahari terhalang oleh dedaunan dari pohon-pohon besar ang menghiasi jalan di samping kiri dan kanan.


Aku duduk di bangku kusir yang cukup lega. Di samping kananku, Christie yang sedang mengendarai kereta kuda ini.


"Christie apakah aku boleh mengajariku mengendarai kereta ini?"


"Boleh saja."


Christie menarik perlahan tali kulit yang mengikat kuda. Dan kedua kuda pun perlahan berhenti bersamaan dengan gerbong kereta kuda ini.


"Baiklah mari kita berrukar posisi."


Christie melangkah masuk ke dalam gerbong kereta kuda, lalu aku menggeser pantatku menduduki tempat duduk Christie sebelumnya. Kemudian Christie melangkah kembali, menduduki bekas kursiku.


"Pertama-tama kamu pegang talinya dengan kedua tangan."


Seperti yang diperintahkan Christie memegang tali kulit yang mengikat kuda yang dijadikan stir.


"Oke begitu. Setelah itu kamu pecutkan perlahan untuk membuat kudanya maju kembali."


Aku mengayun, memecut tali yang ku pegang.


Perlahan suara sepatu kuda terdengar saat melangkah kembali, dan berjalan secara perlahan.


"Nah bagus seperti itu, pertahankan." Nasihat Christie seperti itu yang duduk di sampingku mengajariku mengendarai kereta kuda ini.


"Heee... nampaknya tidak cukup sulit yah."


"Yah begitulah, akn tetapi kamu tidak boleh lengah saat mengendarai kereta kuda."


"Baiklah guru."


Aku melemparkan senyum lembut kepadanya setelah aku menyelesaikan perkataanku. Wajah Christie tersipu sedikit merah atas perkataanku dan menepuk pelan pundakku.


"Hahaha... kau bisa saja Kazura."


Disisi lain Latifa tampak sangat anteng di dalam gerbong kereta kuda, dia saat ini sedang merajut jerami yang dilapisi kain untuk membentuk bantal-bantal seprti yang kuajarkan sebelumnya.


Di dunia ini benar-benar membuatku damai dan tentram. Cuaca disini sangat sejuk, serta orang-orangnya cukup ramah.


Tak seperti dulu saat aku hidup di jepang, aku lupa apa itu liburan dan selalu sibuk bekerja sampai-sampai terkadang aku lupa tidur karena terlalu banyaknya pekerjaan.


Dewi Angela terima kasih karena telah menghidupkan kembali ke dunia ini. Aku tidak akan menyia-nyiakan kehidupanku ini dan akan menikmatinya sepenuh hati.


Kruyuukkk~ suara melody dari perutku sudah mulai terdengar.


Christie yang dekat denganku pun terdiam sesaat mendegarnya kemudian dilanjutkan dengan ketawa kecil.


"Hehehe.... Kazura tampaknya perutmu sudah menahuh ingin makan."


Aku tertawa malu akan suara melody di perutku ini yang terdengar oleh Christie.


"Yasudah kalau begitu lebih baik kita istirahat dahulu Kazura. Tampaknya di depan ada lahan yang cukup besar dan nyaman untuk kita beristirahat."


"Baiklah."


Terlihat di depan ada sebuah lahan rumput cukup besar untuk bisa menepi, memarkirkan kereat kuda ini sekaligus tempat beristirahat.


Aku menepi ke arah itu, namun aku tak tahu cara menghentikan kereta kuda ini.


"Christie bagaiamana cara menghentikan kuda ini."


"Kamu tarik saja kebelakang kedua tali yang kamu pegang itu perlahan."

__ADS_1


Seperti yang di instruksikan Christie, aku menarik tali yang ku pegang dan kuda pun berhenti dari langkahnya.


Kulihat Christie bergegas turun dari kereta kuda, setelah itu aku kemudian turun dari kereta kuda juga dan berjalan ke belakang kereta kuda.


"Kazura kenapa kita berhenti?"


"Kita istirahat dulu sebentar disini. Latifa kau ikut turun juga."


"Baiklah."


Latifa melompat dari ujung gerbong kereta kuda dan mendarat dengan sempurna.


"Latifa bisakah aku meminta tolong padamu untuk menyalahkan api dahulu?"


"Okelah, untuk masalah itu serahkan saja padaku."


Aku mengeluarkan sisa kayu bakar dari 'Ruang Penyimpananku' yang pernah aku kumpulkan saat dulu menjalankan misi dahulu dan menyerahkannya kepada Latifa.


Latifa mengambil gundukan kayu bakar itu dan membawanya ke arah tepat dimana ada sebuah pohon besar nan rimbun yang asing bagiku jenis apa pohon itu.


Saat aku mau naik ke atas gerbong kereta kuda, langkahku terhenti oleh Christie yang memanggil namaku.


"Kazura..., apakah ada sikat, air serta ember untuk minum si kuda?"


".... tunggu sebentar Christie, .... kalau tidak salah aku membelinya."


Aku memeriksa kembali 'ruang Penyimpananku' nampaknya aku memang membeli sebuah ember kayu yang cukup besar serta sikat untuk kuda.


Aku mengambil sikat serta ember kayu besar dari 'ruang penyimpananku' dan menyerahkannya kepada Christie.


"Ini dia Christie."


Christie menerimanya dan berjalan kembali ke arah kuda yang sedang memakan rumput.


Aku melanjutkan kembali apa yang ingin aku kerjakan yaitu mengambil bahan-bahan makanan yang ku taruh di dalam salah satu peti kecil untuk memasak makan siang ini.


Aku mengambil satu bungkus dan menutup kembali petinya dan kemudian aku berjalan menuruni dari gerbong kereta kuda dan berjalan mendekati Latifa yang sudah menyalakan api.


"Apinya sudah menyala Kazura."


"Oke, terima kasih."


Lalu aku melanjutkan.


"Latifa bisa pegangi ini dulu sebentar."


Aku berkata seperti itu merujuk ke sayuran serta daging yang sedang dipegangku.


"Baiklah, sini."


Dengan senang hati Latifa mengambil sayuran serta daging yang ada di tanganku.


"Terima kasih."


Aku mengeluarkan karpet dari 'ruang penyimpananku' dan mengamparkan tepat di bawah pohin supaya teduh.


Selepas itu, aku berjalan mendekati api dan mebgeluarkan penyanggah besi untuk panci serta kantung air cukup besar.


Aku memasang penyangga tepat jaraknya tak jauh dari sisi kiri dan kanan api, lalu aku meletakkan sebatang besi memanjang disanggah oleh kedua besi yang ku tancapkan gunanya untuk menggantungkan panci agar tak menyentuh langsung dengan kayu bakar.


Aku menggantungkan panci yang ada pengait besi dikaitkan ke sebuah besi barusan, bisa dikatakan cara memasakku sama seperti para penyihir zaman dulu.


Aku mengisi pancinya dengan air dari kantung air dan mulai memasak.


***


Beberapa puluh menit berlalu, masakan yang kubuat pun telah selesai. Aku memasak sup daging serta tumis daging sayur dan saat ini telah ku hidangkan tepat sebuah wadah dan menaruhnya tepat di tengah-tengah karpet dan tak lupa aku mengeluarkan sekeranjang kecil roti cukup besar yang kubeli di Kota Elato dari 'ruang penyimpanan' dan menaruhnya.

__ADS_1


"Christie sudah waktunya makan."


Aku memanggil Christie yang jaraknya tidak cukup jauh dari tempatku saat ini. Christie sedang mengogosok-gosok lembut badan kuda dengan sikat pun terhenti dan melihat kearahku.


"Baiklah."


Latifa menaruh sikatnya tepat di samping ember besar yang berisikan air dan setelah itu dia berjalan mendekati aku dn Latifa yang sudah duduk.


Christie duduk di samping kananku yang kosong, sementara itu disisi lain ada Latifa yang duduk.


"Wahhh kelihatannya enak nih."


Kagum Christie melihat hidangan yanh dibuat olehku dengan Latifa.


"Yasudah kalai begitu mari kita mulai makannya."


"Baik."


Keduanya menjawab dengan serentak dan mulai mengangkat semangkuk makanan kami masing-masing menyatap hidangan.


Aku sedikit gugup karena aku takut masakanku tidak memuaskan lidah mereka. Karena itu aku menunggu mereka makan terlebih dahulu.


"Wahh sup ini sangat enak dan memiliki rasa kaldu yang ringan Kazura, padahal ini sup daging."


Komentar positif diberi oleh Christie akan masakanku. Aku merasa senang dia menyukainya.


"Benar sekali Kazura, ini sangat enak." Pujian diberikan kepadaku dari Latifa.


Aku bernafas lega pula, karena Latifa pun menykainya. Aku tertawa malu atas pujian mereka berdua.


"Hehehe... ini tidak seberapa. Namun sebelumnya aku takut kalian tidak menyukainya."


"Hmm."


Setelah itu akupun mulai menyantap makanannya.


Di pertengahan makan Christie melihat kearahku dan berkata, "Ohh iya Kazura, apakah kamu tahu?"


Aku menghentiakan suapanku akan perkataan Christie yang tak ku mengerti, aku melemparkan pertanyaan.


"Tahu tentang apa?"


"Kau tahu di dekat sini terdapat sebuah dungeon monster iblis loh."


Aku terkejut akan kata-katanya sekaligus tertarik akan dungeon monster yang baru saja ia katakan.


"Apakah benar itu Christie!?"


"Yah benar sekali."


Dungeon monster seperti namanya adalah ruang bawah tanah yang di tempati oleh monster-monster iblis yang dibuat khusus oleh klan iblis itu sendiri serta reruntuhan bekas perang. Dimana terkadang kita disana harus bertarung dengan berbagai macam monster iblis, menemukan item-item berharga, item langka yang dapat dijual dengan harga tinggi serta dapat menaikkan kekuatan bertempur secara individu maupun kelompok.


Baiklah ini adalah kesempatan bagus untukku, jadi tidak akan ku sia-siakan kesempatan ini.


"Baiklah aku memutuskan setelah istirahat ini, bagaiamana kalau kita masuk ke dungen sana?"


Aku dengan semangat bertanya kepada mereka berdua apakah mereka setuju atau tidak akan hal ini.


"Hmmm... etto. Jika iti keinginanmu, aku tidak akan menolak Kazura."


Dengan santai Latifa menjawab keinginanku itu. Aku melirik ke arah Christie.


"Baiklah aku akan masuk kesana juga, ini pasti akan menarik menurutku."


"Baiklah sudah diputuskan kita akan masuk ke dungeon besok pagi."


Nampaknya rencana untuk mengantar Latifa ke kampung halamannya pun harus sedikit tertunda akibat kita memtuskan untuk menjelajah masuk ke dalam dungeon esok hari.

__ADS_1


(BERSAMBUNG).


__ADS_2