Boku Wa Betsu No Isekai De Umarekawarimashita ( Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Lain)

Boku Wa Betsu No Isekai De Umarekawarimashita ( Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Lain)
Sampai nya di Desa Moura.


__ADS_3

"Kazura. Kazura. Kazura! Ayo bangunlah-bangun, ini sudah pagi!"


Begitu ucap Latifa-san menggoyang-goyangkan tubuhku berusaha membangunkan ku yang masih tidur setengah sadar.


"Hmmm iya, iya Latifa-san aku bangun."


Begitu jawabku kepadanya yang masih tetap memejamkan mataku. Aku perlahan membuka mataku sambil memegang kepala yang masih terasa agak pusing karena minum-minum semalam.


Terlihat belahan oppai Latifa-san yang besar dengan ujung bra nya yang terlihat keluar tepat di depan mataku. Aku mulai membayangkan bagaimana rasanya payudara itu. Namun aku tersadar kembali bahwa itu tidaklah baik.


Kemudian aku perlahan bangkit dari tidurku bersamaan dengan Latifa-san yang bergeser sedikit dari sampingku. Lalu aku duduk terdiam beberapa detik di atas kasur sambil mengusap-usap mukaku.


"Baiklah kalau begitu Latifa-san, kamu turun duluan saja untuk sarapan, nanti setelah itu aku menyusul ke bawah."


"Yasudah, kalau begitu aku sarapan duluan oke !"


Latifa melangkah menuju keluar kamarku dan menutup pintunya secara sopan.


"Hahhhh ada-ada saja padahal aku masih ingin tidur."


Ucapku yang bergumam sendiri sambil menghela nafas panjang nan berat. Kemudian aku berjalan keluar kamar dan menuju ke bawah untuk sarapan.


Saat aku melangkah di pertengahan tangga, Belia yang sedang bersih-bersih di bawah melihatku kemudian menyapaku.


"Selamat pagi Kazura-san, bagaimana istirahatmu apakah nyaman?"


"Ahh nyaman sekali Belia-chan, sampai-sampai aku ingin tidur terus sepanjang hari ini."


Ucapku sambil tersenyum kepadanya.


"Hehehe, Syukurlah kalau begitu Kazuma-san. Baiklah sekarang aku sudah menyimpakan sarapan untukmu dan Latifa."


"Iya, terima kasih yah Belia-chan."


Ucapku sambil memberikan uang tips 2 koin tembaga kepada Belia-chan.


"Terima kasih Kazura-san."


Dengan Senyuman Belia-chan yang imut membuatku ingin sekali menculiknya dan mengadopsinya sebagai anakku.


Kemudian aku melangkah duduk di kursi meja makan yang disana sudah ada Latifa-san yang duduk.


"Kamwhu lawha seukuali Kazura, jahi akeu makhan duwuanan deh."


"Hahhh.... kau ini, bisakah kau telan dulu makanan yang ada di mulut mu, setelah itu baru bicara."


Dia menuruti apa yang aku katakan, dia mengunyah makanan yang ada di mulutnya kemudian menelan makanan dan setelah itu Latifa-san berbicara.


"Kamu lama sekali sih Kazura, jadi aku makan sarapan ini duluan deh. Kamu juga cepat makan nih nanti aku habiskan sendiri hehehe..."


Sambil menyerahkan satu mangkuk sup daging kambing dan satu potong roti kepadaku.


"Ahh baiklah."


Kemudian kami sarapan bersama.


***


Selesai sarapan, kami menuju meja resepsionis yang dijaga oleh Dozuki-san.


"Dozuki-san jadi berapa harganya untuk sarpan tadi?"


"Ahh kalau itu gratis Kazura-kun, tidak perlu bayar."


"Ehh benarkah itu. Kalau begitu terima kasih Dozuki-san"


"Ahh tenang saja Kazura-kun ini tidak seberapa. Ohh iya aku punya sesuatu untukmu, tunggu sebentar ok!"


Kemudian dia mengambil sesuatu di bawah mejanya. Dan setelah itu meletakkan sebuah peta dengan sebuah busur panah di atas meja.

__ADS_1


"Ahh ini dia yang ku janjikan semalam, yaitu peta menuju ke hutan besar Banyan."


"Ohh iya terima kasih Dozuki-san."


"Dan ini busur panah untukmu, karena sudah tak terpakai olehku, jadi aku serahkan kepadamu sekarang."


"Ehh benarkah, terima kasih banyak Dozuki-san."


Dengan senang aku menerima pemberiannya. Dozuki-san pun tersenyum.


"Ohhh uya Kazura aku lupa jubah dan pakaianku tertinggal di atas, Aku ambil dulu yah!"


"Hmm yasudah kamu ambil dulu saja sana!"


Latifa berlari menuju kamar penginapan yang di pakai olehnya semalam. Tak lama ia pun kembali sambil memakai jubahnya kembali.


"Ohh iya Dozuki-san kalau boleh tau disini ada kendaraan menuju ke Desa Moura tidak yah?"


"Kalau itu biasanya ada pedagang yang melewat ke desa ini untuk menuju kesana dan selalu memberi tumpangan. Coba saja kau cari saja."


"Baiklah, kalau begitu terima kasih Dozuki-san, kalau begitu kami permisi dulu."


"Yahh, hati-hati oke..."


"Dadah onii-chan, onee-chan jangan lupa mampir lagi yah."


Kemudian kami keluar dari penginapan dan mencari kendaraan kereta kuda agar lebih cepat menuju ke Desa Moura.


***


Saat kami mencari bertanya-tanya akankah ada kereta kuda yang akan menuju ke sana. Tak lama kami menemukan keberuntungan ada sebuah pedagang yang akan menuju kesana. Aku dan Latifa-san menumpang, menaiki kereta kuda itu. Tak lama setelah itu kami pun berangkat.


Jalan tanah dan juga bebatuan membuat suara kasar dan juga guncangan saat kereta kuda melaju. Pantatku pun terasa agak sakit menaiki kereta kuda ini karena tempat duduk di dalam sini tidak ada alas apapun selain papan kayu dan juga kami berdesak-desakan dengan barang-barang bawaan pedang ini.


Namun Aku menahan penderitaan ini karena jika berjalan itu akan sangat melelahkan dan entah sampai kapan aku sampai ke Desa Moura.


Begitu ucapku yang memulai percakapan kepada Latifa.


"Yah ini lumayan bagus Kazura, walaupun terbuat dari kayu, tapi lumayan enak dipakai dan juga tali busurnya ini kualitas terbaik."


"Ehh...? Memang tali busur nya sebagus itukah?"


"Yah ini kualitas terbaik, karena tali busur ini terbuat dari benang baja Monster Laba-laba Hitam."


"Hehh..."


Dia terlihat senang saat dia berbiacara soal busur.


"Baiklah kalau begitu lihat ini yah Kazura aku akan memanah pohon itu."


Aku terkejut akan ucapannya sekaligus tidak percaya. Karena saat ini dia akan mencoba memanah pohon yang jaraknya sekitar tiga ratus meter dan terus bertambah jaranya setiap detiknya.


"Ehh..., jangan ngawur Latifa-san. Kan kau tak punya anak panah Latifa?"


"Untuk memanah bangsa Elf tidak perlu selalu mengandalkan anak panah. Kami bisa menggunakan sihir untuk membuat anak panah. Coba kau perhatikan baik-baik yah Kazura-san."


Dengan bangganya dia berkata begitu. Kemudian Latifa menarik tali busurnya dan mulai merafalkan mantra sihirnya.


"Wahai roh angin berikanlah aku panah dari berkahmu 'Wind Arrows'."


Lalu munculah angin yang sangat persis menyerupai sebuah anak panah menempel di busur yang Latifa-san tarik saat ini. Setelah itu Latifa langsung melepaskan pegangan dari tali busurnya, menembakkan anak panah yang terbuat dari sihir angin ke pohon.


Saat Setelah panah angin itu di lesatkan, angin lesatan dari panah itu meniup baju serta rambut kami berdua cukup kuat . Dan anak panah itu menimbulkan suara yang lumayan keras setelah membentur tepat ke tengah batang pohon disana sampai meninggalkan jejak sebuah lubang sebesar bola tenis.


Disitu aku dikejutkan kembali, karena aku tidak menyangka ada sihir yang bisa membentuk menjadi sebuah alat.


"Gimana sihir panah anginku, kamu terkesan kan Kazura!"


"Wahhh itu hebat sekali Latifa-san. Aku tidak menyangka jika sihir bisa bermanfaat seperti itu."

__ADS_1


"Hehehe...."


Dengan sikap yang bangga Latifa tunjukkan kepada ku. Sikapnya yang ia tunjukan itu membuatku agak kesal, karena seperti aku terasa kalah oleh seorang wanita.


"Iya, iya aku terkesan. Sini aku pinjam, Akupun bisa kalau melakukan yang kayak begitu mah."


"Fufufu..., memangnya kamu bisa melakukannya. Kau kah hanya perualang tingkat F."


Sindirannya kepadaku sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya, .


"Yasudah Kazura, ini tunjukkanlah padaku jika kau bisa melakukannya."


Ia menyodorkan busur panahnya kepadaku, akupun mengambilnya. Setelah itu aku mencoba memanah seperti apa yang Latifa lalukan barusan.


Aku mulai menarik tali busur dengan kekauatan yang cukup, lalu aku menutup mataku sambil membayangkan sebuah panah yang terbuat dari angin.


Tanpa rafalan mantra dan hana mengandalkan imajinasi di pikiranku, panah angin itu terbentuk. Setelah itu aku langsung berkata" [Wind Arrows] " bersamaan dengan melepaskan tali busur.


Panah yang ku tembakkan melesat jauh sampai menembus 3 pohon sekaligus. Latifa-san yang melihatnya pun tercengang, tidak percaya akan kejadian yang dialaminya ini.


Matanya melotot dan mulutnya terbuka hingga membeku bagaikan patung es untuk beberapa saat. Aku menaruh kembali busur panahnya di sampingnya dan berkata.


"Jadi lihatlah lihatlah Latifa-san, panahku lebih hebat kekuatannya dari panah yang kau tembakkan tadi." Dengan bangga aku menyombongkan panahannku yang lebih hebat darinya, walaupun itu sebenarnya secara kebetulan menurutku.


Akan tetapi Latifa-san tak mendengar perkataanku dan tetap saja terdiam, tak percaya.


"Heyy Latifa-san sadarlah."


Ucapku dengan nada yang datar bersamaan dengan menepuk pundaknya. Ia pun terlihat sadar kembali, dan langsung menatapku dengan tajam seperti se'ekor hewan buas.


Lalu dia mencengkeram kedua pundakku dengan kuat. Aku sontak kaget sekaligus takut melihat Latifa yang bertingkah dan berwajah seram seperti ini.


"Seram, seram, serammmmmm, tampangmu menyeramkan Latifaaaaa-san."


"Bagaimana kamu bisa melakukan sihir 'Wind Arrows' tanpa merafalkan mantra, jawab?"


"Baik-baik aku akan menjawab pertanyaan mu tapi lepaskan cengkraman mu dari pundakku dan juga hentikan muka seram mu itu."


Latifa melepaskan cengkeraman nya dan raut mukanya pun berubah seperti semula.


"Ehem, jadi begini Latifa, aku hanya membayangkan saja jenis serta bentuk sihir yang aku pakai, lalu mengalirkan kekuatan sihirnya ke ujung jari ku dan terciptalah."


"..."


Latifa-san hanya terdiam setelah mendengar penjelasanku, entah dia mengerti atau tidak. Namun saat melihat matanya yang seram itu seperti mengatakan 'kau pasti bercanda kan' begitu yang bisa aku prediksi.


"Kau ini pasti becanda kan?"


Seperti ya tebakanku benar. Aku menjawab perkataannya.


"Tidak, Aku serius kok Latifa-san untuk apa aku bo-."


Saat Latifa akan menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sang kusir menyela ucapannya.


"Permisi anak muda sekalian, kita sudah hampir sampai di desa Moura."


"Wahhh benarkah pak!"


Ucapku yang dengan gembira karena akhirnya sampai juga di desa Moura tempat ku menjalankan questku.


"Kalian bisa lihat saja di depan sana, tuh."


Sang kusir menunjuk ke depan yaitu dimana letak desa Moura berada.


Terlihat di depan sana, di posisi kami yang berada di atas bukit. Sebuah desa yang kecil dengan rumah-rumah yang jaraknya lumayan renggang.


Dan akhirnya siang itu kami sudah sampai di desa Moura.


(BERSAMBUNG)

__ADS_1


__ADS_2