
Keesokan pagi, aku sudah berada di dalam bangunan Guild untuk melaporkan quest yang telah aku jalani dan meninggalkan Latifa-san di penginapan sendirian, karena takut kehadirannya akan menjadi sebuah keramaian di dalam guild ini.
Suasana rangan besar Guild sudah ramai dipadati oleh para petualang yang duduk bersantai dan ada juga yang melihat-lihat kertas quest yang tertera di papan quest.
Aku yang berada di depan pintu berjalan mendekati untuk menuju meja konter tempat Neila-san sekarang ini berada. Seperti biasa, para petualang yang sedang duduk melihat kearahku dengan pandangan tidak senang dan juga ada pandaan ang meremehkan kehadiranku.
Akan tetapi sebagai orang yang bijak, aku menghiraukan pandangan mereka dan terus berjalan untuk menghindari terjadinya masalah.
Sampainya di depan meja konter, Neila-san yang melihatku langsung berkata kepadaku.
"Selamat datang kembali Kazura-san. Bagaimana, kamu sudah menyelesaikan quest nya?"
"Yah... syukurlah aku sudah menyelesaikannya dan ingin melaporkan tentang questku."
"Baiklah, kalau begitu kamu pegang Bola kristalnya."
Aku meletakkan tangan kananku di atas Bola kristal alat sihir pendeteksi kebohongan.
"Baiklah , jadi ada berapa Goblin yang berada disana Kazura-san?"
"Total Goblin semuanya ada 25 Goblin. 24 Goblin biasa dan 1 HobGoblin. Dan inilah sebagai buktinya."
Aku menaruh kantung yang berisikan sebelah telinga goblin yang telah aku potong, dan aku mengeluarkan mayat Hobgoblin dari ruang dimensiku tepat dilahan sebelahku yang kosong cukup luas.
Neila-san serta para petualang yang hadir disana terkejut akan mayat HobGoblin yang aku keluarkan.
Para petuang seketika mendekat kearah mayat HobGoblin yang aku tergeletak di atad lantai kayu.
Keramaian mulai terjadi di sekitarku, seakan mereka tak percaya bahwa akulah seorang petualang peringkat F telah membunuh HobGoblin.
"Palimgan pria ini hanya memungut mayat HobGoblin yang sudah di bunuh oleh petualang peringkat tinggi." Salah seorang petualang berbadan kekar berkata seperti itu, melancarkan sebuah hinaan kepadaku.
Neila-san melihat ke arah bola kristal pendeteksi kebohongan. Seperti yang di harapkan, bola kristal itu berwarna putih menandakan bahwa aku tidak berbohong sama sekali.
"Tunggu dulu, dari reaksi bola kristal pendeteksi kebohongan, ini benar kenyataan bahwa Kazura-san lah yang telah membunuh HobGoblin ini."
"Whooo...." Sorak sorai para petualang tampak heboh setelah mendengar faktanya seperti itu.
"Cihh...." Nampaknya petualang satu itu yang tadi menudingku terlihat tidak senang.
"Baiklah Kazura-san, kau sekarang boleh melepaskan bola kristalnya."
Aku menuruti perkataan Neila-san, melepaskan peganganku dari atas bola kristal.
"Baiklah kalau begitu ini adalah bayaranmu Kazura-san."
Ucap Neila-san sambil menyodorkan 1 keping koin emas dan 5 keping koin perak.
"Anu Neila-san kenapa aku mendapatkan lebih 5 keping koin perak yah?"
Begitu ucapku kepada Neila-san , Aku merasa heran karena saat aku menerima quest kemarin di kertasnya tertera imbalannya adalah 3 keping koin perak.
"Ini adalah lebihmu dari Guild karena telah membunuh 1 HobGoblin. Karena Guild kami tak mau mengecewakan kerja keras para petualang, jadi setiap ada quest yang misinya tak terduga mereka akan diberi imbalan lebih."
"Heeeh begitukah, baiklah terima kasih Neila-san."
Ternyata di dunia ini juga ada mengenakan sistem yang berkerja keras mendapatkan penghargaan lebih.
Aku tak bertanya lagi, aku mengambil lalu memasukkan uang bayaran hasil questku ke kantong uang yang menggantung di pinggang celana sebelah kananku.
"Akan tetapi tak dapat di percaya kamu bisa membuat kejutan seperti ini. Di hari pertama kamu menjadi petualang, kamu berhasil mengalahkan hewan iblis Black Wolf dan sekarang kau berhasil mengalahkan Hobgoblin di ranking mu yang masih peringkat F. Aku jadi penasaran seberapa besar kekuatan yang kamu punya."
Neila-san melemparkan pujian seperti iru kepadaku, dengan suara yang menggoda.
__ADS_1
"Yahh itu mungkin hanya kebetulan saja aku bisa membunuhnya, karena sihir dan beladiri pedangku biasa-biasa saja kok." Ucaoku menyangkal pujian dirinya, karena aku tidak ingin menjadi besar kepala karena pujiannya itu.
Kemudian Neila-san mendekatkan mukanya ke dekat telinga kananku dan berbisik.
"Ehh jadi kau juga bisa ilmu beladiri pedang kah! Aku jadi makin penasaran denganmu loh, K-A-ZU-RA."
Suaranya Neila-san yang halus menggoda berbisik di telingaku dengan senyuman yang menawan membuatku seketika menjadi gugup.
Dengan cepat aku mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dengan Neila-san.
"Hahahaaaa, bi-bisa saja Neila-san menggodaku." Tawa canggung aku tunjukan kepadanya.
"Ehhh..., padahal aku tidak menggodamu loh, aku beneran tertarik sama kamu."
Entah di sengaja atau tidak Neila-san dengan nada nyaring berkata seperti itu.
Sontak Para petualang di sekitarku yang mendengar ucapan Neila-san memasang tatapan tajam, sehingga auranya tampak terasa bagaikan banyaknya siap-siap menancap di punggungku.
Karena tidak ingin jadi keributan aku secara cepat langsung berlari keluar dari bangunan Guild sambil berkata.
"Ne-Neila-san terima kasih yah, kalau begitu aku permisi."
***
Sesudah di luar Guild aku menghela nafasku dengan cepat, karena capek menahan nafas sambil berlari barusan. Hampir saja tadi didalam aku menjadi bulan-bulanan para petualang.
Setelah tenang aku mulai berjalan menuju ke toko peralatan milik Sieg-san, untuk melihat apakah katana pesananku sebelumnya telah di selesaikan.
Karena ke tempat Sieg-san melewati pasar, Akhirnya sebelum kesana, aku berencana meihat-lihat dulu barang yang dijual dibpasar, siapa tau ada beberapa barang unik yang dapat ku beli.
Aku berjalan perlahan sambil melihat satu per satu kios barang apa saja yang meeeka jual. Akan tetapi nampak selama ini aku belum menemukan sama sekali ada barang unik yang dapat aku beli.
Sampai pada akhirnya setelah hamoir sampai ke tempatnya Sieg-san, aku melihat ada seorang pedagang memakai jubah bertudung bewarna cokelat gelap.
"Yah selamat datang tuan, silahkan dipilih bukunya."
Aku melihat buku-buku itu, dan entah mengapa ada beberapa buah buku yang aku rasakan seperti mengrluarkan mengeluarkan aura yag cukup kuat.
Karena aku tertarik. Aku akhirnya jongkok dan langsung memegang buku yang di jualnnya satu per satu.
Setelah aku selesai memegangi buku-buku yang dia jual. Aku merasakan aura kuat itu tampak dimunculkan dari empat buah buku yang jilidnya sudah usang. Tanpa banyak tanya aku mengambil buku itu.
"Jadi berapa semua harga untuk empat buah buku ini?"
Sambil menunjukan jilid keempat buku yang ku pegang kepadanya.
"Ohh, nampaknya anda memiliki insting yang bagus. Harga semua buku itu menjadi 5 keping koin perak."
Begitu ucapnya sambil memegangi kedua tangannya dan melemparkan senyuman licik kepadaku.
Aku sudah tau dari senyumannya juga, pasti dirinya sedang menipuku, akan tetapi nampaknya dirinya tidak tahu bahwa buku ini mengeluarkan aura yang kuat.
Tanpa banyak tanya aku mengabil uangku di dalam kantong uangku dan membayarnya harga yang di sebuatkan untuk empat buah buku itu.
Aku mengambil empat buah itu dan langsung memasukkan bukunya kedalam tas selempangku.
Dengan senyum yang puas pedagang itu menerima uangku. Setelah itu aku langsung berjalan untuk menuju ke tempat Sieg-san.
"Terima kasih tuan, jangan lupa mampir lagi."
Begitu perkataan si pedagang yang melambaikan tangannya dengan senang ke arahku. Tak jauh melangkah dari pedagang buku , akhirnya aku sampai di depan toko milik Sieg-san.
Aku langsung membuka pintu tokonya, seperti saat pertama aku kesini suara lonceng ketika aku membuka pintu terdengar.
__ADS_1
Aku berjalan masuk ke dalam, sambil melepaskan gagang pintu yang aku pegang. Pintu toko milik Sieg-san tertutup dengan sendirinya secara perlahan, serta suara lonceng itu terdengar kembali saat pintu sudah tertutup sepenuhnya.
"Ohh~, selamat datang."
Perkataan Sieg-san seperti biasa menyambut para pelanggannya jika ada yang masuk menguunjungi tokonya. Suasana di dalam tokonya terlihat sepi tidak ada pelanggan.
"Halo Sieg-san, bagaimana kabarmu? Seperti biasa kau selalu saja membersihkan sebuah pedang saat ku berkunjung kesini."
Aku berkata begitu sambil berjalan mendekatinya.
"Ahh ternyata Kazura kah, kukira siapa! Aku baik-baik saja."
Lalu Sieg-san melanjutkan perkataannya.
"Seperti biasa ini adalah rutinitasku setiap hari, karena sebuah peralatan yang terawat itu adalah sebuah peralatan yang sempurna.'
"Syukurlah kalau begitu. Jadi bagaimana pesananku apakah kau sudah membereskannya Sieg-san ?"
"Yah untuk pesananmu aku sudah membuatnya. Tunggu sebentar yah aku akan mengambilnya."
Kemudian Sieg-san menaruh senjata dan lap yang dia pakai diatas meja, lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke pintu yang berada di belakangnya menuju ke ruangan belakang.
Akupun berdiri di depan meja, menunggu dia. Tidak memakan waktu lama Sieg-san kembali sambil membawa sebuah Katana yang di serangkai bewarna hitam, lalu menaruhnya diatas meja.
"Ini dia pesananmu kuharap kau suka."
Aku mengambil Katana diatas meja, kemudian menghunusnya secara perlahan.
Kilauan Katana berwarna hitam dengan mata pisaunya yang mengkilap cerah membuatku langsung jatuh hati saat itu juga.
"Jadi bagaiamana pedang yang kau sebut karana atau apalah itu, Apakah kau suka?
"Katana(pedang khas jepang) Sieg-san."
"Yah-yah, itu maksudnya Katana!"
"Yah aku suka dengan katana ini, lengkungannya, panjangnya, ketipisan nya, serta warna hitam yang elegan ini, Aku suka sekali Sieg-san."
Wajah Sieg-san yang agak tegang pun bernafas lega setelah ku berkata begitu. Dia sekarang nampak merasa bangga atas hasil karya barunya yang dia buat.
"Syukurlah kalau kau menyukainya. Kukira tidak akan sesuai harapanmu tadinya."
Tapi sulit di percaya bahwa ada yang bisa membuat katana di dunia ini. Kemudian aku memasukkan pedang yang lama ke dalam sihir ruang penyimpananku, lalu menggantungkan Katana di sebelah kiri pinggangku.
"Ohh iya Sieg-san aku ingin membeli beberapa anak panah dan juga tempat untuk membawanya, apakah ada?"
"Kalau itu aku masih mempunyai stok banyak! Ini dia."
Sieg-san mengambil sesuatu yang terdimpan dia bawah mejanya,sebuah wadah berbentuk bulat panjang di atas mejanya tidak lain itu adalah sebuah anak panah yang dikemas oleh wadah berbentuk panjang bulat terbuat dari kulit hewan.
"Setiap wadah berisi 20 anak panah dah harganya 4 perunggu per wadah, jadi berapa yang ingin kamu pesan?"
"Kalau begitu aku pesan lima wadah saja Sieg-san."
"Baiklah ini dia lima wadah anak panahnya."
Akupun mengambil lima wadah anak panah itu dan memasukkannya ke kantong salempangku lalu mengabil 2 keping koin perak dari kantung uangku dan membayarnya.
"Baiklah kalau begitu Sieg-san aku permisi."
"Yah, datang lagi yah."
Kemudian aku keluar dari toko dan berjalan kembali menuju penginapan.
__ADS_1
(BERSAMBUNG)