Boku Wa Betsu No Isekai De Umarekawarimashita ( Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Lain)

Boku Wa Betsu No Isekai De Umarekawarimashita ( Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Lain)
ch.27


__ADS_3

Setelah lebih dalam memasuki dungeon lantai enam ini, kami bertiga akhirnya sampai di sebuah ruangan yang besar dengan pilar-pilar bulat penyanggah bangunan ini.


Disana kami bertiga melihat sekeliling dan tak menemukan apapun selain sebuah lubang-lubang besar di atas mengelilingi ruangan ini.


"Tampaknya itu adalah jalan yang dibuat monster semut tadi."


"Tampaknya begitu Christie."


Selesai aku mengucapkan kalimat begitu, sekawanan monster semut muncul dari lubang-lubang besar itu.


"Akhirnya kalian datang juga semut-semut nakal. Baiklah mari kita mulai pertarungannya!"


Christie berteriak begitu kepada para monster semut yang baru muncul merayap mendekati kami dan maju pertama kali menyerang monster semut itu.


"Tunggu dulu Christie. Jangan menyerang mereka dulu sendirian."


Namun Christie mengabaikan perkataanku dan tetap maju menyerang dengan wajah serta jiwa yang penuh semangat.


"Aahhh...~"


Aku menghela nafas panjang sambil menepuk jidat akan kelakuan Christie itu.


"Latifa kau menyerang menjadi pendukung di belakang oke. Sementara aku akan maju membantu Christie."


Aku memberikan intruksi kepada Latifa menjadi pendukung agar punggung kami berdua dilindungi oleh mereka.


"Oke."


Aku langsung bergerak cepat untuk segera menyerang Monster semut membantu Christie di garis depan. Disamping itu Christie dengan teriakan keras dan mengayunkan rapiernya secara agresip namun elegan menyerang monster semut dengan gaya berpedangnya itu. Ini baru pertama Kali aku melihat gaya pedangnya. Dilihat dari gerakan serta gaya berpedangnya sama persis dengan gaya barat saat aku hidup di bumi dulu.


Aku menghampiri satu monster semut dan seketika menghentikan langkah lariku.Menatik nafas panjang dari hidungku dan menambahkan menarik nafas dari mulutku dan bersamaan aku memasang kuda-kuda dengan memegangi katanaku yang masih ku sarungkan.


" Teknik rahasia pedang Reizaki. Tebasan Naga Kembar."


Sambil meneriaki nama tehnik pedangku, aku melangkah maju sambil melesatkan tebasan cepat secara vertikal dan horizontal dengan sekejap mata bersamaan dengan kilatan kilauan yang terpancar dari katanaku tepat ke kepala monster semut.


Sriiing~


Suara saat ku masukkan katanaku ke dalam sarung.


Tak.


Saat sampai tepat aku memasukkan semua katanaku seutuhnya ke dalam sarung, disaat itu pula monster semut yang ku tebas tubuhnya terbelah menjadi empat dan dia pun mati seketika.


Selesai dengan membunuh satu moster semut. Datang kembali dua ekor moster semut dari sisi kiri dan kananku melancarkan serangan secara bersamaan kedua mulut mereka yang besar dan tajam seperti pisau sabit.


Namun aku dengan sigap melompat dengan sekuat tenagaku dan melayang diatas kepala kedua monster semut itu berhasil menghidari serangan mereka di detik-detik akhir.


Latifa yang sudah siap dengan panahnya pun melesatkan kedua anak panahnya yang sudah di perkuat sihir angin miliknya, seketika kedua panahnya itu tepat menembus membuat sebuah bolongan sangat dalam di kening kedua monster semut dan terkapar sekarat berdempetan.


"Waktu yang tepat." Ujarku memuji atas tindakan Latifa.


Semakin lama monster semut mengepung mengelilingiku. sekitar ada 5 ekor monster semut mengelilingiku. Aku terjebak diantara mereka dan menjadi sebuah sasaran empuk untuk mereka.


akan tetapi aku tidak dapat mudah dikalahkan oleh monster-monster keroco seperti ini. Tanpa pikir panjang mereka mulai menyerangku dengan serentak.


Aku tetap bersikap tenang dan menghus pedangku kembali sambil menarik nafasku dalam-dalam.


"Tehnik rahasia pedang Reizaki. Tebasan Bulan penuh."


Aku meneriakkan jurus tehnik pedangku kembali mengeluarkan tebasan memutar di iringin dengan cahaya biru yang besar melapisi katana milikku. Seranganku tepat mengenai mereka sebelum mereka semua serangannya mengenaiku.5 monster semut sekaligus badan mereka terpotong dan mati seketika.


semakin lama semakin banyak pula monster semut yang mengincarku. mereka sesekali membuatku kewalahan namun aku dapat mengahkan mereka semua dengan cukup mudah. Dari kesibukan aku melawan monster semut, aku sesekali melihat ke arah Christie yang jaraknya tidak cukup jauh dari tempatku bertarung membasmi satu per satu monster semut yang terus berdatangan tanpa henti.


Tampaknya dia bertarung dengan moster semut juga tidak mengalami sedikit kesusahan. Sesekali aku bisa mendengar suara pedangnya nyaring beradu degan mulut monster semut yang tajam dan tebal sampai-sampai menimbulkan percikan api kecil.


Sambil memyerang satu per satu mosnter semut, sedikit demi sedikit aku mendekat ke arahnya. Jarak kami pun mulai memendek sekarang bisa dilihat mungkin kurang lebih sekitar satu meter.


"Hei Christie, janganlah kau menahan serangan mulutnya, bisa-bisa senjatamu akan cepat tumpul dan hancur."


Lantang aku memberi saran kepada Christie yang saat ini dikerumuni oleh empat monster semut di sekelilingnya.


"Akupun inginya begitu... Kazura. Akan tetapi, disini aku cukup kewalahan untuk melawan empat monster ini sekaligus. Bisakah kau membantuku."


"Baiklah setelah aku mengurus yang satu ini."

__ADS_1


Aku dengan cekatan menyerang satu monster yang tersisa di depanku dengan serangan teknik rahasia pedang Reizaki Naga Kembarku.


Seperti sebelumnya, semut yang ku hadapi ini pun mati dengan kepalanya terbelah menjadi empat bagian.


Setelah terbebas dari monster semut yang mencoba memangsaku. Aku seketika membalikkan badanku dan berlari ke arah Christie untuk membantunya.


"Christie merunduk!" Dengan lantang Latifa memberi perintah kepadanya.


Christie merunduk, menurut seperti apa yang di lantangkan Latifa.


Latifa seketika melesatkan satu panah yang sudah di perkuat sihir angin


"Keeekks!" Jeritan nyaring keras monster semut di depan Christie akibat sehabis terkena panah sihir angin yang menancap sangat dalam tepat ke arah mulutnya.


Namun tampak terlihat monster semut yang terkena panah sihir angin dari Latifa tidak mati seketika, namun nampaknya dia sudah terluka cukup parah.


"cih nampaknya dia cukup kuat.


Latifa menjentikan bibirnya, merasa tidak puas akan hasilnya itu.


"Assist yang bagus cewek hutan. Sekarang aku akan menghabisimu monster jelek."


"Sialan kau cewek barbar!"


Latifa nampaknya sedikit kesal akan ucapan Christie.


Walaupun dalam keadaan seperti ini. Nampaknya Christie masih sempat-sempat mengejek.


Christie menempelkan tangan kirinya tepat di tengah-tengah rapiernya.


Sambil memejamkan mata, warna bilah rapier yang tadinya mengkilap seketika berubah terlapis oleh sebuah cahaya merah pekat bagaikan api.


"Tehnik pamungkas. Tebasan Pedang Api!"


Sambil berteriak seperti itu, Christie melayangkan tebasan vertikal ke kepala monster semut dan kepala semut itu terbelah dua lalu disusul oleh api yang menyala dari kepala monster.


Kiikkkk!!


Monster semut yang di serang Christie pun menjerit melengking sebelum akhirnya mati terkapar.


Dan kedua monster itupun akhirnya mati terpenggal leher mereka sampai terpisah dengan tubuh mereka.


Lebih dari puluhan monster yang kami bunuh, akhirnya kami semua bisa beristirahat.


Kami bertiga saat ini cukup kelelahan. Nafas kami terengah-engah dan akupun bisa melihat asap tipis keluar saat aku menghembuskan nafas.


Latifa dengan nafas yang masih terengah-engah pun berjalan perlahan mendekat ke kami berdua.


"Tadi itu cukup sulit juga ternyata yah, sampai-sampai mereka bisa menguras setengah mana milikku."


Perkataan seperti itu dia ucapkan kepada kami berdua.


Kemudian saat kami bertiga sudah berkumpul berdekat.


Kiiikt! Kiiikt!


Suara erangan keras terdengar kembali dan monster semut bermunculan kembali.


Kami bertiga seketika terkejut akan hal ini.


"Sial... kenapa mereka... ada kembali!" Keluh kesal Christie dengan nafas yang terengah-engah berat.


"Ahhh mooo... tolong ampuni aku!" Keluh Latifa dengan raut wajah yang lemas berkata seperti itu melihat para monster semut berdatangan satu per satu dari lubang.


Tampaknya ini akan memakan waktu lama!


Aku menghunus kembali katana dari serangka pedang.


Serangan pertama di gelombang kedua ini pun diawali oleh Latifa yang melesatkan tiga panah sekaligus ke arah depannya, tepat arah monster semut yang bergerak cepat akan menyerang.


Lesatan tiga panah oleh Latifa tidak ada yang meleset satupun, panahnya menancap dalam di kepala monster semut dan ketiga semut itu seketika terkapar dengan kepala nya mengeluarkan darah.


Kami bertiga saling membelakangi punggung satu sama lain samn memasang sikap waspada akan monster semut yang berjalan mulai mendekat.


"Arrgg...! Ini mulai menyebalkan. Aku ingin segera keluar dari sini dan melanjutkan perjalanan."

__ADS_1


Keluhku seperti itu melihat monster semut yang semakin mendekat sekitar jaraknya dua meter dari kami bertiga.


Aku langsung mengambil langkah cepat dan melayangkan menebas satu leher monster semut yang paling dekat di depanku.


Monster semut yang tidak cepat merespon seranganku pun pada akhirnya terpenggal oleh tabasanku dan mati dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya dan juga darah pun menyemprot deras keluar dari luka yang ku buat itu sedikit mengotori ujung katana milikku.


Creet~


Suara darah yang menyiprat ke lantai batu yang bercampur tanah sesaat sebelumnya menempel di katana ku setelah aku mengayunkan pedangku ke samping.


Mood burukku sekarang mulai meningkat, bukan karena aku marah, yah walaupun sebenarnya sih sedikit marah, akan tetapi saat ini aku sudah merasa kesal, bosan dan capek akan melawan semut-semut ini.


"Kalian berdua. Kalian tidak usah melawan mereka, biarkan aku saja yang melawan dan menghabisi mereka semua."


Aku melirikkan kepala kepada Latifa dan Christie dan dengan nada datar namun cukup mencekam aku berkata kepada mereka berdua seperti itu.


"Apa kau sedang melawak atau ingin bunuh diri Kazura. Bagaiamana mungkin kau bisa mengalahkan mereka semua."


Kesal Christie menjawab perkataan ku. di satu sisi Laitfa mengerti akan ucapanku dan tengah mengetahui akan kekuatanku tidak memprotes apapun.


"Sudahlah lebih baik dengarkan perkataannya Cewek bar-bar."


tegas Latifa kepada Christie.


"Apa kau sudah gila juga cewek hutan. mana mungkin kita meninggalkan dia bertarung sendirian melawan puluhan monster ini."


Aku menjadi nambah kesal akan mereka berdua dan mulai berkata kepada mereka berdua dengan aura yang sangat mencekam dan mengerikan.


"SUDAHLAH CEPAT PERGI! KALIAN MENGGANGGUKU SAJA!!"


Mereka berdua tercengang akan ucapanku tanpa pikir panjang mengangguk dengan kebingungan sekaligus takut yang tergambar dari raut wajah mereka.


Saat itu aku mulai mengingat kejadian akan kehidupan kecilku dulu. Dia adalah sosok master sekaligus ayahku yang melatihku kendo dengan sangat keras karena aku putra kedua dari tiga bersaudara keluarga Reizaki yang memiliki garis turun temurun kekuarga besar kendo yang tertua di jepang dan aku juga selalu dibanding-bandingkan dengan kakak ku yang jenius kendo di keluargaku.


Saat itu aku pernah diajarkan salah satu tehnik rahasia pedang klan Reizaki yang bernama 'Kyujuukyu No desusurasshu'(sembilan puluh sembilan tebasan kematian).


Tehnik rahasia ini sangat gila karena memerlukan kapasitas paru-paru yang sangat besar dalam satu tarikan nafas untuk memperkuat sel-sel otot dalam tubuh serta pembesaran pembulu darah.


Namun tehnik ini juga mempunyai tujuh tingkatan. Dan saat ini aku baru menguasai tiga tingkatan dari tujuh tingkatan itu tak seperti kakak ku yang umur nya 2 tahun lebihbtua dariku telah menguasai 7 tingkatan itu walaupun belum sempurna, kakak ku telah berhasil mengalahkan ayahku dengan kekuatan nya.


Perkataan mengancam yang telah aku lontarkan itu aku seketika mengalihkan pandanganku kembali kepada para monster semut.


"Ayah walaupun aku membencimu kaeena latihan yang keras itu, namun saat ini aku akan menggunakan tehnik itu."


Huuusss~


Huuup~


Suara tarikan nafas dari hidungku dan di lanjutkan dari mulutku pun terdengar cukup keras olehku sendiri.


Aku langsung memasang kuda-kuda berpedangku dengan sangan kokoh dan penuh konsentrasi.


Tanpa pikir panjang aku maju menyerang, berlari dan menebas satu per satu musuh-musuhku yaitu monster semut tiga kali lebih cepat dari seranganku seperti biasa.


Suara jeritan satu per satu kematian dari moster semut terdengar sangat histeris. Namun jeritan itu aku abaikan dan tidak membuatku gentar ataupun merasa kasihan dan iba kepada monster semut yang terbunuh olehku. Karena saat ini di dalam pikiranku yang tertanam adalah jika aku tidak membunuh mereka fakta yang pasti mereka akan membunuhku sama seperti hukum rimba.


Tubuhku sekarang mulai sedikit panas, urat nadiku mulai terasa seperti tersayat sayat, aku yang menahan nafasku juga mulai hampir pada batasnya.


Sementara saat ini di satu sisi aku baru membunuh sepertiga dari monster semut yang masih terus berdatangan mengepungku.


Sial nampaknya aku tidak bisa menyelesaikannya! Aku harus segera membuka tingkatan kedua.


Aku berlari gesit ke tepian sisi lain dari Latifa dan Christie.


Aku melakukan pernafasan dari sebelumnya akan tetapi aku menarik nafas lebih panjang dari sebelumnya.


Saat itu juga bentuk fisikku sedikit berubah. Otot-otot tubuhku mulai mengembang dan badanku menjadi sedikit membesar sehingga pakaian yang tadinya kupakai sedikit longgar pun menjadi agak ketat.


"Aaaaaa!!"


Teriakanku bersamaan dengan menyerang kembali moster semut bertambah cepat pula. Aku terus menebas dan menebas tubuh leher kepala monster semut dan tanpa disadari aku menampakkan senyuman dari wajahku. Hingga entahbsudah berapa belas menit lama waktu berlalu, aku pun telah selesai membunuh sekawanan monster semut tak tersisa.


Disisi lain saat selesai, aku melihat Latifa dan Christie yang menontonku hanya bisa berdecak kagum dan tak bisa berkata apa-apa sampai akhir.


(BERSAMBUNG)

__ADS_1


__ADS_2