
Letnan Anwar menerima informasi yang ia minta.
"Sudah ku duga, Boim ternyata tidak bisa diremehkan," gumam sang Letnan setelah mengerti pesan singkat yang ia terima. Awalnya tadi ia meminta anak buahnya di pusat data untuk mencari informasi dengan modal foto Hendrick. Identitas Hendrick pun mudah untuk didapatkan, karena memang Hendrick adalah salah satu target operasi. Polisi masih mengumpulkan bukti untuk dapat meringkus Hendrick. Data Hendrick terkait jaringan perdagangan manusia dan narkoba dalam skala Asean yang dikomandoi Boim. Boim sendiri sudah berada dalam penjara. Penjara yang sama dengan Dul Karim, jadi letnan Anwar sudah bisa mengaitkan kepentingan apa Hendrick mendatangi Ratih.
Sang Letnan berasumsi, Boim merekrut Dul Karim entah untuk melakukan apa dan menjadikan Ratih sebagai sandera.
***
Hendrik membius Ratih dan Ratih begitu mudah untuk ditaklukkan.
Di jalan lengang kemudian, Hendrick menyuruh sopirnya untuk belok arah ke sebuah rumah kosong. rumah kosong yang kadang jadi tempat sementara sebelum gadis-gadis hasil buruannya mereka salurkan ke agen.
Dalam pengamatan letnan Anwar, tampak Hendrick dan sopirnya membopong Ratih. Ratih yang tak berdaya di tidurkan di atas teras kayu.
"Andai saja, kamu tidak sedang hamil. Urusannya pasti lain," gumam Hendrick sambil menyeringai dan menatap lembut wajah Ratih untuk terakhir kali.
"Bang, kenapa tidak kita habisi saja," saran sopirnya Hendrick.
"Halah, buat apa, suaminya sudah mati, kamu dengar sendiri tadi si Bewok bilang apa," ujar Hendrick sambil membuka tas Ratih dan mengambil lagi uang darinya itu, dan handphone Ratih.
"Ayo," ajak Hendrick pada anak buahnya untuk segera berlalu. Sopirnya yang masih planga-plongo pun segera menyusul.
"Nanti kalo sudah besar anaknya balas dendam Bang."
"Kebanyakan nonton sinetron kamu."
Letnan Anwar menyendiri di sudut tersembunyi, ia baru selesai menelepon bantuan. setelah Hendrick berlalu, setengah jam kemudian ia turun dari kendaraannya. ia kenakan rompi anti peluru, kaca mata hitam, topi hitam dan terakhir memeriksa fungsi pistolnya. Letnan Anwar tampak kecewa, bantuan yang ia minta tak kunjung datang.
Letnan Anwar nekad dan mengendap-endap sendiri memasuki rumah kosong yang terlantar itu. Walaupun sudah terbilang tua, dan harusnya nyaman dengan jabatan letnan jenderal. Tapi letnan Anwar masih percaya diri dan suka tantangan, ia dulu juara menembak dan masih yakin dirinya tetap segesit dulu.
Sepi, tidak terdengar pergerakan manusia di dalamnya, ia pun hanya mendapati seorang Ratih yang tergolek sendiri tak berdaya.
Letnan Anwar bersyukur, Hendrick ternyata tidak membunuh Ratih.
Bantuan pun datang dan langsung dimaki oleh Letnan Anwar.
"Dia keburu kabur, dasar lelet, untung korbannya berhasil saya lindungi."
__ADS_1
"maaf Letnan."
"Ayo, bantu saya gotong dia, biar saya sendiri membawanya ke markas untuk di mintai keterangan. kalian kembali saja ke pos masing-masing.
"Siap Letnan."
Boim menerima telepon saat santai di kursi besi yang menghadap lapang basket di dalam penjara itu.
"Bos, ternyata Hendrick cs menyingkirkan Dul Karim dan istrinya."
Bos Boim tampak geram sekaligus sedih. Ternyata perintahnya tidak dipatuhi Hendrick.
"Don? Bereskan Hendrick. Ambil uangnya buat kamu," perintah Boim dan segera dimengerti oleh lawan bicaranya.
"Siap Bos." Satu kebohongan Don ucapkan. Ia tidak tahu kemana Hendrick membawa Ratih. Ia hanya menyakini asumsi pribadinya. Kalo Dul Karim saja mereka bereskan, pasti begitupula dengan Ratih. Don adalah warga keturunan Tionghoa yang mengabdi pada Boim sejak ia kabur dari Makau ke Jakarta 5 tahun lalu. Tampang Don tidak terlihat sangar seperti Hendrick, Don lebih mirip atlet Taekwondo dan penampilannya pun sering seperti atlet. Kaos olahraga dan celana kolor. Ia beralasan supaya bebas bergerak saat berkelahi. Don sangat senang berkelahi. Terlebih menyiksa musuh-musuhnya. Karena memang ia terlahir di kota asalnya yang penuh kekerasan.
Awalnya Boim memerintahkan Don untuk menguntit Dul Karim saat Dul Karim melakukan eksekusi. Boim selalu menyiapkan eksekutor kedua. Jadi kalo yang pertama gagal yang kedua menyelesaikan.
Awalnya Don menjalankan tugasnya dengan benar. Ia juga yang menghancurkan cctv dan merampas hardisk-nya. Tapi ia kecolongan, saat di jalan besar ia kehilangan Dul Karim saat Dul Karim melaju dengan taksi menuju tempat yang dijanjikan oleh Hendrick untuk pengambilan uang. Don sampai ke tempat saat Dul Karim sudah tak berdaya dan digulung dengan plastik dan di masukkan ke dalam bagasi.
"Saya bereskan sekarang juga," ucap Don terdengar meyakinkan.
***
Dua orang polwan sedang menunggui Ratih. Letnan Anwar tampak berpikir sambil mondar-mandir tidak jelas di luar kamar di mana Ratih berada. Ratih membuka mata dengan berat, rasa kantuk masih memintanya untuk kembali tidur. Tapi ia memaksa untuk membuka mata dan ia dapati dua orang polwan yang cantik bersih tersenyum padanya.
"Maaf, saya ada di mana?" tanya Ratih dengan wajah bingung. Ia tersadar dalam sebuah ruangan yang dingin dan bersih. Seluruh temboknya berwarna putih. Satu orang polwan itu meladeni Ratih dan yang satunya lagi keluar menghampiri Letnan Anwar.
"Ibu aman di sini, ini rumah sakit, beruntung Letnan Anwar berhasil menyelamatkan ibu dari para penjahat yang menculik ibu," ramah Polwan itu di samping Ratih yang masih terbaring. Perlahan Ratih duduk.
"Penjahat? Penculik??" Ratih tak mengerti, seingat dirinya, ia pergi bersama seorang pria yang mengaku dari dinas Sosial.
Letnan Anwar menghampiri Ratih.
"Banyak yang akan kami tanyakan, soal suami ibu. Tapi nanti, oh iya, Bu Fahira, maaf tolong ambil makanan."
"Siap pak, sebentar ya ibu," seorang polwan bernama Fahira itu pun undur pamit dari sisi Ratih. Ratih masih tampak bingung.
__ADS_1
"Orang yang membawa ibu adalah seorang buronan. Dia bernama Hendrick, ia biasa menculik para gadis remaja dan menjualnya sampai ke luar negeri." Menyadari lawan bicaranya adalah seorang polisi, Ratih jadi menyesal telah percaya pada sembarang orang. Bu Fahira datang membawa nampan berisi buah-buahan, roti selai dan air mineral. Ratih patut bersyukur, ia selamat tanpa kurang suatu apapun.
"Silahkan ibu makan dulu."
"Terima kasih," jawab Ratih sambil menerima makanan dan minuman itu. Sementara Ratih makan dengan lahapnya, letnan Anwar menerima telepon.
"Halo, ada apa?"
"Ada pergerakan masif dari komplotan Teo?" suara dari dalam telepon genggamnya membuat letnan Anwar harus keluar ruangan dan melanjutkan komunikasi dengan serius.
"Kamu yakin? Ke arah mana mereka?" tanya Letnan Anwar.
"Mereka menuju Bogor, sesuai dengan informan kita di daerah itu. Ada sebuah villa yang dibeli ayahnya Teo di sana."
"Apa informan yang di sana sudah memberi tau detail ada kejadian apa di Bogor?"
"Belum, dari awal penjagaannya ketat, dia tidak berani mendekat,"
"Segera ikuti mereka, minta bantuan bila perlu," titah letnan Anwar.
"Siap Letnan." Letnan Anwar pun menutup teleponnya dan kembali memusatkan perhatiannya pada Ratih. Setelah Ratih selesai santap makanan, letnan Anwar masuk dan menyuruh Bu Fahira keluar. Sang Polwan itu pun mengerti dan memberikan privasi pada Ratih dan Letnan Anwar.
"Maaf ya Bu, demi kebaikan ibu dan keselamatan suami ibu, tolong jawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan jujur." Ratih mengangguk, ia siap memberikan keterangan.
***
Teo menyusuri setiap sudut villa berdarah itu. Ia masih belum habis pikir, "siapa yang telah melakukan pembantaian ini." Jasad ayahnya masih mengambang di kolam bersama jasad seorang wanita cantik. Air kolam itu pun sudah merah oleh darah.
"Tembakan sembarangan, dari jarak dekat," pikir Teo.
"Bos, cctv turut di rusak dan hardisknya hilang. Tapi saluran online berhasil merekam semuanya," ucap Dias.
"Ini belum lama, siapa yang pertama memberitahu kita?" tanya Teo pada Dias.
"Satpam kawasan."
Sisir sekitar wilayah ini, tanya juga pada pihak kawasan data keluar masuk kawasan."
__ADS_1
"Siap Bos."