Brajamusti

Brajamusti
Don dan Dul


__ADS_3

Don datang terlambat, iya masuk kamar dan menemukan jasad Hendrick dengan kepala yang hancur. Don terlalu sibuk menghajar satu anak buah Hendrick di ruang tengah.


Dul Karim masih terpana akan kedahsyatan pukulan Brajamusti yang ia gunakan barusan. Ia ngeri sendiri, begitupula Don, Don mengira kepala Hendrick hancur karena tembakan senjata laras panjang kaliber besar. Tapi tidak ada senapan berat, tatapan Don seolah bertanya pada Dul Karim, dengan senjata apa Dul Karim menghabisi Hendrick.


"Dendamku sudah tuntas, aku harus pulang," ucap Dul Karim dengan napas yang terengah. Don mengerti dan menepuk bahu Dul Karim.


"Sayang sekali, tapi itu hak kamu, kami tidak akan memaksa," ucap Don.


Sesuai instruksi Boim yang tertulis bersama cek itu,


Setelah kau ambil dan amankan uangmu, segera hubungi orang ini, namanya Don Lee, di alamat ini. Dia yang akan membantu dan menunjukkan dimana Hendrick berada. Setelah Hendrick kamu bereskan, saya sangat berharap kamu bergabung dengan kami. Pikirkan baik-baik sebelum kau putuskan. Parlu kamu tahu, Kami adalah Keluarga besar yang sangat terbuka bagi para mantan napi istimewa seperti kau.


Don lantas menyeret gadis setengah telanjang yang ketakutan itu. Don meninggalkan Dul Karim. Tapi baru beberapa langkah kemudian, Dul Karim berucap, "Don, saya tidak punya siapa-siapa lagi. Saya ikut," ucap Dul Karim dan Don pun menyeringai senang.


"Itu baru jagoan, hehe. Ayo!"


Dul Karim pun mengikuti Don. Markas Hendrick yang porak-poranda dan 4 tubuh bergelimpangan bersimbah darah itu ia tinggalkan. Dul Karim akui, ilmu beladiri Don sungguh-sungguh mumpuni dan kejadiannya begitu cepat dan senyap. terbukti tadi saat mulai masuk dan menghajar orang-orang biadab ini Don begitu cekatan, sampai-sampai Hendrick yang berada di dalam kamar tidak mengetahuinya.


Letnan Anwar datang terlambat atau sengaja terlambat, hampir tak ada beda. Bersama tiga anak buahnya ke markas Hendrick itu. Dul Karim, Don, dan satu gadis tawanan itu sudah jauh pergi.


Letnan Anwar masuk duluan, diikuti 3 anak buahnya. Mereka mengendap-endap dengan pakaian taktis anti peluru dan senjata lengkap. Mereka mengendap-endap seperti yang sudah diajarkan saat latihan penyergapan.


Senyap

__ADS_1


Dingin


Tercium bau amis darah


Mereka mendapati dua orang-orang mati dekat pintu depan yang menganga. Abe tampak ngeri saat melewati jasad melotot dengan leher patah dan yang satu wajahnya rusak bersimbah darah. Walaupun ia sudah lama jadi polisi, ternyata baru kali ini ia melihat korban pembunuhan secara langsung. Ia pun menyesali keputusannya masuk divisi rahasia ini.


Letnan Anwar terus merangsek masuk, ia dapati satu mayat lagi di ruang tamu. Mayat itu tergeletak di lantai. Letnan Anwar memegang nadinya. Hanya memastikan, masih hidup atau tidak. Ternyata sudah tak berdenyut. Abe, Gugun dan Nugroho pun terus mengikuti sang Komandan dan berpencar ke setiap ruangan.


Letnan Anwar yang mengawali masuk kamar di ujung ruangan itu, dimana jasad Hendrick tergeletak tanpa kepala. satu bidang tembok dan sebagian tempat tidur penuh dengan Darah.


"Kalian harus melihat ini," ucap sang Letnan. Abe, Gugun dan Nugroho pun mendekati Pimpinannya itu setelah yakin kamar-kamar yang mereka periksa kosong.


"Lihat itu," tunjuk Letnan Anwar ke jasad Hendrick yang kepalanya hancur.


"Lain kali, saya harus melihatnya langsung, saat dia mengenggunakan jurus pukulannya itu," gumam letnan Anwar.


***


Malam semakin senyap, kemeriahan malam hampir berakhir di kawasan pertokoan yang Dul Karim lewati. Yang tersisa hanya beberapa Pela**r dan beberapa orang peminatnya berkerumun di gang-gang gelap. Angin berhembus kencang. Tapi Justru kesibukan Dul Karim baru dimulai. Dul Karim dan Don akan melakukan transaksi. Lebih tepatnya mereka akan menjual gadis-gadis hasil penculikan kepada seseorang yang sudah menunggu di dermaga. Dul Karim tidak pernah membayangkan sebelumnya, ia terlibat sejauh ini. Aroma air laut mulai tercium, itu tandanya dia sudah sampai dermaga. dermaga yang sepi, laut yang tenang dan Angin malam yang semakin kencang.


Di kejauhan Dul Karim melihat seorang Pria tambun tampak menunggu bersama dua orang yang lain, sepertinya pengawal. Bisa ditebak dari sikap waspada dan berdirinya yang tegak. Don memarkir Van dan Dul Karim segera menurunkan gadis-gadis naas itu. Jumlahnya 6, usianya antara 16 sampai 19 tahunan. Dul Karim menurunkan dan menggiring para tawanan dengan todongan pistol. Sang Pembeli tampak tersenyum lebar dan menyalami Don dengan bangga setelah melihat keenam gadis itu satu persatu.


Pria tambun itu menyambut Don dengan hangat, seperti seorang paman yang merindukan keponakan kesayangan dan baru bertemu setelah sekian lama berpisah. Seorang pengawal turun ke dalam kapal dan tidak lama kemudian membawa sebuah koper kecil sebesar dus kemasan laptop.

__ADS_1


Koper itu pun berpindah ke tangan Don dan isinya segera diperiksa oleh Don. Isinya uang, Don tidak menghitung dan menutupnya kembali. Begitupula gadis-gadis naas itu, gadis-gadis lusuh yang tangannya terikat dan mulutnya tertutup lakban hitam itu pun segera digiring turun dua pengawal tadi untuk masuk perahu nelayan yang sudah disiapkan.


Transaksi selesai dan mereka segera berpisah dengan lambaian tangan dari kedua belah pihak.


Dalam hati Dul Karim jadi ngeri sendiri.


"Hendak dibawa kemanakah mereka? kehidupan seperti apa yang segera mereka jalani?" Dul Karim tidak bisa membayangkannya.


"Ayo," Don menepuk pundak Dul Karim, membuyarkan lamunan Dul Karim. Merekapun segera berlalu.


angin laut yang dingin membawa aroma asin air laut, angin yang berhembus kencang dari tadi tidak membuat Don dan Dul Karim bergidik kedinginan. Mereka berlalu menyibak malam. Dul Karim hanya bisa menerka-nerka.


"Besok, kejahatan apalagi yang harus aku lakukan?"


***


Abe tampak gusar dan tidak bisa memejamkan mata. Ia membayangkan, seandainya ia memiliki kekuatan pukulan seperti Dul Karim. Ia pasti jadi pahlawan seperti di film-film super Hero. Gaji yang besar, perlakuan yang spesial dan tentu pacar yang cantik dan penuh kekaguman.


"Ah, konyol sekali, Abe, Abe, melihat mayat saja kamu muntah, gimana mau jadi superhero?" gumamnya sendiri sambil membenamkan diri dan berharap segera tertidur. Tadi ia kehilangan selera makan, karena rasa mual melihat mayat itu terbawa sampai meja makan. Alhasil kini ia tidak bisa tidur karena rasa lapar.


***


Perjalanan yang jauh, hati-hati yang melenguh.

__ADS_1


Setelah dirasa sampai tujuan, seorang gadis tawanan tampak mencari sesuatu di balik kaus kakinya. Ia tampak kesulitan karena kedua tangannya itu terikat kebelakang. Suasana gelap dan senyap, tidak terdengar lagi dua pengawal itu bercanda. seorang temannya membantu dan berhasil mengambil sesuatu itu. Sesuatu yang seperti kancing tebal berwarna hitam. Ia pun menekannya dan terdengar bunyi KLIK.


__ADS_2