
Pusat kota yang ramai, polisi-polisi berpakaian preman mulai turun dari motor dan mobil-mobil kendaraan umum dan pribadi. Satu yang membuat mereka bisa dikenali, mereka menggunakan headset yang sama. Don dan puluhan anak buahnya tampak mengawasi sekitaran restauran milik Teo dari dalam mobil-mobil pribadi, sedan, van dan sebuah APV. Don mengontak semua mobil anak buahnya.
"Banyak polisi, tahan sampai sore," ucap Don.
"Siap!"
"Ya, siap!"
"Dengan kematian Boim, polisi sudah mengira kita akan melakukan penyerangan," ucap Don pada Dul Karim yang duduk disampingnya.
Kembali Don menghubungi semua anak buahnya lewat radio HT.
"Terlalu beresiko, kita harus sabar dan tunggu polisi-polisi itu bosan. Kita pulang saja, Johan dan Hardi, Turun dan pantau."
"Siap!" jawab Johan. Hardi dan Johan pun turun dan membaur dengan orang-orang yang berlalu lalang. 5 mobil komplotan Don akhirnya berlalu.
Teo dan banyak anak buahnya baru sampai ke tempat di mana Hendrick tewas itu. Tempat itu adalah sebuah rumah besar di sudut kota. Satu yang membuat Teo heran adalah, Rumah itu kini dibatasi oleh garis kuning kepolisian.
"Fian, kau cek sana. Kami tunggu di sini," titah Teo pada Fian yang duduk di bangku belakang.
"Baik Bos," jawab Fian. Ia turun sendirian.
Tampak di rumah Hendrick itu dua polisi, sepertinya ahli forensik keluar dari situ. Buru-buru Fian menghampiri kedua polisi itu.
"Maaf Pak, ada apa yah, kok rumah ini disegel polisi?" tanya Fian dengan wajah polos.
"Sebaiknya kamu pindah dari kota ini," jawab petugas itu sambil membuka sarung tangan karet.
"Waduh, emang kenapa Pak," tanya Fian.
"Pemilik rumah ini mati, kepalanya hancur. Perlu kamu tahu, dia seorang mafia. Sebentar lagi kawanannya bakal melakukan penyerangan pada musuh-musuhnya. Kamu lihat berita-berita di TV kan?"
"iya Pak, iya," angguk Fian.
"Kota ini sudah dikuasai para mafia, gengster dan sebagainya. Jadi saya sarankan kamu jangan keluyuran kalo malam."
"Iya, terima kasih Pak," Jawab Fian sambil celingukan ke dalam rumah. Dua petugas itu segera berlalu. Tidak lama kemudian, Fian pun masuk kembali ke dalam van.
"Ternyata Hendrick sudah ada yang menghabisi," ujar Fian. Kontan Teo menatap Fian dengan heran.
"Kamu yakin?" tanya Teo.
"Sangat yakin, polisi tadi yang bilang sendiri? Dia juga bilang, kawanan Hendrick akan melakukan penyerangan." Teo jadi berpikir keras.
"Sepertinya kita diadu domba," ucap Teo membuat semua anak buahnya jadi ikut berpikir.
__ADS_1
"Kita balik arah, Perketat penjagaan semua bar dan restoran kita, ayo!"
Mereka pun putar arah.
***
Yadi dan Anto selesai makan dan beranjak ke tempat kerja Yadi. Keduanya berjalan menyusuri trotoar di antara orang-orang lain yang juga berlalu-lalang.
Dari balik kaca APV, Dul Karim serasa mengenali dua orang yang berjalan di antara
kerumunan.
***
Sesampainya di pusat kota, Teo mengatur anak buahnya untuk berpencar dan mengintruksikan pada semua pimpinan blok untuk mempersenjatai semua bawahnya. Dari mulai satpam sampai tukang sapu dibekali pistol atau parang. Begitupula Don, ia membagikan senjata pada semua penjaga dan karyawan di tempat-tempat milik keluarga besar Boim.
***
Yadi membawa Anto menghadap atasannya.
"Kebetulan, Bos Besar sedang butuh banyak orang, bila perlu, kau rekrut semua preman yang ada di kampung kamu Yadi," ucap Bosnya Yadi. mendengar kata preman Anto jadi mengerlitkan dahi. Anto tak mengerti dan menatap penuh tanya pada Abangnya.
Yadi merasa tak enak hati pada Anto, Yadi mengajak Bos nya menjauh dari Anto dengan sopan.
"Pokoknya Gawat, Bos besar mengirim orang untuk menghabisi Boim, Boim pun tewas. Imbasnya sekarang, anak buah Boim yang tersisa pasti mengusik Kita."
Anto hanya melongo, menatap Yadi yang sedang berbincang serius dengan orang itu di kejauhan, dekat lorong dapur umum. Ini sebuah restoran yang besar berlantai dua. Anto tak mengerti, apa guna kata preman untuk restoran semegah ini.
***
Yuli dan Eci kini sudah di dalam sebuah mobil Van hitam. Keduanya duduk di belakang bersama seorang pria asing. "Ada dua pilihan, kalian mau bekerja di luar negeri apa di dalam negeri?" tanya pria itu menatap Yuli dan Eca bergantian.
"Aku mau pulang!" tukas Yuli.
PLAKK!
Pria itu tiba-tiba menampar Yuli.
"Luar negeri apa dalam negeri!" ulang pria itu. Yuli jadi meringis menahan sakit. Pipinya yang licin itu sampai merah. Eca tertunduk ketakutan.
"Di dalam negeri saja?" jawab Eca dengan nada terpaksa.
***
Yadi kini menghadapi Anto. keduanya kini berada di dalam mess Yadi.
__ADS_1
"Maaf To, Abang cuma bisa ngasih pekerjaan di hotel. Tadinya Abang mau kamu bekerja di sini sama Abang. Tapi, situasi di sini sedang kacau."
"Gak apa-apa Bang," jawab Anto. Dalam hati, ia ingin sekali membahas percakapan Abangnya itu, tadi sama Bosnya. Anto curiga, Abangnya itu terlibat pekerjaan sampingan yang berbahaya dan soal kata kacau dan preman itu, sungguh membuat ia penasaran. Sampai di perjalanan kemudian menuju hotel yang diceritakan, niatnya untuk membahas situasi kacau seperti apa yang tadi Abangnya utarakan tidak kunjung Anto ungkapkan. Anto memilih diam dan mengikuti semua rencana yang Abangnya sarankan. Anto yakin dan percaya, Abangnya itu tidak akan menjerumuskannya pada situasi yang berbahaya.
***
Pria yang bersama Eca dan Yuli kembali angkat bicara.
"Sebelum kalian bekerja dan mendapatkan uang, ada satu tugas yang harus kalian lakukan. Kalian sudah ada yang pesan. malam ini juga kalian masing-masing harus meladeninya. Awas! jangan melawan apalagi coba-coba kabur." kekhawatiran Eca terbukti. Sepertinya ia hendak dilacurkan.
Pria tak berperasaan itu kini mendekatkan mulutnya ke dekat Eca dan Yuli.
"Apa kalian masih perawan?" tanyanya pelan seperti bisikan. Tapi bagi Eca dan Yuli itu terdengar seperti kutukan. Eca kembali menangis dan Yuli menyeringai ngeri. Hatinya berhamburan, hancur. Perasaannya hancur dan sepertinya, hidupnya segera berubah total.
***
Langit mulai menghitam, kemeriahan malam pun dimulai. para pengunjung restoran banyak berdatangan silih berganti. Ada yang merayakan sesuatu bersama keluarga besarnya, atau cuma bosan saja makan di rumah dan sekarang makan-makan di restoran.
bar dan club malam mulai buka, para penghuninya mulai beraksi, para DJ mulai memainkan irama musik terbaru. orang-orang jenuh mencari hiburan, para penghibur mulai bekerja, beberapa pengedar narkoba melakukan transaksi di sudut-sudut tersembunyi dan kupu-kupu malam mulai berkeliaran, menebarkan aroma yang memancing birahi, menebarkan pesona dan kemolekan tubuh di balik gang-gang kumuh yang sempit sampai hotel-hotel mewah yang tinggi menjulang.
***
Anto langsung bekerja. sejak kedatangannya sore tadi ke hotel itu, ia langsung mendapatkan pekerjaan membersihkan toilet.
Ia pikir, pekerjaan seperti itu bukanlah pekerjaan yang berat, ia biasa beres-beres rumah dan membantu ibunya.
Tiba-tiba seorang perempuan muda masuk mengagetkan Anto. perempuan itu adalah Eca. Eca masuk dan lantas menangis sesegukan, ia tidak menghiraukan Anto yang sedang ngepel lantai di sebelahnya. Pakaian yang kini Eca kenakan adalah gaun warna tosca berkerlipan. Eca juga mengenakan riasan yang tidak mencolok dan terkesan seperti wanita muda yang kaya raya. Ini toilet wanita. Anto pun merasa ia harus keluar dulu.
"Permisi, maaf," ucap Anto merendah seraya hendak keluar.
"Sebentar!" sergah Eca menarik tangan Anto dengan nada ucapan yang pelan namun mendalam. Sontak Anto heran dan tak enak hati, ia tahu diri, siapa dirinya.
"Bang, tolong saya Bang, saya diculik dan sekarang saya sedang dijual sama om-om yang ada di luar," ucap Eca dengan suara berat tertahan di tenggorokan dan wajah penuh ketakutan. Anto menatap Eca, Anto menilai Eca.
"Om-om itu bukan ayah saya, dia membeli keperawanan saya pada orang yang menculik saya. Tolong saya Bang, saya tidak tau harus minta tolong sama siapa lagi? para penculik itu sekarang ada di lobi, saya di kamar nomor 14," ucap Eca terbata-bata. Ia mengatakan yang sebenarnya, ia singkirkan rasa malu dan gengsi, keselamatannya adalah segalanya. Anto sedikit banyak mengerti apa yang perempuan cantik itu ceritakan. Sekarang tinggal dirinya, percaya atau tidak.
TOKK! TOKK!!
"Eca?? cepetan sayang," Suara seorang lelaki terdengar dari luar. sontak Eca pun segera menjawab,
"Iya, sebentar!!" Eca pun segera menghapus airmatanya dan berucap pada Anto untuk terakhir kalinya,
"Bang, tolong hubungi polisi! saya tunggu, demi Tuhan, tolong saya Bang." Anto jadi termenung dan bingung sendiri.
Eca keluar dan disambut mesra oleh seorang pria tambun yang lantas terkekeh. Usianya sekitar 50 tahunan.
__ADS_1