Brajamusti

Brajamusti
Teo


__ADS_3

Seseorang yang kemarin menunjukkan berkas pada Teo, kini kembali menghadap dengan berkas yang sudah lengkap.


Awalnya Aksi Dul Karim terekam cctv, lalu di screenshot dan diperjelas. Setelah tampak jelas wajahnya lalu dicocokkan dengan jutaan data kependudukan dengan cara membobol database KPU oleh seorang ahli komputer Langganan Teo. Alhasil KTP Dul Karim pun muncul. Dunia begitu sempit.


Teo mengepalkan tangannya sampai terdengar bunyi tulangnya bergemerutuk. Lalu seketika ia memukul meja.


BRAKK!


"Cari dia! dan seret kemari? Tapi ingat, jangan kalian bunuh. Kita perlu tahu, siapa otak pelakunya."


"Siap Bos."


***


Dul Karim kini berbaring. Lukanya diobati oleh gurunya dengan ramuan tradisional. Ada kehangatan Dul Karim rasa dalam redup ruangan rumah kayu itu yang hanya mengandalkan penerangan dari sebuah lampu minyak jarak. Kehangatan aroma rempah-rempah, jati diri bangsa yang sudah goyah olah obat-obatan farmasi dan kimia yang baunya asing. Tangan keriput itu begitu telaten. Ia jadi ingat almarhum bapaknya. Ia ingat ucapan bapaknya yang terakhir.


"Kalo sawah ladang ini kamu jual buat berobat Bapak? Nanti kamu makan apa?" Ingat ke situ hati Dul Karim meringis.


Selain untuk berobat bapaknya yang sakit keras, waktu itu ia juga berniat melamar Ratih.


Malam kian lamur, Dul Karim pun tertidur.


***


Pagi kemudian, di satu sudut parkiran sebuah gedung, tampak sebuah mobil sejenis Van warna hitam di masuki lima orang pria gagah seperti tentara unit rahasia dengan pakaian taktis yang serba hitam. Mobil Van itu pun melaju, jauh menembus hiruk-pikuk kota menuju ke sebuah desa di mana rumah Dul Karim berada.


***


Dalam sebuah rumah sederhana berbilik bambu,  seorang Anto tampak termenung di meja belajar kakaknya. Anto baru lulus SMA dan kini ia harus menerima kenyataan. Bapaknya sudah meninggal, ibunya hanya kerja serabutan sebagai tukang cuci.


"Heah," Anto menghela sesal. Ia masih tak percaya, impiannya menjadi arsitek harus kandas. Emaknya datang dan menyuruh Anto untuk mengantarkan cucian yang sudah kering dan rapi.


"Anto, antar ini pada Bu Wiwin." Anto tetap saja diam, ia sedang asik dengan lamunan dan rasa kecewanya. Sang Ibu mengerti dan berbalik. Anto jadi ingat kakaknya yang kini dipenjara.


Selesai mengantar cucian, sang Ibu kembali menghampiri Anto dan duduk di tepian tempat tidur.


"Emak bisa saja menjual sawah bapakmu itu."


"Gak usah Mak," jawab Anto memotong ucapan ibunya.


"Anto mau cari kerja saja," jawab Anto dengan nada yang berat. Ibu yang mana tidak turut bersedih, ketika anak kesayangannya yang pintar harus merelakan cita-citanya kandas.

__ADS_1


TOK! TOK!


Suara pintu diketuk dengar kasar mengagetkan Anto dan ibunya.


"Siapa sih?" seru Anto tak enak hati.


"Abdullah Karim! Cepat keluar," suara seorang pria dari luar rumah itu membuat Anto dan ibunya saling pandang tak mengerti.


"Ada orang di rumah?" lanjut suara kasar itu. Anto dan ibunya segera menuju pintu depan dan membukanya. Tampak empat orang pria tinggi kekar menatap bengis. Sontak ibunya Anto tak mengerti, ada urusan apa, orang-orang asing itu mencari anak sulungnya.


"Maaf, ada perlu apa yah, Dul Karim sudah lama tidak pulang, anak saya itu dipenjara?"


"Dipenjara? Heh, omong kosong, geledah!" ucap seorang pria yang berdiri paling depan di antara tiga yang lain.


"Sebentar, sebentar," sergah Anto pada orang-orang yang sangat tidak sopan itu.


"Ibu, tolong jawab dengan benar, di mana Abdullah?"


"Bener pak, anak saya itu dipenjara, tanya saja sama pak RT." Orang yang tadi bertanya tampak tak mengerti. Bagaimana mungkin orang yang sedang dipenjara bisa membunuh bos-nya yang sedang liburan.


"Tidak ada bos,"


"Bawa mereka."


Salah satu dari pria asing itu menodongkan pistol pada kerumunan.


"Minggir! Jangan ikut campur, bilang pada Abdullah Karim, kalo mau ibunya selamat, segera menyerahkan diri. Ini alamat kami?" ancam orang itu sambil memberikan selembar kartu mana pada salah satu orang di antara kerumunan itu.


"Awas, jangan coba-coba lapor polisi, kami tidak akan segan segan menghabisi sandera."


Orang-orang itu pun segera berlalu, membawa Anto dan ibunya pergi.


"Kasian yah bi Murti, sudah tidak punya suami eh, anaknya berurusan sama orang-orang jahat itu," ucap seseorang pada seseorang yang lain.


"Bukannya Dul Karim di penjara?"


"Iya sih, ayo kita lapor pak RT?"


"Hey, jangan lapor katanya."


"Kamu gak dengar tadi, yang jangan itu lapor polisi, kalo lapor RT kan gak apa-apa." Warga jadi heboh dengan kejadian itu.

__ADS_1


***


Pagi-pagi buta Dul Karim sudah latihan silat. Sendiri. Bahkan tadi saat ia keluar gurunya masih tertidur.


Ia ingin segera pulih. Segarnya udara, tenangnya pepohonan. Dul Karim merasakan tubuhnya begitu segar. Belum pernah sesegar itu sejak ia meninggalkan kampung halamannya ini dan bekerja di kota.


***


Anto dan ibunya di kurung dalam sebuah ruangan yang gelap.


***


Matahari mulai bersinar. Hangat. Sinarnya menyilaukan di antara rindang pepohonan.


"Sekarang coba kau pukul pohon itu," ucap sang Guru sambil menunjuk satu pohon di hadapan Dul Karim, "gunakan kekuatan pukulan itu." Dul Karim pun menatap pohon yang ditunjuk gurunya.


"Seharusnya kau bisa. tidak perlu adalagi tarekat atau jampi. kau hanya perlu konsentrasi." Dul Karim mengerti dan mulai konsentrasi. Ia tarik napas dalam-dalam dan melakukan sedikit gerakan pemanasan. Ia himpun kekuatan dengan memutar dua kepalan tangan. Tampak otot-ototnya mengeras, urat-uratnya juga mengeras dan, dengan satu pukulan cepat.


BRAK!


Batang pohon sebesar pinggang orang dewasa itu rusak parah, seperti di hantam bandul besi sebesar helm.


"Seharusnya bisa lebih dari itu," gumam sang Guru.


"Sekarang kamu pulang," ucap sang Guru kemudian. Dul Karim tak mengerti, kenapa Gurunya berucap demikian.


"Heah, sekali pukulan itu digunakan, imbasnya akan terus bergulir, seperti bola api. Semuanya akan terbakar, sampai habis. Selesaikan urusanmu sampai tuntas." Dul Karim jadi ketar-ketir sendiri. Setahu Dul Karim, insting gurunya itu tajam sekali, bahkan gurunya itu bisa memberi tahu ciri-ciri pencuri ketika seseorang yang kehilangan meminta bantuannya untuk mencari pelaku.


***


Seorang dokter bedah tampak sedang berbincang-bincang dengan rekannya setelah melakukan operasi tulang.


"Saya tidak percaya, mana mungkin Hanya dengan tangan kosong, rahang orang itu sampai remuk," ucap dokter itu lantas berpikir.


"Apa mungkin, di jaman modern ini masih ada orang yang memiliki ilmu Kanuragan."


"Apa maksudmu Dr. Yahya?"


"Aku percaya kekuatan semacam itu ada dan bisa dipelajari." Dokter Yahya sungguh membuat lawan bicaranya bingung.


"Jangan pertaruhkan gelar doktermu hanya untuk hal yang tidak anda pahami."

__ADS_1


"Apa saudara juga paham, bagaimana cara memindahkan batu seberat seratus ton dari lereng Merapi ke puncak bukit? Lalu apakah anda juga tahu dengan alat apa orang-orang Jaman dulu mengukur dan memahat batu-batu itu hingga menjadi candi Borobudur?" Dokter Yahya membungkam lawan bicaranya.


"Ukuran dan tumpukan-tumpukannya sangat presisi," lanjut Dr. Yahya lantas berlalu.


__ADS_2