
Tampak dua orang perempuan muda sedang nongkrong di pinggir jalan. Pakaian keduanya tampak nora dan warnanya gak mecing antara kaus dan celana pendeknya. Ini Sabtu sore dan muda-mudi banyak berhamburan di taman hiburan yang baru dibuka di desa itu. Jarang ada kemeriahan dan hiburan di desa itu. Banyak juga anak-anak balita bersama orang-orangtuanya, mereka tampak bahagia menaiki wahana-wahana bermain, dari bianglala sampai lempar boneka.
Dua perempuan tadi hanya nongkrong-nongkrong berdua. keduanya jomblo, lumayan banyak cowok yang berseliweran gak jelas. Syukur-syukur ada cowok tajir yang nyamperin dan mentraktir.
"Ca, lu tengok deh, tuh, cowok yang baru turun dari mobil itu," tunjuk salah satunya pada sosok pria keren. Temannya yang lagi menjilati lolypop jadi tertarik.
"Yang mana?," Eca pun celingukan. Sampai akhirnya ia menemukan seorang pria keren berkemeja rapi sedang memesan es krim. Pria yang sudah berumur, tapi masih tampak gagah dan tampan. Penampilannya seperti pengusaha.
"Oh itu, lah, jangan mimpi Yul, lalet aja ogah ngelirik Lo, apalagi dia," ejek Eca.
"Sialan lu, gini-gini gue jadi rebutan di kampung sebelah. Eh, eh Ca! Tuh dia senyum ama gue," Yuli Tampak girang karena tanpa dia kira pria tadi tersenyum dan mengacungkan es krim ke arah dirinya.
"Ge'er lo, dia senyum ke gue!" timpal Eca lantas melambaikan tangan, tidak lupa senyum semanis mungkin ia pasang di wajahnya yang bening. pria bersih dan rapi itu pun membalas senyuman Eca. Pria itu lantas memesan es krim lagi, kali ini ia pesan dua.
Eca dan Yuli lantas sikut-sikutan. Tanpa keduanya sadari, kini Pria itu datang menghampiri. Yuli yang pertama menyadari dan nyenggol Eca, lebih keras kali ini sambil berbisik.
"Diem dodol, dia ke sini!"
Kontan Eca mendelik dan benar saja, pria keren itu datang membawa dua cup es krim.
"Kalian mau," ucap pria itu ramah. Tercium oleh Eca dan Yuli, pria itu menggunakan parfum yang wanginya lembut, baunya mahal dan berkelas. Tidak seperti bau parfum murahan yang biasa mereka gunakan. Bahkan Eca baru mencium aroma parfum seperti itu. Eca dan Yuli jadi meleleh sendiri.
"Aduh makasih yah Om, eh Abang," ucap Eca. Ia tampak grogi sekali. Baru kali ini ia disamperin pria kota yang tajir.
"Panggil saya, Farhat, Om Farhat juga boleh, saya memang udah tampak tua yah."
"Ah, engga kok, tadi saya keceplosan, Abang masih kelihatan muda kok hihi," ralat Eca.
"Maklum Bang, temen saya ini, emang rada-rada telmi gitu," celetuk Yuli.
"Stt! sialan lo," protes Eca.
Mereka pun terus berbincang-bincang sambil sesekali mengecap es krim masing-masing. lolypop Yuli sudah melayang entah kemana.
"Perasaan saya baru lihat Abang, Abang bukan orang sini yah," basa-basi Yuli.
"Yah, saya habis nganter orang ke kampung sebelah, ia kerja di perusahaan saya. Neneknya sakit, jadi dia izin pulang dulu. Kebetulan saya lagi pengen refreshing aja, sumpek di kota mulu."
__ADS_1
"Oh, kebetulan saya lagi nyari kerja Bang, hihi, kali aja Abang perlu gitu," ucap Yuli malu-malu.
"Iya Bang, saya juga, baru keluar SMA kemaren," timpal Eca.
"Ikut-ikutan aja loh!"
"Kebetulan sekali, cabang perusahaan saya yang di Jakarta Utara lagi kekurangan karyawan," Ucap Farhat dengan santai.
"Wah, mau-mau!" sambut Eca.
"Elu punya skill apa? maen mau aja, kebanyakan perusahaan-perusahaan sekarang maunya yang udah punya pengalaman, ya eluh, pengalaman apa coba."
"Udah, kalian jangan berantem mulu. Denger, perusahaan saya itu, ada restoran, ada kafe, ada hotel. Kalo cuma jadi pelayan restoran atau cafe, modal sopan doang udah cukup bagi kami, Bagaimana? kalian beneran mau?" tanya Farhat kemudian.
"Boleh-boleh," jawab Yuli bersemangat.
"Jangan sendiri, kalo sendiri nanti kamu gak ada temen sekampung gak betah lagi."
"Ya udah sama si Eca ini, beneran Lo mau Ca?" ucap Yuli lantas nengok ke arah temannya itu.
"Ya udah, ini kartu nama saya, nanti telepon atau chat yah," ucap Farhat sambil membagikan kartu namanya.
"Ya sudah, saya pamit dulu, udah sore," ucap Farhat.
"Iya Bang, makasih es krimnya," ucap Yuli.
"Ya udah, bye." Farhat pun berlalu. setelah jauh, Yuli berbisik pada Eca.
"Menurut gua, tuh orang duda."
"hihi, menurut gue dia udah punya istri, tapi gue mau tuh jadi yang ke dua, hihi," ucap Eca lantas dijitak Yuli.
"Mau saingan lo ama gua?"
***
Di satu tempat yang jauh berbeda. Yuga dan banyak temannya sesama pekerja proyek sedang asik nonton TV sambil mengunyah makanan. siaran TV yang mereka tonton menampilkan berita tentang kematian Boim di dalam penjara itu.
__ADS_1
Ia jadi mengkhawatirkan keselamatan Dul Karim. ia ingat betul, beberapa waktu yang lalu, seluruh stasiun TV menayangkan video amatir warga yang merekam aksi kejar-kejaran dan tembak-tembakan para penjahat di jalanan. Ia dan beberapa orang temannya yang bertemu dengan Dul Karim itu yakin. Kalo satu pelaku dalam video amatir itu adalah Dul Karim. Jaket dan celana jeans-nya sama persis seperti yang Dul Karim kenakan saat berkunjung ke kontrakan.
Keyakinan Yuga bertentangan dengan fakta di lapangan. Dul Karim yang dulu ia kenal rajin beribadah ternyata kini ia yakini jadi bagian dari berita-berita yang menghebohkan itu. Berita akhir-akhir ini ramai tentang perkelahian di tempat hiburan, pembunuhan di jalanan dan kini pembunuhan bahkan terjadi di dalam penjara.
***
Iseng-iseng Eca mengirim pesan ke Nomer Farhat,
Siang Bang, ini saya Eca. Ingatkan, cewek imut yang Abang kasi es krim di taman hiburan itu,
Tidak lama kemudian, Eca mendapatkan balasan.
Iya, tentu, tidak mungkin saya lupa. Oh iya, soal lowongan pekerjaan itu, Abang pastikan ada. Tinggal kamunya aja, serius apa tidak?
Eca senang bukan kepalang.
Iya, saya serius Bang,
trus, temen kamu itu, siapa namanya?
Yuli Bang, balas Eca.
Bagaimana? apa dia juga mau??
Iya, iya, dia mau banget.
Ya sudah, Nanti saya lihat jadwal dulu, kalo ada waktu senggang, saya sendiri yang bakal jemput kalian. Balas Farhat.
Oke
Ya sudah, nanti saya telepon. Aktifkan terus nomer kamu ini yah,
Iya, iya
Ya sudah, bye
Eca lantas mendekap Handphonenya. Harapan besar kini ia genggam. Ia pun mulai membayangkan kesibukan bekerja di restoran, membayangkan dirinya membawa nampan, membersihkan meja dan sebagainya. Ia sudah tidak sabar ingin melihat langsung dan menjadi bagian kota yang gemerlap seperti yang sering ia lihat di dunia Maya dan TV.
__ADS_1