
Dul Karim melangkah pulang, ia dapati rumahnya kosong melompong. Sepi dan acak acakan. Seorang tetangga menghampiri Dul Karim.
"Dul, maaf kami tidak bisa berbuat apa-apa, mereka punya pistol," ucap pria itu yang Dul Karim kenal namanya Wandi.
"Dan lagi, bukannya kamu dipenjara?"
"Aku terbukti tidak bersalah, aku dibebaskan," ucap Dul Karim singkat.
"Ini, mereka meninggalkan kartu nama ini," Wandi menyerahkan sebuah kartu nama. Sambil menerima kartu nama itu Dul Karim berpikir keras, "Penculik macam apa ini, bisa-bisanya meninggalkan kartu nama?? Apa tidak takut nanti aku lapor polisi???"
"Dul? Dul," ucap Wandi membuyarkan lamunan Dul Karim.
"Hati-hati Dul, sebaiknya kamu lapor polisi saja," saran Wandi. Di mata Wandi, Dul Karim orang baik dan semua warga kampung itu setuju kalo kemarin Dul Karim sampai masuk penjara itu karena faktor ketidaksengajaan.
"Ah, entahlah Bang, terima kasih," ucap Dul Karim lemah dan melenguh. Wandi pamit dan kini Dul Karim sendiri.
Sepi meliputi sampai ke dasar hati. Sejenak ia menikmati kerinduan. Ia ingat betul wajah polos ibunya dan semangat belajar adiknya. Hati Dul Karim tiba-tiba mendidih, kalo sampai terjadi apa-apa pada keluarganya, ia bersumpah akan menghabisinya. Tidak peduli seberapa banyak orang yang harus ia hadapi. Tapi di balik itu, ia juga memutar otak.
"Bagaimana cara menghadapi mereka yang mempunyai pistol?" Otak Dul Karim sampai pening memikirkannya.
Ia merapikan rumah dan menguncinya. Dul Karim melangkah mantap. Ia tidak punya pilihan.
***
"Bos, katanya target kita dipenjara," ucap Reno pada Teo. Teo tidak buru-buru menjawab, ia menoleh pada asisten kepercayaannya yang lain, yang berdiri di balik meja kerjanya itu.
"Dias, cari tau soal penjara itu," ucap Teo pelan namun meyakinkan.
"Siap Bos." Dias pun bangkit dan berlalu.
***
Dul Karim sudah sampai pada alamat yang tertera dalam kartu nama itu.
Lagi-lagi ia dapati alamat itu adalah tempat kosong, lebih tepatnya adalah sebuah gudang yang sudah tidak digunakan. Tiang-tiang besi dan atap seng-nya sudah berkarat.
"Monitor Elang satu, kijang sudah masuk kebun," ucap seseorang di dalam sebuah kamar kontrakan begitu layar monitornya menampilkan sosok Dul Karim. Ia berkomunikasi melalui radio ht (walkie talkie).
"Elang dua monitor, apa ada harimau di sekitar kebun?" Maksudnya adalah, apakah ada polisi yang mengikuti Dul Karim atau Intel yang menyamar di sekitar lokasi.
"Tidak ada."
"Bersih."
"Di luar kebun juga bersih."
__ADS_1
"Elang tiga segera turun, jemput kijang bawa ke kandang."
Dul Karim masih saja celingukan dan mengendap-endap. Terdengar suara motor trail mendekat. Dul Karim segera bersembunyi di sudut tumpukan besi.
Dua motor trail itu pun berhenti, empat orang pengendaranya turun. Dul karim muncul perlahan.
"Berani sekali nih orang," ucap salah satunya sambil mengeluarkan pistol dari balik jaket jeans warna biru tua begitu ia menemukan sosok Dul Karim yang muncul dengan santai.
"Kalian berempat, saya sendiri, tidak malu kalian, menodongkan pistol pada orang yang tidak berdaya ini?" ucap Dul Karim memancing amarah keempat baj**gan itu.
"Haha, punya nyali juga Luh." Dul Karim tampak cuek dan membuka jaketnya.
"Ngajak berantem nih bocah."
"Hajar brow."
"Eit, satu satu dong. Masa keroyokan," ucap Dul Karim santai sambil melakukan peregangan.
"Apa bos nyuruh kita buru-buru?" Tanya orang itu pada ketiga temannya.
"Tidak juga, yang penting katanya, bawa hidup-hidup."
"Baiklah kalo begitu," ucap salah satu dari keempat baj**gan itu sambil pasang kuda-kuda. Tiga orang yang lain ambil langkah mundur melingkari Dul Karim dan satu temannya itu yang sudah siap untuk berkelahi.
"Heh!" Baj**gan bertubuh kekar itu mulai melayangkan tinju. Tapi mudah bagi Dul Karim untuk menghindarinya. Bajingan itu pun makin beringas menyerang. Tapi fokus Dul Karim adalah pada pistol di balik ikat pinggang lawannya itu. Dul Karim pura-pura meladeni berkelahi. Kemampuan silat bajingan itu begitu payah, hanya amarahnya saja yang besar. Begitu ada kesempatan, Dul Karim mengambil pistolnya dan menembak ketiga baj**gan yang sedari tadi menyemangati temannya.
DOR! DOR! DOR!
Tanpa ampun Dul Karim menembak ketiga ba**ngan itu. Sontak lawan bermain silatnya jadi ciut.
"T**ol kalian!" umpat Dul Karim dengan wajah bengis.
"Ampun Bang, Ampun." Baj**gan yang awalnya sok jagoan itu kini ciut dan tubuhnya berkeringat menatapi jasad ketiga temannya yang terjungkal tak bergerak lagi.
"Dimana kalian sembunyikan Ibu dan adik saya?" todong Dul Karim. Ba**ngan itu segera menjawab tanpa menatap moncong pistol yang telak menuding kepalanya.
"Di gudang, sektor 9 ujung timur jalanan ini."
"Buk!" Dul Karim memukul pungguk baj**gan itu. Dengan satu pukulan orang itu terjatuh pingsan. Pelajaran titik lemah ternyata berguna juga. Dul Karim mengenakan kembali jaket hitamnya dan merampas semua pistol dari semua jasad itu lalu menaiki motor trail. Tidak lupa ia juga mengenakan helm. Selain untuk keselamatan, ia juga tidak mau dikenali. Dul Karim belum habis pikir, penjahat macam apa yang ia hadapi sekarang, semuanya dibekali pistol.
"Apakah mereka satu komplotan sama Hendrick?" Baru saja Dul Karim menyalakan mesin. Tampak 3 motor trail yang masing masing dikendarai oleh dua orang datang langsung menembak.
Dul Karim pun tarik gas.
DOR! DOR!
__ADS_1
Beruntung tembakan itu meleset. Dul Karim melaju memutar dan lolos sampai ke jalan besar. Ia ke arah timur seperti yang ditunjuk bajin**n itu.
Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Berani sekali mereka menembak Dul Karim di jalan protokol. Mereka sepertinya tidak takut hukum sama sekali, apalagi cuma salah sasaran. Dul Karim benar-benar merasa sial harus berurusan dengan orang-orang itu.
Dul Karim terus melaju, hampir tidak menggunakan rem, ia berkelok dan menyalip kendaraan lain untuk menghindari bidikan manusia-manusia bar-bar yang mengejarnya.
Beruntung, satu motor yang mengejarnya menubruk sebuah mobil pickup dan seketika terjungkal. Dua yang lain terus mengejar. Jalanan mulai lengang dan Dul Karim harus cepat ambil keputusan. Tetap lurus dan memudahkan mereka membidik atau segera berbelok ke jalan yang ramai. Sedetik kemudian Dul Karim putuskan berbelok tajam. Hampir saja sebuah truk menghantamnya.
"Woy, mau mampus Luh!" Umpat si kondektur truk itu. Dua motor trail yang lain mengikuti, satu lolos tapi yang satu tertabrak oleh mobil sedan yang melaju kencang di balik truk tadi.
Dul Karim tau itu, karena seketika ia menoleh tertarik suara tubrukan yang keras dibelakangnya.
"Tinggal satu motor," pikir Dul Karim. Ia pun mencari jalan memutar dan seketika menghadapi lawannya sambil tangan kirinya mengarahkan pistol dan,
DOR! DOR! DOR!
Lawannya kewalahan dengan tembakan Dul Karim yang terus-menerus. Kedua lawan Dul Karim pun terjungkal. Dul Karim terus menembaki sampai pelurunya habis. Satu dua warga sekitar merekam aksi Dul Karim itu dengan smartphone.
Dul Karim terus melaju, ia tidak menghiraukan kekacauan lalulintas yang ia buat.
Ia kembali ke jalan protokol tadi, ke arah timur.
Dul Karim membuang pistol yang sudah habis pelurunya itu.
Dul Karim cepat belajar, pegangan dan bidikan pistolnya tadi sungguh mantap, seperti yang sudah terbiasa.
Kini ia sudah dekat ke tempat yang dituju. Ia tidak punya rencana. Ia hanya punya niat menyelamatkan ibu dan adiknya. Selebihnya ia anggap ini tindakan bunuh diri.
Sebuah gudang yang sepi ia hadapi. Dul Karim pun memasukinya dengan perlahan dan tatapan awas ia edarkan ke sekitar. Sepi, tidak ada seorang pun. Padahal Dul Karim kira, kini ia memasuki sarang penjahat itu. Tapi ternyata hanya senyap yang ia dapati. Ia pun mematikan mesin sepeda motornya dan memeriksa setiap sudut ruangan dengan todongan pistol.
Akhirnya ia menemukan sebuah kamar usang di pojok kiri belakang gudang. Di situ ibu dan adiknya sedang meringkuk dengan kaki tangan terikat dan mulut di bungkam lakban hitam. Dengan pikiran yang masih bingung Dul Karim segera membuka ikatan yang membuat ibu dan adiknya itu terkulai tak berdaya.
"Heah, syukurlah Dul, kamu tidak apa-apa Nak?" ucap sang Ibu.
"Dul baik-baik saja Mak. Kemana mereka To?" tanya Dul Karim kemudian pada adiknya.
"Tidak tau Bang, orangnya serem-serem."
Sayup-sayup Dul Karim mendengar bunyi sirine. Sepertinya sirine mobil patroli polisi.
"Ayo, kita harus segera tinggalkan tempat ini," ajak Dul Karim sambil memapah ibunya.
Dul Karim bingung, jalan mana yang harus ia tempuh. Melalui gerbang depan? Bunyi sirine itu makin mendekat dan sepertinya bukan bersumber dari satu mobil patroli saja. Dul Karim melihat ke belakang gudang, pagar beton ia hadapi. Dul Karim harus segera putuskan pilihan. Akhirnya ia memilih untuk mendobrak pagar beton itu. Terlalu tinggi untuk diloncati ibunya. Sejenak Dul Karim menghimpun kekuatan dan mendorong pagar beton yang tipis itu dengan satu hentakan kaki yang begitu kuat.
BRAKK!
__ADS_1
Ibunya dan Anto terpana melihat kekuatan Dul Karim. Tinggi satu sudut pagar beton itu pun kini hanya tinggal setinggi pinggang. Anto keluar duluan dan membantu ibunya. Setelah keluar, ketiganya segera berlari. Mereka melewati deretan gubuk kumuh para pengumpul limbah pabrik, mereka terus berlari mencari jalan keluar menuju jalan besar.
Empat mobil polisi memasuki gudang kosong. Tidak ada apa-apa. Polisi-polisi itu segera memeriksakan gudang-gudang kosong yang lain.