
Anto mondar-mandir sendiri dalam kamarnya, itu kamar Yadi. Yadi anak uwaknya. Anto menempati kamar itu karena Yadi jarang pulang, Yadi bekerja jadi satpam. Paling tidak seperti itulah kata wak Darman. Ibunya sudah tidur di ruang keluarga, wajahnya yang mulai menampakkan garis keriput tampak kecapean.
Sudah beberapa hari sajak kedatangannya ke rumah wak Darman itu Anto tidak banyak melakukan apa-apa. Kejenuhan hampir membuatnya mati berdiri.
"Nanti kamu tanya saja sama bang Yadi, mudah-mudahan di tempatnya bekerja ada lowongan pekerjaan," kata wak Darman di satu sore. Yadi menjadi harapan bagi Anto. Tapi sejak kedatangannya seminggu ini, Yadi tidak kunjung pulang. Anto sudah bosan menunggu.
GLEKK!
Anto mendengar suara daun pintu ada yang menggerakkan. Pintu sudah dikunci, ia pun beranjak dan membukakan kunci pintu depan.
"Assalamualaikum! Pak! Buka pintu."
"Wa'alaikum salam, sebentar," tukas Anto. Begitu pintu ia buka, alangkah senangnya ia mendapati Yadi pulang. Yadi tampak gagah, badannya yang jangkung berbalut jaket hitam yang tebal.
"To? kamu baik-baik aja?" ucap Yadi sambil menerima telapak tangan saudaranya itu dan membiarkan punggung tangannya dicium Anto. Yadi bangga pada Anto, karena Anto tidak banyak berubah. Anto anak yang sopan dan sedari dulu ia kenal Anto rajin ibadah dan pintar di sekolah.
"Coba ceritakan, bagaimana mulanya, Abangmu bisa-bisanya berurusan sama orang-orang itu?" tanya Yadi sambil masuk dan membuka jaket. Keduanya duduk di ruang tamu. Rupanya Yadi sudah mendengar cerita Dul Karim dari bapaknya. Bapaknya menceritakan semuanya lewat telepon. Bagaimana mulanya Dul Karim di penjara, terus orang-orang misterius yang mencari Dul Karim dan kedatangan Bibinya dan Anto yang numpang bersembunyi.
"Anto gak ngerti Bang, tiba-tiba saja orang-orang itu datang ke rumah dan mencari Bang Dul," jawab Anto apa adanya.
"Oh iya, kamu sudah lulus yah?"
"Iya Bang, ikut kerja lah Bang, bosan di sini." Sejenak Yadi termenung, sesekali ia menatap Anto, ada rasa iba dihatinya, ada tanggung jawab di situ. Apalagi setelah kematian pamannya.
"Abang sudah tanya-tanya sama bos, memang ada pekerjaan. Besok lusa kamu ikut Abang yah."
"Iya, iya, siap Bang," jawab Anto dengan hati senang dan bersemangat.
"Ada kopi gak, bikinin kopi gih, kopi item."
"Iya Bang, bentar."
__ADS_1
***
Farhan sedang on the way, ia hendak menjemput Yuli dan Eca. Seperti yang sudah dijanjikan. Yuli dan Eca mau dipekerjakan di restoran.
Eca diantar Abangnya ke rumah Yuli. Mereka tidak mau merepotkan Farhan. Jadi mereka putuskan berkumpul di rumah Yuli. Eca membawa tas besar berisi pakaian.
"Ca, hati-hati yah, aktifin terus hp kamu dan layanan lokasinya juga, aktifin terus," kata Abangnya penuh rasa khawatir.
"Iya," jawab Eca.
Yuli menyambut Eca dan Abangnya itu, Yuli juga sudah siap-siap. Tidak lama kemudian, Farhan datang. Farhan mengendarai APV luxury warna putih. Orangtuanya Yuli menyambut dengan sukacita.
"Silahkan Pak, duduk dulu," ramah bapaknya Yuli. Farhan pun mengalaminya dengan sopan dan segera menjelaskan pekerjaan yang ia tawarkan itu.
***
Senin pagi yang cerah. Anto sudah rapi berpakaian. Beruntung kemeja dan celana hitam milik Yadi ada yang muat di badannya.
"Ayo, kamu sudah siap," tanya Yadi.
"Yadi, Bibi nitip Anto ya, dan kamu Anto, pekerjaan apapun nantinya, kamu harus tekun, jangan buat malu abangmu."
"Iya Mak," jawab Anto. Anto dan Yadi pun pamit pada ibunya Anto itu.
***
Yuli dan Eca terbangun di dalam sebuah ruangan yang pengap. Hari sudah siang. Keduanya kaget sendiri, tangan dan kakinya terikat dan mulut dilakban.
Yuli dan Eca hanya bisa saling pandang cemas. keduanya hanya bisa berkutik seperti putri duyung yang terdampar di daratan.
Seseorang membuka pintu ruangan keberadaan Eca dan Yuli itu. Orang itu membantu Eca berdiri lantas memandangi Eca dengan seksama. Yang Eca pikirkan adalah, Kemana Farhat? dan sekarang dirinya ada di mana?? Terakhir Eca ingat, saat di perjalanan ia dan Yuli meminum minuman dingin yang Farhan berikan. Firasat buruk menggema dalam hati dan pikiran Eca. Tanpa terasa air matanya mengalir, ia telah tertipu dan sangat menyesal.
__ADS_1
Seseorang yang lain datang dan menodongkan pistol tepat menuding ke wajah Eca. Eca yang mulai sesegukan kini jadi ketakutan. seumur-umur ia baru melihat pistol apalagi kini pistol itu mengarah ke wajahnya. Eca hanya bisa berharap, sangat berharap, itu pistol mainan dan orang-orang asing itu hanya sedang nge-prank saja dan nanti ujung-ujungnya ia dapat hadiah.
"Lihat **********," titah orang yang menodong itu pada temannya. Tanpa persetujuan Eca, orang itu kini melorotkan celana jeans panjang yang Eca kenakan. Eca merasa dirinya diperlukan seperti boneka karet, ditelanjangi, dibolak-balik, dipegang-pegang dengan kasar.
"Sudah, ganti yang satu lagi." Eca merasa lega, akhirnya selesai juga. Untuk saat ini ia berhak bernafas lega. Tapi besok-besok, Eca jadi khawatir, ancaman diperkosa mulai membuat nyalinya ciut.
Yuli pun diperlukan sama.
Selesai cek fisik, ikatan Eca dan Yuli di buka, begitu pula lakban hitam yang sudah terasa gatal di bibir. Keduanya kini disuruh duduk dan makan di lantai. sementara dua orang tak berperasaan itu duduk di kursi sambil tumpang kaki.
Yuli dan Eca makan nasi bungkus sambil sesenggukan. Keduanya seperti kucing yang dikasih makan sama majikan.
"Makan yang benar! Jangan sambil mewek!" Di hardik seperti itu, Eca malah makin sedih.
***
Siang kemudian, saat menyapu halaman. Ibunya Dul Karim kedatangan seorang kurir yang memastikan alamat dan membawa sebuah paket.
"Maaf Bu, apa benar ini Rumahnya Bapak Darman?"
"Iya benar."
"Ini ada paket dan ini pesan dari pengirimnya," ujar kurir itu sambil menyerahkan paket itu dan selembar kertas.
"Tanda tangan di sini."
"Jangan dibuka, tunggu sampai saya pulang, TTD, Dul Karim."
Ibunya Dul Karim bersyukur, Anak sulungnya itu baik baik saja. Paket itu sebuah kardus sebesar satu rim kertas HVS. beratnya pun hampir sama. Ibunya Dul Karim pun membawa masuk dan menaruh paket itu di tempat yang aman dan malah termenung tidak buru-buru melanjutkan pekerjaannya. Ia jadi kepikiran Dul Karim. Andai Dul Karim punya Nomer telepon, ia ingin sekali menanyakan kabar Ratih, menantu kesayangannya. Apalagi terakhir ia mendapat kabar Ratih sedang hamil. Beberapa kali ia menelepon Ratih, ternyata nomernya tidak aktif. Bahkan Anto bilang, nomor itu sudah tidak terdaftar.
***
__ADS_1
Yadi sudah sampai tujuan. Mereka turun dari bus dan mencari tempat makan.
"Kita makan dulu, laper nih, tuh di situ aja, makanannya enak, ayo," ajak Yadi. Anto menurut saja.