Brajamusti

Brajamusti
Markas Baru


__ADS_3

Don membuka pintu, pintu markas baru atas persetujuan Boim. markas itu lebih pantas disebut istana. Yah, istana adalah kata yang lebih tepat untuk menggambarkan sebuah rumah besar dengan pilar-pilar yang besar pula.


Dul Karim masuk dengan tatapan terpana ke lantai marmer, lampu-lampu kristal, lukisan-lukisan besar dan sebagainya.


"Selamat datang Dul, ini rumah kita, dan kamu tinggal sebutkan saja, apa yang kau pinta sebagai pelengkapnya. Wanita, miras, narkoba, atau apa? Katakan saja," ucap Don dengan sombongnya membusungkan dada. Dalam hati, Dul Karim hanya ingin sebuah rumah yang mungil di sebuah desa, sepetak ladang dan istri dan anaknya yang sehat.


"Aku butuh tempat semedi, dan seekor nyamuk pun tidak bisa menggangguku," ucap Dul Karim dan disambut tawa oleh Don.


"Saya suka gaya kamu Dul."


***


sementara itu, dari balik sel tersendiri. Seorang Napi yang baru masuk itu, yang tubuhnya penuh dengan tato, tampak sedang kasak-kusuk dengan seorang sipir.


***


Seorang wanita seksi bertubuh tinggi semampai menghampiri Don. Pakaiannya minim, rok merah berjuntai belah di pinggir sampai pangkal paha.


"Perkenalkan, ini Nikki, pacar saya," ucap Don sambil menyambut wanita itu dan mendengusi lehernya.


"Selamat datang, buat dirimu nyaman," ucap Nikki.


"Terima kasih," jawab Dul Karim datar.


"Ayo, aku tunjukkan kamar kamu," ajak Don. Dul Karim pun mengikuti, mereka naik ke lantai dua. Don membuka sebuah pintu kamar.


"Silahkan," ucap Don. Dul Karim pun masuk. Sebuah kamar yang besar, sebuah kasur besar, sebuah tv, kulkas dan lemari yang juga besar. Dul Karim menjatuhkan tasnya. Tas butut yang lumayan besar berwarna coklat pudar.

__ADS_1


Pagi kemudian, Dul Karim sudah mandi dan pakaian rapi. Ia tampak gagah dan tampan dengan stelan pakaian santai yang baru. Don membuka tempat parkir. Dul Karim terbelalak melihat mobil sport dan moge koleksi Don dan para anak buah Boim yang lain. Mulai dari Harley Davidson sampai Triumph, dari Ferrari sampai Audi. parkiran basemen rumah mewah itu begitu luas.


"Sepertinya saya perlu belajar nyetir mobil," ucap Dul Karim menatap Don dan disambut dengan Tawa oleh Don.


"Hahaha.... harus, kau harus belajar nyetir, sekarang ikut aku, aku tunjukkan tempat penyimpanan senjata." Dul Karim pun mengikuti, Don membuka sebuah pintu rahasia di tembok yang tersamarkan oleh batu pualam. Pintu itu menuju anak tangga yang menurun.


"Ini basemen dan masih ada satu lantai lagi dibawahnya."


Dul Karim terus mengikuti Don. mulanya gelap, setelah lampu dinyalakan, Dul Karim sampai ternganga tak percaya atas apa yang dilihatnya sekarang. Di meja dan lemari-lemari kaca di sepanjang dinding, senjata-senjata api berjejer dan terpajang. seperti sebuah museum. Mulai dari pistol yang paling kecil dan pendek sampai senapan mesin yang panjang dan kaliber besar. Dul Karim jadi berpikir, ini senjata mafia atau gudang pemberontak.


"Silahkan pilih dan ambil mana saja yang kamu suka," ucap Don dengan roman sombong. Dul Karim menyentuh dan menimbang-nimbang beberapa pistol dan senapan. Tidak lama kemudian, ia menjatuhkan pilihan pada sebuah pistol hitam berperedam seperti yang pertama kali ia gunakan.


***


Pagi yang hingar, ini hari Minggu. Saatnya para napi menikmati olah raga pagi. Napi-napi pun segera berhamburan ke taman dan lapangan dalam lapas itu. Ada yang berebut bola, dan sebagainya. Tidak terkecuali Boim dan satu napi baru itu, napi baru bertubuh kekar penuh tato. Ia tampak memperhatikan Boim dari sudut tersendiri, ia sama sekali tidak berminat untuk bermain. Tatapannya begitu tajam.


Di antara keseruan para napi yang bermain voli, basket dan lainnya, ada beberapa napi yang terlibat cek-cok dan akhirnya adu jotos. entah apa yang jadi pemicunya. awalnya mereka saling lempar bola basket. Kericuhan pun terjadi begitu saja. Boim tidak tinggal diam, ia kesal karena keributan itu sudah mengganggu waktu olahraganya.


"Tapi dia gak perlu mukul saya juga dong Bos." Ketegangan tidak mampu Boim redam. Tak pelak, mereka pun berkelahi di antara debu berhamburan seperti di arena sabung ayam dan diantara keringat napi-napi yang berkelahi itu, sebilah pisau yang runcing, tajam dan mengkilap melesat cepat menusuk dan merobek perut Boim.


JLEBB!


Pelakunya adalah si napi baru itu yang lantas kabur setelah Boim roboh bersimbah darah. orang-orang segera mengetahui itu, tapi tiada yang menyadari siapa pelakunya.


Para sipir yang datang terlambat pun segera melerai perkelahian dan mengevakuasi jasad Boim. Darah mengucur ke tanah. Jasad Boim pun segera diseret dari kerumunan seperti bangkai hewan tersungkur di tanah kering berdebu.


***

__ADS_1


informasi kematian Boim pun dengan segera menyebar dan sampai ke telinga kapten Hermawan. Kapten Hermawan menelepon Teo.


"Teo, apa-apaan kamu, bukankah perjanjian kita-"


"Perjanjian apa?! Nyawa di bayar dengan nyawa! Kami punya bukti yang kuat, ayahku dibunuh orang suruhan Boim. Bahkan kalian tidak bisa membuktikannya, apa kerja kalian?" suara Teo terdengar menyakinkan.


"Sebentar lagi kalian akan sibuk memungut mayat-mayat anak buah Boim yang tersisa," gertak Teo, "siapkan saja kantung mayat yang banyak."


"Teo? Teo!! dengar dulu Teo! Halo?"


"Tuttt!" rupanya Teo sudah memutus sambungan telepon.


"Sial!" Kapten Hermawan membanting teleponnya.


***


siang kemudian, Don menerima telepon dan wajahnya mendadak kaku. Keceriaannya saat bermain biliar mendadak lesu dan terduduk lunglai. sontak beberapa anak buahnya dan Dul Karim jadi menduga-duga. Kabar buruk apa yang Don terima.


"Informan kita di kepolisian memberi kabar, kalo Boim tewas dalam kerusuhan di dalam penjara," ucap Don. Semua orang yang ada di situ yang semula ceria jadi tampak kecewa dan marah. Sejenak Don termenung, tidak lama kemudian Don sudah bisa menduga, siapa otak dibalik tragedi itu.


"Ini pasti ulah Teo."


"Iya Bang, itu pasti, selain komplotan Teo, kita tidak punya urusan dengan siapapun," timpal yang lain. Don pun sependapat.


"Siapkan diri kalian, kita serang mereka, sekarang juga" ucap Don, pelan dan mendalam penuh kebencian. Komando sudah diambil alih dan mereka segera sibuk menyiapkan kendaraan dan senjata tentunya. Tidak terkecuali Dul Karim, ia ikut-ikutan sibuk.


"Panggil yang lain, ayo, ayo!." Dul Karim sudah bisa membayangkan, bakal ada pertumpahan darah lagi.

__ADS_1


Dul Karim jadi berpikir,


"Begitu mudahnya, begitu tidak ada artinya nyawa di dalam persaingan bisnis haram itu. Anehnya, mereka seperti tidak takut akan kematian atau celaka. Apakah mereka sudah putus urat takutnya? Mereka begitu bersemangat, mereka begitu loyal pada pimpinan. Bahkan nyawa siap mereka korbankan.


__ADS_2