
Boim yang sedang santai di dalam selnya kedatangan seorang sipir.
"Ada yang berkunjung," ucap sipir itu dengan nada yang datar sambil membuka kunci. Boim tampak heran, karena memang selain anak buahnya yang ia panggil, tidak pernah ada yang berkunjung. Boim bangkit dan membiarkan sipir itu memborgol dirinya.
Di balik kaca Dul Karim sudah menunggu dengan wajah lesu. Luka di wajahnya cepat sembuh. Dul Karim juga heran. luka lebam dan sobek di pelipisnya sembuh sempurna secepat itu dalam waktu beberapa hari saja. Begitu memasuki ruang jenguk, Boim tampak kaget mendapati Dul Karim di luar sana. Boim pun duduk dan mengangkat gagang telepon.
"Bos, saya percaya sama Bos. Tapi Hendrick tidak bisa saya maafkan," ucap Dul Karim.
"Maafkan saya Dul, ini benar-benar di luar dugaan," jujur Boim.
"Saya sudah mendengar semuanya, ada yang laporan sama saya dan segera saya kirim seseorang untuk membereskannya. Tapi Hendrick berhasil lolos," bilang Boim. Dul Karim menyimak dengan baik.
"Mungkin uang sudah tidak berarti lagi buatmu. Hendrick juga menculik Istrimu. Tapi janji adalah janji, uang untukmu saya ganti. saya lebihkan, dengan syarat, kau habisi Hendrick. selesai ini jangan langsung pulang, tunggu sebentar di ruang tunggu, nanti ada seorang sipir memberikan alamat dan orang yang harus kamu temui dan cek buat kamu." Dul Karim mengangguk dan tidak lama kemudian pertemuan itupun berakhir.
"Saya pamit dulu Bos, tanpa imbalan pun, saya pasti habisi Hendrick." Boim mengerti ketegasan Dul Karim. Boim sangat kagum pada sikap dan keberanian Dul Karim.
Seperti arahan Boim, seorang sipir menyerahkan sebuah amplop pada Dul Karim di ruang tunggu. Setelah itu, Dul Karim pun segera berlalu. Ia beranjak ke bank diantar pengacara yang kemarin mengeluarkannya dari penjara itu untuk mencair cek dengan nilai yang fantastis. Dul Karim sempat bingung, seumur-umur ia belum pernah mencairkan cek. Dulu, punya rekening saja tidak pernah diisi sampai bulukan.
Penampilan Dul Karim lumayan rapi. Tubuhnya yang kekar berbalut kemeja lengan pendek garis-garis putih, rambutnya rapi klimis, wajahnya bersih.
Sesampainya di hadapan teller, ia menyerahkan cek itu dan disuruh menunggu. Dul Karim menurut saja dan mengikuti semua prosedur. akhirnya satu dus uang sampai ke tangannya. Hati Dul Karim lega dan segera membawa uang itu.
Saat di dalam taksi kemudian, hp pengacara itu berdering.
"Iya, oke... terima kasih." Dul Karim asik sendiri dengan khayalannya. Untuk apa uang sebanyak itu.
"Kita berpisah sekarang, saran saya, sebaiknya kamu pergi sejauh mungkin. Menemui Don Lee adalah mimpi buruk," ucap pengacara itu tanpa Dul Karim duga. Ada tatapan iba di mata pengacara itu.
"Iya, iya, terima kasih Pak," ucap Dul Karim pelan.
__ADS_1
"Ya sudah, jaga diri baik-baik," ucap pengacara itu untuk terakhir kali sambil menepuk bahu Dul Karim.
***
Don tampak menunggu, Dul Karim datang ke tempat yang sudah dijanjikan dengan taksi.
Seturunnya dari taksi, Dul Karim melangkah masuk ke dalam rumah yang pintu depannya terbuka lebar. Ia mendapati seorang pria mengenakan jaket olahraga merk tiga daun warna biru. Dari tampangnya, Dul Karim bisa pastikan, orang itu bukan asli warga Indonesia. Kulitnya putih, matanya sipit.
"Kamu pasti Abdullah Karim," ucap Don seraya bangkit dan menatap Dul Karim dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Iya, saya disuruh Bos Boim untuk menemui Don Lee," jawab Dul Karim.
"Yah, saya sendiri. Selamat datang," ucap Don sambil mengulurkan tangannya. Dul Karim hendak bersalaman. Tapi Don menarik tangan Dul dan tangan kirinya melayangkan tinju.
"Shhh!!!" Tapi Dul Karim mengelak dan tangan kirinya yang ditarik sengaja Dul Karim dorong. Don pun hampir roboh karena terdorong. Perkelahian jarak dekat pun terjadi. Kalo yang biasa menonton Jet Lee atau IP man, pasti sudah tahu serunya perkelahian jarak dekat. Saling sikut, saling tangkis dan saling plintir pun terjadi. Pertarungan seimbang. Akhirnya Don tampak senang dan angkat tangan.
"Silahkan duduk, santai lah dulu," ucap Don. Dul Karim pun duduk dan keduanya mulai berbicara serius, perihal rencana menghabisi Hendrick.
"Malam ini juga, kita bergerak," ucap Don.
***
Di persembunyian Hendrick, tampak Bewok sedang berbincang dengan seorang temannya yang juga mengeroyok Dul Karim waktu itu.
"Sialan tuh Si Don Lee, hampir aja gue habisin tuh orang," tukas Bewok dengan nada kesal. Mata kirinya masih lebam bekas dihajar Don di dalam pub itu. Tangan kirinya juga berbalut perban, pergelangan tangannya itu bengkak.
"Kalo ketemu lagi, gua gak bakalan banyak omong lagi, langsung gua dor. Lihat, kaki gua hampir pengkor dibuatnya."
Don dan Dul Karim mendengar, itu ocengan Bewok dan satu temannya. Don dan Dul sudah dekat dan berada di balik dinding dekat keberadaan Bewok. Malam yang sepi, rumah tua yang sepi. Dul Karim sudah tidak sabar, ia pun berjingkat dan menampakkan diri ke hadapan Bewok yang lagi santai di depan pintu masuk. Sontak Bewok kaget, lampu di atasnya cukup terang, sehingga ia bisa mengenali Dul Karim.
__ADS_1
"Kamu? hey, kamu bukannya sudah mampus hah!" tukas Bewok sambil mengambil pistol yang terselip di pinggangnya. Secepat kilat Dul Karim menendang pistol yang baru berhasil Bewok genggam. Bewok pun terjungkal. Buru-buru Dul Karim merebut pistol itu dan menghantamkan nya ke teman Bewok yang hendak menyerang.
TAKK!!
kepalan tangan Temannya Bewok itu bertumbrukkan dengan gagang pistol.
"Aww!!" Baji**an itu mengaduh. Don muncul dan menendang lengan Bewok yang berbalut perban itu. Bewok yang baru bangkit jadi melenguh, merasakan sakit yang luar biasa.
Dul Karim menghantamkan ujung tumpul pengangan pistol itu ke wajah lawannya yang tampak kewalahan dan kesakitan. Begitupula Don, Bewok tak sanggup melawan. Sampai akhirnya Don menginjak leher Bewok dengan satu hentakan bertenaga sampai terdengar bunyi KREKK! leher Bewok patah bertumpu pada beton anak tangga pintu masuk itu. Teman Bewok yang dihajar Dul Karim pun sudah tak bergerak lagi, wajahnya hancur bersimbah darah.
"Sudah, sudah, dia sudah mati!" Don menahan Dul Karim. Dul Karim seperti orang yang kesetanan. memukul terus-terusan sampai kepala lawannya penyok.
"Cukup!" kali ini Don menangkap kepalan tangan Dul Karim. Dul Karim pun menyudahi siksaannya.
Hendrick sedang mendekap dan ******* seorang gadis yang tampak ketakutan. seorang gadis desa hasil buruan anak buahnya. Hendrick seperti seekor serigala kelaparan yang habis berlari berpuluh-puluh kilo meter dan menemukan sejumput telaga dan daging segar dalam artian sebenarnya.
BRUKK!!!
Pintu kamar keberadaan Hendrick itu ada yang mendobrak. Sontak serigala Botak dan jelek itu kaget. Lebih kaget lagi yang mendobrak pintu itu adalah Dul Karim.
Perempuan yang ketakutan itu jadi makin ketakutan. Hendrick membanting gadis buruannya yang sudah setengah telanjang dan segera bangkit menghadap Dul Karim.
Dul Karim lantas menodong Hendrick, Hendrick hanya mengenakan celana kolor pendek. Hendrick angkat tangan dengan tatapan tajam. perlahan Dul Karim mengendurkan todongannya dan meletakkan pistolnya di meja kecil di sudut ruangan dekat dengan pistol Hendrick. Hendrick siap-siap berkelahi, karena memang Dul Karim juga mulai ambil kuda-kuda. satu kepalan tangan Dul Karim tampak mengeras, otot-ototnya mengeras dan sampai terdengar gemerutuk tulang-tulang jemari Dul Karim. Hendrick kaget begitu ia lihat kepalan tangan Dul Karim itu tampak mengeluarkan asap.
Dengan satu ayunan pasti yang cepat dan sangat bertenaga pukulan Dul Karim mengenai kepala Hendrick.
BAKKK!
Kepala Hendrick yang tidak sempat mengelak itu seperti buah semangka yang pecah dengan mudah. Sontak seorang gadis yang sedari tadi beringsut ketakutan di sudut ruangan itu terpana tak percaya, seorang Hendrick yang bertubuh besar terpelanting jauh ke tembok dengan kepala hancur berserakan. Gadis itu menjerit ngeri dan nyaring sekali. darah Hendrick berceceran ke tubuhnya.
__ADS_1