Brajamusti

Brajamusti
Para pengintai 2


__ADS_3

Teo sedang serius berlatih tinju di atas ring. Ia biasa menguji kemampuan berkelahi orang-orang yang baru ia rekrut. Seperti sekarang, ia sedang menghajar seorang pemuda tanggung yang berpenampilan urakan.


BUK! BUK!


Pukulan Teo selalu mengena pada sasaran.


"Ayo, maju! Ayo!" Sambil menghajar Teo meneriaki pemuda itu yang sudah kepayahan dan babak belur.


Tubuh Teo yang putih kekar sudah basah oleh keringat.


"Maaf bos, ada kabar penting," ucap Dias sambil melonggarkan dasi. Mendengar itu Teo menghentikan kegiatannya dengan satu tendangan memutar dan lawannya terjungkal.


"Ternyata Dia, si Abdullah Karim ini sempat di penjara dan satu penjara dengan Boim," ucap Dias dengan nada yang meyakinkan.


"Sudah ku duga, pasti dia," gumam Teo sambil melepaskan sarung tinju dan di sambut oleh pelayannya yang lantas memberikan handuk.


"Lalu kapan, Si Boim dieksekusi mati?" tanya Teo.


"M... Maaf, kepolisian belum memberi kabar soal itu," jawab Dias dengan tertunduk sopan.


Teo jadi berpikir, Bagaimanapun Boim harus segera disingkirkan, karena dari dalam penjara saja Boim masih bisa mengatur pembunuh ayahnya.


"Kita harus melakukan sesuatu," ucap Teo pada Dias. Dias pun mengerti.


"Siap Bos."


***


"Katanya, orang ini sakti," ucap seorang polisi berpakaian taktis serba hitam seperti pasukan SWAT pada seorang temannya yang juga lagi santai seperti dirinya. Keduanya berada di dalam rumah kontrakan Ratih. Seperti yang ditugaskan letnan Anwar, keduanya disuruh menunggu kedatangan Dul Karim sampai waktu yang belum ditentukan.


"Halah, mana ada jaman sekarang, orang sakti macam itu," jawab temannya cuek.

__ADS_1


"Emang jaman dulu ada orang yang sakti?"


"Ya mana gue tahu."


"Tadi kau bilang, jaman sekarang tidak mungkin ada, berarti secara tidak langsung kau bilang di jaman dulu ada orang-orang sakti?"


"Yeh, bikin pusing yah, ngomong sama eluh." Saat santai berubah hampir bertengkar karena obrolan yang tidak nyambung, seorang polisi datang membawa kabar dan mengalihkan perhatian kedua temannya itu dari pembicaraan yang tidak bermutu.


"Sttt... Dia datang, ayo siap-siap!" tukas polisi yang baru datang itu.


"Abe, matiin lampunya." Satu polisi bernama Abe itu pun menurut saja pada temannya yang baru datang itu.


"Siapa yang datang Gun? Orang sakti itu?"


"Tuh, katanya kamu tidak percaya kalo orang sakti itu ada, tapi sekarang kau bilang?" protes Abe membuat temannya bete.


"Iya, orang sakti itu datang, Abe! Nugroho! kalian ngeributin apaan sih?" Gugun jadi Risih mendapati tampang kedua temannya yang tampak saling sinis, seperti dua bocah yang berebut mainan.


Senyap


Gelap.


Dul Karim datang perlahan dan membuka pintu. Begitu Dul Karim menyalakan lampu. Ketiga polisi muda itu menodong Dul Karim. Ketiga moncong senapan itu tepat menuding muka Dul Karim. Dul Karim tak berkutik. Ia sempat berpikir untuk melawan polisi-polisi muda itu. Tapi, ia tidak ingin ada pertumpahan darah lagi, apalagi kematian. Ia merasa capek dan menyerah untuk saat ini adalah pilihan bijak. Dul Karim pun membiarkan ketiga polisi itu meringkus dirinya, memborgol dan menggiringnya keluar. Dul Karim tidak tahu harus kemana mencari jasad Ratih. Yah, dalam hati Dul Karim yakin Ratih sudah tiada dan karena keyakinannya itu pula ia kini membiarkan dirinya dibawa.


"Bang, katanya kau orang sakti?" tanya Abe pada Dul Karim dan langsung di depak Nugroho.


"Sttt!" Kini mereka sudah berada di dalam sebuah mobil anti huru-hara. Senjata lengkap dan kendaraan lapis baja memang pilihan yang tepat untuk menangkap dan membawa Dul Karim. Atasan mereka khawatir Dul Karim melakukan perlawanan. Tapi nyatanya, begitu mudah ditaklukkan.


" Stt! Apa-apaan sih? Konyol Luh! tanya-tanya gak jelas, bikin malu aja," tukas Nugroho.


"Ye, saya cuma bertanya, apa salahnya, apa nya yang bikin malu? Kau lari gak pake baju itu baru buat malu, bolehkan saya bertanya Bang?" ucap Abe dengan wajah tak mengerti akan sikap Nugroho dan kembali menatap Dul Karim.

__ADS_1


"Gimana Bang, bisa dijawab pertanyaan saya tadi," Abe kembali bertanya kepada Dul Karim. Dul Karim tampak cuek dan asik dengan lamunannya sendiri, sama sekali tidak menanggapi ocehan Abe. Abe tampak kesal.


"Rasain luh, Emang enak dicuekin." ketus Nugroho.


Gugun serius mengendalikan kendaraan, sementara Abe dan Nugroho kembali bersitegang soal kata Sakti. Dul Karim asik sendiri dengan lamunannya.


Satu yang Dul Karim harapkan di dalam penjara nanti. Ia ingin bertanya pada Boim, Kemana ia harus mencari Hendrick dan atas perintah siapa orang-orang itu menghabisi dirinya dan Ratih.


Seseorang memasuki penjara. Penjara di mana Boim berada. Orang baru itu digiring dua sipir dengan tangan terikat borgol. Tubuhnya yang kekar penuh dengan tato, rambutnya panjang sebahu.


Dul Karim kira, dirinya akan di bawa ke penjara. Tapi ternyata ia dibawa ke rumah sakit. Lorong panjang yang serba putih ia lewati. Sepi, hanya satu dua perawat lewat. Ia kini sudah tidak diborgol apalagi ditodong. Mereka berjalan beriringan seperti para sahabat yang hendak menjenguk. Dul Karim bingung sendiri, mau diapakan dirinya dibawa ke rumah sakit? Akankah dia disuntik mati atas tuduhan pembunuhan yang tak termaafkan. Sempat ia berpikir untuk kabur, tapi entah kenapa urung ia lakukan.


Sampai akhirnya ia disuruh oleh Abe untuk membuka sebuah pintu. sepertinya ruang pasien. Perlahan pintu ia buka. Ia pun terpana. Ia dapati dalam ruangan itu seorang perempuan berwajah lembut, rambutnya lembut, senyumannya manis sekali. Perempuan yang sangat ia kenal dan ia sayangi sepenuh hati. Ia adalah Ratih yang tampak putih berseri dan yang paling menarik perhatian Dul Karim adalah perut Ratih, lebih buncit kali ini.


"Ratih! kamu baik-baik aja?" Dul Karim langsung menghampiri Ratih, dengan hati masih belum percaya, ternyata dugaannya salah. Ternyata Ratih selamat dan tidak kurang suatu apapun.


"Ya, aku baik-baik aja Bang, oh iya, Kata dokter, bayi kita kemungkinan laki-laki," ucap Ratih dengan senyum simpul. Ada kebahagiaan di situ, ada harapan besar dan cinta kasih yang paling dalam sambil mengelus perut.


"Bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanya Dul Karim. Ia masih tidak mengerti.


"Kebetulan Hendrick yang membawa istrimu ini adalah target operasi kami. Kami datang tepat waktu, kami menyergapnya, tepat sebelum ia melukai istrimu," potong Letnan Anwar. Ia datang entah dari mana dan ketiga polisi muda yang tadi sudah tidak ada. Dul Karim pun menoleh dan menatap sopan ke arah Polisi setengah tua yang berpakaian preman itu.


"Terima kasih Pak." ucap Dul Karim sambil sedikit membungkukkan badan.


"Ah, sudahlah, tapi yang jadi kekhawatiran kami. Hendrick berhasil lolos, sebelumnya juga begitu. Jadi, kami membawamu ke sini bukan hanya untuk menemui istrimu. Kami perlu bantuanmu," ucap letnan Anwar serius. Dul Karim jadi berpikir, bantuan seperti apa yang polisi itu harapkan darinya. Ia sudah capek dan ingin segera pulang. ternyata istrinya selamat. Ia pikir, ia bisa saja melupakan dendam pada Hendrick dan segera pulang dan fokus pada Ratih dan bayinya.


"Bisa kita bicara di luar," ajak letnan Anwar. Wajahnya yang mulai menampakkan garis-garis keriput begitu serius. Dul Karim pun tidak bisa menolak. Ia pun pamit pada Ratih.


"Sebentar ya Ratih, kita segera pulang."


"Ia Bang," jawab Ratih.

__ADS_1


__ADS_2