Brajamusti

Brajamusti
Kapten Hermawan


__ADS_3

Dul Karim sudah berada dalam taksi bersama ibu dan adiknya. Mereka akhirnya bisa bernafas lega. Sampai di sebuah terminal bus mereka turun.


"Anto, bawa ibu ke rumah wak Darman. Sembunyi dulu di situ. Setelah aman, nanti Abang kabari, baru kamu bawa Ibu pulang," ucap Dul Karim sambil menepuk pundak adiknya itu.


"Iya, iya Bang, Anto mengerti."


"Dul, kamu mau kemana? Kenapa tidak ikut bersembunyi?", tanya sang Ibu.


"Dul mau menyusul Ratih, nanti Dul kasih kabar kalo keadaannya sudah membaik. Ini buat ongkos." Uang Dul Karim tinggal setengah ikat. Ia bagi dua uang itu dan setelah mencium tangan ibunya ia segera berlalu.


Sang Ibu masih belum percaya atas semua yang ia alami, hatinya was-was dan masih trauma.


***


Teo tampak sedang mencermati rekaman saat Dul Karim mempermainkan satu anak buahnya dan sampai pada rekaman ketika Dul Karim menembak ketiga orang itu Teo  terbelalak.


"Dia bukan orang sembarangan. Apa mungkin dia agen yang memancing kita turun gunung," pikir Teo.


"Gerakannya begitu cepat dan cara memegang pistolnya pun tidak kaku. Dias, buat janji dengan Anj**g Hermawan, sekarang juga di tempat biasa," ucap Teo.


"Siap bos," jawab Dias.


***


Selesai melepas kepergian ibunya. Dul Karim bingung, harus kemana sekarang ia pergi. Otaknya berputar, tidak mungkin ia berlama-lama ada di kota. Ia sudah membunuh banyak orang, ia jadi teringat satu hal. Ia masih punya teman kerja yang satu kampung dengan sahabatnya yang dari Kalimantan itu. Dul Karim pun tidak buang-buang waktu.


***


Dalam sebuah tempat yang terpencil tampak seorang polisi paruh baya memasuki sebuah gerbong kereta yang sudah tak terpakai. Di dalam gerbong kereta itu Teo sudah menunggu dengan beberapa orang bodyguardnya. Polisi itu adalah kapten Hermawan. Ia datang sendiri dengan pakaian preman, jaket kulit dan celana jeans. Kapten Hermawan adalah seorang penghianat yang menjadi makelar hukum bagi komplotan Teo.


Kapten Hermawan sudah sampai dan duduk berhadapan dengan Teo.


"Kapten, lihat ini," ucap Teo tanpa basa-basi, tanpa jabat tangan. Teo menunjukkan rekaman aksi Dul Karim itu dari sebuah laptop.


Kapten Hermawan tampak mencermati.


"Lihat, tidak mungkin ia baj**gan biasa, sekarang katakan pada saya, siapa yang menyuruhnya?" Sang Kapten menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Kami tidak mungkin melakukan itu, bahkan ayahmu teman baik saya."


"Cukup kapten!" Gertak Teo sambil menodongkan pistol tepat ke arah jidat kapten Hermawan.


"Temanmu hanya uang."


Sang kapten mendelik. Ia tidak kaget, ia sudah tahu tabiat Teo yang temperamental itu.


"Kalo bukan dari kepolisian? Lalu siapa yang mengirim dia!?"


"Ingat baik-baik, selain dengan Boim kalian punya urusan dengan siapa lagi?" Sejenak Teo jadi berpikir dan perlahan mengendurkan todongan pistolnya.


"Tidak ada kapten, tidak ada. Kami yakin itu. Oh iya, apakah hukuman mati Boim sudah dilakukan?"


"Tidak semudah itu Teo, kami-"


"Oh, jadi kurang yah, berapa yang kalian minta agar Si Boim segera dihukum mati!" potong Teo.


"Bukan, bukan itu, kami terganjal aturan."


***


Dul Karim sudah sampai pada sebuah kontrakan. Kumuh, banyak pakaian bergantungan di dinding. Kontrakan yang Dul Karim tahu itu adalah tempat teman-teman bekerjanya waktu di proyek itu. Lama Dul Karim menunggu, sampai jam kerja usai. Beberapa pekerja yang sudah sampai pun kaget melihat Dul Karim. Luka di wajah Dul Karim belum kering sempurna.


"Dul, kamu sudah bebas Dul?" tanya seorang temannya disusul temannya yang lain.


"Kamu kenapa Dul, berantem sama siapa lagi kamu?" Dul Karim tidak berminat menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu dengan serius. Ia langsung pada niatnya datang ke situ.


"Si Yuga kemana?"


"Di belakang, bentar juga nyampe, ada apa sih Dul? Nanyain si Yuga?" tanya temannya lagi dan lagi membuat Dul Karim pusing.


"Dul, ngopi dulu, nih," seorang temannya yang lain datang dari dalam dan menyerahkan segelas kopi hitam. Dul Karim pun menerimanya dengan senyuman.


"Makasih Ted."


"Tuh, si Yuga Dateng."

__ADS_1


"Eh Dul, kapan bebas?" tanya Yuga begitu ia datang dan menyalami Dul Karim.


"Kemaren," jawab Dul Karim singkat.


Yuga membuka sepatu boot dan helm safety-nya lantas ngajak Dul Karim duduk di dalam kontrakan yang sempit itu.


"Kamu punya nomor Si Ilham gak?" tanya Dul Karim.


"Ilham Kalimantan?"


"Iya."


"Punya punya, nih, telepon aja nih," jawab Yuda sambil membuka dan mencari nomor yang dimaksud. Setelah ketemu ia pun menyerahkan telepon selulernya pada Dul Karim. Dul Karim merasa lega, meski belum tentu ada kabar baik yang sangat ia harapkan. Ia berharap, Ratih ada di sana dan aman dengan uang yang Hendrick janjikan. Dul Karim hanya ingin memastikan.


"Halo, Ilham? Ya. Ini Dul Ham, Dul Karim? Iya, sehat kau di situ?" Suara Ilham hampir tak terdengar, tapi bagi Dul Karim seorang, suara dari telepon itu dapat dimengerti.


"Ratih aku suruh ke situ? Sudah sampai ke tempat kau?" tanya Dul Karim. Tapi jawaban yang tidak diharapkan Dul Karim dapat.


"Gak ada? Oh.... Iya iya, ceritanya panjang. Pokoknya penting ya Ham, kalo Ratih sudah sampai kasih kabar ke nomer ini yah?.... Iya, ini nomer Yuga." Dul Karim pun percaya. Ternyata Ratih tidak ada di Kalimantan, dugaannya benar. Lalu kemana Hendrick membawa Ratih??


"Dul? Dul? Ada apa Dul? Bukannya bini kamu itu sedang hamil? Dia ke Kalimantan sama siapa?"


"Sama saudaranya," jawab Dul Karim terpaksa berbohong. Dul Karim jadi kebingungan.


"Kalo kamu perlu bantuan, kami siap Dul, tenang, kami ada buat kamu Dul," ucap Yuga sambil menepuk pundak Dul Karim.


"Iya Dul, berkat kamu juga, sekarang orang-orang kantor baik, dan gaji kami naik," sahut yang lain dan diiyakan sama semua orang yang ada di situ.


"Ya, terima kasih," Dul Karim merasa tersanjung. Ternyata teman-temannya perduli padanya. Dul Karim mencatat nomor Yuga dan nomor teman-temannya yang lain.


Dul Karim sempat berniat untuk membeli telepon seluler. Ia masih punya uang yang cukup. Tapi ia pikir, sekarang ia adalah seorang pelarian, bisa jadi polisi sekarang sedang mencarinya. Sedangkan untuk mengaktifkan nomor seluler ia harus memasukan identitas. Ia pilih cari aman saja dan bergerak dalam senyap.


Dul Karim pamit dan dilepas dengan haru oleh teman-teman kerjanya. Dul Karim seperti seorang pahlawan yang hendak pergi berperang.


Dul Karim kebingungan, kemana ia harus mencari Ratih. Hatinya sangat khawatir. Sangat wajar, Ratih sedang hamil.


Mau tidak mau, kini Dul Karim melangkah ke kontrakannya. Sedikit harapan Ratih ada di kontrakan itu. Hendrick membawa Ratih, entah kemana. Paling tidak ia mau istirahat, syukur-syukur ia mendapat petunjuk. Ia pun meraih gagang pintu. Aneh, pintu itu tidak dikunci. Ia putus kan masuk dan begitu ia menyalakan lampu di samping pintu depan itu, tiga Laras senapan laras panjang menodong dirinya.

__ADS_1


__ADS_2