Brajamusti

Brajamusti
Memancing Elang, Keluar Dari Sarang


__ADS_3

Pagi kembali terjadi, lebih cerah kali ini. Don, Dul Karim dan puluhan anak buah Don. masih tertidur. Mereka bergeletakan bebas di dalam sebuah rumah yang terpencil, terhalang pabrik, terlindung kebun dan di depannya apartemen. Sang Fajar menelusup melalui gorden jendela yang terbuka.


Semalam mereka puas membahas taktik penyerbuan ke pusat bisnis Teo. botol-botol bir bergeletakan, juga asbak dan rokok.


Beberapa orang mulai bangun. Begitu juga Don dan Dul Karim.


**"


Niki masih bernafas. mulut dan hidungnya berdarah. Tatapannya lamur, tubuhnya terserak di lantai dekat pecahan kaca jendela kamarnya sendiri. Tatapannya ia edarkan dan begitu menemukan handphonenya yang tergeletak di sudut ruangan ia pun memaksa tubuh untuk meraihnya. Niki terluka parah, di punggung dan pahanya bersarang beberapa butir peluru. Darah segar membasahi pakaian tidurnya.


Don dan semua anak buahnya sudah bangun dan bersiap untuk menyerang Markas Teo.


Handphonenya Don berdering. Don pun membukanya.


"Halo?" dilihatnya layar handphone, itu panggilan dari Niki.


"Halo! Niki? Ada apa Niki. Halo," Niki tidak kunjung bersuara. firasat buruk membuat Don mengubah rencana. Ia hendak memastikan keadaan Niki terlebih satpam rumahnya juga tidak mengangkat telepon darinya.


Istana yang baru ditempati Dul Karim beberapa hari itu kini tampak acak-acakan. Tubuh dua orang satpam bergeletakan. Sontak Don dan semua anak buahnya berhamburan ke dalam. semua kaca jendela pecah, tembok-tembok yang kemarin putih mulus, kini penuh dengan lubang Peluru.


Don langsung menuju kamar Niki. Alangkah terkejutnya, ia mendapati Niki bersimbah darah tergeletak di sudut kamar. Niki sudah tak bernyawa. Don menjerit meraung-raung seperti orang gila yang kehilangan mainan yang paling disukai.


Seorang anak buahnya datang dan memberikan laporan.


"Bang Lee, morfin kita hilang semua."


"Bang Lee, semua kendaraan di basemen juga dirusak, ini sudah keterlaluan, kita balas sekarang juga," ucap anak buahnya yang lain. Don Lee pun murka bukan kepalang. Tapi setelah puas menangisi keadaan, ia segera sadar. Laki-laki segera sadar dan melihat segala kemungkinan. Ia ingat sesuatu dan karena itu ia segera mengumpulkan semua anak buahnya di ruang tengah yang luas.


Mereka sekarang berdiri membentuk lingkaran. Don Lee berada di tengah sendirian sambil menggenggam pistol.


"Ini, rumah ini, sekaligus markas kita yang baru," ucap Don Lee, "tidak mungkin ada anak buah Teo yang tahu, kecuali?" sampai di situ Don mengedarkan tatapannya yang tajam dan todongan pistolnya ke sekeliling. Satu persatu anak buahnya ia tatapi, tidak terkecuali Dul Karim.


"Ada penghianat di antara kita." Sampai di situ, semua anak buahnya jadi saling pandang curiga. satu orang yang tadi memberitahu soal kendaraan di basemen yang dirusak tampak menyalakan rokok dan menghisapnya dengan kaku. Insting Don pun berhenti di orang itu. Orang itu lantas menyadari dan coba meredam rasa gugup dan takutnya. Tiba-tiba orang itu menunjuk seorang temannya.


"Ini ulah si Joni! si-si Joni orangnya Bang Lee. Bukan saya," ucap Orang itu penuh rasa takut. Don pun kini beralih pada Joni. Joni tak berkutik dan hendak mengelak sambil meraih pistol di pinggang. Tapi Don begitu cepat dan orang bernama Joni itu pun segera meregang nyawa dengan dua kali tembakan di dada.


DORR! DORR!!!

__ADS_1


Dul Karim Angkat Senjata dan menembak orang yang tadi menuduh Joni.


DORR!


Sontak Don Kaget dan beralih pada Dul Karim.


"Dia sama saja," ucap Dul Karim dengan dingin. Don pun setuju dengan Dul Karim.


"Ayo, Kita serang sekarang juga!" Teriak Don dan disambut dengan semangat oleh semua anak buahnya, kecuali Dul Karim.


"Tunggu tunggu Don, maaf, bukan saya takut. Tapi tolong pertimbangkan, Bisa Saja Teo hendak menjebak kita," ucap Dul Karim. Don pun berpikir, ada benarnya juga ucapan Dul Karim.


"Bisa saja kan, kemarin saja banyak polisi di semua tempat milik Teo," lanjut Dul Karim.


***


Anto terbangun karena berisik dering ponselnya sendiri. Dilihatnya layar ponsel, itu telpon dari Yadi. Anto pun membuka ponselnya.


"Halo Bang."


"Ya, ada apa Bang."


"Sekarang kamu ada dimana?"


"Masih di mess Bang, kata kepala OB, Anto mulai kerja lagi siang. Kan semalem Anto langsung lembur."


"Iya, iya, tapi sekarang dengarkan baik-baik. kamu segera sembunyi. Jangan sampai kamu bertemu kepala OB atau siapapun yang mencari kamu, kamu diam saja. Cari tempat sembunyi, masuk lemari atau dimana saja yang sekiranya tidak ada orang yang tahu,"


"Emang kenapa sih Bang."


"Udah, pokoknya kamu harus nurut sama Abang, kalo mau hidup sampai besok. Aktifkan terus handphone, nanti Abang telepon lagi kalo keadaan sudah aman,"


Sepertinya Yadi tidak main-main. Anto pun menurut saja. sambungan telepon terputus. Anto segera mengumpulkan barang-barang yang sekiranya ia perlukan saat bersembunyi. Handphone, sisa uang jajan, sebotol air mineral dan sisa roti dari kamar hotel yang semalam ia bereskan. Ia belum sarapan. Boro-boro sarapan, mata aja baru melek.


Seseorang membagikan pistol pada semua karyawan hotel secara sembunyi-sembunyi. Hotel dimana Anto bekerja.


Yadi membagikan pistol pada semua karyawan restoran. Restoran tempat ia bekerja sebagai satpam adalah tempat yang juga dijadikan tempat bongkar muat narkoba.

__ADS_1


Anto sudah berada di dalam ruangan sempit. Sebenarnya itu bukan ruangan, itu adalah pintu kontrol pipa dan saluran air. Adanya di ujung ruangan pantry. Anto pikir, itu tempat yang paling aman dan kebetulan badannya cukup, walau di dalam hanya bisa dengan posisi berdiri sambil bersandar pada pipa.


"Mana anak baru itu?" Sayup-sayup terdengar di telinga Anto, seseorang bertanya pada seseorang.


"Di kamarnya emang gak ada?"


"Tadi sudah dicek ke kamarnya, gak ada."


"Di dalam kali."


GLEKK,


terdengar suara pintu dibuka.


"mana, gak ada juga."


"Lagi sarapan kali di dapur umum, atau lagi mandi."


"Ya sudah, kamu cari ke kamar mandi, saya ke dapur umum."


Anto hanya menyimak dan suara orang-orang itu tidak terdengar lagi.


Dalam perjalanan Don menelepon Hardi.


"Apa Teo sudah terlihat?"


"belum Bang Lee, saya sudah diposisi, Johan juga sudah siap," suara Hardi terdengar jelas.


"Apa sekarang juga ada banyak polisi?"


"Tidak, tidak ada sama sekali. Saya yakin."


Don jadi merasa aneh. Padahal semalam Johan bilang, polisi yang menyamar banyak berlalu-lalang sampai jam dua belas malam.


Dari kemarin Don menempatkan Hardi dan Johan di dalam sebuah apartemen yang tepat menghadap ke restoran Teo. Posisinya sangat pas untuk Hardi memantau restoran yang juga tempat transit narkoba milik Teo itu. Teo sering ke situ. Jadi Don putuskan untuk menghabisi Teo di tempat itu.


Don dan beberapa mobil yang lain berhenti ketika sudah agak dekat dengan restoran Teo itu. Mereka hanya terhalang 2 blok di kawasan komersil itu. Aktifitas masih sepi. jam menunjukkan pukul 08:30.

__ADS_1


__ADS_2