
Anto jadi termenung,
"Kalo perempuan itu berkata jujur, aku harus cepat-cepat telepon polisi," pikir Anto. Ia jadi gusar sendiri. Akhirnya ia putuskan untuk mencari nomor polisi, ia buka handphone dan segera Googling. Ia tidak ingin dihantui rasa bersalah karena tidak memberikan pertolongan apa-apa pada perempuan itu. Perempuan itu sepertinya jujur, Anto pikir, untuk apa perempuan itu berbohong.
Akhirnya ia pun menemukan nomor lapor kantor polisi daerah sekitaran tempat keberadaannya kini dan segera meneleponnya.
Eca bergetar, tubuhnya yang sudah setengah telanjang sedang dicicipi oleh Pria gendut dan jelek itu. Ia merasa, dirinya diperlukan seperti permen berbentuk boneka, permen besar yang kenyal.
Anto sudah menghubungi polisi, ia pun menunggu di ujung lorong, pekerjaannya sudah selesai. Sesekali ia melongok ke bawah lewat kaca jendela lantai 7 keberadaannya itu. Ia tidak buru-buru ke mess untuk istirahat, ia ingin memastikan polisi itu datang seperti yang dijanjikan.
Eca kini menangis terisak. Pria Gendut dan jelek itu makin kentara menjilati Eca. Ia tampak sangat menikmati penderitaan dan ketakutan Eca. Pakaian Eca dibuka dengan paksa. Pria gendut dan jelek itu pun tersenyum lapar. Sungguh, baginya, Eca yang meringkuk ketakutan itu adalah mainan mahal yang membuatnya bersemangat untuk segera menikmatinya.
BRAKK!!!
Pria Gendut dan jelek itu kaget. Pintu kamar hotelnya ada yang mendobrak.
"Jangan bergerak!" gertak seorang polisi diantara tiga yang lain begitu pintu berhasil terbuka dengan paksa. polisi-polisi itu menodongkan pistol.
Di ujung lorong, Anto tampak lega dan bersyukur, polisi segera datang dan kini pria gendut dan jelek itu digiring keluar dengan tangan diborgol. Sementara itu, ia juga mendapati perempuan itu dipapah keluar, wajahnya tampak lusuh. Tapi Anto juga bisa menilai, Perempuan itu/Eca berwajah tenang dan bebas. saat melintasi dirinya. Anto mendapati Eca tersenyum bangga pada dirinya. Anto pun tersenyum lega. Sedikit harapan di hati, "Andai sempat berkenalan."
***
Yuli juga sudah di dalam kamar sebuah hotel mewah bersama seorang pria berkemeja rapi. hotel yang berbeda dengan Eca. Pria itu tampak berwibawa dan intelek. Dalam hati Yuli jelas merasa khawatir. Yuli terus saja memutar otak, bagaimana caranya dia bisa selamat malam ini. Pria itu mulai membuka kancing baju. Yuli semakin berdebar. Akhirnya Yuli berucap dengan sopan sambil duduk dekat-dekat dengan pria itu. Pria asing yang telah membeli tubuhnya.
"Om, boleh kita ngobrol dulu sebentar?" ucap Yuli dengan sopan. Wajahnya yang cantik jelita tertunduk penuh harap.
__ADS_1
"Silahkan, santai saja, saya bukan orang yang kasar. Saya tidak akan menyakitimu. Santai saja." Yuli berhak bernapas lega.
"Tapi om janji yah, jangan bilang apa yang saya katakan sama orang-orang yang mengantar saya itu," ucap Yuli. Pria itu tersenyum dan menyibak rambut Yuli yang kini lurus dan lembut.
"Oke, jangan takut, katakan saja." pinta pria itu dengan nada yang kalem.
"Daripada Om memiliki saya hanya untuk malam ini saja, saya sarankan, Om nikahi saja saya secara sah atau siri," ucap Yuli. Pria itu menyimak dengan santai dan tampak sedikit heran, akan apa yang gadis mungil itu utarakan.
"Apakah Om tahu? Saya di culik dari kampung dan diseret dengan paksa dan ditodong dengan pistol?" ucap Yuli Apa adanya. Ia sangat berharap, lawan bicara mengerti dan merasa iba pada dirinya.
"Tolong saya Om, saya ikhlas jadi Istri kedua atau jadi simpanan Om. Saya akan lakukan yang terbaik untuk Om, asal Om lepaskan saya dari jeratan orang-orang yang mengantar saya itu. Saya mohon Om," ucapan Yuli itu perlahan berubah jadi rengekan dan lantas kini Yuli menangis. Pria itu menghela napas dan menyentuh bahu Yuli yang bergetar.
"Apa kamu tidak sedang berbohong?" tanya pria itu sambil menatap Yuli, menilai air muka Yuli.
"Demi Tuhan, demi Tuhan Om, saya tidak tahu dengan cara apa untuk membuktikannya," jawab Yuli. Yuli tampak kebingungan dan penuh rasa takut. Air matanya semakin deras mengalir. Pria itu menyeka air mata Yuli dengan lembut.
"Demi Tuhan, demi Tuhan Om, mereka punya pistol, mereka menculik saya dan memperlakukan saya seperti binatang."
"Sudah, sudah, jangan lagi sebut kata Tuhan. saya malu," ucap pria itu lantas sedikit menyunggingkan senyum, ia merasa haru pada nasib Yuli dan malu pada keputusannya sendiri. Ia hanya seorang pebisnis sukses yang hendak mencari sensasi karena kelebihan uang.
"Oke, lihat saya," ucap Pria itu dengan tatapan malu, Yuli menatap Pria itu.
"Astaga, Om ini tampan Juga," Desir Yuli dalam batin. tatapan Yuli berpadu dengan tatapan lembut pria itu.
"Baiklah, kalo itu yang kamu mau. saya akan menebus kamu, berapapun mereka minta." Yuli serasa mendapat angin segar.
__ADS_1
"Tapi seperti yang kamu katakan tadi, kamu beneran mau jadi istri saya?" tanya pria itu. Yuli pun mengangguk dengan pasti.
"Iya Om! Sumpah! demi T-"
"Eit! jangan sebut lagi, nanti kita minta maaf langsung padaNya saya kita di hadapan penghulu," Potong pria itu sambil menutup mulut Yuli yang mungil itu dengan jari telunjuk.
Pria itu kini memegang pundak Yuli dan jari telunjuknya perlahan mengangkat dagu Yuli. Wajah Yuli pun kini tegak menatap Pria itu dengan senyuman yang simpul dan tatapan yang penuh harap. Manis, manis sekali pria itu rasa. Ia pun itu jadi yakin dan bersemangat.
"Kamu tunggu di sini, Sebentar, saya temui mereka sekarang juga. Kamu tenang saja, Oke?" Yuli mengangguk, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya lega, meski belum tentu pria itu berhasil menebus dirinya dari orang-orang Kepa**t itu.
***
Eca kini sudah di dalam kantor polisi, ia didampingi polwan dan dimintai keterangan juga oleh seorang polwan.
"Saya bersama teman saya, Namanya Yuli."
***
Yuli kini sedang melangkah menuruni tangga hotel. Tangannya erat menggenggam tangan pria itu. Ia sampai di lobby. Para penculik itu sudah tidak ada di sofa lobby itu. Yuli pun merasa lega. belum pernah ia merasa bersyukur seperti itu. Ini jadi pelajaran yang sangat berharga baginya.
Yuli kini dibukakan pintu sedan. seperti seorang putri yang hendak dibawa ke istana oleh seorang pangeran. Tapi pangeran ini, walaupun sudah tidak muda lagi. Masih terlihat gagah dan tampan.
"Nama saya Bobby," ucap pria itu, Yuli pun menyambutnya dengan lembut dan ikhlas.
"Saya Yuli," sambut Yuli.
__ADS_1
Sedan pun melaju dengan santai menembus malam yang hingar, kota yang sibuk, kota yang seakan tidak pernah tidur.