Brajamusti

Brajamusti
Kembali Dari Awal


__ADS_3

Polisi lalu lintas yang menangkap Dul Karim kini sudah berada di rumah sakit di mana rekannya yang tewas dan seorang mandor bangunan yang terluka itu dirawat.


Ia menghubungi seorang teman baiknya yang juga seorang polisi. Seorang polisi dari divisi rahasia.


"Halo, Anwar! Bisa ke sini segera, rumah sakit polri, ruang otopsi. Yah, aku tunggu," ujar polisi itu serius.


***


Yuga menelepon Ratih.


"Ratih, ini Yuga," ucap Yuga sambil menjauhi kerumunan dan ngelap keringat.


"Iya, ada apa Ga?" suara Ratih terdengar dari ujung handphone Yuga.


"Mmm... Anu Ratih suami kamu," ucapan Yuga terhenti, ia bingung, dengan kalimat seperti apa supaya kabar yang hendak ia utarakan pada Ratih tidak membuat Ratih kaget.


"Ada apa dengan Bang Dul?"


"Dul Karim dibawa polisi." Akhirnya Yuga memberitahukannya begitu saja. Sontak Ratih kaget dan bertanya panjang lebar. Yuga segan bicara panjang lebar lewat telepon.


"Kamu tenang aja, nanti saya ceritakan, sekarang juga saya ke situ. Jangan kemana-mana, jangan panik."


***


Letnan Anwar sudah sampai di rumah sakit polri dan segera menemui orang yang menyuruhnya datang.


"Selamat sore pak Ginanjar, ada apa, sepertinya serius sekali," tanya letnan Anwar malas berbasa-basi.


"Ini, ini berkasnya, dan saya melihat dengan mata kepala sendiri. Gerakannya begitu cepat dan,"


"Dan apa lagi Pak?" Letnan Anwar tampak tak sabar untuk segera mendapatkan informasi lengkap.


"Pukulan tangan kosongnya, mampu meremukkan tulang. Itu korbannya, banyak saksi yang bisa dipercaya, dengan satu pukulan, orang itu terpelanting jauh dan rahangnya remuk," ujar polisi bernama Ginanjar itu dengan wajah antusias. Letnan Anwar mengerti dan tampak sumringah. Seperti menemukan sesuatu yang langka yang sangat berharga.


***


Yuga sudah bersama Ratih dan ia juga sudah menceritakan kejadian naas yang menimpa Dul Karim itu. Ratih sesegukan dan Yuga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sendiri masih belum percaya, kejadiannya begitu tiba-tiba.


***

__ADS_1


Di kantor kemudian, letnan Anwar membawa berkas kasus Dul Karim pada atasannya dengan semangat. Begitu sampai ia langsung angkat bicara.


"Pak, ini profilnya, bisa saya mulai uji coba proyek itu?" Sang Atasan tampak serius membolak-balik berkas itu.


"Silahkan, tapi hati-hati, proyek ini sangat rahasia. Selain dewan keamanan pusat, saya dan kamu, jangan ada yang tahu," tunjuk sang Atasan dengan wajah serius.


"Siap, laksanakan," jawab letnan Anwar. Padahal ia sudah banyak bercerita pada rekan-rekannya, termasuk mayjen Ginanjar. Ia sering kasak-kusuk soal pasukan rahasia yang hendak ia bentuk dan ia pimpin sendiri. Pasukan khusus di luar pasukan resmi. Pasukan ini nantinya berisi orang-orang dengan kemampuan luar biasa.


***


Yuga sudah pergi, nasi sudah tanak dan lauknya pun sudah matang dari tadi. Tapi Suami tercintanya tidak pulang. Bukan hanya untuk malam ini, tapi untuk malam-malam panjang yang segera merundung. Sunyi. Kontrakan yang sempit itu terasa sunyi, walaupun para tetangga sedang asik bercengkrama dengan sesamanya. Ratih sendiri, menelan ludah getir sambil mengelus perutnya yang buncit.


"Apakah anak pertamaku akan lahir tanpa ayahnya," pikir Ratih. Dari cerita yang ia dengar dari Yuga, rasanya ajaib kalo Dul Karim tidak dipenjara. Air matanya kembali menetes.


***


Dul Karim meringkuk sendiri dari balik jeruji besi. Tidak pernah terlintas dalam benaknya, kalo dia akan masuk penjara. Bahkan dulu ia bercita-cita menjadi tentara. Ia suka cerita-cerita kepahlawanan bahkan ia hafal film-film action yang bagus. Karena itu pula ia serius belajar beladiri di kampungnya. Ia ingat betul, ketika bapaknya melarang.


"Kalo begitu, daftarkan Dul ke akademi tentara," bantah Dul waktu itu ketika bapaknya melarang belajar ilmu beladiri. Karena bantahannya itu, bapaknya terbungkam dan tidak bisa lagi melarangnya pergi. Dul Karim pun mondok di sebuah perguruan silat di lereng bukit. Dul Karim tergolong anak yang tanggap dan paling menonjol. Bahkan jadi kesayangan gurunya. Tapi kini? Dul Karim hanya bisa menghela sesal. Penjara yang kotor, dan bantal bau tengik jadi sandaran pikirannya yang penuh sesal.


***


"Selamat siang, dengan ibu Ratih?" ucap Hendrick. Ratih menyalami Hendrick dengan tatapan takut dan curiga. Jangan jangan suaminya juga terlilit hutang. Sungguh tampang Hendrick seperti penagih hutang yang kejam.


"Iya, saya sendiri, Bapak siapa yah?" tanya Ratih sopan.


"Saya dari dinas sosial, kami bertugas untuk menjamin keselamatan para pekerja dan keluarganya." Ratih belum mengerti, Hendrick di mata Ratih lebih mirip penagih hutang yang suka memaksa daripada orang dinas sosial.


"Kasus yang membelit suami kamu terbilang berat dan ancaman hukumannya pun berat. Kami turut prihatin," ucap Hendrick. Ratih menyimak dengan seksama sampai lupa menyuruh sang Tamu untuk duduk.


"Boleh saya duduk?" pinta Hendrick sambil melirik dua buah kursi plastik kosong di muka rumah kontrakan itu.


"Oh iya, silahkan duduk, saya bikin kopi dulu yah, silahkan," jawab Ratih sopan.


"Iya, terima kasih."


Tanpa sepengetahuan Hendrick dan Ratih, rupanya letnan Anwar mengintip dari sudut gang. Letnan Anwar mau menemui Ratih tapi didahului oleh Hendrick, jadi ia putuskan untuk memata-matai dengan hati penuh tanya.


"Siapa orang yang bertamu itu?" gumam letnan Anwar. Awalnya ia menyusul Dul Karim ke penjara. Tapi ia terlambat setengah hari, Dul Karim sudah dibebaskan. Ia tidak tahu harus mencari Dul Karim kemana, satu pilihan baginya adalah menemui istrinya.

__ADS_1


Ratih kembali membawa secangkir kopi dan menaruhnya di meja plastik dan duduk.


"Suamimu orang yang rajin dan kami bertanggung jawab untuk menjamin kesejahteraan kamu. Apalagi kata teman-teman kerjanya, Dul Karim punya istri yang sedang hamil. Ini, uang ini sekedar untuk biaya hidup dan biaya melahirkan," ujar Hendrick sambil merogoh saku jaketnya dan menunjukkan sebuah amplop berisi uang. Ratih terbelalak, uang itu banyak sekali bagi Ratih. Amplop warna coklat itu penuh dengan uang. Sepertinya puluhan juta.


"Dan satu hal lagi, kami juga bertanggung jawab atas keselamatan ibu, karena ada kabar keluarga mandor dan polisi yang tewas itu mau menuntut balas dan mau membunuh ibu, mereka punya banyak uang dan bisa saja menghalalkan segala cara." Sampai di situ, Ratih jadi ingat cerita Yuga. Suaminya memang membuat seorang polisi tewas dan seorang mandor terluka parah.


"Apakah benar, ini alamat teman suami ibu di Kalimantan?" tanya Hendrick sambil menunjukkan secarik alamat pada Ratih. Ratih tahu itu. Memang awalnya Dul Karim pergi merantau ke Kalimantan dan banyak bercerita tentang sahabatnya itu yang baik sekali. Ratih mulai percaya pada Hendrick.


"Kami harap ibu bersembunyi dulu di sana, di Kalimantan dan saya sendiri yang ditugaskan untuk mengantarkan ibu sampai ke alamat itu." Ratih coba memahami, secarik alamat itu masih ia pegang dan kini, se-amplop uang itu juga sudah ia pegang. Ratih jadi malu, ia kira orang ini adalah orang yang jahat. Ratih merasa telah salah menilai orang dari tampangnya saja.


"Sekarang juga kita berangkat," ucap Hendrick serius.


"Sekarang juga?" tanya Ratih meyakinkan.


"Yah, mereka menyewa pembunuhan bayaran. Bisa saja besok kita berangkat. Tapi saya tidak berani jamin, malam ini ibu selamat," Hendrick menakut-nakuti Ratih dan itu berhasil.


"Iya, iya, sebentar." Ratih percaya saja pada Hendrick.


"Silahkan berkemas, jangan tegang. Selama ada saya, kamu aman," ucap Hendrick meyakinkan. Ratih hanya mengangguk dan minta izin untuk berkemas.


Letnan Anwar memfoto Hendrick dan segera mengirimkannya ke pusat informasi dan data.


Ratih sudah ganti pakaian dan menenteng sebuah tas besar.


Dari pengamatan Letnan Anwar, Hendrick kini menenteng tas Ratih dan membawa Ratih pergi dengan mobil sejenis APV warna hitam. Letnan Anwar mengikuti dengan mobil sejenis city car warna merah.


Di tengah perjalanan Hendrick menelepon Dul Karim yang sedang berada dalam sebuah hotel sekedar untuk menyemangati Dul Karim dan membuat Ratih makin percaya padanya.


"Dul, ini saya, Hendrik. Saya sudah bersama istrimu. Kami akan berangkat ke Kalimantan sekarang juga," suara Hendrick dari dalam telepon itu. Dul Karim senang bukan kepalang.


"Kamu mau bicara dengannya?"


"Tentu, tentu!" jawab Dul Karim girang. Suara Ratih pun terdengar, "Bang, Ratih pergi dulu yah, jaga diri baik-baik," ucap Ratih.


"Tentu Ratih, tentu, Abang segera menyusul."


"Ya sudah, Assalamualaikum,"


Walaikum salam," jawab Dul Karim. Suara Ratih membekaskan kegetiran di dada Dul Karim.

__ADS_1


"Ya sudah, kami pergi dulu," suara Hendrick terdengar meyakinkan. Sambungan telepon pun terputus.


__ADS_2