
Dul Karim turun dari sebuah sedan mewah, lalu ia melangkah sendiri ke dalam restoran besar milik Teo itu. Dalam pengamatan teropong Hardi, tampak seorang satpam menghampiri Dul Karim dengan antusias. Tapi Dul Karim tampak cuek, satpam itu lalu mempersilahkan Dul Karim masuk. Restoran baru buka, rupanya Dul Karim adalah tamu pertama. Dul Karim duduk dan dihampiri seorang pelayan. Dul Karim menyerahkan sebuah amplop untuk diberikan pada Teo. Pelayan itu pun menerimanya. Tanpa basa-basi Dul Karim lantas beranjak pergi lagi.
Tidak lama kemudian setelah Dul Karim jauh pergi, Teo datang ke restoran itu. Yadi dan semua karyawan menyambutnya dengan sikap siaga. Ini seperti sebuah seremoni atau penghormatan pada sang Pewaris tunggal kerajaan bisnis. Teo duduk bersama puluhan anak buahnya yang lain. para pelayan menyuguhkan makanan dan minuman. Seorang pelayan yang tadi menghampiri Dul Karim, kini menyerahkan amplop itu pada Teo.
"Apa ini?" tanya Teo.
"Tidak tahu Bos, tadi orangnya langsung pergi," ucap pelayan itu. Teo membuka dan membacanya, isi dari tulisan di amplop itu adalah ajakan duel dari Don untuk dirinya. Dengan perjanjian, siapa pun yang kalah harus mau angkat kaki dari kota itu.
Teo lantas tertawa, "Hahaha, Dias, baca ini," panggil Teo kemudian. Dias pun datang dan membacanya.
"Kita kepung mereka, jangan sisakan satu pun," ucap Teo dengan tegas.
***
Don sudah berada di lokasi yang sudah ditentukan. Lokasi untuknya berduel dengan Don itu sudah disetting sedemikian rupa. Tempat itu, lagi-lagi adalah sebuah gudang besar yang sudah terlantar di sudut kota. di luar, suasana malam mulai sunyi. Sebuah ring, bangku-bangku juri dan para tamu kehormatan pun sudah mulai penuh. Tamu-tamu kehormatan itu adalah para pengacara dari kedua belah pihak, beberapa pejabat kota dan sebagainya. Ini akan menjadi pertarungan yang seru.
DORR!! DORR!!
Terdengar suara letusan pistol di kejauhan saling bersambutan.
seorang anak buah Don datang memberikan laporan.
"Bang Lee! mereka datang langsung menembaki kita!" Sontak para tamu undangan pun berhamburan dan segera digiring untuk segera pergi dengan aman. Don tampak kesal dan segera mengkoordinasi semua anak buahnya untuk melakukan plan B, yaitu balas menyerang dengan pasukan serbu yang sengaja ia siapkan dikejauhan untuk segera mengepung komplotan Teo. Perang pun terjadi. Dul Karim bertanya-tanya dalam hati, dimana pasukan khusus dari kepolisian itu. Ia benar-benar merasa konyol, lagi-lagi karena harus terjebak dalam peperangan yang barbar itu.
__ADS_1
Teo sungguh gila dan terus menembus para penembak yang tampak amatir itu. Tidak sedikit yang terjungkal di kedua belah pihak. Tapi Teo merasa berhasil mengepung dan memukul mundur. Karena memang, tampak musuhnya mundur dan masuk gudang.
Tidak tanggung-tanggung, Teo mengeluarkan bazoka dan menembak dinding seng gudang itu.
DUARR!!
suasana terang dan hingar seketika.
Teo tertawa seperti orang gila. segera setelah gudang itu terbuka, anak buah Teo berebut masuk dan musuhnya berhamburan ke dalam mencari persembunyian dalam kejaran peluru. Teo dan semua anak buahnya pun turun dari kendaraan sambil terus menembak dan merangsek masuk.
Mau tidak mau Dul Karim pun angkat senjata dan mulai menembak.
Tanpa sepengetahuan Teo, tim kedua Don datang dan mulai mengepung. Komplotan Teo pun kelimpungan, mereka melawan musuh dari dalam dan luar. para penembak dari pihak Don menang banyak dan menang posisi. Teo tersudut di dalam gudang, dan akhirnya ia angkat tangan bersama belasan anak buahnya yang tersisa.
Don pun muncul dan membuang pistolnya.
"Ayo, kita tuntaskan urusan kita," ajak Don sambil naik ke atas ring dan membuka kaus dan ambil kuda-kuda. Teo pun di dorong dan mau tidak mau ia meladeni Don berkelahi. Teo yang duluan melancarkan serangan. Tapi semua pukulannya dapat ditangkis dan dihindari oleh Don. Don balik menyerang. Teo juga bisa menghindar dan menangkis. Dul Karim bisa menilai, keduanya menguasai ilmu beladiri yang mumpuni. menurut pengamatan Dul Karim, Teo menguasai Karate dan taekwondo. Sedangkan Don menguasai Kungfu. Dul Karim jadi membayangkan, ia sedang melihat Jackie Chan dan Jet Lee sedang bertarung.
Teo seperti Jet Lee dan Don seperti Jackie Chan.
Teo bertarung dan semua anak buahnya tak berdaya dalam todongan. Tekanan yang tidak main-main, menang bertarung pun ia tetap kalah.
Beberapa kali Teo kena pukul, tapi ia terus melawan dan akhirnya Don juga kena pukul. Tapi lama-kelamaan Teo yang kalah, babak belur dan kemudian ambruk. Don tampak puas dan lega. Baj***an bermulut lebar dan berkantung tebal itu berhasil ia kalahkan.
__ADS_1
Don pun meraih sebuah pistol dari tangan anak buahnya dan membidik Teo yang sudah tak berdaya, Teo meringkuk sambil meringis kesakitan. Tapi tanpa Don kira, sepucuk senapan juga perlahan tertodong kepada dirinya dari arah belakang. Perlahan Don pun menoleh, siapa yang berani menodong dirinya? Bukankah pihaknya yang menang??Don pun mendapati Dul Karim lah orangnya. Don sungguh tak mengira, ternyata Dul Karim menodongkan senapan laras panjang miliknya sendiri. Bahkan, cara menggunakannya ia sendiri yang ajarkan.
Tidak lama kemudian, puluhan polisi berpakaian taktis layaknya tim SWAT datang mengepung. Mereka bersenjata lengkap.
Don yang tak bisa berkutik hanya bisa menatap kecewa ke arah Dul Karim, kekecewaan yang sangat dalam. Semua preman dari kedua belah pihak pun segera dibekuk, termasuk Teo dan Don. Teo akhirnya dapat bertemu dan bertatap muka langsung dengan Sang Pembunuh yang telah membunuh ayahnya. Tatapan dendam dari matanya yang lebam terus tersemat ke arah Dul Karim.
Letnan Anwar mendekati Dul Karim dan menepuk pundak Dul Karim. Abe, Gugun dan Nugroho pun memberikan ucapan salut pada Dul Karim.
"Hebat Bang, Hebat! Dua-duanya berhasil kita tangkap," ucap Abe.
Dul Karim Hanya menatap lemah ke arah Teo dan Don yang mulai menjauh. Polisi-polisi semakin banyak berdatangan.
Dul Karim berhak bernapas lega dan mengendurkan otot-otot dan syaraf-syaraf otaknya. Ia berharap, dengan ditangkapnya Don dan Teo kota itu bebas dari para mafia pengedar narkoba dan sebagainya.
"Tugas saya sudah selesai kan Pak?" tanya Dul Karim pada Letnan Anwar kemudian. Sang Letnan menatap bangga pada wajah lelah pemuda kampung yang hebat itu.
"Yah, untuk sementara, tugasmu selesai," jawab letnan Anwar sambil mengajak Dul Karim untuk meninggalkan tempat itu.
"Maksud Bapak?" Dul Karim tak mengerti.
"Bukankah perjanjian kita-"
"Dul, Dewan keamanan pusat setuju, Kau anggota tetap sekarang. Ini hanya awal, selamat bergabung, Kau Polisi resmi mulai dari sekarang," ujar Letnan Anwar sambil menyodorkan tangan, mengajak bersalaman.
__ADS_1
Dul Karim masih menganga tak percaya atas apa yang ia dengar barusan.
Bagaimana mungkin, seorang anak kampung, pekerjaan kasar dan tidak berpendidikan seperti dirinya bisa menjadi petugas kepolisian?