
Malam terasa sangat indah untuk cinta kasih yang paling dalam. Di dalam sebuah kamar Apartemen yang damai. Dul Karim merasa sangat bersyukur telah dipertemukan kembali dengan Ratih. Perempuan sederhana dengan mimpinya yang juga sederhana dan sekarang terlelap dalam pelukannya.
Selesai melakukan kesepakatan dengan Letnan Anwar, ia diijinkan untuk membawa Ratih untuk malam ini.
Siapa sangka, lelaki sekekar apapun, sehebat apapun akan bertekuk lutut pada seorang wanita yang terkenal lemah yang ia cintai.
Seperti sekarang, semua kegelisahan Dul Karim luruh, segala lelah dan kegetiran hidup yang Dul Karim jalani selama di penjara yang penuh nista, selama di dunia hitam yang penuh kekejaman. Semuanya luruh, semuanya sirna hanya dengan satu sentuhan sayang dari Ratih. Kelembutan Ratih yang suci bersih membuat semua ketakutan, semua kegelisahan Dul Karim meleleh seketika. Semuanya berganti menjadi kenyamanan yang menentramkan. Ibarat seekor burung Elang yang liar, yang lelah tersesat, Ratih adalah sarang yang nyaman dengan kehangatan yang membuat sang Burung bersumpah untuk menjaganya tetap nyaman seperti pertama kali mendekam. Jangan dulu lepaskan.
Tapi Dul Karim pikir, sangat mungkin ini akan menjadi malam yang terakhir bagi dirinya dan Ratih tidur bersama, bermimpi bersama. Seperti yang sudah dijanjikan, besok ia akan mulai menjadi penyusup ke komplotan Don Lee. Mau tidak mau hal itu akan ia lakukan daripada pilihan lain yang polisi itu berikan.
"Maaf, hanya dua pilihan yang bisa kami berikan padamu anak muda. Masuk penjara untuk waktu yang lama karena daftar kriminalmu bertambah dengan buktinya yang kuat atau menjadi bagian dari kami dan semua catatan kriminalmu kami hapuskan dan kebutuhan hidup istrimu kami jamin. Belum lagi bonus besar menantimu kalo misi kamu berhasil," ucap Letnan Anwar. Tidak mungkin ia ambil opsi pertama. Dipenjara dan Ratih hidup menderita.
__ADS_1
Sesekali Dul Karim mengelus lengan Ratih. Sedikit berkeringat, sisa peraduan rindu yang begitu bersemangat. Namun kulit Ratih itu tetap terasa lembut. Ratih sudah terlelap, setelah melepas rindu yang sangat menggebu.
***
Dua orang pria berwajah garang melempar 6 orang gadis yang terikat tali ke dalam sebuah kamar yang berdebu dengan pencahayaan yang redup. Penerangannya hanya lampu 5 Watt. Keenam gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan berteriak pun tidak bisa. Mulut mereka tertutup lakban hitam.
Dua orang pria sangar itu sudah berlalu dan menutup pintu. Lama waktu mencatat penderitaan keenam gadis itu sekitar 4 jam di dalam ruangan sempit itu dalam senyap dan dugaan-dugaan mengerikan.
Dul Karim membuka pintu kamar itu. Seperti yang Don Lee perintahkan. Pintu kamar terbuka dan enam pasang mata gadis malang itu langsung menatap takut kearahnya.
"Jangan takut, saya polisi, ini, setelah sampai lokasi, kamu tekan ini," ucap Dul Karim dengan tatapan serius dan meyakinkan, "ini pemancar sinyal GPS. Tekan seperti ini, awas jangan sampai hilang. Pokoknya, setelah sampai tujuan, tekan seperti ini, nanti polisi yang di sana langsung menjemput kalian. Paham?" ucap Dul Karim sambil menunjukkan dan memberitahu cara mengaktifkan alat itu. keenam gadis itu mengangguk. Alat pemancar GPS sebesar pil berwarna hitam itu pun ia selipkan ke balik kaus kaki gadis itu.
__ADS_1
"Ayo ayo! sekarang berdiri, kita segera pergi. Satu hal lagi, kalian jangan coba-coba melakukan perlawanan, mereka orang-orang si**ing yang dibekali pistol."
Keenam gadis malang itu pun menurut saja dan digiring masuk ke dalam sebuah Van oleh Dul Karim.
Malam yang panjang, malam yang mengerikan. Setelah sampai dermaga, setelah pemancar GPS itu diaktifkan. Keenam gadis itu sangat berharap apa yang orang asing(Dul Karim) itu katakan benar adanya.
15 menit berlalu setelah tombol hitam kecil itu ditekan, polisi belum juga datang menjemput mereka dan menangkap para penjahat itu.
30 menit berlalu, hati para gadis itu kian rancu. Selain polisi tidak kunjung datang, kini para penjahat itu mengeluarkan mereka dan memindahkan mereka dari dalam perahu nelayan ke dalam sebuah mini bus.
Dermaga yang asing, bendera negara asing di puncak-puncak tiang perahu.
__ADS_1
STOP!!!
Akhirnya puluhan polisi tiba-tiba muncul dari balik dinding-dinding dan celah-celah dermaga dan langsung menodong. Para gadis itupun menghela napas dan bersyukur. Penjahat-penjahat itu tak bisa berkutik dan akhirnya angkat tangan. Mungkin mereka berpikir, polisi-polisi itu terlalu banyak untuk mereka lawan.