
Siang belumlah terik, ketika Yadi mendapati seorang tamu yang membuatnya melotot. Pria tegap berkemeja rapi itu mirip sekali dengan Dul Karim, Saudaranya. Tapi pakaian yang dikenakannya dan tatanan rambutnya. Sungguh membuat Yadi pangling. Setelah dekat, ia pun yakin kalo tamu restorannya itu adalah Dul Karim. Tapi kenapa Dul Karim datang diantar sebuah mobil mewah.
"Dul, Kamu... Kamu?"
"Jangan begitu!" ucap Dul Karim pelan namun dengan ketegasan.
"Kita dalam pengawasan sniper Don, pura-pura tidak kenal saja," ucap Dul Karim sok cuek. Yadi pun mengerti dan bersikap biasa. Sikap biasa sebagaimana seorang satpam menyambut tamu.
"Segera tinggalkan kota ini, polisi sudah tahu semua," ucap Dul Karim sambil meninggalkan Yadi yang lantas melongo jadinya.
Yadi sungguh tak menduga, saudaranya itu telah menjelma menjadi sosok yang berbeda dan ia pun percaya atas ucapan Dul Karim yang terakhir itu.
Yadi hanya bisa memperhatikan Dul Karim yang kini sudah di dalam restoran dan berbincang dengan seorang pelayan restoran dan akhirnya menyerahkan sebuah amplop. Tidak lama kemudian Dul Karim pamit dan saat melintas di dekat Yadi, kembali Dul Karim berucap dengan cuek.
"Don mengajak Teo untuk berduel dan Polisi akan menyergap mereka. Kamu jangan ikut Teo, sekarang juga kamu segera pergi."
"Iya, iya Dul, kamu jaga diri baik-baik," ucap Yadi. Dul Karim pun berlalu dan Yadi beranjak ke belakang dan setelah luput dari pengamatan siapapun, ia menghubungi Anto.
"Halo! Anto? kamu masih bersembunyi?"
"Iya Bang, Ada apalagi?" suara Anto terdengar khawatir.
"Sekarang, sebisa mungkin kamu turun dan tunggu di basemen. Oh iya, pura-pura nurunin sampah aja," titah Yadi.
"Iya, Anto ngerti Bang,"
"Ya sudah, Abang segera menuju ke situ," ucap Yadi lalu memutuskan sambungan.
Anto keluar dari persembunyiannya. Suasana sepi. Ia pun mengumpulkan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam kantong sampah berwarna hitam.
Yadi sudah on the way dengan taksi. Ia tidak ingin tertangkap dan bapaknya tahu, kalo ia bukan hanya bekerja sebagai satpam biasa. Tapi ia juga bekerja menjaga bisnis haram bosnya itu.
__ADS_1
***
Anto berhasil turun sambil menggondol kantung sampah. Ia menunggu di basemant dekat gerbang masuk. Tidak lama kemudian Yadi datang dengan taksi dan segera membawa Anto.
Keduanya berhak bernapas lega dan berlalu untuk pulang dengan cepat, dengan taksi itu.
***
Ibunya Dul Karim baru selesai masak dan kembali ia memegangi paket yang dikirimkan Dul Karim itu. ia elus paket itu dengan perasaan khawatir. Bagaimanapun, Anaknya yang satu itu sedang dalam masalah.
Hari sudah sore dan akhirnya Yadi dan Anto sampai rumah.
***
Eca bersiap menangis dan memeluk orangtuanya. Ia sudah memasuki jalanan kampung, ia diantar pulang oleh polisi. Iya juga bingung harus jawab apa kalo nanti ia ditanya tentang Yuli.
***
"Oh iya Bu, apa paket dari saya sudah sampai?" tanya Dul Karim. Anto datang dan membawa tas besar dari tangan kakaknya itu.
"Sudah, emang isinya apa? ibu tidak berani membukanya."
"Ayo, kita buka? apa wak Darman ada di rumah?" tanya Dul Karim sambil menoleh ke arah Yadi.
"Bapak sudah berangkat kerja," jawab Yadi.
Kini Dul Karim dan keluarga kecilnya itu sudah duduk melingkari paket itu. Dul Karim membuka paket itu dengan bersemangat. Ternyata paket yang di kemas dengan rapi dan berlapis-lapis itu isinya adalah uang tunai, uang yang banyak.
Sontak ibunya bertanya panjang lebar ihwal uang itu. Dul Karim pun menceritakan kisahnya, apa adanya.
"Jadi, begitulah. Bisa jadi ini adalah uang hasil penjualan narkoba, penjualan senjata bahkan mereka juga menculik dan menjual manusia. Bagaimana pendapat Ibu, kita apakan uang ini?" tanya Dul Karim. Ia yakin, ibunya lah yang paling bijaksana untuk memutuskan.
__ADS_1
"Buat biaya kuliah Anto saja Bang," celetuk Anto dengan dada yang bersemangat. Ibunya masih berpikir, ketika Yadi juga akhirnya angkat bicara.
"Tidak mungkin kita kembalikan uang ini sama pemiliknya. Seperti tadi Dul Bilang, orang itu sangat kaya dan kini sudah dipenjara," ucap Yadi.
"Ibu bingung Dul, terserah kamu saja lah," ucap sang Ibu. Iya menyerah untuk memutuskan perkara uang itu.
"Bagaimana kalo kita ambil sesuai kebutuhan kita saja, sisanya kita sumbangkan ke panti yatim piatu atau untuk kegiatan amal lainnya," saran Ratih dan itu cukup bijaksana Dul Karim rasa.
"Saya hanya butuh buat membeli sebuah rumah, rumah sederhana saja di kampung," senyum Dul Karim.
"Anto butuh buat kuliah Bang," ucap Anto serius dan ibunya manggut-manggut lalu menepuk-nepuk pundaknya.
"Saya hanya butuh buat biaya menikah," ucap Yadi malu-malu membuat semuanya tertawa.
***
Sementara itu, Teo sedang melilit kepalan tangannya dengan selembar kain. Tampak jelas kebencian dari sorot matanya yang masih sembab dan berbalut perban. Ia lantas memukul dinding penjara seolah itu adalah Dul Karim. Dul Karim yang sudah membunuh ayahnya.
***
Seorang gadis sedang duduk berdua dengan temannya. Mereka berada di luar kawasan gedung Depnaker. Tepatnya mereka sedang minum es. Pakaian keduanya rapi dan masing-masing membawa amplop besar berwarna coklat. Sebuah mobil APV luxury warna putih berhenti tidak jauh dari warung liar di pinggir jalan dimana kedua gadis itu menikmati minumnya.
Farhat turun dari mobil APV itu dan tersenyum ke arah dua gadis itu. Kedua gadis itupun terpesona penampilan Farhat.
***
Bulan mengambang di sudut gelap. Kemeriahan malam di sebuah kota baru di mulai. Tampak dua orang pria sedang berseteru di balik sebuah gang yang gelap.
"Bang, emang gak ada kerjaan lain Bang, saya takut Bang," ucap salah satunya yang tampak lebih muda saat ia disuruh mengantarkan sekantong narkoba.
"Terus kamu mau kerja apa hah? Jadi buruh di pasar? terus besoknya kamu keseleo dan gak bisa jalan?? gitu??? terus besoknya lagi kamu ngemis di pasar itu?? begitu hah!!" hardik pria yang satunya lagi, yang tampaknya jauh lebih dewasa.
__ADS_1
Rembulan beranjak naik, seperti bola kristal peramal di antara kabut yang penuh misteri membangkitkan mimpi-mimpi.