
Sesampainya Arkanza di rumah. Ia tidak mendapati Reinz di kamarnya, lalu ia bertanya pada ibunya.
"Kau pikir aku perduli?" Jawab Elenor sinis.
Arkanza menggelengkan kepalanya mendengar jawaban ibunya. Dari pada berbicara banyak tapi berujung keributan, Arkanza memilih pergi ke kamarnya dan duduk di depan televisi kemudian ia mengambil remote dan menyalakannya.
Arkanza terlihat sangat gelisah, ia berkali kali menghubungi Reinz namun ponselnya tidak aktif, kemudian ia menghubungi Kai dan Jimi. Apakah Reinz bersamanya, namun Reinz sama sekali tidak sedang bersama Kai.
Arkanza mulai bingung, ia memetakkan ponselnya di atas meja. Memperhatikan layar televisi, tapi pikirannya kalut memikirkan kemana perginya Reinz.
Namun detik berikutnya, Arkanza di kejutkan dengan sebuah berita yang menayangkan sekelompok pria seusia Reinz tengah membuat kekacauan di jalan raya. Sekilas Arkanza melihat wajah Reinz yang tertangkap kamera.
"Tidak mungkin!"
Arkanza berdiri lalu mematikan layar televisi dan beranjak pergi keluar dari kamarnya dan memutuskan untuk menemui Jimi dan Sojin lagi.
"Aku tidak bisa mengendalikan adikku sekarang, apa yang harus kulakukan?" Tanya Arkanza putus asa setelah mengetahui informasi yang di dapatkan kalau Reinz telah membuat kekacauan bersama geng nya.
"Pertunangan Kai dan Jeni telah membuat adikmu patah hati." Timpal Sojin sangat menyesali langkah yang dianggapnya benar, begitupual Jimi. Ia lebih menyesali kekasaran kakeknya terhadap Reinz.
Kai yang mendengarkan percakapan mereka, diam diam meninggalkan rumah dan mencari Reinz. Tak lupa Kai menghubungi Jeni dan meminta bantuannya.
Sesampainya Kai dan Jeni di jalan raya. Apa yang di beritakan itu benar adanya, nampak mobil di jalan raya berhenti mendadak bukan karena macet. Namun sekelompok pria yang di ketuai Reinz tengah melakukan aksi gila dengan melempar botol kosong ke arah mobil, ada juga yang menyiramkan air dan memukul kaca jendela mobil dengan kayu. Suara klakson terdengar memekakkan telinga.
__ADS_1
Kai keluar dari pintu mobil bersamaan dengan Jeni. Mereka berdua berlari ke tepi jalan raya menghampiri Reinz yang berdiri tegap tertawa terbahak bahak. Dari jauh terdengar suara sirine mobil patroli.
"REINZ!!!" Seru Kai.
Reinz menoleh ke arah Kai.
"Reinz!" Kai menghentikan langkahnya, berdiri tegap di hadapan Reinz. Mengatur napas dan detak jantungnya yang tak beraturan.
"Reinz, ayo pulang!" Kai menarik tangan Reinz. Namun Reinz menepisnya dengan kasar, tatapannya tajam ke arah Jeni yang berada di belakang Kai.
"Tunggu apalagi?!" Seru Kai menoleh ke belakang, memastikan mobil patroli yang semakin mendekat.
"Tidak!!" Balas Reinz kasar.
"Pergi kalian!" Reinz mundur ke belakang, mengacungkan tangannya ke atas sebagai kode kepada teman temannya untuk mundur karena mobil patroli Polisi semakin mendekat.
"Reinz!!"
Kai berlari lalu menarik paksa tangan Reinz. Namun hasilnya tetap sama, Reinz mendorong tubuh Kai hingga jatuh dan duduk di jalan aspal.
"Kai!" Jeni berlari menghampiri Kai dan membantunya untuk berdiri.
"Reinz!" Bentak Jeni matanya berkaca kaca menatap wajah Reinz.
__ADS_1
"Reinz!! Teriak Kai lagi saat melihat Reinz berlari diantara mobil yang menepi bersama teman temannya.
"Ini salahku.." ucap Kai, air matanya jatuh membasahi pipinya.
"Tidak, kau tidak perlu menyalahkan dirimu. Yang paling bersalah itu aku." Tegas Jeni lalu memapah tubuh Kai supaya kembali ke mobilnya.
"Apa yang harus aku lakukan.." ucap Kai lirih.
Jeni menoleh ke arah Kai yang duduk di sebelahnya.
"Aku yang harus bertanggung jawab atas dirimu juga Reinz." Gumam Jeni dalam hati.
Sementara Reinz melakukan kegaduhan lagi di lain tempat. Ia melampiaskan rasa kecewanya dengan membuat kekacauan. Tidak hanya itu, ia memutuskan untuk menjadi kriminal dan membuat satu geng yang di ketuai oleh dirinya.
Hari demi hari, geng yang di bentuk oleh Reinz semakin meresahkan. Semua media online memberitakan tentang kebrutalan yang di buat geng nya Reinz.
Pihak berwajib semakin geram dan menyusun siasat untuk menangkap Reinz dan kawan kawannya.
Di lain pihak, Arkanza semakin sedih mendengar berita tentang Reinz, adik yang sangat ia sayangi. Bahkan ia sering bertengkar dengan ibunya hanya demi membela harga diri Reinz.
Arkanza hanya ingat satu nama, yaitu Beby. Gadis yang begitu tulus mencintai Reinz sejak kecil. Setelah ia memikirkan matang matang, akhirnya Arkanza meminta bantuan Beby untuk membawanya kembali ke kehidupannya semula.
Tentu saja Beby tidak keberatan. Demi apapun ia akan melakukannya, tanpa harus Arkanza minta.
__ADS_1
Hingga suatu hari, pihak berwajib berhasil meringkus Reinz dan kawan kawannya. Mereka di tahan dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.