BROMANCE

BROMANCE
Bab 37


__ADS_3

Malam ini Jimi memutuskan untuk menemui Arkanza di kediamannya dan di awasi bodyguard sesuai peraturan kakeknya.


Tak butuh waktu lama, Jimi telah sampai di kediaman Arkanza.


"Jimi?' Sapa Arkanza.


Jimi hanya diam menatap tajam ke arah Arkanza. Menarik napas dalam sesaat.


"Kumohon, awasi adikmu. Jauhi dia dari adikku." Tegas Jimi.


Arkanza tersenyum sinis.


"Kau hanya memikirkan kakekmu, tapi tidak pernah memikirkan perasaan adikmu."


"Keluargaku orang terpandang, kedekatan adikmu dan adikku bisa merusak citra keluargaku. Aku masih bisa terima kalau adikmu perempuan. Tapi kau tahu sendiri, apa kau tidak berpikir ke sana?" Ungkap Jimi panjang lebar.


"Cuih!" Arkanza menanggapi dingin pernyataan Jimi.


"Kalau kau sayang adikmu, jaga dia baik baik." Pesan Jimi, setelah itu berlalu dari hadapan Arkanza.


"Apakah hanya karena masalah ini, persahabatan kita berakhir?" Tanya Arkanza.


Jimi berhenti melangkahkan kakinya sejenak, mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya lagi dan meninggalkan kediaman Arkanza.


Arkanza tersenyum sinis memperhatikan kepergian Jimi.


"Suatu hari kau akan menyesal, dan penyesalanmu itu sudah tidak berarti apa apa lagi." Gumam Arkanza.


Sementara Jimi yang berada di perjalanan pulang ke rumah. Ia merenungkan kembali semua tindakannya. Kali ini ia merasa semua yang di lakukannya sudah benar.


Sesampainya di rumah, Jimi terkejut melihat Kai di dapur hendak meminum obat tidur dengan dosis tinggi. Jimi berlari menghampiri Kai lalu menarik kerah bajunya dan menyeret paksa tubuh Kai ke kamar mandi, dengan sigap Jimi memukul tengkuk Kai berkali kali hingga obat yang hampir saja ia telan di muntahkan lagi. Cairan hijau bercampur air berceceran di lantai.


"Kenapa kau hanya memikirkan perasaanmu saja! Keluarga kita orang terpandang. Memalukan!!" Hardik Jimi seraya memukul wajah Kai hingga tersungkur di ambang pintu kamar mandi, kemudian Jimi mendekatinya lagi dan mencengkram kerah bajunya.


Namun Kai menepis tangan Jimi lalu membalas pukulan Jimi tepat di wajahnya hingga terjengkang ke belakang.


Jimi yang sudah di kuasai amarah terus membalas pukulan Kai hingga, Jimi baru menyadari saat kedua tangannya berlumuran darah. Jimi diam sesaat lalu duduk bersandar di dinding dan berteriak histeris meremas rambutnya sendiri melihat Kai meringkuk di sudut ruangan tak bergerak, wajahnya di penuhi noda darah.


"Aaarrrghh!"

__ADS_1


"Lebih baik kau mati di tanganku, dari pada kakek terus memukulmu di depanku!!" Teriak Jimi.


Di saat bersamaan, Jeni sedang mencari sumber suara teriakan Jimi. Ia berjalan tergesa gesa di lorong rumah menuju dapur.


Sesampainya di dapur, Jeni terkejut melihat Kai tak sadarkan diri, lalu mengalihkan pandangannya pada Jimi.


"Apa yang sudah kau lakukan?!" Tanya Jeni, menatap marah ke arah Jimi.


Jimi mengangkat kedua tangannya yang terkena noda darah, menatapnya dengan mata berkaca kaca.


"Aku sudah melukai adikku sendiri.."


"Tidak hanya Kai, kau juga telah menyakiti adik kandungmu sendiri!!" Seru Jeni marah.


Jimi menurunkan tangannya lalu tengadahkan wajah menatap lekat wajah Jeni.


"Apa maksudmu?" Tanyanya.


Jeni menggelengkan kepala, lalu mendekati Kai.


"Cepat bantu aku!" Perintah Jeni.


"Apa maksud ucapanmu? Adik kandung? Adik kandung yang mana??"


Jeni menoleh ke arah Jimi.


"Kita bicara nanti, Kai butuh pertolongan secepatnya!" Jawab Jeni.


Jimi memgangguk cepat, lalu mendekat ke arah Kai.


"Bantu aku." Katanya pada Jeni.


Jimi mengangkat tubuh Kai di bantu Jeni, lalu menggendongnya keluar dari dapur menuju rumah sakit.


Sementara di lain tempat.


Reinz yang tengah tertidur pulas, tiba tiba terbangun karena bermimpi buruk tentang Kai.


"Apa yang terjadi? Apakah sesuatu yang buruk terjadi padanya?" Batin Reinz.

__ADS_1


"Aku harus menemui Kai.." ucapnya pelan lalu turun dari atas tempat tidur.


"Kau mau kemana?" Tanya Beby berusaha mencegah Reinz keluar dari kamarnya.


"Jangan ikut campur!" Bentak Reinz, menepis tangan Beby.


"Kau, masih belum pulih. Tetap di kamarmu, biar aku yang merawatmu sampai sembuh. Setelah itu, kau bebas mau pergi kemanapun kau mau." Beby tetap bersikeras mencegah Reinz pergi dari kamarnya. Ia takut terjadi hal yang lebih buruk lagi pada Reinz.


Reinz tersenyum sinis seraya mendorong bahu Beby hingga mundur ke belakang.


"Berani sekali, kau mengaturku. Memang siapa kamu?" Sindir Reinz.


Beby menundukkan kepalanya.


"Aku memang bukan siapa siapa kamu, Reinz. Tapi kamu ayah dari anakku." Gumam Beby dalam hati.


"Minggir!"


Reinz mendorong bahu Beby lagi karena menghalangi jalannya. Namun Beby tetap berusaha mencegahnya hingga tak sengaja, Reinz mendorong tubuh Beby cukup keras hingga terjatuh ke lantai.


"Duk!!"


Suara bunyi tubuh Beby terbentur lantai, hingga gadis itu mengerang kesakitan memegang perutnya.


"Aww!!"


Reinz menghela napas panjang, matanya mendelik menatap horor ke arah Beby.


"Menyebalkan!"


"Tolong aku.." ucap Beby menahan kaki Reinz yang hendak meninggalkannya.


Reinz menoleh ke arah Beby, ia terkejut melihat darah menetes di lantai.


"Darah?" Ucapnya pelan.


"Sakit sekali.." ucap Beby lirih menahan rasa sakit yang luar biasa.


Reinz tidak tega melihat Beby mengerang kesakitan, lalu ia mengangkat tubuh Beby dan menggendongnya untuk segera di bawa ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2